NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Setelah berhari-hari didera oleh jadwal promosi yang sangat padat dan menguras tenaga, manajemen Tim Aether akhirnya memberikan kelonggaran waktu untuk beristirahat dari sorot kamera media. Namun, kata 'istirahat' bagi sebuah tim esports juara dunia tidak pernah berarti berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Pekan depan, mereka sudah dijadwalkan untuk bertanding dalam sebuah turnamen ekshibisi yang cukup bergengsi. Oleh karena itu, suasana asri di rumah pribadi Jasmine kembali beralih fungsi. Sejak Kamis pagi, ruang tengah yang biasanya tenang telah disulap menjadi markas latihan darurat. Lima unit komputer berspesifikasi tinggi milik masing-masing pemain telah ditata rapi secara melingkar. Kabel-kabel LAN menjulur di atas lantai, berpadu dengan riuhnya suara ketukan tombol papan tik mekanik dan gesekan tetikus yang bergerak super cepat. Waktu berputar dengan sangat cepat ketika mereka tenggelam dalam simulasi taktik. Tanpa terasa, jarum jam dinding di ruang tengah rumah Jasmine sudah bergeser melewati angka sebelas malam. Atmosfer di dalam ruangan mulai dipenuhi oleh rasa jenuh dan kelelahan fisik yang amat sangat.

Kruuuk...

Sebuah suara keroncongan perut yang cukup nyaring mendadak memecah keheningan di sela-sela suara desingan peluru virtual dari pelantang suara.

"Duh, suaranya jernih banget, Bry. Masuk ke mikrofon komando tim nih," celetuk Kenzie sambil menurunkan penutup telinga headsetnya, menatap tajam ke arah Bryan yang sedang menyandarkan punggungnya pasrah ke kursi gaming.

"Gue laper tingkat dewa nih," keluh Bryan dengan tampang paling merana, kedua tangannya memegangi perutnya yang kaku. "Efek trauma mi pedas kemarin bikin gue cuma boleh makan bubur hambar berhari-hari. Sekarang lambung gue beneran demo pengen makan makanan lain. Ada makanan gak, Jasmine?"

Jasmine ikut melepas headsetnya, lalu melirik ke arah dapur bersihnya yang kosong. "Cuma ada sisa sereal sama susu kotak di kulkas, Kak Bryan. Kalau mau pesan makanan lewat aplikasi daring, jam segini biasanya pilihan menunya udah sedikit banget di sekitar kompleks danau."

Mendengar hal itu, mata Bryan mendadak berbinar cerah seolah baru saja menemukan strategi clutch yang jenius di dalam game. Ia langsung menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Eh, tunggu dulu! Kafe kaca di seberang jalan kan kalau lampu terasnya masih nyala berarti masih ada orang! Siapa tahu Kak Liam mau berbaik hati buatin kita makanan darurat!"

Sebelum Jasmine sempat mengeluarkan kata larangan, jemari cepat seorang duelis papan atas milik Bryan telah dengan tidak tahu diri menekan nomor kontak pemesanan Floraison Cafe yang tertera di kartu nama, yang terletak di meja ruang tamu Jasmine.

"Halo Kak Liam!" seru Bryan heboh begitu panggilan teleponnya tersambung. "Ini gue, Bryan! Duet mautnya Jasmine! Kami lagi kelaparan tingkat akut di rumah Jasmine karena latihan sampai tengah malam. Masih ada makanan sisa gak? Apa aja deh, roti bakar atau nasi goreng darurat. Tolong yah Kak, ini demi menyelamatkan aset masa depan esports Indonesia!"

Jasmine hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dengan perasaan campur aduk, sementara Axel yang duduk di sudut seberang meja langsung menghentikan pergerakan tetikusnya. Rahang sang kapten menegang kaku, sepasang mata elangnya menatap Bryan dengan sorot mata yang seolah siap melempar anak itu keluar dari jendela rumah.

---

Lima belas menit kemudian, suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu depan rumah Jasmine. Jasmine buru-buru berdiri dan berjalan membuka pintu, diikuti oleh tatapan penuh selidik dari Axel yang ikut berdiri di ambang ruang tengah. Begitu pintu terbuka, sosok jangkung Liam berdiri di bawah sorotan lampu teras. Malam ini, ia tampil sangat kasual dengan kaos polos berwarna putih dan celana panjang kain hitam santai. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah nampan kayu besar yang ditutupi kain bersih, memancarkan aroma wangi mentega cair, kayu manis, dan roti panggang yang sangat menggugah selera.

"Selamat malam, Penembak Jitu. Ini pesanan makanan darurat untuk para juara dunia yang kelaparan," sapa Liam dengan seulas senyuman miringnya yang khas.

"Maaf ya, Kak Liam... Kak Bryan beneran gak tahu diri telepon malam-malam begini," ucap Jasmine tidak enak hati.

