Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Sidang yang Memanas
Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pagi ini tampak seperti benteng kolonial yang haus akan tumbal. Sinar matahari yang menerobos melalui celah-celah pilar besar tidak memberikan kehangatan, melainkan hanya mempertegas debu-debu yang menari di udara yang lembap. Aroma kayu tua, kertas-kertas kusam, dan keringat kecemasan memenuhi setiap sudut koridor.
Aku melangkah menyusuri lantai ubin yang dingin, jas dokterku sudah berganti dengan setelan blazer formal berwarna kelabu—warna yang mewakili posisiku saat ini: abu-abu, berada di antara hitamnya konspirasi dan putihnya kebenaran medis.
"Dokter, Anda yakin dengan ini?"
Suara Adrian yang berbisik di sampingku membuat langkahku melambat. Wajah asistenku itu tampak kuyu. Sejak ancaman Ghazali semalam mengenai 'kecelakaan kerja', Adrian bersikeras untuk terus menempel padaku, seolah ia adalah perisai hidup yang bisa menangkis peluru kekuasaan keluarga Mahendra.
"Kau seharusnya tidak di sini, Adrian. Ghazali serius dengan ancamannya," kataku tanpa menoleh, menatap lurus ke depan di mana kerumunan wartawan mulai menyemut.
"Saya lebih takut melihat Dokter berbohong di bawah sumpah daripada takut pada ancaman JPU itu," balas Adrian tegas. Tangannya yang memegang map berkas otopsi tampak sedikit gemetar. "Data zat penenang kepolisian itu... jika Dokter menutupinya, mayat tanpa lidah itu tidak akan pernah bisa istirahat dengan tenang."
Aku menghentikan langkah tepat di depan pintu ganda Ruang Sidang Utama Cakra. Aku menoleh pada Adrian, menatap mata hangatnya yang kini dipenuhi ketakutan yang jujur.
"Duniaku adalah duniaku, Adrian. Di dalam ruang otopsi, aku adalah penguasa. Tapi di dalam sana..." aku menunjuk pintu kayu besar itu, "...aku hanyalah alat bukti yang bisa dipatahkan. Pulanglah, Adrian. Ini perintah."
"Dokter Keana—"
"Pulang."
Aku tidak menunggu jawabannya. Aku mendorong pintu ganda itu dan masuk ke dalam kedinginan yang lebih menusuk daripada suhu lemari pendingin jenazah di rumah sakit.
Ruang sidang sudah penuh sesak. Di barisan depan, Nyonya Ratna Mahendra duduk dengan anggun, mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang harganya mungkin cukup untuk membiayai departemen forensikku selama satu dekade. Ia tidak menoleh saat aku lewat, seolah kehadiranku hanyalah gangguan udara yang tidak perlu ia gubris.
Di meja Jaksa Penuntut Umum, Ghazali Mahendra berdiri tegak. Ia tampak sangat di rumah di sini. Setelan jas mahalnya berkilat di bawah lampu ruang sidang, rahangnya yang tegas memberikan kesan otoritas yang tidak terbantahkan. Ia sedang berbicara dengan rekan sesama jaksa, namun matanya yang tajam sempat menangkap sosokku. Tidak ada senyum. Tidak ada anggukan. Hanya tatapan dingin yang mengingatkanku: Patuhi skenario atau hancur.
Dan di seberang ruangan, di meja Penasihat Hukum, duduklah sang antagonis sesungguhnya.
Maia Anindita.
Wanita itu tampak begitu mempesona dengan blazer hitam yang pas di tubuh, rambutnya yang hitam legam tergerai dengan penataan yang sangat terencana. Ia sedang menyesap air mineral dari botol kaca, dan saat matanya bertemu denganku, ia menyunggingkan senyum tipis—jenis senyum yang diberikan seekor predator pada mangsanya sebelum ia mulai mencabik-cabik.
"Sidang perkara pidana nomor 124/Pid.B/2026/PN JKT.PST dengan terdakwa korporasi konsorsium bendungan nasional dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," suara Ketua Majelis Hakim menggelegar, diikuti ketukan palu yang bergema tiga kali.
Jantungku berdegup kencang, seolah sedang melakukan CPR pada dirinya sendiri.
"Saudara Jaksa Penuntut Umum, silakan hadirkan saksi ahli Anda," perintah Hakim.
Ghazali melangkah maju menuju podium dengan kepercayaan diri yang memuakkan. "Terima kasih, Yang Mulia. Pihak Penuntut Umum menghadirkan Dr. Keana Elvaretta, Sp.FM, Dokter Spesialis Forensik dari RS Bhayangkara yang melakukan pemeriksaan terhadap korban utama, Bramasta Putra."
Aku bangkit berdiri. Setiap langkahku menuju kursi saksi terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Aku duduk, menarik napas dalam, dan mencoba memfokuskan pikiran pada fakta-fakta ilmiah yang telah kubedah dengan tanganku sendiri.
