Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7--evaluasi Bulanan
Naufal berangkat hari ini lebih pagi dari biasanya, bukan tanpa alasan. Sebab hari ini adalah awal bulan, seperti kebiasan sales manapun mereka melakukan briefing dan evaluasi bulan lalu. Begitu Nuafal sampai ke kantornya, tatapan merendahkan langsung menusuk dia.
“Lihat itu … dia kan si anak baru itu!”
“Iya yang katanya tidak pernah target selama tiga bulan? Dia sudah di SP 3 dong berarti!”
“Busuk juga ada batasnya kali … masa tiga bulan no target, dia mah emang gak niat kerja.”
Naufal cuma bisa menghela napas diantara para tatapan senior itu. Tidak ada gunanya berdebat di kantor seperti ini, dia baru saja melakukan penjualan 50 unit dalam satu malam … mereka pasti belum tahu, jadi cukup buktikan dengan hasil maka mereka terkejut.
Zulfa adalah teman sebaya sengketanya, masuk kerja sebagai sales hp bersama Naufal tiga bulan bahkan mereka sempat bertemu saat interview sejak saat itu mereka berteman akrab.
Zulfa berlari kecil menghampiri Naufal, wajahnya tampak cemas dengan lingkaran hitam di bawah mata—ciri khas sales yang habis begadang mengejar laporan akhir bulan. Ia menyenggol bahu Naufal pelan, mencoba memberikan dukungan moral di tengah bisik-bisik tetangga yang makin panas.
"Fal, lo beneran telat input ya kemarin?" bisik Zulfa khawatir.
"Gue denger dari anak-anak sebelah, Pak Eko tadi pagi ngamuk-ngamuk di grup internal. Lo... lo udah siapin mental buat surat resign? Kalau perlu, gue ada info loker di gudang ekspedisi, gajinya lumayan daripada lo nganggur total."
Naufal menoleh ke arah Zulfa, melihat ketulusan di mata temannya itu. Ia tersenyum tipis, sangat tenang, kontras dengan suasana kantor yang tegang. "Santai, Mas Zul. Rezeki udah ada yang atur. Kita lihat aja nanti pas evaluasi."
"Dih, malah sok puitis! Ini serius, Fal! SP-3 itu nggak main-main!" Zulfa gemas sendiri melihat ketenangan Naufal.
Tiba-tiba, pintu ruang rapat terbuka lebar. Pak Eko keluar dengan langkah tegap, wajahnya tampak merah padam, memegang sebuah map tebal dan tablet di tangan kirinya. Suasana kantor yang tadinya bising langsung sunyi senyap. Semua sales berdiri tegak, tak berani mengeluarkan suara.
"Semuanya masuk! Rapat evaluasi dimulai sekarang!" teriak Pak Eko.
Satu per satu sales masuk ke ruang rapat. Naufal duduk di barisan belakang, sementara Zulfa duduk tepat di sampingnya, terus-menerus merapal doa. Sebagai teman yang baik ia berharap Naufal tidak dipermalukan di rapat evaluasi ini.
Suasana ruang rapat internal brand OMNI (A/N plesetan dari OPPO, jadi naufal dll itu sales OPPO ya gays, untuk seri hp bakal pakai nama samaran untuk menjaga hak cipta dll)
itu mendadak hening mencekam. Di barisan depan, duduk seorang pria dengan rambut klimis dan jam tangan mahal yang sengaja ia pamerkan di atas meja. Dia adalah Rendi, sales senior paling berprestasi di brand ini untuk wilayah Yogyakarta.
Rendi dikenal sebagai "Si Penjagal". Dia tidak suka ada anak baru yang menonjol, dan dia sering menggunakan kedekatannya dengan Pak Eko untuk menindas sales junior. Baginya, Naufal hanyalah angka statistik yang seharusnya sudah dihapus dari daftar karyawan bulan ini.
Mengenai Naufal dia juga merupakan orang yang sering menindas bocah bau kencur itu pasalnya dia dinilai tidak becus dalam kerja.
Ia yakin, hari ini adalah hari terakhir si "anak baru" itu menginjakkan kaki di sini.
Pak Eko berdiri di depan proyektor. Layar besar di belakangnya menampilkan grafik penjualan area Yogyakarta bulan lalu.
"Bulan lalu adalah bulan yang berat bagi kita semua," Pak Eko memulai dengan nada berat. "Banyak dari kalian yang hanya mencapai 70% target. Bahkan ada yang hampir saya pecat karena performanya yang seperti sampah."
Rendi berdehem keras, sengaja memancing perhatian ke arah Naufal. Beberapa sales lain ikut terkekeh sinis..
Zulfa bergidik ngeri karena arah pandangan mengarah ke Naufal.
"Tapi," Pak Eko menjeda kalimatnya, matanya menyisir seluruh ruangan dan berhenti tepat pada Naufal. "Ada satu orang yang di menit-menit terakhir penutupan toko semalam, melakukan sesuatu yang menurut saya... tidak masuk akal. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh sales senior paling hebat sekalipun di ruangan ini."
“Hahaha … mungkin itu maksudnya saya, kan pak?” Ucap rendi sombong dengan aura penjilat yang kuat. “Saya kan kemarin malam jualan seri r-14 dua unit … ya janjian sih, tapi itu penutupan yang luar biasa.”
Pak Eko menggelengkan kepala. “Yup … itu memang hebat, tapi ada yang lebih hebat lagi.”
Ia menekan remote proyektor. Layar menampilkan tabel peringkat. “Ini adalah peringkat performa penjualan bulan ini, saya harap kalian semua sadar diri, yang di bawah target masih disini dulu ya!”