"Gak papa kok. Kebetulan aku memang belum tidur," jawab Liam santai.

"Woi, Kak Liam! Masuk aja sini! Taruh di meja tengah!" teriak Bryan tanpa beban dari dalam ruangan, melambai-lambaikan tangannya dengan sangat akrab.

Untuk pertama kalinya sejak Floraison Cafe berdiri di seberang jalan, Liam melangkah masuk melewati batas pintu rumah pribadi Jasmine yang ramai anak tim. Ia berjalan dengan pembawaan yang sangat tenang, tegap, dan penuh wibawa, mengabaikan atmosfer dingin berkadar pekat yang langsung dipancarkan oleh Axel yang berdiri mematung di dekat meja komputer. Liam meletakkan nampan kayu itu di tengah meja latihan mereka. Di atasnya tersaji lima porsi roti panggang isi daging asap premium dengan lelehan keju mozarella, serta lima cangkir teh herbal hangat dengan madu murni.

"Wah! Gila! Ini sih menu bintang lima, bukan makanan darurat!" seru Bryan kegirangan, langsung menyambar satu porsi roti bakar dan mengunyahnya dengan sangat rakus. Kenzie dan Ilias pun tidak bisa menahan air liur mereka, ikut mengambil porsi masing-masing sambil mengucapkan terima kasih yang teramat sangat kepada Liam. Namun, hal baru tiba-tiba meledak ketika Bryan yang baru menyelesaikan setengah dari roti panggangnya, mendadak menghentikan kunyahannya. Ia menatap Liam yang sedang berdiri santai di samping kursi Jasmine, lalu teringat sesuatu yang krusial tentang kejadian di rumah sakit tempo hari.

"Eh, bentar deh, Kak Liam..." Bryan menelan rotinya bulat-bulat, matanya menyipit sok menganalisis. "Gue baru ingat sesuatu. Waktu minggu lalu gue pingsan dan dibawa ke Darel Hospital karena kram perut, waktu gue sadar di ruang observasi, gue kayak sekilas ngeliat Kak Liam lagi jalan di lorong pakai baju putih dokter yang banyak perawatnya pada nunduk hormat gitu. Kak Liam punya kembaran yang kerja jadi dokter di sana, ya?"

Mendengar pertanyaan polos nan random dari Bryan, Jasmine hampir saja tersedak teh hangat yang baru diminumnya. Ia melirik Liam dengan pandangan panik, sementara Axel hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan dengusan sinis yang tertahan. Liam tidak langsung menjawab. Pria itu justru menyunggingkan sebuah senyuman miring yang terlihat sangat jenaka, lalu menarik sebuah kursi kosong di dekat meja dan duduk dengan santai di sana, menyamakan posisinya dengan anak-anak tim.

"Itu bukan kembaran saya, Bryan," jawab Liam dengan nada suara baritonnya yang sangat tenang namun penuh karisma. "Itu memang aku."

"Hah? Maksudnya gimana?" Bryan melongo, potongan roti panggangnya hampir jatuh dari tangan. Kenzie dan Ilias pun ikut menghentikan aktivitas makan mereka, menatap Liam dengan dahi berkerut dalam.

Jasmine menghela napas panjang, menyadari bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk membuka tabir misteri tersebut sesuai janjinya pada diri sendiri. "Kak Bryan, Kak Kenzie, Kak Ilias... Kak Liam ini sebenarnya adalah seorang dokter spesialis kedokteran jiwa. Dia seorang psikiater sekaligus psikolog klinis senior di Darel Hospital. Lalu... nama lengkapnya adalah dr. Liam Buana Darel. Rumah sakit besar itu adalah milik keluarganya."

Hening....

Suasana di dalam ruang tengah rumah Jasmine seketika membeku selama lima detik penuh. Mulut Bryan terbuka lebar membentuk huruf O sempurna, matanya melotot hingga hampir keluar dari bingkai wajahnya. Kenzie yang biasanya selalu memiliki analisis cepat untuk segala hal, kini hanya bisa memegang garpu rotinya dengan tangan yang kaku di udara, sementara Ilias tersenyum kikuk, mencoba memproses informasi besar yang baru saja menjatuhkan ego mereka sebagai orang yang mengira Liam hanyalah seorang pemilik kafe.

"D-Dokter... Jiwa? Psikiater?! Pemilik Darel Hospital?!" pekik Bryan akhirnya, suaranya naik dua oktav karena rasa tidak percaya yang luar biasa. Anak itu langsung meletakkan roti bakarnya, lalu dengan gerakan dramatis memutar kursinya menghadap penuh ke arah Liam.