"Saudara Saksi, silakan perkenalkan identitas Anda dan jelaskan apakah Saudara memiliki hubungan keluarga dengan pihak mana pun di persidangan ini?" tanya Hakim Ketua.
Aku terdiam sesaat. Napasku tercekat di kerongkongan. Aku melirik ke arah Ghazali. Ia menatapku dengan sorot mata yang seolah berkata: Jangan berani-berani.
"Nama saya Keana Elvaretta. Saya Dokter Spesialis Forensik di RS Bhayangkara," suaraku keluar dengan nada yang lebih stabil dari yang kuduga. "Mengenai hubungan keluarga... saya adalah istri sah dari Jaksa Penuntut Umum, Bapak Ghazali Mahendra."
Gumam bisik-bisik seketika memenuhi ruang sidang bagaikan gerombolan lebah yang marah. Kilat lampu kamera dari barisan wartawan di belakang mulai membombardir wajahku. Hakim mengetuk palunya berkali-kali untuk menenangkan suasana.
Ghazali hanya berdiri diam, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sedikit pun, namun aku tahu ia sedang merencanakan bagaimana cara 'menghukumku' nanti malam karena pengakuan jujur ini.
"Baik, meski ada hubungan suami-istri, sesuai Pasal 179 KUHAP, Saudara tetap wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan," ucap Hakim. "Saudara Jaksa, silakan mulai pemeriksaannya."
Ghazali melangkah mendekati kursi saksi. Ia berdiri tepat satu meter dariku—jarak keramatnya.
"Dokter Keana," Ghazali memulai, suaranya terdengar sangat profesional dan dingin, seolah aku hanyalah orang asing yang baru ia temui di jalan. "Bisa Saudara jelaskan temuan utama pada jenazah Bramasta Putra terkait penyebab kematiannya?"
"Terdapat luka penetrasi tunggal di rongga dada sebelah kiri yang menembus ventrikel kiri jantung," jawabku tegas. "Luka tersebut menyebabkan pendarahan internal masif yang mengakibatkan syok hipovolemik dan kematian instan. Senjata yang digunakan adalah bilah tajam dengan panjang minimal lima belas sentimeter."
"Apakah ada temuan anomali lainnya pada tubuh korban?" tanya Ghazali lagi. Matanya menyipit, sebuah peringatan agar aku berhenti di sana.
Aku menelan ludah. Pikiranku melayang pada kartu memori yang ia curi dan catatan bertuliskan nama Maia yang ia rampas. Juga pada zat penenang rahasia yang ditemukan Adrian.
"Terdapat mutilasi pada organ lidah korban," jawabku pelan.
"Bisa Saudara simpulkan apa motif di balik mutilasi tersebut secara forensik?"
"Secara simbolisme kriminologi medis, pemotongan lidah sering digunakan untuk membungkam saksi kunci agar tidak bisa memberikan keterangan di masa depan," jawabku, menatap Ghazali tepat di matanya.
Ghazali mengangguk puas. "Terima kasih, Dokter. Saya rasa temuan penyebab kematian sudah cukup jelas, Yang Mulia."
Ia hendak berbalik kembali ke mejanya, merasa skenarionya berjalan mulus. Namun, sebuah suara lembut namun tajam memotong suasana.
"Keberatan, Yang Mulia. Saya ingin melakukan pemeriksaan silang terhadap saksi ahli," Maia Anindita bangkit berdiri, merapikan bajunya dengan gerakan yang sangat anggun.
Hakim mengangguk. "Silakan, Saudara Penasihat Hukum."
Maia melangkah menuju podium saksi. Bau parfum mawar hibridanya yang sangat kuat segera menjajah penciumanku, membuatku mual karena teringat betapa Ghazali memuja aroma ini.
"Dokter Keana yang terhormat," Maia tersenyum manis, namun matanya tetap sedingin es. "Sebagai istri dari Bapak Jaksa Penuntut Umum, apakah Saudara tidak merasa ada konflik kepentingan saat menyusun laporan Visum et Repertum ini?"
"Saya bekerja berdasarkan fakta empiris, bukan berdasarkan status pernikahan saya," jawabku datar.
"Benarkah?" Maia tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun penuh bisa. "Lalu bagaimana Saudara menjelaskan hilangnya satu detail krusial dalam laporan resmi yang Saudara tanda tangani? Mengapa Saudara tidak menyebutkan adanya zat kimia penenang di dalam aliran darah korban?"
Aku tersentak. Bagaimana Maia bisa tahu? Hasil laboratorium toksikologi itu baru keluar pagi ini dan Adrian hanya mengirimkannya padaku melalui pesan pribadi.
