"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRK
Pak Soerya berdiri di tengah ruangan, kedua tangannya mengepal. Wajahnya merah, urat di lehernya menonjol jelas. Di depannya, Rangga duduk dengan kepala tertunduk.
"Ayah kecewa sama kamu, Rangga," Pak Soerya yang sedari tadi menahan amarah, kini sudah memuncak. "Lihat, kamu di-DO dari kampus, Rangga! Astagfirullah... Bagaimana dengan Meysa? Bagaimana dengan nama baik keluarga kita?"
Rangga tidak menjawab.. Di-DO. Dikeluarkan dari fakultas hukum. Semua perjuangan selama ini lenyap dalam semalam karena foto dan tuduhan palsu dari seorang perempuan yang baru ia kenal seminggu.
"Ayah sudah telepon Rektor," lanjut Pak Soerya, suaranya naik turun. "Beliau bilang kasus ini berat. Kampus tidak mau ambil risiko. Kamu terlanjur dicap sebagai mahasiswa yang melakukan pelecehan. Tidak ada bukti yang cukup untuk membantahnya karena foto-foto itu tersebar luas sebelum Ayah bertindak."
Rangga mengangkat wajahnya. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena amarah yang tidak bisa ia salurkan.
"Ayah, percaya sama Rangga, Ran—"
"CUKUP!" sela Pak Soerya, "Ayah tidak mau mendengar alasanmu lagi. Apapun kebenarannya, nama keluarga kita sudah tercoreng. Kamu seharusnya lebih berhati-hati! Kamu sudah punya istri, Rangga! Istri sah yang Ayah pilih untukmu!"
Rangga terdiam. Ia mengepalkan tangannya di atas paha, kuku-kukunya hampir menusuk telapak tangan sendiri.
Pintu apartemen terbuka dengan suara kecil.
Meysa masuk. Ia baru saja menerima kabar dari Aqeela bahwa Rangga di-DO. Dadanya terasa sesak sepanjang perjalanan, tapi ia tidak tahu harus marah, sedih, atau kecewa.
Begitu melihat Meysa, Pak Soerya langsung berjalan mendekat. Pria tua itu merentangkan tangannya, lalu memeluk Meysa erat-erat. Tangannya yang kekar menggenggam pundak menantu perempuannya itu dengan lembut, berbeda dengan sikapnya pada Rangga tadi.
"Maafkan anak saya, Meysa," bisik Pak Soerya, suaranya pecah menahan tangis. "Ayah... Ayah sangat malu sama kamu. Ayah yang meminta kamu menikah dengan Rangga, tapi Ayah tidak bisa menjaga kamu dari rasa sakit seperti ini."
Meysa hanya diam. Tubuhnya kaku dalam pelukan itu. Ia tidak menangis, tidak juga tersenyum. Ia hanya berdiri seperti patung, dengan hati yang mati rasa.
Beberapa detik berlalu. Meysa masih diam. Lalu perlahan, ia mengangkat tangannya dan melepas pelukan itu dengan lembut tapi tegas.
"Maaf, Ayah," ucap Meysa pelan. "Meysa... butuh waktu sendiri."
Tanpa menoleh ke arah Rangga yang sejak tadi duduk diam di sofa, Meysa berjalan menuju kamar kecilnya di sebelah dapur. Pintu kamar tertutup pelan, lalu terdengar bunyi terkunci dari dalam.
Pak Soerya menghela napas berat. Ia menoleh ke arah putranya yang masih duduk lesu di sofa tua itu.
"Kamu lihat?" suara Pak Soerya dingin, menuduh. "Istri kamu lebih dewasa dari kamu. Dia diam, tapi dia sakit. Dan kamu? Kamu hanya duduk di sana dengan wajah malas seperti tidak peduli."
Rangga mengangkat wajahnya. Mata merahnya kini berubah menjadi sorot yang tajam, penuh dengan amarah ia tahan.
"Malas?" ulang Rangga, suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai meledak. "Ayah bilang Rangga malas? Rangga yang difitnah, Ayah yang tidak mau mendengar penjelasan Rangga, dan Ayah bilang malas?"
Pak Soerya terdiam, sedikit terkejut dengan perubahan sikap putranya.
"Rangga sudah bilang, Rangga dijebak!" Rangga berdiri, kakinya menendang meja di depannya menyebabkan gelas jatuh ke lantai. "Tapi tidak ada yang percaya! Bahkan Ayah, yang seharusnya menjadi tempat berlindung, lebih percaya pada perempuan asing daripada darah daging sendiri!"
"Rangga, kamu—
"ARGHHHH!" tangannya meraih vas bunga porselen berwarna putih yang menghiasi meja ruang tamu. Tanpa pikir panjang, ia membantingnya ke lantai.
Prangggg
Pecahan kaca berhamburan ke segala arah. Air dan bunga mawar layu berserakan di lantai keramik. Bunyi pecahan itu terasa memekakkan.
Pak Soerya tidak percaya anaknya bisa seperti ini.
Rangga tidak menjawab. Ia hanya menatap pecahan vas bunga yang berserakan di lantai, lalu menghela napas panjang. Dadanya masih naik turun, amarah masih membara, tapi tubuhnya mulai lelah. Terlalu lelah untuk terus berdebat dengan ayahnya yang keras kepala.
"Ayah tidak akan pernah mengerti," ucap Rangga akhirnya, suaranya pelan, hampir berbisik. "Tidak akan pernah."
Ia berbalik, meraih jaketnya yang tergantung di sandaran sofa, lalu berjalan menuju pintu. Langkahnya cepat, terburu-buru, seperti seseorang yang ingin melarikan diri dari kenyataan.
"Rangga!" panggil Pak Soerya. "Rangga, kamu mau ke mana? Kita belum selesai bicara!"
Rangga tidak menggubrisnya. Tangannya meraih gagang pintu, membukanya lebar-lebar, lalu melangkah keluar.
"RANGGA!"
Pak Soerya berteriak sekali lagi, namun jawabannya hanya suara pintu yang dibanting dengan keras.
BRAK!
Suara itu membuat Pak Soerya tersentak. Pria tua itu berdiri di tengah ruang tamu yang berantakan pecahan kaca,
Pak Soerya menghela napas panjang. Ia menutup matanya sejenak, lalu mengangkat tangannya, mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Ya Allah... beri aku kesabaran," lirihnya. "Anak itu...keras kepala sekali, seperti ibunya dulu."
*
Sementara itu, di apartemen lain di sisi kota yang berbeda,
Emily duduk di ranjangnya. Ia memegang ponsel di tangannya, jemarinya menggulir layar ke atas dan ke bawah.
Foto-foto itu masih ada. Ia tidak menghapusnya...
Ia berhenti pada satu foto, foto Rangga yang diambil dari samping, saat pria itu sedang tertidur di sofa klub malam. Wajahnya teduh saat tidur, berbeda dengan ketegangan yang biasa ia tunjukkan di kampus. Bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bibirnya tipis tapi terlihat lembut.
Emily memperbesar foto itu, menatap wajah Rangga dalam diam.
"Tampan" gumamnya. "Tapi kamu sangat bodoh." gumam Emily sambil menyeringai.
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey