Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Suasana di dalam kamar mandi mewah itu berubah drastis. Awalnya hanya sekadar saling membersihkan badan, namun sentuhan tangan Juniarta yang menjelajahi kulit mulus Putri seolah memicu api yang tak terlihat.
Air dingin terus mengalir membasahi tubuh mereka, tapi justru membuat suhu di antara mereka berdua semakin panas dan membara.
Juniarta memeluk pinggang ramping Putri erat-erat, mendekapkan tubuh kekarnya ke tubuh wanita itu. Bibirnya mulai mencari bibir Putri, lalu mendaratkan ciuman demi ciuman yang hangat dan mendesak.
"Mmmpphh..." Putri mendesah halus di balik ciuman itu, matanya terpejam menikmati sentuhan yang begitu asing namun terasa nikmat.
Tangan kasar Juniarta tak tinggal diam. Dia mulai memijat lembut bagian belakang Putri, lalu bergerak naik meremas payudara montok yang masih kenyal itu. Putri tersentak kaget, tubuhnya gemetar hebat.
"Mas Jun... a-aku..." gumam Putri terbata-bata saat ciuman terlepas sejenak.
"Apa sayang? Kenapa?" bisik Juniarta di telinga wanita itu, sambil tangannya terus bermain di area sensitif tubuh Putri. Burungnya yang sudah tegak sempurna, keras dan besar, terus menempel di perut halus Putri, membuatnya sadar betapa besar hasrat pria itu saat ini.
"Aku... aku takut Mas..." jawab Putri jujur, wajahnya memerah padam. "Ini pertama kalinya aku... Aku masih perawan Mas. Aku belum pernah melakukan hal semacam ini dengan siapapun."
Mendengar pengakuan itu, mata Juniarta berbinar semakin liar. Ternyata wanita cantik di depannya ini masih murni dan suci. Itu justru membuat nafsunya semakin meluap tak tertahankan.
"Tenang saja sayang... biar Mas yang ajarin. Biar Mas yang bikin kamu nikmat," bisik Juniarta menggoda, lalu dia kembali mengecup leher putih mulus Putri, meninggalkan bekas-bekas merah yang menggoda.
"Tapi Mas... tolong jangan kasar ya... aku takut sakit," rengek Putri, tangannya mencoba menahan dada Juniarta namun tidak kuat menolak pesona pria itu.
"Iya sayang, pelan-pelan aja. Pemanasan dulu biar enak," janji Juniarta.
Meskipun Putri sempat menolak dan berusaha menjaga harga dirinya, tapi tubuhnya sudah terlanjur merespons sentuhan itu. Gairahnya juga ikut bangkit. Apalagi melihat 'burung' Juniarta yang berdiri tegak kokoh, besar dan panjang, seolah menantang dan memanggil-manggil untuk dimasukkan, membuatnya merasa lemah tak berdaya.
Juniarta pun mulai melancarkan aksinya dengan penuh gaya. Dia tak langsung menyerang, tapi memanjakan Putri terlebih dahulu.
Tangannya turun ke bagian bawah, mulai meraba dan memainkan area paling sensitif wanita itu. Putri mendesah semakin keras, kepalanya menengadah ke atas, menikmati jari-jari ahli yang bermain di sana. Dia meremas bahu Juniarta kuat-kuat, kakinya terasa lemas seolah tak bertulang.
"Uuhh... Mas... ahhh..."
"Enak sayang? Sini biar Mas cium sini..."
Juniarta menunduk, memberikan kenikmatan dengan mulutnya, membuat Putri hampir pingsan karena nikmatnya luar biasa. Tubuh mereka terus basah kuyup tersiram air, tapi mereka tak peduli. Dunia seolah hilang, hanya ada mereka berdua di sini.
Setelah merasa Putri sudah cukup basah dan siap, serta tubuhnya sudah menggeliat penuh rindu, Putri pun akhirnya pasrah dan mau. Namun sebelum masuk lebih jauh, dia mengingatkan dengan napas memburu.
"Mas Jun... janji sama aku ya..." bisik Putri memegang pipi pria itu.
"Apa sayang?"
"Jangan... jangan keluar di dalam ya Mas... Awas lho! Aku takut banget nanti kebobolan dan hamil duluan. Belum siap aku," pesan Putri tegas namun manja.
Juniarta tersenyum nakal, lalu mengangguk cepat. "Iya cantik. Janji deh, nanti Mas keluarkan di luar kok. Tenang aja, aman."
Dengan izin itu, Juniarta pun mengangkat sedikit tubuh mungil Putri, menyandarkannya ke dinding keramik yang dingin. Dia memposisikan burung gagah miliknya tepat di pintu gua yang sudah basah dan siap menerima.
"Siap ya sayang... ini mau masuk ya..."
Suasana di dalam kamar mandi itu kini benar-benar panas membara. Air dingin terus mengalir membasahi tubuh mereka, namun sama sekali tak mampu mendinginkan api gairah yang sudah berkobar hebat di dada keduanya.
Juniarta memandang lekat wajah Putri yang memerah padam, matanya menatap penuh hasrat liar. Tubuh wanita itu gemetar hebat, antara rasa takut, malu, dan juga rasa rindu akan sentuhan pria.
"Tenang sayang... biar Mas yang pegang kendali," bisik Juniarta parau, suaranya berat dan terdengar sangat jantan.
Dengan hati-hati namun pasti, Juniarta mengangkat sedikit tubuh Putri, menyandarkannya ke dinding keramik yang dingin. Kaki jenjang Putri otomatis melingkar erat di pinggang pria itu, memberikan akses sempurna.
Di hadapan mereka, burung milik Juniarta berdiri tegak sempurna, besar, panjang, dan mengkilap basah, seolah bersiap untuk menaklukan wilayah perawan di depannya.
"Uuhh... Mas... besar banget..." desah Putri saat merasakan benda keras itu menempel tepat di pintu gerbang kesuciannya. Wajahnya memerah menahan degup jantung yang hampir copot.
"Iya nih sayang... dia juga udah nggak sabar pengen masuk," jawab Juniarta sambil tersenyum nakal. Dia menggosok-gosokkan ujungnya perlahan di area sensitif itu, membuat Putri mendesis nikmat dan tubuhnya semakin lemas.
"Aahh... Mas... ahhh..."
"Siap ya sayang... Mas masukin dikit-dikit ya..."
Prok...
"Aww!! Sakit Mas!! Aaahh!!" teriak Putri kencang saat ujung keras itu mulai menembus dinding keperawanannya. Matanya terbelalak, tangan kecilnya mencengkeram bahu Juniarta kuat-kuat, kuku-kukunya menancap dalam. Rasanya perih dan robek, air mata bahkan hampir keluar.
"Sstt... pelan-pelan sayang... tahan dikit ya... ini baru ujung kok," bisik Juniarta menenangkan, dia berhenti sejenak memberi waktu bagi Putri untuk beradaptasi dengan ukuran besar miliknya. Dia mengecup kening, bibir, dan leher Putri untuk mengalihkan rasa sakit.
"Sakit banget Mas... kaku banget... aww..." rengek Putri, napasnya memburu cepat, keringat dingin bercampur air mandi membasahi wajahnya.
"Iya sayang, iya... bentar lagi biasa kok. Nanti enak kok," bujuk Juniarta.
Beberapa saat berlalu, saat rasa perih mulai berkurang dan berganti dengan sensasi aneh yang mulai menjalar, Putri pun mengangguk. "Udah... Mas... lanjutin..."
Dengan izin itu, Juniarta pun kembali mendorong perlahan namun pasti.
Glup... glup...
"Aaahhh!! Uuhhhnn!!"
"Ahh... ketat banget sayang!! Uahh... enak banget!!" desah Juniarta puas, kepalanya mendongak ke atas menikmati rasa hangat, sempit, dan kenyal yang melumat batang besarnya dengan sempurna. Akhirnya seluruh batangnya masuk sampai pangkal, menabrak dasar terdalam wanita itu.
Putri mendongak ke atas, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan desahan panjang yang sangat menggoda.
"Aaahhh!! Aaauuww!! Mas Jun!! Dalam banget!! Uuhhhnn..."
"Gila... ketat banget punya kamu Put," gumam Juniarta takjub, lalu dia mulai menggerakkan pinggangnya naik turun dengan ritme yang stabil.
Jleb! Jleb! Jleb!
"Aahh! Aahh! Aahh! Enak Mas!! Uuhh... enak banget!!"
"Mmmpphh!! Iya sayang... naikin kecepatan ya?!"
"Ayo Mas!! Ayo!! Lebih kencang!! Aaahhh!!"
Rasa sakit yang tadi dirasakan Putri kini lenyap entah kemana, berganti dengan gelombang kenikmatan yang luar biasa. Dia melupakan segalanya, melupakan posisi mereka di kantor, melupakan segalanya, hanya fokus pada kenikmatan yang menjalar ke seluruh urat sarafnya.
Mereka bercinta dengan sangat ganas namun tetap romantis di bawah guyuran air. Suara desahan mereka terdengar jelas bercampur dengan suara air yang jatuh.
"Aahh!! Enak!! Aaah!!"
"Uuhh... sayangku... manis banget..."
"Keluarin Mas!! Jangan keluar di dalam!! Aaahhh!!"
"Iya sayang... uahh!!"
Tubuh mereka berguncang hebat mengikuti irama cinta yang panas itu. Dinding keramik pun ikut bergetar seiring dengan tumpahan cairan kenikmatan mereka. Putri benar-benar menikmati kehilangan kesuciannya di tangan pria yang dia percaya, merasakan kenikmatan pertama yang luar biasa dahsyatnya.
•••
Sementara itu, di dalam ruangan privat, suasana masih hening. Sulthan yang tadi bersantai kini sudah berdiri rapi di depan cermin. Dengan sigap dia mengenakan kembali kemeja putih bersih, celana bahan, dan dasi hitamnya. Sekali lagi dia berubah menjadi sosok CEO yang berwibawa dan penuh gaya. Tak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa beberapa menit yang lalu dia baru saja menikmati kebebasan tanpa busana.
"Oke, waktunya kerja lagi," gumamnya sambil merapikan kerah bajunya.
Sulthan pun berjalan keluar meninggalkan ruang privat itu menuju area utama kantor yang luas. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai keramik yang mengkilap.
Tiba-tiba, perutnya sedikit tak nyaman. Mungkin efek makan siang tadi atau terlalu banyak minum air jeruk. Lalu dia memutuskan untuk singgah sebentar di toilet khusus eksekutif yang letaknya bersebelahan dengan kamar mandi umum staf.
Namun, saat dia baru saja berjalan melewati koridor, suara-suara aneh mulai terdengar samar-samar dari balik pintu kamar mandi utama yang tertutup rapat.
"Aahh... aahh... enak Mas... uuhhhnn!!"
"Huahh... mantap sayang... ketat banget sialan!! Aahh!!"
Suara desahan wanita yang sangat mendesah nikmat bercampur dengan erangan keras suara laki-laki terdengar sangat jelas. Suara gemericik air seakan menjadi latar musik bagi pesta ranjang yang sedang berlangsung di dalam sana.
Sulthan menghentikan langkahnya sejenak. Dia tak terkejut, tak juga kaget. Wajahnya tetap datar dan tenang.
Dengan telinga yang tajam dan pengetahuannya tentang kedua bawahannya itu, tanpa perlu menebak pun dia sudah 100% yakin. Itu pasti suara Juniarta dan Putri.
"Dasar anak muda... baru istirahat sebentar sudah bikin keributan," gumam Sulthan dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum tipis penuh makna. Baginya, hal itu manusiawi dan sangat wajar terjadi. Mereka berdua kan muda-mudi sehat, ganteng dan cantik, wajar kalau ada rasa suka sama suka dan butuh pelepasan.
Selama mereka tahu tempat dan tahu waktu, serta yang paling penting, pekerjaan mereka tetap becus, hasil kerja rapi, dan tidak merepotkan, maka Sulthan sama sekali tidak mempermasalahkan kehidupan pribadi atau hiburan mereka masing-masing. Justru dia berpikir mungkin dengan begini beban stres mereka berkurang dan jadi lebih semangat kerja.
"Sudah lah, biarkan saja mereka bersenang-senang. Yang penting kerjaan mereka bener," pikirnya santai.
Tanpa mau mengganggu atau mengintip, Sulthan terus melangkah masuk ke dalam toilet pribadinya yang terpisah. Pintu ditutup rapat, lalu dia duduk santai menjalankan hajatnya, sementara di sebelah sana suara desahan dan erangan kenikmatan masih terus terdengar menggema, seakan tak mau berhenti.