Bukannya merasa takut atau minder karena mengetahui status agung Liam, kelakuan random Bryan justru semakin menjadi-jadi. Ia langsung memajukan tubuhnya, meraih tangan kanan Liam, dan menggenggamnya dengan erat seolah sedang bertemu dengan seorang dukun sakti penentu nasib.

"Astaga, Dokter Liam! Tolong gue, Dok! Sumpah, hidup gue belakangan ini penuh sama tekanan mental yang sangat jahanam!" ratap Bryan dengan ekspresi wajah yang dibuat semenderita mungkin, memulai sesi konsultasi psikolog gratis di tengah malam di rumah Jasmine.

Liam berkedip polos, namun naluri klinisnya yang dipadukan dengan selera humor miringnya langsung merespons dengan sangat santai. "Tekanan mental seperti apa yang kamu rasakan, Bryan?"

"Ini, Dok! Setiap malam gue selalu dihantui oleh bayangan menyeramkan berbentuk lima mangkuk mi instan pedas level tiga puluh yang menari-nari di dalam mimpi gue! Setiap kali gue lihat botol saus sambal di dapur, jantung gue langsung disko berdegup kencang, Dok! Apa ini yang dinamakan dengan PTSD akibat mi instan?! Tolong sembuhkan jiwa gue yang rapuh ini, Dokter Darel!" Bryan mengadu dengan rentetan kalimat yang luar biasa heboh, membuat Kenzie langsung menepuk dahinya sendiri karena menahan malu melihat kelakuan ajaib sahabatnya itu.

Liam tidak bisa menahan tawa renyahnya, ia mengangguk-angguk kecil dengan sikap seorang psikiater profesional yang sedang menghadapi pasien anak. "Gejala yang kamu alami itu menarik, Bryan. Dalam ilmu psikologi klinis, itu bisa dikategorikan sebagai trauma asosiatif ringan terhadap zat kapsaisin. Terapi terbaiknya sangat sederhana: jangan pernah lagi melakukan taruhan bodoh di internet demi angka viewer, dan perbanyak memakan bubur gandum tanpa bumbu selama satu minggu penuh."

"Wah, siap dilaksanakan, Dokter! Sumpah, saran Dokter langsung bikin batin gue merasa tercerahkan!" seru Bryan dengan wajah berbinar-binar cerah, merasa sangat puas karena mendapatkan perhatian penuh dari seorang dokter jiwa papan atas secara cuma-cuma.

Di sisi lain, Kenzie dan Ilias mulai memanfaatkan momen tersebut untuk ikut bertanya secara santai mengenai manajemen stres dan cara mengatasi burnout bagi para atlet esports yang harus menghadapi jadwal turnamen padat. Percakapan di atas meja latihan itu mengalir dengan sangat seru, penuh dengan tawa, penjelasan ilmiah yang mudah dicerna dari Liam, serta kehangatan interaksi sosial yang nyata.

Namun, di tengah-tengah riuhnya sesi konsultasi gratis dan candaan ramah tersebut, ada satu sosok yang sepenuhnya terisolasi dari kegembiraan malam. Axel duduk mematung sendirian di kursinya di sudut meja seberang. Posisinya yang semula merupakan pusat komando tertinggi di dalam rumah latihan ini, kini mendadak bergeser menjadi sosok penonton asing yang tidak dianggap. Anak-anak timnya, Bryan, Kenzie, dan Ilias, semuanya tampak begitu asyik melemparkan obrolan dan tawa bersama Liam, mengabaikan eksistensi sang kapten yang biasanya selalu mereka patuhi. Axel menatap pemandangan itu dengan kepalan tangan yang mengencang di bawah meja. Egonya yang setinggi langit sebagai pelindung tunggal Jasmine dan pemimpin mutlak Tim Aether terasa mati kutu, runtuh berkeping-keping di dalam wilayah kekuasaannya sendiri. Ia menyadari sepenuhnya bahwa di hadapan kematangan emosional dan pesona karismatik seorang dr. Liam Buana Darel, seluruh sistem disiplin kaku dan intimidasi diam yang biasa ia gunakan untuk mengendalikan suasana kini telah berubah menjadi sebuah lelucon yang tidak lagi memiliki kekuatan apa pun. Jasmine yang sedang duduk di samping Liam, memperhatikan bagaimana pria jangkung itu sesekali melemparkan pandangan teduh penuh perlindungan ke arahnya di sela-sela obrolan santainya bersama Bryan. Seulas senyuman damai yang seutuhnya terukir di bibir manis Jasmine. Malam ini, di bawah riuhnya suara tawa anak-anak tim dan aroma roti panggang di ruang tengah rumahnya, Jasmine tahu bahwa ia telah benar-benar menemukan tempat perlindungan yang paling aman, sebuah rumah yang tidak akan pernah membiarkan dunianya kembali terkunci dalam kesunyian sangkar emas milik Axel.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!