Berlatar di sebuah desa bernama Desa Suka Makmur. Anggap saja salah satu desa di Jawa Barat. Desa dengan beberapa fasilitas yang tersedia, seperti bangunan sekolah dasar, balas desa, puskemas pembantu, posyandu , lapangan sepak bola dan lainnya. Namun dibalik itu desa tersebut menyimpan kisah misteri dan terkenal dengan kemistisan nya. Desa pocong sebutan lain dari nama desa itu. Terdapat pantangan untuk tidak membuka pintu dan jendela di malam hari. Lebih-lebih keluar di waktu malam , apapun alasan nya. Jika melanggar maka siapapun akan terkena musibah. Sebuah teror, celaka , jatuh sakit , bahkan hingga kematian. Namun tak hanya itu , teror lain turut membayangi warga desa. Hingga seorang gadis pendatang baru yang tinggal di salah satu rumah yang terkenal angker berusaha mencari tahu tentang desa itu. Fitri namanya, gadis dengan kemampuan spiritual yang akan membantu warga desa terbebas dari ketakutan nyata teror pocong yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qsk sri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngeyel
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam di peraduan. Suasana desa kembali sunyi dan mencekam. Tak ada suara adzan Maghrib dan isya setiap harinya, termasuk subuh. Hal itu membuat suasana desa semakin kelam menjelang malam.
Di dalam kamar nya, Fitri baru selesai mengerjakan solat isya. Dalam sujud nya tadi,dia berdoa untuk keselamatan orang-orang di desa,dia meminta ampunan karena suara adzan yang tak terdengar di beberapa waktunya. Sungguh gadis itu merasa miris dan prihatin dengan kondisi desa itu,apalagi orang-orang nya yang terlalu takut dengan apa yang sesungguhnya tak perlu ditakuti.
"Astaghfirullah.....kenapa mereka begitu takut dengan setan, padahal ada yang harus lebih ditakuti yaitu Allah SWT" Lirih nya.
Dengan gerakan pelan gadis itu membuka mukena lalu melipat nya rapih. Disimpan nya mukena dan sajadah di lemari yang sudah bersih dari debu.
Fitri kemudian berjalan menuju dapur,di sana para hantu sudah layaknya para art yang tengah menyiapkan makan malam. Namun makanan yang disiapkan nampak berbeda dari makanan normal. Fitri menahan mual lalu menjauh dari dapur dengan wajah yang memerah.
"Hueekkk....! Apa yang kalian masak ?" Tanya Fitri dengan wajah merah padam.
"Tumis belatung kecap sama kecoak krispi. Kamu pasti suka " Jawab Jamila menoleh sebentar ke arah Fitri,sementara tangan nya sedang sibuk mengaduk isi wajan yang ternyata tumis belatung.
"Kalian ...masak itu buat gue ?!" Tanya Fitri dengan rasa tak percaya, nadanya meninggi, dengan mata yang melotot.
"Iya,tentu saja. Buat siapa lagi memang nya " Jawab Berliana enteng.
Sementara Maria hanya meringis senyum saja sambil mengelap piring yang baru dia cuci.
"Sorry...tapi gue gak makan begituan. Buat kalian saja !" Ucap Fitri menahan mual. Gadis itu lantas berlalu ke ruang tengah,duduk di atas karpet kecil. Ruangan itu masih kosong melompong tak ada kursi ataupun perabotan lain. Rencananya besok dia akan mulai pergi mencari perabotan rumah , sedangkan Daryo yang akan mengurus masalah bahan bangunan,seperti pasir ,semen,kayu dan yang lain nya.
"Gila ! Mereka pikir gue apaan ! Masa mau ngasih gue makan belatung sama kecoak ! Hiiiiyyy...." Fitri bergidik geli,rasa lapar yang tadi dia rasakan mendadak sirna,berganti dengan rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya.
