NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Habibi sendiri kembali menyusu dengan tenang, jauh berbeda dibanding cerita para perawat yang kewalahan beberapa hari terakhir.

Umi Salma menghela napas panjang tanpa sadar. Hatinya terasa jauh lebih ringan melihat cucunya akhirnya minum dengan tenang seperti itu.

Sementara Amira sama sekali tidak menyadari tatapan perempuan sepuh itu. Fokusnya hanya pada bayi kecil di pelukannya. Dan pada satu hal yang terus ia tanamkan dalam dirinya sejak tiba di ndalem.

Ia datang ke tempat ini bukan sebagai perempuan yang mencari kedudukan. Ia hanya ingin menjalankan amanah sebaik mungkin.

Habibi menyusu dengan tenang di pelukan Amira. Suara isapannya kecil dan teratur, sesekali diselingi napas pelan yang membuat suasana kamar terasa jauh lebih damai dibanding sebelumnya.

Umi Salma yang sejak tadi duduk memperhatikan akhirnya berdiri perlahan. “Alhamdulillah…” lirihnya hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

Amira mendongak sedikit.

Umi Salma tersenyum lembut padanya. “Sejak lahir saya tidak melihat Habibi setenang ini.”

Amira langsung menunduk malu. “Dia hanya lapar, Umi.”

“Bukan hanya itu.” Kalimat itu diucapkan pelan, tapi cukup membuat Amira diam. Umi Salma lalu melangkah mendekat dan membenahi sedikit kain bedung Habibi yang terbuka. “Kalau dia sudah tidur nanti, panjenengan istirahat saja.”

Amira mengangguk kecil. “Iya, Umi.”

“Saya masih ada urusan pondok.” Nada suara Umi Salma kembali lebih formal. “Beberapa wali santri sedang menunggu.”

Amira langsung merasa tidak enak. Ia hampir lupa kalau perempuan di hadapannya bukan hanya nenek Habibi, tetapi juga nyai besar yang mengurus pesantren sebesar ini. Namun anehnya sejak tadi Umi Salma memperlakukannya dengan sangat lembut. Bahkan terlalu baik untuk seseorang yang baru dikenalnya sehari.

Sebelum keluar kamar, Umi Salma sempat berhenti di depan pintu. “Kalau ada apa-apa, tinggal panggil khadimah. Yang akan membantu kamu namanya Tiur."

“Baik, Umi.”

“Oh ya.” Umi Salma kembali menoleh sebentar. “Jangan sungkan meminta apa pun yang panjenengan butuhkan.”

Amira buru-buru menggeleng. “Yang sudah disediakan saja sudah terlalu banyak, Umi.”

Umi Salma tersenyum tipis. “Menyusui bayi itu tidak mudah.” Setelah mengatakan itu, beliau akhirnya keluar meninggalkan kamar. Pintu tertutup pelan. Dan mendadak suasana jadi sangat sunyi.

Kini hanya ada Amira dan Habibi. Amira menunduk memandangi bayi kecil di pelukannya yang mulai mengantuk setelah kenyang menyusu. Bulu matanya panjang. Wajahnya tenang. Sangat tenang sampai dada Amira terasa hangat hanya karena melihatnya.

Pelan-pelan Habibi tertidur sambil masih menempel di dadanya. Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan bayinya sendiri Amira merasakan pelukannya tidak kosong lagi.

Habibi akhirnya benar-benar tertidur. Tubuh kecilnya hangat dan lemas di pelukan Amira setelah kenyang menyusu. Sesekali bibir mungilnya bergerak kecil seperti masih mencari susu dalam tidurnya. Amira tersenyum samar.

Pelan-pelan ia berdiri lalu membaringkan Habibi kembali ke dalam baby box dengan sangat hati-hati. Ia bahkan menahan napas sendiri saat merapikan selimut bayi itu, takut membuatnya terbangun.

Baru saja Amira selesai membenahi bedung kecil Habibi, Tok tok. Pintu kamar diketuk pelan.

“Masuk,” jawab Amira spontan dengan suara lirih.

Pintu terbuka perlahan dan seorang perempuan muda masuk sambil menunduk sopan. Usianya mungkin sepantaran Amira, sekitar dua puluh tahunan. Tubuhnya kecil, wajahnya manis, memakai gamis longgar dengan jilbab sederhana warna abu-abu.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam.”

Perempuan itu mendekat beberapa langkah lalu tersenyum ramah. “Saya Tiur, Bu.”

