NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: GANGGUAN KECIL

Keesokan paginya, suasana di Markas Delta-7 terasa sedikit berbeda. Udara masih segar, tapi ada getaran halus yang tidak kasat mata, seperti senar gitar yang dipetik terlalu kencang hingga hampir putus. Mungkin itu hanya sisa kelelahan setelah festival semalam, atau mungkin insting prajurit mereka mulai tajam menangkap sesuatu yang salah.

"Alarm level 1 di Sektor 7," suara komputer markas terdengar datar namun mendesak. "Terdeteksi anomali energi dan pergerakan biologis tidak dikenal. Semua anggota Squadron Aurora, siap siaga."

Raka yang sedang menyeruput kopi pagiannya hampir tersedak. "Sektor 7? Itu area pembuangan limbah lama kan? Harusnya kosong."

"Mungkin ada tikus mutan raksasa," ledek Bimo sambil mengunyah roti dengan mulut penuh, meski tangannya sudah sigap mengambil helm tempurnya. "Atau mungkin alien lapar yang nyasar?"

"Fokus," potong Elara, wajahnya kembali serius seperti biasa. Dia sudah memakai seragam lengkapnya dalam waktu kurang dari dua menit. "Komandan Varen bilang ini cuma gangguan kecil, tapi prosedur tetap prosedur. Kita cek lokasi, amankan area, lalu lapor."

Mereka berlari menuju hanggar, naik ke kendaraan hover cepat berwarna oranye khas Squadron. Mesin menderu, dan dalam hitungan menit, mereka sudah meluncur melewati lorong-lorong kota Neo-Solara menuju Sektor 7.

Sektor 7 memang suram. Dinding-dindingnya dipenuhi lumut sintetis berwarna hijau gelap, lampu jalan banyak yang mati berkedip-kedip, dan suasananya sepi mencekam. Tidak ada warga di sini. Hanya tumpukan besi tua dan pipa-pipa raksasa yang menjulang seperti kerangka dinosaurus.

"Scan area," perintah Elara saat mereka turun dari kendaraan di tengah lapangan luas yang dipenuhi genangan air kotor.

Kai langsung mengaktifkan drone-nya. "Mencari sumber sinyal... Oke, ditemukan. Jarak 200 meter ke utara, di balik tumpukan kontainer bekas. Bacaan energi... aneh. Naik turun nggak stabil. Dan ada tanda panas biologis. Satu target."

"Satu target?" Raka mengangkat alisnya. "Cuma satu? Padahal alarmnya ribut banget."

"Mungkin dia sendirian," kata Bimo sambil memutar-mutar tongkat energinya. "Ayo kita grebek!"

Mereka bergerak maju dengan formasi tempur standar. Elara di depan, Bimo dan Raka di sisi kiri-kanan, Kai di belakang memberikan dukungan data. Langkah mereka hati-hati, sepatu bot mereka menginjak genangan air dengan suara ciprak pelan yang menggema di keheningan sektor itu.

Tiba-tiba, dari balik tumpukan kontainer, terdengar suara geraman rendah. Grrrroooook...

Sosok itu muncul.

Itu bukan monster raksasa pemakan manusia. Bukan pula robot pemberontak bersenjata laser.

Itu seekor... anjing? Atau setidaknya, sesuatu yang dulunya anjing.

Tubuhnya sebesar anak sapi, bulunya rontok sebagian digantikan oleh sisik logam yang tumbuh tidak beraturan. Satu matanya menyala merah, sementara mata lainnya normal dan terlihat ketakutan. Kakinya pincang, dan dari tubuhnya keluar percikan listrik kecil setiap kali dia bergerak.

"Itu..." Kai menurunkan tabletnya, bingung. "Anjing liar mutan? Terinfeksi limbah radioaktif sisa perang dulu?"

"Kelihatannya sakit," gumam Elara, menurunkan senjata lasernya sedikit. "Dia nggak menyerang. Dia cuma... bertahan."

Anjing mutan itu melihat mereka, lalu menggeram lagi, tapi kali ini suaranya lebih mirip erangan kesakitan. Listrik di tubuhnya makin menjadi-jadi, membuat udara di sekitar mereka berdengung. Alat pendeteksi energi di pergelangan tangan Raka tiba-tiba berkedip merah terang. Bip! Bip! Bip!

"Hei, Rak, alat lo kenapa?" tanya Bimo khawatir. "Nggak rusak kan?"

Raka menatap alat itu. Lampu merahnya berkedip semakin cepat, seolah merespons listrik yang keluar dari tubuh anjing itu. Tapi anehnya, Raka tidak merasa takut. Justru, dia merasakan tarikan aneh. Seperti ada frekuensi yang sama antara getaran di tubuhnya dan getaran pada anjing itu.

Tangannya mulai gatal. Partikel emas di bawah sarung tangannya ingin keluar.

Raka cepat-cepat mengepalkan tangan dan tertawa renyah, mencoba mengalihkan perhatian teman-temannya.

"Ah, alat tua ini memang sensitif banget sama pesonaku!" canda Raka, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. "Mungkin dia ngerasa aku ganteng jadi alarmnya bunyi terus. Atau mungkin baterainya mau habis."

Elara melirik Raka sekilas, tatapannya menyelidik. Dia tahu Raka menyembunyikan sesuatu. Tapi sebelum dia sempat bertanya, anjing mutan itu tiba-tiba tersentak kejang. Listrik biru menyembur liar ke segala arah, menghantam pipa di dekat mereka hingga meledak kecil.

"Awas!" teriak Elara.

"Biarkan aku," kata Raka langkah maju.

"Raka, jangan! Itu berbahaya!" seru Kai.