"Huuuuhhh ....nasib gue gini amat dah! Tiba-tiba yatim piatu, punya besti setan semua kecuali Lita. Dia lagi ngapain ya,gue jadi kangen " lirih gadis itu seketika teringat masa-masa dulu nya yang terasa begitu sempurna. Meski hidup sederhana tetapi ada keluarga...ayah ,ibu, adik-adiknya yang sering membuat nya jengkel ,tetapi memberi warna dalam hidup nya. Namun kini semuanya telah jauh berbeda , hidup nya terasa hambar dan hampa setelah kepergian keluarga nya. Ada kekosongan di hati nya yang membuat nya kesepian.
Fitri lantas mengambil ponsel nya,membuka sosial media. Akan tetapi baru saja aplikasi medsos nya terbuka dia segera mematikan ponsel nya.
" Ck...apa-apaan ! Kenapa yang muncul malah postingan dia sih !" Kesal nya. Bagaimana dia tak merasa kesal,secara postingan pria yang ditaksirnya sejak lama membuat darah nya mendidih.
"Orang bilang jatuh cinta itu indah. Preeettt...gue dari dulu malah makan ati terus. Ati ampela sih enak,lah ati yang ini bikin menderita. Duh... ngomong-ngomong ati...gue jadi inget kalau gue laper. Cari makan kemana udah malam gini,mana di sini kalau malam sepi banget. Gak bisa pesan online pula" Lirih gadis itu. Ia jadi menyesal telah menolak menginap di rumah bibi nya.
Malam terus berlanjut,detak jarum jam di dinding terdengar begitu nyaring. Dalam hening nya malam,sayup terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Teng...teng...teng....
Fitri menyingkap tirai jendela,melihat ke luar memperhatikan sekitar depan rumah.
"Lah,...itu ada yang jualan. Katanya gak boleh ada yang keluar malam ...." Gumam Fitri kembali menutup tirai. Ia hendak melangkah ke dapur membawa mangkuk,ia yakin itu penjual bakso karena aroma nya yang masuk lewat ventilasi udara.
"Mau kemana ?" Tanya Maria berdiri di samping pintu dapur.
"Beli bakso. Laper,gue..." Jawab Fitri tanpa menoleh.
"Aku juga mau dong !" Seru Maria yang kemudian melayang disamping Fitri dengan mata berbinar.
"Emangnya belum kenyang ? Kan tadi abis makan tumis belatung dan kecoak krispi" Tanya Fitri heran.
"Aku gak ikut makan kok , geli banget. Seumur jadi setan belum pernah aku makan belatung dan kecoak" Ucap Maria gengsi. Padahal tadi dia yang makan paling banyak.
"Masa sih ?" Fitri tak percaya.
Saat itu Jefry si jerangkong muncul. Gemeretuk tulang nya jadi pertanda kemunculan hantu tengkorak itu.
"Mau kemana ?" Tanya nya sama persis dengan pertanyaan Maria tadi.
"Beli bakso. Udah ah,jangan ngajakin ngobrol terus, nanti kang bakso nya keburu pergi jauh " Ucap Fitri segera berjalan ke arah pintu.
Namun Edward,hantu anak kecil menghalanginya. " Jangan kak !" larang nya.
"Ck...minggir ! Gue lapar , Lo mau gue makan hah ! " Kesal Fitri.
Edward nampak gemetar,namun hantu itu tak ingin pergi dari tempat nya.
"Minggir gak !"
"Bener kata Edward. Jangan ke luar ! Itu bukan manusia,tapi setan seperti kita" Ucap Berliana yang tiba-tiba muncul di samping Edward.
"Kalau setan ngapain jualan ! Itu pasti orang lah " Ternyata rasa lapar membuat nya tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Kalau gak percaya lihat saja ! Perhatikan baik-baik,tapi jangan keluar " Ucap Jefry.
" Huuuuuffftthhh.....!" Fitri menghela nafas.
