"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Bisikan Hitam dan Benang Pelet
Malam itu, kantor Kejaksaan masih terang benderang. Baskara duduk di balik meja kerjanya yang luas, menatap layar monitor dengan mata yang sedikit memerah. Di hadapannya, tumpukan berkas latar belakang istri pertama Pak Darmawan terbuka lebar.
"Instingmu tajam, Arini," gumam Baskara pelan.
Data medis menunjukkan istri pertama itu meninggal karena gagal jantung mendadak sepuluh tahun lalu. Namun, ada satu keganjilan: tidak ada catatan otopsi. Semua proses pemakaman dipercepat, seolah ada sesuatu yang ingin dikubur dalam-dalam. Baskara meraih ponselnya, mengetikkan pesan singkat untuk asistennya. “Periksa aliran dana istri kedua Darmawan ke rekening seseorang bernama Mbah Suro di daerah pinggiran.”
...****************...
Sementara itu, di apartemennya yang sunyi, Arini sama sekali tidak bisa tidur.
Ruangan itu terasa sangat dingin, jauh lebih dingin daripada ruang otopsi rumah sakit. Aroma mawar busuk tiba-tiba merebak, memenuhi kamar tidurnya. Arini menarik selimut hingga ke dagu, matanya melirik ke sudut ruangan.
"Mika? Kamu di sana?" bisik Arini gemetar.
Tidak ada jawaban. Mika, yang biasanya cerewet, entah kenapa menghilang sejak mereka pulang dari restoran.
Tiba-tiba, dari arah kolong tempat tidurnya, terdengar suara kuku yang menggaruk lantai kayu. Sreeek... sreeek... sreeek...
Arini membeku. Sebuah tangan dengan kulit menghitam dan kuku-kuku panjang yang patah muncul dari pinggir tempat tidur. Sosok itu perlahan merangkak naik. Ia bukan hantu biasa yang penasaran atau sedih. Ini adalah sesuatu yang lain. Wajahnya hancur dengan mata yang hanya menyisakan lubang hitam pekat, dan di lehernya melingkar benang merah yang tampak seperti urat nadi yang berdenyut.
"Jangan... ikut... campur..." suara itu bukan berasal dari mulut, melainkan seperti bergema langsung di dalam kepala Arini.
Arini berteriak, tapi suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Ia mencoba meraih ponselnya, namun sosok itu lebih cepat. Makhluk itu menindih tubuh Arini, hawa panas yang membakar kulit terasa menyengat.
"Tuan putri... harus... patuh..." makhluk itu menjilat pipi Arini dengan lidah yang bercabang.
Ini adalah jin kiriman. Arwah yang diikat dengan ilmu hitam peket untuk menjaga agar rahasia sang majikan tidak terbongkar. Istri kedua Pak Darmawan tidak hanya menggunakan pelet untuk memikat suaminya, tapi juga menyewa 'penjaga' untuk menyingkirkan siapa pun yang mencium bau busuk masa lalunya.
"PERGI!" Arini akhirnya berhasil berteriak.
Tiba-tiba, sebuah kilatan cahaya merah muda menghantam sosok hitam itu hingga terlempar ke dinding. Mika muncul di depan Arini, wajahnya tidak lagi ceria. Rambut kuncir duanya berkibar tertiup angin gaib, dan matanya memancarkan cahaya perak.
"Berani-beraninya kamu menyentuh temanku, bau tanah!" bentak Mika.
Sosok hitam itu mengerang, suaranya seperti perpaduan teriakan babi dan tangisan bayi. Ia kembali menghilang ke dalam bayang-bayang, namun suaranya masih tertinggal: "Dia... sudah... ditandai..."
Arini terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Mika langsung mendekat dan memeluk bahu Arini, meskipun pelukan itu tidak terasa secara fisik, hawa dingin Mika entah kenapa menenangkan suhu panas di kulit Arini.
"Rin, kamu nggak apa-apa? Maaf, aku tadi telat karena ditarik paksa keluar dari apartemen ini sama energi hitam itu. Penjaganya kuat banget, Rin. Itu hantu peliharaan dukun," jelas Mika dengan nada khawatir yang luar biasa.
Belum sempat Arini menjawab, pintu apartemennya digedor dengan keras.
"Arini! Buka pintunya!" itu suara Baskara.
Arini berlari dengan kaki lemas dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, ia langsung menubruk dada bidang Baskara. Ia tidak peduli lagi soal harga diri atau sifat kaku tunangannya. Ia hanya butuh merasa aman.
Baskara tertegun, tangannya yang tadinya hendak mengetuk kini melingkar erat di pinggang Arini. Ia merasakan tubuh tunangannya itu menggigil hebat.
"Ada apa? Aku baru saja mau mengabari soal data medis itu, tapi perasaanku mendadak tidak enak dan aku langsung ke sini," ucap Baskara, suaranya yang berat kini penuh dengan nada protektif.
Baskara membawa Arini masuk dan mendudukkannya di sofa. Matanya menyapu seisi ruangan yang berantakan, seolah mencari penyusup. Tentu saja, ia tidak bisa melihat bekas cakaran hitam di dinding atau Mika yang sedang bersedekap dengan wajah kesal di pojok ruangan.
"Bas... ada yang datang ke sini," bisik Arini sambil memegang tangan Baskara erat-erat. "Bukan orang, tapi... sesuatu yang jahat."
Baskara terdiam. Jika itu orang lain yang bicara, dia pasti sudah memanggil dokter jiwa. Tapi melihat Arini yang begitu ketakutan, Baskara berlutut di depan Arini, menangkup kedua pipinya dengan tangan hangatnya.
"Dengarkan aku," ucap Baskara tegas, matanya mengunci mata Arini. "Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi di dunia yang tidak bisa kulihat. Tapi di dunia ini, aku adalah Jaksamu. Siapa pun yang mencoba menyentuhmu, entah itu manusia atau 'halusinasi' apa pun itu, mereka harus melampauiku dulu."
Baskara menarik kepala Arini dan mencium keningnya lama. Pelukan yang tadinya posesif kini berubah menjadi perlindungan mutlak.
Di pojok ruangan, Mika mengusap air mata transparannya. "Duh, Mas Jaksa... kata-katanya bikin merinding, tapi kali ini aku setuju. Kamu memang harus jagain dia, karena lawan kita bukan cuma manusia yang pegang hukum, tapi manusia yang main dukun."
Arini memejamkan mata dalam dekapan Baskara. Ia tahu, penyelidikan ini baru saja berubah menjadi perang dua dunia. Dan ia berada tepat di tengah-tengahnya.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