Tapi Raka sudah berjalan mendekati makhluk itu. Langkahnya tenang, tidak ada rasa takut. Saat dia semakin dekat, cahaya emas samar mulai bocor dari sela-sela sarung tangannya, menyinari wajah anjing itu yang penuh penderitaan.

"Tenang, kawan," bisik Raka lembut. Suaranya terdengar bergema aneh, seolah ada lapisan lain di dalamnya. "Aku nggak akan sakitin kamu."

Anjing itu berhenti menggeram. Matanya yang merah menatap Raka. Seolah mengenali sesuatu. Cahaya emas dari tangan Raka menyentuh udara di sekitar anjing itu, dan secara ajaib, percikan listrik liar itu mereda. Energi kacau yang mengelilingi makhluk itu seolah terserap masuk ke dalam tubuh Raka, atau setidaknya ditenangkan oleh kehadirannya.

Dalam hitungan detik, anjing itu runtuh, tapi bukan karena lemah.而是因为 lelah. Napasnya teratur kembali. Sisik logam di tubuhnya tidak hilang, tapi cahayanya redup, tidak lagi menyakitkan.

Raka berjongkok, mengelus kepala anjing itu pelan. "Bagus. Sudah aman sekarang."

Di belakangnya, ketiga temannya ternganga.

"Lo... lo ngapain tadi?" tanya Bimo polos. "Kayaknya dia nurut banget sama lo."

"Cuma sentuhan khusus aja," jawab Raka sambil berdiri, cepat-cepat memasukkan tangannya yang masih berasap tipis ke dalam saku. "Mungkin dia butuh teman."

Elara berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah saku Raka. "Alat deteksimu tadi... kenapa berkedip merah tepat saat lo dekatin dia? Dan kenapa listriknya bisa mati begitu saja?"

Raka tersenyum, senyum lebar yang agak dipaksakan. "Keberuntungan? Atau mungkin dia alergi sama bau kaos kakiku yang udah tiga hari nggak dicuci?"

Elara tidak tertawa. Dia tetap menatap Raka, tapi akhirnya menghela napas. "Jangan macam-macam, Rak. Kita nggak tahu apa efek radiasi ini buat manusia."

"Iya, Kapten," jawab Raka patuh, meski hatinya berdebar kencang.

Dia tahu tadi bukan sekadar keberuntungan. Saat dia menyentuh energi anjing itu, dia merasakan sakit yang hebat di seluruh tubuhnya, seolah partikel emas di dirinya bereaksi keras menyerap kekacauan itu. Tapi đổi lại, anjing itu selamat. Dan tidak ada yang curiga. Belum.

"Misi selesai," lapor Kai ke markas via komunikator. "Target diamankan. Ternyata cuma anjing mutan sakit. Nggak ada ancaman serius."

"Baik. Bawa hewan itu ke klinik veteriner sektor 3, lalu kembali ke markas," jawab suara Komandan Varen.

Perjalanan pulang terasa lebih hening dari biasanya. Bimo sibuk menggendong anjing mutan itu (yang kini sudah jinak dan tidur pulas) di pangkuannya. Kai asyik menganalisis data rekaman drone, meski sesekali melirik Raka dengan bingung. Elara menyetir dengan fokus, tapi sesekali matanya melirik spion tengah, mengamati Raka yang duduk diam di kursi belakang.

Raka menatap keluar jendela. Langit Neo-Solara masih biru, tapi di ufuk barat, awan tipis berwarna ungu pekat mulai berkumpul lagi. Lebih tebal dari kemarin.

Dan di dalam tubuhnya, rasa lelah yang luar biasa mulai menyerang. Menyerap energi anjing tadi ternyata menguras tenaganya lebih dari yang dia kira. Tangannya gemetar pelan di atas pangkuan.

"Lo oke, Rak?" tanya Elara tiba-tiba, suaranya lembut.

Raka tersentak, lalu tersenyum. "Oke banget. Cuma... mikirin makan siang aja. Bimo, nanti kita masak apa ya?"

"Ayam goreng lagi!" seru Bimo semangat, lupa kalau mereka baru saja menghadapi situasi tegang.

"Wah, ide bagus," sahut Raka, menutupi rasa sakitnya dengan antusiasme palsu.

Mereka kembali ke markas dengan selamat. Misi "gangguan kecil" itu selesai tanpa korban jiwa, tanpa kerusakan besar. Bagi dunia luar, ini hanya insiden rutin. Bagi Raka, ini adalah peringatan keras.

Kemampuannya berkembang. Tapi harganya juga semakin mahal.

Setiap kali dia menggunakan "cahaya" itu untuk menolong, bagian dari dirinya semakin cepat menghilang. Anjing itu selamat, tapi berapa lama lagi Raka bisa bertahan sebelum dia sendiri yang butuh diselamatkan?

Malam itu, saat teman-temannya tertawa riang di ruang rekreasi sambil merawat anjing mutan yang kini mereka nama "Sparky", Raka duduk sendirian di sudut gelap. Dia membuka sarung tangannya pelan.

Di ujung jarinya, kulitnya tampak semakin transparan. Urat-urat cahaya emas terlihat jelas di bawah permukaan kulit, berdenyut pelan seperti jantung kedua.

Dia menarik napas panjang, lalu menutup tangannya kembali.

Satu langkah lagi, batinnya miris. Satu langkah lebih dekat ke akhir.

Tapi saat dia menoleh dan melihat Elara yang sedang tertawa sambil memberi makan Sparky, Raka memutuskan untuk menyimpan rahasia ini sedikit lebih lama. Sampai saatnya tiba. Sampai langit benar-benar berubah merah.

Karena sampai saat itu, dia masih punya tugas. Masih punya teman-teman yang harus dijaga. Dan selama mereka masih bisa tertawa, Raka akan terus berdiri, meski tubuhnya perlahan hancur menjadi debu cahaya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!