Rendi terkekeh, menatap Naufal. Ini akhir dari si anak baru begitu pikirnya. Lalu suasana kantor terkejut semua, rendi bertanya-tanya kenapa mendadak jadi hening. Apa mereka semua terkejut akan performa penjualan miliknya? Namun saat ia membuka mata ia membulatkan kelopaknya.
“mustahil !”
Rendi masih di posisi satu tentu saja bulan ini dia jualan sampai 200 juta, namun yang menarik perhatian adalah peringkat ketiga dari semua list ini.
1.Rendi Pratama | Target : 120 juta | Tercapai : 200 Juta
Hendra Kurniawan | Target ; 110juta | Tercapai : 180 juta
Naufal | Target : 60 Juta | Tercapai : 150 juta
Seluruh ruangan seolah kehilangan pasokan oksigen. Suara bisik-bisik yang tadinya menghina, kini berganti menjadi desisan ngeri. Angka 150 juta di samping nama Naufal seolah-olah menyala, membakar harga diri para senior yang duduk di barisan depan.
"Gila... 150 juta?" Zulfa sampai mengucek matanya berkali-kali. Ia menyenggol lengan Naufal dengan gemetar. "Fal, lo... lo beneran jualan? Itu nolnya nggak kelebihan, kan?”
Naufal hanya diam, matanya terpaku pada layar. Di sudut penglihatannya, sebuah panel sistem kembali berdenting pelan.
[Ding!]
[Reaksi Lingkungan: 'Shock Terapi'.]
[Pesan Sistem: Dominasi mental lawan telah dimulai. Inang disarankan untuk tetap tenang guna memaksimalkan efek intimidasi.]
Rendi Pratama, yang tadinya duduk bersandar dengan angkuh, kini mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajahnya hampir menyentuh meja rapat. Urat lehernya menegang. Soalnya hal tersebut sangat mustahil.
Naufal kemarin cuma mencapai target di bawah 60 juta, dalam semalam naik jadi 150 juta? Mustahil!
"Pak Eko! Ini bercanda, kan? Naufal? Si anak probation yang kemarin lusa masih nangis-nangis karena nggak ada user?"
Rendi membalikkan badannya, menunjuk wajah Naufal dengan kasar. "Lo manipulasi data ya?! Atau lo main dumping? Jangan-jangan lo jual barang ke pengepul di bawah harga pasar buat ngejar target?! Pak, ini harus diaudit! Nggak mungkin anak SMK bau kencur bisa narik 150 juta dalam satu malam!"
Pak Eko menggebrak meja dengan map di tangannya. BRAK!
"Diam, Rendi! Jaga mulutmu!" bentak Pak Eko. "Saya sudah kroscek ke admin pusat. Semua Imei yang discan Naufal adalah unit fresh, keluar dengan harga retail resmi! Tidak ada dumping, tidak ada manipulasi. Dia menutup 50 unit seri A-Series dalam satu transaksi cash!"
Mendengar kata "50 unit", suasana semakin riuh. Para senior yang tadi tertawa kini menunduk, tak berani menatap Naufal. Menjual 50 unit dalam satu transaksi bukan lagi sekadar jualan, itu adalah miracle.
Keajaiban yang semua orang mau! Apalagi unit A-5 insentifnya lumayan untuk barang 2 jutaan.
"Dan satu lagi," Pak Eko melanjutkan, suaranya kini merendah namun tajam. "Naufal melakukan ini setelah salah satu senior dari brand pesaing merebut pelanggan janjiannya. Dia bangkit dari titik nol saat toko hampir tutup. Itu yang saya sebut mental petarung! Bukan mental pecundang yang cuma jago pamer jam tangan tapi nggak bisa baca potensi pasar!"
Rendi merasa wajahnya seperti ditampar di depan umum. Jam tangan mahal yang tadi ia pamerkan tiba-tiba terasa sangat berat dan memalukan.
"Naufal, silakan maju ke depan," perintah Pak Eko.
Naufal berdiri. Saat ia melangkah maju, Zulfa memberikan tepukan semangat yang keras di bahunya. Naufal berjalan dengan tenang, melewati barisan kursi Rendi yang kini membuang muka dengan napas memburu.
Sesampainya di depan, Naufal berhadapan dengan seluruh tim. Ia tidak terlihat gugup. Sebaliknya, aura yang dipancarkan sangat berbeda dari Naufal yang kemarin.
"Terima kasih, Pak Eko," Naufal memulai, suaranya stabil. "Sebenarnya saya hanya beruntung bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat. Jadi saya tidak terlalu hebat, juga.”
Naufal masih merendah sombong bukan gaya dia, namun semua orang tahu bahwa perubahan dari Nuafal adalah langkah awal dari saingan besar mereka.
“Tidak ada yang namanya kebetulan begitu,” bisik beberapa senior.
“Faktanya dia berhasil jual 50 unit borongan … orang sultan pun kalau gak tertarik sama kita gak bakal beli.”
“Itu artinya … dia jadi lumayan.”
Percakapan dan bisik-bisik itu membuat Rendi kesal. 'Hahaha … jadi gitu toh, pantes biasa jualan … orang dia cuma hoki ketemu sultan, wkwkwk besok bulan ini dia pasti sp3 juga.’
Sementara itu, Nadila—merupakan trainer dari tim yogyakarta menatap Naufal. 'Jadi ini anak yang nutup target di akhir-akhir detik . Menarik.’
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN