NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 39: KEBENARAN YANG MENGALIR SEPER

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 40: KEBENARAN YANG MENGALIR SEPERTI AIR

Jam dinding di ruang kelas pun bergerak menunjuk ke angka sebelas tepat. Suara bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi nyaring menggema ke seluruh penjuru sekolah. Semua murid serentak membereskan buku dan alat tulis mereka. Pak Bilal menutup pelajaran hari ini dengan pesan singkat namun mendalam: "Jadilah orang yang bermanfaat, sebaik air yang memberi hidup bagi siapa saja yang meminumnya."

"Assalamualaikum Pak..." seru kami semua berbaris rapi di depan kelas.

"Waalaikumsalam... Hati-hati di jalan ya anak-anak, jaga diri baik-baik," jawab Pak Bilal sambil tersenyum menatapku sekilas, senyum yang penuh makna bangga.

Aku pun berjalan keluar kelas, menunggu Bagas, Dimas, dan Fajar di gerbang sekolah. Tak lama mereka datang berlari kecil dengan wajah ceria, seolah beban pelajaran pagi ini sudah hilang terbawa angin.

"Kak Riaaaa...!!" teriak mereka serempak.

"Husshh... Jangan berteriak-teriak di jalan nanti orang kira kita gak di didik," tegurku lembut sambil tersenyum merangkul kepala mereka bertiga. "Yuk kita pulang, Bunda pasti udah nungguin di rumah sambil bawa makanan enak nih kayaknya."

Kami pun berjalan beriringan pulang. Di sepanjang jalan desa yang berkelok-kelok itu, angin semilir meniup dedaunan, suasananya damai sekali. Namun, damai itu sedikit terganggu saat kami melewati lapangan desa. Di sana terlihat Bu Wati, Bu Umi, dan beberapa ibu lain sedang duduk-duduk santai di bawah pohon besar, sepertinya habis dari rumah Pak Juadi.

Melihat kami lewat, Bu Wati langsung bersuara keras, sengaja diperdengarkan ke telinga kami.

"Lihat tuh... Itu dia anak yang merasa paling benar. Padahal ibunya saja dulu gak bisa apa-apa, sekarang sok sibuk melindungi. Dasar anak kurang ajar, mulutnya tajam sekali kayak pisau," cibir Bu Wati sambil membuang muka.

Bu Umi ikut menyahut, "Iya tuh, baru dapat ilmu sedikit dari sekolah, langsung lupa diri. Padahal kami ini orang tua, harusnya dihormati, bukan dilawan. Gak tau sopan santun banget sih si Ria itu."

Adik-adikku, Bagas dan Dimas, terlihat marah dan mau berbalik menjawab, tapi aku langsung menahan tangan mereka erat. Aku menggeleng pelan, memberi isyarat untuk diam saja dan terus berjalan. Aku berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah mereka dengan wajah tenang, tanpa rasa marah sedikit pun.

"Ibu-ibu sekalian..." suaraku lembut namun jelas terdengar sampai ke telinga mereka semua. "Ria diajarkan Bunda, diajarkan guru, diajarkan agama, bahwa menghormati orang tua itu wajib. Tapi Ria juga diajarkan, membela kebenaran dan diri sendiri itu juga wajib kalau kita ditindas, difitnah, dan disakiti. Mulut Ria tajam? Mungkin iya Bu... Tapi tajamnya mulut Ria itu cuma buat memotong fitnah dan kebohongan, bukan buat menyakiti orang yang jujur. Semoga hati Ibu-ibu segera diberi penerangan ya, biar gak capek-capek ngomongin orang lain terus."

Setelah berkata begitu, aku tersenyum tulus, lalu melanjutkan langkah kaki meninggalkan mereka yang terdiam serentak, tak menyangka aku akan bicara setenang itu. Mereka bingung, kenapa aku bisa setenang itu padahal sudah dihina-hina habis-habisan. Padahal bagi aku, Diam dan bicara dengan kebenaran itu jauh lebih menyakitkan bagi pembenci, daripada kita berteriak marah-marah.

Sesampainya di rumah, aroma masakan Bunda sudah tercium harum semerbak menyapa hidung. Perut kami yang dari tadi sudah lapar langsung berbunyi riang.

"Bundaaaa... Kami pulangggg!!" seru kami masuk ke rumah.

Bunda keluar dari dapur sambil mengelap tangannya ke celemek, wajahnya berseri-seri melihat kami datang.

"Assalamualaikum Nak... Alhamdulillah sudah pulang. Hati-hati ya jalannya, ada yang ganggu gak tadi?" tanya Bunda sambil mencium kening kami satu per satu.

"Gak ada Bun... Semuanya aman, lancar jaya," jawabku sambil mengedipkan mata ke adik-adik, memberi kode supaya jangan cerita soal Bu Wati biar Bunda gak kepikiran.

"Syukurlah kalau gitu... Ayo segera bersihkan diri, cuci tangan, makan sudah siap di meja," suruh Bunda ramah.

Saat kami sedang duduk menikmati makan siang sederhana namun nikmat itu, aku memperhatikan wajah Bunda. Terlihat ada sedikit kelelahan, tapi mata Bunda tetap bersinar indah.

"Bun..." panggilku pelan sambil menyuap nasi ke mulut.

"Ya Nak? Ada apa?"

"Bunda tadi ke rumah Pak Juadi ya? Gimana acaranya? Ramai sekali kan?" tanyaku penasaran.

Bunda tersenyum kecil, lalu menghela napas pelan. "Iya Nak... Ramai sekali. Bunda ke sana bantu-bantu sedikit, cuci piring, bersihkan sisa makanan. Alhamdulillah dapat rezeki berupa beras sedikit sama lauk pauk, cukup buat kita makan beberapa hari ke depan."

Aku menunduk sejenak, hatiku terasa nyeri tapi hangat. "Bunda... Maaf ya... Kalau kami belum bisa bikin Bunda makan enak, pakai baju bagus, atau istirahat saja di rumah. Bunda masih harus bantuin orang lain demi dapat sedikit rezeki..."

Belum selesai bicaraku, tangan Bunda yang lembut sudah mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang.

"Jangan ngomong begitu ya Nak..." potong Bunda lembut. "Bunda bekerja, Bunda bantuin orang lain, itu bukan beban. Itu kebahagiaan buat Bunda. Tau gak Nak? Di mata Bunda, kalian ini harta paling mahal di dunia. Makanan sederhana begini, tapi dimakan bareng-bareng sama anak-anak yang pintar, baik, dan berbakti kayak kalian, rasanya jauh lebih enak daripada daging sapi atau ayam mewah di restoran orang kaya. Bunda bangga sekali punya anak-anak hebat seperti kalian, apalagi kamu Nak Ria... Kamu kekuatan Bunda sekarang."

Mata Bunda berkaca-kaca, begitu juga mataku. Aku langsung memeluk lengan Bunda erat sekali.

"Terima kasih ya Bunda... Terima kasih sudah kuat, terima kasih sudah sabar, terima kasih sudah membesarkan kami dengan kasih sayang sebesar ini. Insyaallah Bun, suatu saat nanti, lewat tulisan tangan Ria ini, lewat cerita yang Ria buat, Ria janji bakal bahagiain Bunda, bakal bikin Bunda duduk manis, gak perlu capek-capek lagi. Ria janji Bun..." bisikku lirih penuh tekad.

Bunda mengangguk sambil mengusap air mata yang menetes di pipiku. "Bunda percaya Nak... Bunda percaya sepenuhnya sama kamu. Allah itu gak tidur, Allah melihat perjuangan kamu. Apa yang kamu tanam sekarang, kebaikan, kejujuran, kesabaran... Nanti bakal kamu petik hasilnya jauh lebih indah. Sudah ya, jangan nangis, nanti nasinya keasinan kena air mata. Ayo makan yang banyak, biar makin pintar, makin kuat, dan makin bisa menebar kebaikan di mana saja kamu berada."

Siang itu, di gubuk kecil kami, rasa syukur dan kasih sayang itu meluap-luap melebihi apa pun yang ada di dunia ini. Aku sadar, betapa beruntungnya aku punya Bunda sebaik ini, punya keluarga yang saling menguatkan. Dan aku makin yakin, ceritaku ini, kisah kami ini, bukan cuma sekadar tulisan... Tapi adalah bukti nyata bahwa Diam bukan berarti kalah, dan kesederhanaan adalah kemewahan yang paling mahal.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!