Aku melirik ke arah Ghazali. Wajah suamiku itu kini berubah pucat. Ia menatap Maia dengan pandangan yang sulit diartikan—apakah itu rasa terkejut karena pengkhianatan, atau ketakutan karena rahasianya terbongkar?
"Saya... saya masih melakukan verifikasi ulang terhadap data tersebut," jawabku, mencoba mempertahankan sisa-sisa rasionalitasku.
"Atau mungkin Saudara sedang mencoba menutupi fakta bahwa zat penenang tersebut adalah jenis Dexmedetomidine dosis tinggi, yang pengadaannya hanya bisa dilakukan oleh institusi penegak hukum tertentu?" Maia mencondongkan tubuhnya ke arahku, matanya berkilat penuh kemenangan. "Apakah suamimu, sang Jaksa Agung Muda ini, yang memintamu menghapus detail itu?"
"Keberatan, Yang Mulia! Penasihat hukum sedang melakukan penggiringan opini dan menyerang kehormatan institusi!" teriak Ghazali, suaranya menggelegar penuh amarah.
"Tenang, Saudara Jaksa," Hakim mengetuk palunya. "Saksi, silakan jawab pertanyaannya. Apakah ada zat penenang dalam darah korban?"
Ruang sidang mendadak sunyi sesunyi kuburan. Ratusan mata tertuju padaku. Di barisan depan, Nyonya Ratna menatapku dengan pandangan merendahkan yang seolah berkata: Kau hanya pembawa sial bagi anakku.
Aku memandang Ghazali. Pria yang selama ini merendahkanku, menyebutku bau formalin, dan menganggapku hanya bayangan. Pria yang semalam mengancam keselamatan Adrian demi ambisinya.
Jika aku berkata ya, aku menghancurkan karier suamiku dan menyeret keluarganya ke dalam skandal nasional. Jika aku berkata tidak, aku mengkhianati setiap mayat yang pernah kubedah dan membiarkan pembunuh yang sesungguhnya berkeliaran.
"Ada, Yang Mulia," jawabku lirih, namun cukup jelas untuk memecah keheningan. "Terdapat residu Dexmedetomidine dalam kadar toksik. Zat tersebut biasanya digunakan untuk melumpuhkan korban sebelum eksekusi dilakukan."
Maia tersenyum lebar, seolah ia baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah. "Terima kasih, Dokter. Yang Mulia, jika saksi ahli sendiri mengakui adanya zat yang hanya bisa diakses oleh aparat, bukankah ini mengindikasikan bahwa pembunuh yang sesungguhnya mungkin ada di antara mereka yang menuntut kasus ini sekarang?"
Gumam kegaduhan kembali pecah. Ghazali memukul mejanya dengan keras, wajahnya merah padam karena amarah dan penghinaan yang luar biasa. Ia menatapku seolah ingin membunuhku tepat di kursi saksi itu juga.
"Dokter Keana," Maia melanjutkan, suaranya kini selembut sutra yang mematikan. "Satu pertanyaan terakhir. Selain zat penenang, apakah Saudara menemukan benda asing lainnya di dalam tubuh korban? Misalnya... sebuah lencana?"
Darahku mendadak membeku. Lencana timbangan emas itu. Benda yang kusembunyikan fotonya di ponselku. Bagaimana Maia bisa tahu sedetail itu?
Aku melirik Ghazali lagi. Kali ini, tatapannya bukan lagi marah. Tatapannya dipenuhi dengan keputusasaan yang dalam. Ia menggeleng pelan, hampir tidak kentara—sebuah permohonan terakhir dari seorang suami yang hancur.
"Tidak ada, Yang Mulia. Saya tidak menemukan benda asing lainnya," jawabku, berbohong untuk pertama kalinya dalam karier profesionalku demi melindungi pria yang bahkan tidak mencintaiku.
Maia tertawa, kali ini lebih keras. "Oh, Dokter... Saudara benar-benar seorang istri yang setia, ya? Sayangnya, kesetiaan Saudara ditujukan pada alamat yang salah."
Maia mengambil sebuah amplop cokelat dari mejanya dan menyerahkannya kepada Hakim. "Yang Mulia, saya menyerahkan bukti tambahan berupa rekaman CCTV dari area sterilisasi ruang otopsi RS Bhayangkara dua malam yang lalu. Rekaman yang menunjukkan Jaksa Ghazali Mahendra masuk secara ilegal dan mengambil sebuah barang bukti dari tangan Dokter Keana."
Duniaku runtuh seketika.
Aku menatap Ghazali. Ia mematung di tempatnya berdiri. Kebenaran yang selama ini ia tutup-tutupi dengan parfum mahal dan keangkuhan, kini terkelupas secara brutal di depan publik. Dan yang lebih menyakitkan adalah... aku menyadari bahwa aku hanyalah pion dalam permainan catur antara Ghazali dan Maia.
