NovelToon NovelToon
Kanvas Di Balik Baluwarti

Kanvas Di Balik Baluwarti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi / Kerajaan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siasat di Balik Tabir

Di balik kemegahan yang tampak tenang, Keraton Amarta kini menyerupai sebuah papan catur yang mulai memanas. Arya Wijaya tahu bahwa cinta tidak akan cukup untuk memenangkan pertempuran ini, ia membutuhkan perlindungan fisik bagi Sekar dan legitimasi hukum bagi hati dan dirinya.

Malam itu, di sebuah sudut gelap paviliun pribadi, Arya memanggil Seno, komandan dari pasukan Jagabaya Sandi—pengawal bayangan yang hanya setiap pada titah Raja.

“Mulai detik ini, keselamatan Sekar Arum adalah keselamatan takhta,” ujar Arya, suaranya rendah namun mengandung otoritas yang tak terbantahkan.

Arya memberikan instruksi mendetail: dua pengawal harus berjaga dalam radius seratus meter dari toko “Warna Sekar” setiap saat. Mereka dilarang menampakkan diri, bahkan kepada Sekar sekalipun. Mereka harus menjadi bayangan yang menyatu dengan malam, memastikan tidak ada telik sandi Ibu Suri yang berani menyentuh sehelai rambut pun milik gadis itu.

“Jika ada helai melati yang gugur karena gangguan orang asing, aku menuntut kepalamu, Seno,” tambah Arya. Ia tidak sedang mengancam; ia sedang menyatakan bahwa Sekar kini adalah bagian dari nyawanya.

Sementara itu, di kedalaman perpustakaan bawah tanah yang berbau kertas tua dan kayu lapuk, Ki Ageng Suro akhirnya menemukan apa yang dicari. Di balik sebuah peti jati yang terkunci dengan segel lilin merah, tersimpan sebuah gulungan naskah kuno: Serat Angger-anggeran Dharmakusuma.

Dengan tangan gemetar, Ki Ageng membacanya di bawah cahaya lilin. Matanya yang tua berbinar saat menemukan pasal yang telah lama terlupakan oleh tradisi kolot keraton.

“Bilih Sang Prabu nggadhahi karsa dhumateng wanodya ingkang sanes trah kusuma, nanging nggadhahi kautaman budi ingkang dipun-akeni dening-kawula, moko wanodya kaşebut saged pinilih dados garwa dalem kanthi gelar Permaisuri Rakyat.”

(Jika Sang Raja memiliki kehendak pada wanita yang bukan keturunan bangsawan, namun memiliki keutamaan budi yang diakui oleh rakyat, maka wanita tersebut dapat dipilih menjadi istri Raja dengan gelar Permaisuri Rakyat.)

Ini adalah senjata hukum yang sempurna. Naskah ini membuktikan bahwa para leluhur Amarta jauh lebih bijaksana dan terbuka daripada Ibu Suri yang kaku.

Arya mulai memainkan peran yang sangat rapi. Untuk menghadapi Ibu Suri, ia tidak lagi membantah secara terbuka. Sebaliknya, ia mulai bersikap “patuh” yang palsu. Ia menerima laporan-laporan dari Ibu Suri dengan anggukan, membuat sang Ibu percaya bahwa putranya mulai kembali ke “jalan yang benar”.

Namun, terhadap Nastiti, Arya menggunakan taktik Mubazir Karsa—memberikan perhatian yang tampak besar namun sebenarnya tidak berarti (kosong).

Suatu pagi, Arya mengundang Nastiti untuk menemaninya meninjau pembangunan perpustakaan baru. Di depan publik dan para bangsawan, Arya bersikap sangat sopan dan menghargai Nastiti, memberikan kesan bahwa perjodohan itu berjalan lancar. Hal ini dilakukan Arya untuk meninabobokan kewaspadaan Nastiti dan Ibu Suri agar mereka tidak segera menyerang Sekar.

“Nastiti, pendapatmu tentang arsitektur ini sangat berharga,” puji Arya di depan para menteri.

Nastiti tersenyum bangga, merasa telah memenangkan kembali hati Arya. Namun, ia tidak menyadari bahwa itu adalah cara Arya untuk menjauhkannya dari kehidupan pribadinya. Arya sengaja menyibukkan Nastiti dengan berbagai tugas administratif keraton dan acara-acara sosial yang melelahkan agar wanita itu tidak punya waktu untuk memata-matai langkah rahasianya ke luar benteng.

Sambil berpura-pura sibuk dengan Nastiti, Arya secara diam-diam menginstruksikan Ki Ageng Suro untuk mulai “menyebarkan harumnya melati”. Cerita-cerita tentang kebaikan Sekar Arum, sang guru pelukis yang anggun dan baik hati, mulai ditiupkan ke telinga para sesepuh desa dan tokoh masyarakat.

Arya ingin saat naskah kuno dimunculkan nanti, rakyat sudah memiliki cinta yang begitu besar kepada Sekar, sehingga Ibu Suri tidak akan berani melawan arus massa.

“Biarkan Ibu Suri merasa dia sedang menang dalam catur ini,” bisik Arya kepada Ki Ageng di keheningan malam. “Padahal, aku sedang membangun sebuah benteng di luar sana, benteng yang terbuat dari cinta rakyat dan kebenaran sejarah yang mereka lupakan.”

Siasat Arya adalah sebuah tarian di atas benang tipis. Ia harus menjadi Raja yang sempurna bagi keraton di siang hari, dan menjadi pelindung rahasia bagi Sekar di malam hari. Namun, Arya tahu, di balik senyum Nastiti yang mulai tenang kembali, ada badai yang sedang menunggu waktu untuk meledak ketika ia menyadari bahwa semua perhatian sang Raja hanyalah sebuah panggung sandiwara.

Ketegangan di Keraton Amarta kini bergerak di bawah permukaan, layaknya arus bawah laut yang tenang namun mematikan. Di sayap timur, Raden Ajeng Nastiti menerima laporan dari telik sandi pribadinya, seorang wanita paruh baya yang menyamar sebagai pedagang kain di sekitar pasar.

“Gusti Ajeng,” lapor sang telik sandi sambil bersimpuh di depan Nastiti. “Hamba telah mengikuti jejak Gusti Prabu selama tiga malam terakhir. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan.”

Nastiti mengangkat alisnya, jemarinya yang lentik berhenti memainkan ujung selendang sutranya. “Jelaskan lebih rinci. Kemana saja beliau pergi?”

“Gusti Prabu memang menyamar, namun tujuannya murni untuk meninjau kondisi rakyat secara nyata,” lanjut sang telik sandi. “Beliau mendengarkan keluhan petani di pinggir jalan, memeriksa harga bahan pokok di pasar, dan sesekali berbicara dengan para sesepuh. Tampaknya, beliau sedang mempersiapkan kebijakan baru untuk mensejahterakan rakyat jelata agar posisi takhtanya semakin kuat di mata dewan.”

Nastiti menghela napas panjang, sebuah senyum lega namun angkuh tersungging di bibirnya. Ia merasa kemenangannya sudah di depan mata. Baginya, keinginan Arya untuk menjadi ‘Raja Rakyat’ hanyalah ambisi politik biasa yang justru akan menguntungkannya kelak sebagai Permaisuri. Ia tidak menyadari bahwa telik sandinya telah dikelabui oleh rute-rute palsu yang disusun rapi oleh Ki Ageng Suro.

Di sisi lain, di dalam ruang rahasia di bawah menara pengintai, Seno, komandan Jagabaya Sandi, memberikan laporan yang jauh lebih kelam kepada Arya Wijaya.

“Gusti Prabu,” suara Seno terdengar waspada. “Situasi di sekitar toko “Warna Sekar” mulai memanas. Telik sandi Ibu Suri tidak lagi sekedar mengamati dari jauh. Mereka mulai bergerak masuk ke dalam lingkungan Sekar Arum dengan menyamar sebagai pembeli lukisan yang memaksa.”

Arya mengepalkan tangannya di bawah meja kayu jati. “Hanya Ibu Suri?”

“Bukan, Gusti,” jawab Seno dengan nada yang lebih rendah. “Ada pergerakan lain. Telik sandi dari pihak Raden Ajeng Nastiti juga mulai terlihat. Meski laporan resmi mereka kepada Gusti Ajeng tampak menenangkan, para mata-mata itu sebenarnya sedang mencari celah. Mereka mulai bertanya-tanya kepada tetangga di sekitar tentang ‘seorang gadis yang sering dikunjungi pria asing’.”

Arya merasakan dingin menjalar di punggungnya. Siasat bermuka duanya berhasil menenangkan Nastiti secara pribadi, namun ia meremehkan naluri tajam para telik sandi bangsawan tersebut. Mereka mulai mencium bau melati diantara langkah-langkah sang Raja.

“Siapkan pengawalan ekstra, Seno,” perintah Arya, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. “Jika perlu, buatlah insiden kecil untuk mengalihkan perhatian mereka dari toko Sekar. Dan pastikan Ki Ageng Suro segera menyiapkan tempat perlindungan rahasia di dalam benteng, jika keadaan memburuk.”

“Tetapi Gusti, membawa rakyat jelata masuk ke dalam benteng secara diam-diam adalah pelanggaran berat,” Seno mengingatkan dengan penuh resiko.

Arya berdiri, sosoknya tampak begitu perkasa di bawah cahaya lampu minyak yang bergetar. “Aku lebih baik melanggar hukum keraton daripada membiarkan hukum itu menghancurkan wanita yang telah memberiku alasan untuk menjadi manusia. Bergeraklah sekarang!”

Sementara itu, di tokonya, Sekar Arum merasakan suasana yang berbeda. Hari itu, beberapa pria asing dengan tatapan tajam datang silih berganti. Mereka menanyakan hal-hal yang tidak biasa, seperti siapa kerabat jauhnya atau siapa pria yang mengantarkan beras tempo hari.

Meskipun hatinya mulai merasa tidak tenang, Sekar tetap bersikap anggun dan ramah. Ia memberikan senyum tulusnya kepada setiap orang, namun gurat lelah dan sedikit kecemasan mulai membayangi wajah cantiknya. Ia belum tahu bahwa dirinya kini berada di titik pusat pusaran badai antara cinta seorang Raja dan ambisi sebuah dinasti.

Di bawah bantal tidurnya, Sekar menyimpan sketsa wajah Arya yang sudah selesai ia lukis. Sebuah simbol cinta sederhana yang kini menjadi alasan bagi banyak pihak untuk menghancurkannya—atau melindunginya dengan segenap nyawa.

``

1
Ganendra Dimitri
bagus banget thor ceritanya
NP: Makasih ya kak
total 1 replies
Ganendra Dimitri
ceritanya menyentuh banget thor.... kapan negriku punya pemimpin kayak di cerita ini😍😍
NP: Semoga ya kak, suatu saat nanti ada pemimpin negeri yg lebih mencintai rakyatnya
total 1 replies
Esti 523
sepertinya bagus nih
NP: Semoga suka ya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!