Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Beberapa hari setelah rujuk, Fahri mendapat telepon dari kantor urusan agama, akta nikahnya yang baru sudah keluar, dia pun meminta Reza mengambilnya.
Di kantor, Venny masuk ke ruangan Fahri membawa berkas penting yang harus ditandatangani.
Berbeda dengan biasanya, hari ini penampilan Venny nampak sedikit menonjol, dua baris kancing kemeja putihnya terbuka, menampakkan belahan dadanya yang sintal.
Sedangkan bagian bawah terlilit rok span hitam yang cukup minim, memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus. Wajahnya dihiasi makeup yang cukup tebal.
Sambil memberikan dokumen ke tangan Fahri, Venny berjalan mengitari meja, berdiri di samping Fahri sambil membungkuk. Dua gunungnya menonjol jelas di depan Fahri.
Awalnya Fahri tidak memperhatikan karena sibuk dengan laptop di hadapannya, tapi setelah mengangkat kepala, Fahri terperanjat, kursinya sampai mundur ke belakang.
"Apa yang kau lakukan?" sergah Fahri, dia nampak panik dan membuang muka ke arah lain, lalu menyuruh Venny keluar.
Dengan raut kecewa, Venny memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan ruangan dengan kesal, sudah seperti ini tapi Fahri tidak juga meliriknya. Dengan cara apalagi dia harus menaklukkan direktur utama itu.
Saat melewati meja kerja Bella, Venny mendengus kesal. Bella melihatnya sambil tersenyum miring.
Sepeninggal Venny, telepon di meja kerja Bella berdering. Fahri menyuruhnya masuk ke ruangan.
Krek...
Pintu terbuka, Bella berjalan ke arah meja kerja Fahri dan berdiri tegak. "Kenapa, Pak?" tanya Bella sembari senyum-senyum sendiri.
Sebenarnya Bella sudah tau niat Venny yang ingin mendekati Fahri, tapi Bella berpura-pura tidak tau karena menurutnya itu urusan Fahri, dia tidak mau ikut campur.
Jika Fahri memang tipe suami setia, apapun godaannya dia tidak akan terpengaruh. Hitung-hitung menguji sebatas mana kesetiaan Fahri terhadapnya.
"Pak puk, pak puk..." ketus Fahri dengan tatapan kesal. Dia bangkit dari kursi, berjalan mengitari meja dan meraih tangan Bella lalu menariknya.
Seketika tubuh Bella terhenyak di sofa, Fahri menindihnya. Menatap nyalang istrinya dengan gigi bergemeletuk.
"Kamu sebenarnya sayang gak sih sama aku?" tanya Fahri dengan tatapan menyelidik. Dia marah melihat Bella yang membiarkan Venny masuk ke ruangannya.
"Loh, memangnya kenapa?" Bella balik bertanya di bawah kungkungan Fahri yang semakin menekan tubuhnya.
"Jangan pura-pura bodoh!" kesal Fahri, kemudian beranjak dan menyandarkan punggungnya di sofa, mengusap wajah kasar dengan raut putus asa.
"Suami digoda wanita lain tapi kamu malah diam saja," imbuh Fahri dengan suara bergumam, tapi Bella bisa mendengarnya dengan jelas, Bella sontak tertawa.
"Lalu aku harus bagaimana, Pak Fahri. Apa aku harus memukulnya?" Bella berkata sambil tersenyum tipis. "Lagian siapa suruh mempekerjakan orang seperti itu." tambah Bella.
Fahri terdiam sejenak kemudian mengikis jarak, merebahkan kepalanya di pundak Bella. "Minimal marah kek, apa kek, masa' kamu gak cemburu?" timpal Fahri menekan-nekan paha Bella dengan telunjuknya, wajahnya nampak manyun.
"Kenapa harus cemburu? Lagian dia yang godain kamu, lain halnya kalau kamu yang godain dia." terang Bella, membuat sudut bibir Fahri melengkung membentuk senyuman tipis.
Fahri mengangkat kepala. "Jadi kamu cemburu kalau aku menggoda wanita lain?" tanya Fahri penasaran, dia tersipu menunggu jawaban.
"Bukan cemburu lagi, tapi aku sunat kamu sekali lagi." tekan Bella dengan mata melotot tajam.
Mendengar jawaban dan melihat ekspresi Bella, Fahri tertawa kecil sambil mencubit pipi Bella gemas.