Amira langsung berdiri lebih tegak. “Oh… iya.”

“Saya khadimah di ndalem.” Tiur melirik sekilas ke arah baby box lalu menurunkan suaranya otomatis. “Umi Salma menyuruh saya membantu Bu Amira selama di sini.” Tiur kembali berkata pelan, “Kalau Habibi sudah tidur, Bu Amira dipersilakan istirahat di kamar saja.”

Amira reflex menggeleng kecil. “Tidak apa-apa. Saya bisa di sini.”

“Saya yang jaga Habibi dulu.”

Amira langsung tidak enak. “Jangan merepotkan…”

“Tidak repot, Bu.” Tiur tersenyum kecil. “Memang tugas saya.”

Amira terdiam. Ia masih belum terbiasa diperlakukan seperti ini.

Tiur lalu berjalan mendekati baby box dan memeriksa Habibi dengan gerakan yang terlihat sudah terbiasa. “Alhamdulillah,” gumamnya pelan. “Akhirnya Gus Habibi mau tidur nyenyak juga.”

Amira sedikit tertegun mendengar panggilan itu. Gus Habibi.

Baru sekarang ia benar-benar sadar bahwa bayi kecil itu bukan anak biasa.bIa cucu kyai besar. Ayahnya juga seorang kyai muda yang pasti sangat dihormati di pesantren ini. Dan dirinya hanya perempuan kampung yang tiba-tiba berada di tengah kehidupan mereka.

Tiur menoleh lagi pada Amira. “Bu Amira pasti capek.” Nada suaranya tulus. “Sejak kemarin juga baru melahirkan, kan?”

Amira mengangguk pelan. Tubuhnya memang mulai terasa berat sekarang. Pinggangnya nyeri, kepalanya sedikit pening, dan matanya panas karena kurang tidur. Namun entah kenapa hatinya justru sulit meninggalkan kamar Habibi.

Seolah setelah keluar dari ruangan ini, ia akan kembali merasa kosong seperti sebelumnya. Tetapi Karena terus didesak Tiur, akhirnya Amira menyerah juga.

“Kalau Habibi bangun, panggil saya ya,” pesannya pelan sebelum keluar kamar.

“Iya, Bu Amira,” jawab Tiur sambil tersenyum.

Amira melangkah pelan menuju kamar sebelah. Pintu kamarnya masih terbuka sedikit. Begitu masuk, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambut tubuhnya yang mulai lelah.

Baru sekarang rasa capek itu terasa benar-benar datang. Tubuhnya masih nyeri setelah melahirkan. Kakinya pegal, pinggangnya sakit, dan bagian bawah perutnya terasa seperti ditarik setiap kali berjalan terlalu jauh.

Amira duduk perlahan di tepi ranjang. Namun matanya langsung tertuju pada meja kecil di samping tempat tidur.

Di sana sudah tersusun beberapa botol jamu, minyak telon, air rebusan daun sirih hangat di termos kecil, sampai ramuan tradisional untuk ibu nifas. Ada juga baskom kecil berisi kain hangat dan beberapa obat dari klinik yang sudah ditata rapi.

Amira terdiam. Pelan-pelan ia mengambil salah satu botol jamu itu. Masih hangat. Artinya baru dibuat belum lama. Dadanya tiba-tiba terasa penuh. Ia benar-benar tidak menyangka. Umi Salma ternyata memperhatikan sampai hal-hal sekecil ini. Bukan hanya soal ASI untuk Habibi. Tetapi juga tubuh Amira yang baru selesai melahirkan. Perempuan sepuh itu bahkan memikirkan pemulihannya.

Amira menunduk sambil memegang botol jamu itu erat-erat. Sejak datang ke ndalem, ia terus merasa canggung dan asing. Namun perhatian-perhatian kecil seperti ini perlahan membuat hatinya melunak. Di rumah sendiri saja, ia bahkan belum sempat benar-benar dipedulikan sebagai ibu yang baru kehilangan anak. Semua orang sibuk menyuruhnya ikhlas. Cepat kuat. Cepat lupa.

Tetapi di tempat ini ada orang yang diam-diam memikirkan apakah tubuhnya sudah cukup makan, cukup istirahat, dan cukup hangat setelah melahirkan.

Tanpa sadar mata Amira mulai berkaca-kaca lagi. Ia buru-buru mengusapnya. “Ya Allah…” bisiknya lirih. "Kenapa aku malah membanding-bandingkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!