Sidang ditunda dua jam kemudian karena kegaduhan yang tidak terkendali. Aku duduk sendirian di ruang tunggu saksi yang sempit, memeluk lututku. Bau formalin yang selalu menempel di kulitku mendadak terasa begitu menyengat, seolah-olah ia sedang menertawakan kebodohanku.
Pintu ruang tunggu terbuka. Ghazali masuk dengan langkah berat. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Kau puas?" tanyanya, suaranya rendah dan penuh racun.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya tentang zat penenang itu, Ghazali! Jika aku berbohong, Maia akan menghancurkanku lebih parah!" aku bangkit berdiri, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah.
"Kau menghancurkan segalanya, Keana! Karierku, reputasi Mahendra... semuanya habis karena lidahmu yang tidak bisa dijaga!" Ghazali melangkah maju, mencengkeram bahuku dan mendorongku hingga punggungku menghantam dinding ubin yang dingin. "Kau pikir kau pahlawan kebenaran? Kau hanyalah wanita yang membawa kutukan ke rumahku!"
"Lencana itu..." bisikku di antara isak tangis. "Lencana emas yang kutemukan di tubuh Bram... itu milikmu, kan, Ghazali? Itu lencanamu yang hilang!"
Ghazali tertegun. Cengkeramannya pada bahuku melemah. Ia melepaskanku dan melangkah mundur, menatapku dengan pandangan ngeri.
"Bagaimana kau—"
"Aku dokter forensik, Ghazali! Aku melihat nomor seri yang terukir samar di bagian belakang lencana itu sebelum kau merampasnya! Nomor seri itu identik dengan tanda pengenal yang kau pakai di hari pernikahan kita!" teriakku.
Keheningan yang mencekam turun menyelimuti ruangan sempit itu. Ghazali menunduk, menatap lantai dengan napas yang memburu.
"Aku tidak membunuh Bram, Keana," ucapnya lirih, suaranya kini terdengar begitu rapuh, sangat kontras dengan sosok penuntut yang angkuh di ruang sidang tadi. "Aku kehilangan lencana itu dua hari sebelum kejadian. Aku pikir aku hanya menjatuhkannya di kantor. Aku tidak tahu lencana itu ada pada mayat Bram sampai kau menemukannya."
"Lalu kenapa kau mencurinya dariku? Kenapa kau tidak melaporkannya?"
"Karena aku tahu Maia akan menggunakannya untuk menjebakku! Dan sekarang dia berhasil!" Ghazali menoleh padaku, matanya merah. "Dia memilikiku, Keana. Dia memiliki segalanya tentangku. Dan kau... kau baru saja memberikan peluru terakhir untuknya menembak kepalaku."
Aku terdiam, menatap suamiku. Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok manusia di balik jubah jaksa yang dingin itu. Seorang manusia yang ketakutan, yang terjepit dalam jaring-jaring manipulasi wanita masa lalunya.
Tiba-tiba, ponsel Ghazali yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk. Ghazali membacanya, dan seketika wajahnya berubah menjadi sepucat kertas.
"Ada apa?" tanyaku cemas.
Ghazali menyerahkan ponselnya padaku dengan tangan yang gemetar hebat. Di layarnya, terpampang sebuah foto yang diambil secara tersembunyi.
Foto Adrian Bramantyo, asistenku, sedang dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil hitam oleh dua orang bertubuh tegap di parkiran rumah sakit.
Di bawah foto itu terdapat pesan singkat:
“Dokter Keana sudah bicara terlalu banyak di sidang. Sekarang, asistennya yang akan membayar harganya. Temui aku di dermaga lama jam sebelas malam nanti, Ghazali. Sendirian. Atau kau akan menerima jenazah asisten istrimu dalam kondisi yang lebih mengerikan daripada Bram.”
Duniaku benar-benar gelap seketika. Napasku sesak, lebih sesak daripada paparan uap karsinogenik yang paling mematikan.
"Ghazali..." bisikku, merosot jatuh ke lantai.
Ghazali berlutut di depanku. Untuk pertama kalinya, ia menyentuh wajahku dengan lembut, menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Namun sentuhannya terasa seperti ucapan selamat tinggal.
"Tidurlah di rumah malam ini, Keana," ucapnya lirih. "Jangan tunggu aku pulang. Dan jangan pernah berbau formalin lagi... aku ingin mengingatmu sebagai wanita paling berani yang pernah kukenal, bukan sebagai dokter mayat."
Ia bangkit berdiri, merapikan jasnya, dan melangkah keluar menuju kegelapan koridor pengadilan, meninggalkanku sendirian dalam kehampaan yang tak berujung.
Malam ini, bukan hanya ranjang kami yang penuh luka. Malam ini, kebenaran itu sendiri sedang meregang nyawa di tangan cinta yang salah alamat.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