"Tidak akan, itu tidak akan terjadi." ucap Fahri dengan yakin.
Disaat bersamaan, terdengar ketukan pintu dari arah luar. Bella terperanjat, dia mendorong kepala Fahri, tapi Fahri menahan kepalanya, dia masih nyaman bersandar di pundak Bella.
"Masuk!" sorak Fahri, sedetik kemudian kepala Reza muncul dari balik pintu.
Huft...
Bella menghela nafas lega, dia pikir siapa. Dia pun membiarkan Fahri bersandar di pundaknya.
Reza menghampiri keduanya, menyodorkan akta nikah yang baru saja dia ambil dari kantor urusan agama. Tidak hanya itu, Reza juga menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah ke tangan Fahri.
"Bagus, bulan ini bonusmu dua kali lipat!" kata Fahri setelah mengambil akta nikah dan kotak di tangan Reza.
"Yes..." gumam Reza, dia nyaris melompat kegirangan tapi tertahan melihat Bella dan Fahri yang menatap ke arahnya.
"Hehe, kalau begitu aku permisi." Reza terlihat salah tingkah, dia buru-buru pergi meninggalkan keduanya dan menutup pintu.
Setelah Reza menghilang, Fahri menjauhkan kepalanya dari pundak Bella. Dia beranjak, berlutut di kaki Bella sambil membuka kotak yang diambilnya dari Reza tadi.
Sepasang cincin terlihat di dalam kotak, permukaan satunya diikat dengan berlian berwarna putih sedangkan satunya lagi tertanam berlian kecil berwarna sama.
"Bella sayang, maukah kamu menikah denganku?" ucap Fahri dengan jelas dan lantang.
Seketika mata Bella terbuka lebar dengan mulut menganga, dia seakan tak percaya lalu cepat-cepat menutup mulut.
Bella mengerutkan dahinya. "Bukankah kita sudah menikah?"
Fahri menatap lekat wajah Bella, dia tidak habis pikir dengan istrinya itu. Disaat-saat seperti ini Bella masih saja begitu polos dan menerima semua yang ada. Padahal Fahri berhutang banyak padanya.
Dua tahun pernikahan sebelumnya, Fahri tidak pernah memberinya cincin sebagai tanda ikatan diantara mereka.
Fahri ingin membayar semua yang sudah terlewatkan, mulai dari lamaran sampai pesta pernikahan.
"Sayang maukah kamu menikah denganku?" ucap Fahri lagi.
Kali ini Bella mengangguk, air matanya menggenang, begitu pula dengan Fahri yang tidak tau harus berkata apa, matanya berkaca-kaca.
Fahri meraih tangan Bella, memasang cincin itu di jari manisnya lalu menciumnya, air mata Fahri jatuh di punggung tangan Bella.
Detik berikutnya, Fahri mengulurkan tangan. "Pasangkan untukku!" pintanya dengan suara serak.
Bella mengambil cincin satunya di dalam kotak kemudian memasangnya di jari manis Fahri.
Fahri langsung bangkit dan memeluk Bella dengan erat, air matanya kembali berjatuhan di pundak istrinya itu.
Beberapa menit kemudian, Fahri melepaskan pelukannya, hatinya mulai tenang. Dia mengambil ponsel miliknya, menggenggam tangan Bella dan memotretnya dengan latar belakang akta nikah.
"Terima kasih istriku tercinta" caption yang ditulis Fahri saat mengunggah foto barusan di instastory wa miliknya.
"Eh, kenapa diunggah?" cegat Bella tapi sudah terlambat.
Fahri menaruh kembali ponselnya, melirik Bella dengan tatapan tak biasa. "Kenapa kalau diunggah?" tanyanya.
Bella menggaruk kepala yang tidak gatal, "Takutnya orang-orang tau, nanti reputasi mu bisa..." Bella tidak melanjutkan kata-katanya, dia gugup.
Persetan dengan reputasi, buat apa? Fahri hanya ingin orang-orang tau bahwa dia sudah menikah agar kejadian seperti tadi tidak terulang kembali.
Fahri juga tidak ingin Bella sembunyi-sembunyi lagi saat bersamanya, dia tau beberapa hari ini Bella selalu disudutkan oleh karyawan lain yang menganggap dirinya menggoda suami orang.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