"Oke ! Gue perhatikan dari sini " Fitri akhirnya memperhatikan penjual bakso yang rupanya mangkal di depan rumah nya.
Aroma kaldu dari kuah bakso begitu menggoda lidah dan iman nya, ingin rasanya dia berlari keluar sambil membawa mangkuk lalu berkata,"Bang,bakso nya dua porsi " Tapi ternyata itu hanyalah angan-angan nya saja,sebab di detik berikutnya suasana depan rumah begitu ramai.
"Astaga...." Gumam Fitri seketika menutup tirai.
"Kenapa ? Kaget ya...?" Tanya Jamilah meledek.
"Memang seperti itu di sini. Kalau malam suasana jadi makin meriah sama pocong-pocong. Ada yang jualan ada pembeli,kadang suasana akan semakin rame kalau ada setan yang hajatan" tutur Jamilah
Fitri mengerutkan kening," setan juga bisa hajatan ?" Tanya nya heran.
"Iya,karena mereka bukan setan biasa..." Ucapan Jamilah segera dipotong Jefry.
"Sudah ! Kamu sudah banyak bicara. Mending sekarang kamu masuk kamar dan tidur saja. Tahan dulu lapar nya sampai besok pagi " Ucap Jefry
"Ck...kenapa sih,gak manusia nya gak setan nya semua pada ngelarang keluar rumah" Fitri yang kesal kembali ke dapur menaruh mangkuk nya kembali.
...
Udara yang dingin begitu menusuk hingga ke tulang,jam di dinding menunjukan pukul satu dini hari. Fitri yang kelaparan nyatanya sampai detik ini belum bisa tidur. Perutnya yang terus keroncongan tak mampu diajak berkompromi untuk menunggu hingga pagi tiba.
"Kalau begini terus bisa naik beneran asam lambung gue" Gumam nya pelan.
"Padahal tadi udah makan promah tapi tetep saja kerasa perih "lanjutnya sambil menekan pelan di area ulu hatinya.
"Gue gak bisa diem aja" Gadis itu pun nekat keluar rumah,meski ia tahu tak akan dia menemukan sesuatu yang bisa dimakan.
Saat itu masih banyak pocong-pocong yang berkeliaran, serentak semua pocong itu terdiam lalu menoleh ke arah Fitri bersamaan.
Gluk'
Fitri menelan ludah nya.
"Hehehe ...h...hayyy....!" Lirih Fitri sambil meringis melambaikan tangannya.
Wajah para pocong itu semua nampak hitam,menatap tajam ke arah Fitri.
"Oke....oke gue masuk rumah. Sorry gue gak ada maksud ganggu kalian " Ucap Fitri sambil mundur perlahan.
Hingga saat ia sampai di depan pintu, cepat-cepat dia masuk lalu menutup pintu rapat-rapat.
"Huuuuhhh.....aman...." Lirih gadis itu merasa lega,akan tetapi ketenangan nya hanya beberapa detik saja,karena kini para pocong di luar sudah mengerubungi rumah nya. Sebagian dari pocong itu menggedor-gedor pintu rumah dan jendela menggunakan kepala mereka.
Dug....dug....dug....
"Waduh....."
Maria,Jamila,Berliana,Jefry,dan Edward datang dengan wajah panik. George tidak ada, pocong itu tengah bergabung bersama pocong-pocong lain di luar.
"Fit,kamu abis ngapain? " Tanya Jamila menatap curiga.
"Gak ngapa-ngapain, cuman keluar sebentar. Gak lama kok,gak nyampe semenit juga masuk lagi gue " Jawab Fitri tanpa dosa.
"Haduh....kamu gimana sih... dibilangin gak boleh ke luar juga,malah ngeyel !" Berliana nampak marah
"Ya abisnya gue laper...." Ucap Fitri tanpa banyak beralasan.
"Astaga..... Fitri......!"
........