Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: MAUT DI TEPI KOLAM
Langit siang itu tampak begitu biru, nyaris tanpa awan, memancarkan terik matahari yang menyengat seolah-olah ingin memanggang apa pun yang ada di bawahnya. Namun, di balik kemegahan taman belakang kediaman Al-Ghifari yang dipenuhi tanaman eksotis dan gemericik air mancur, sebuah rencana gelap sedang berdenyut kencang. Sabrina berdiri di balkon lantai dua, menyipitkan matanya yang tajam di balik kacamata hitam bermerek, menatap sosok Maryam yang sedang berlutut di tepi kolam renang besar yang airnya berkilau jernih.
(Sabrina membatin: Lihatlah dia. Begitu menyedihkan, begitu kerdil. Berlutut di sana menyikat lantai kasar dengan tangan yang mungkin sudah lecet-lecet. Dia pikir dengan bersikap tabah dan religius, dia bisa mencuri hati Zayn? Dasar pelayan rendahan! Sapu tangan putih itu... aku tidak akan pernah melupakan bagaimana Zayn menatapnya semalam di balkon. Zayn tidak pernah menatapku seperti itu! Zayn milikku, hartanya milikku, dan kedudukan ini milikku. Jika berita kematian Aaliyah Humaira sudah tersebar, maka Maryam pun harus benar-benar menyusul ke liang lahat agar tidak ada lagi kerikil yang mengganjal jalanku!)
Sabrina menyesap jus jeruknya dengan kasar, lalu melemparkan gelas kristal itu ke atas sofa empuk di belakangnya. Ia melangkah turun dengan keanggunan seorang permaisuri yang siap mengeksekusi pemberontak.
Di tepi kolam, Aaliyah—sang Maryam—merasakan peluh bercucuran di balik niqabnya. Kain hitam itu terasa semakin berat, menempel lekat pada wajahnya yang mulai memerah karena panas yang ekstrem. Jemarinya yang ramping, yang biasanya menari lincah di atas keyboard komputer, kini terasa kaku dan perih karena terus-menerus bergesekan dengan sikat kasar dan cairan pembersih yang menyengat.
(Batin Maryam menjerit: Ya Allah... panas ini sungguh menguji kesabaranku. Punggungku terasa seolah akan patah, dan tanganku mulai mati rasa. Namun, setiap perih yang kurasakan ini adalah penebusan atas dosa-dosaku yang lalu. Jika ini adalah jalan yang harus kutempuh untuk tetap berada di dekat Zayn, untuk melindungi ayahku dari kejauhan, maka hamba rida. Zayn... pria itu bersumpah akan membantuku semalam. Haruskah aku mempercayainya sepenuhnya? Ataukah sapu tangan itu hanyalah bentuk rasa kasihan sesaat sebelum dia kembali menghinaku di depan umum?)
"Heh, Pelayan!" bentakan nyaring itu mengejutkan Maryam hingga sikat di tangannya terlepas dan jatuh ke dalam air.
Maryam segera berdiri dengan sisa kekuatannya, menunduk dalam di hadapan Sabrina yang kini berdiri dengan angkuh, hanya berjarak beberapa langkah dari tepi kolam yang dalam.
"I-iya, Nyonya Sabrina?" suara Maryam terdengar lemah dan parau.
"Kenapa kerjamu lambat sekali, hah?! Lihat itu! Masih ada noda lumut di bagian bawah sana!" Sabrina menunjuk ke arah lantai kolam yang menjorok ke dalam, tempat di mana airnya paling dalam. "Turun ke sana! Sikat sampai bersih! Aku tidak ingin melihat ada setitik pun debu saat Zayn pulang nanti!"
(Batin Maryam menjerit: Turun ke sana? Dalam keadaan gamis panjang dan tebal seperti ini? Itu sangat berbahaya! Sabrina sengaja ingin mencelakaiku. Dia tahu aku tidak mungkin menolak perintahnya tanpa terlihat membangkang di depan Zayn nanti. Ya Allah, lindungilah hamba-Mu yang lemah ini. Liciknya wanita ini... dia menggunakan otoritasnya sebagai calon istri Zayn untuk menyiksaku.)
"Maaf, Nyonya... tapi airnya cukup dalam dan gamis saya—"
"Jangan banyak alasan!" Sabrina maju selangkah, suaranya melengking memecah keheningan taman. "Kamu itu sudah mencuri perhiasanku, sudah beruntung tidak aku jebloskan ke penjara! Sekarang kau mau membangkang perintahku? Turun sekarang, atau aku akan menyuruh satpam menyeretmu keluar dari sini dengan tidak hormat!"
(Sabrina membatin: Ayo, turunlah! Begitu kakimu terpeleset karena beratnya gamismu sendiri, tidak akan ada yang bisa menolongmu. Aku sudah menyuruh semua pelayan lain ke bagian depan untuk membersihkan taman depan. CCTV di area ini juga sudah dimatikan sementara oleh Rian. Ini adalah panggung kematianmu, Maryam. Selamat tinggal, penghalang sialan!)
Maryam menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian menggila. Ia melangkah ragu ke arah tangga kolam. Saat kakinya menyentuh air yang dingin, kontras dengan panasnya matahari di punggungnya membuat kepalanya mendadak pening. Ia mulai menyikat bagian pinggir kolam dengan sangat hati-hati.
Namun, Sabrina tidak puas hanya melihatnya bekerja. Ia berjalan mondar-mandir di tepi kolam, sepatunya yang berhak tinggi berbunyi klak-klak yang sangat mengintimidasi.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya yang mewah, Zayn Al-Fatih sedang tidak fokus pada laporan keuangan yang ada di depannya. Matanya terus melirik ke arah monitor CCTV kecil yang ia sembunyikan di laci meja kerjanya. Maryam memberikan akses kepadanya untuk memantau keamanan rumah melalui jalur yang tidak diketahui Rian.
Zayn tersentak saat melihat layar di area kolam renang mendadak gelap. No Signal.
(Zayn membatin: Sial! Mengapa kamera di area kolam mati? Apakah Rian menyadarinya? Tidak, ini pasti sabotase dari dalam. Sabrina! Dimana dia sekarang?)
Zayn segera membuka tab pelacak GPS di jam tangan Maryam yang sudah ia integrasikan dengan sistemnya. Titik merah itu menunjukkan Maryam berada tepat di tepi kolam renang. Zayn segera bangkit, jantungnya berdegup kencang oleh firasat buruk yang luar biasa. Ia mengabaikan panggilan telepon dari sekretarisnya dan berlari keluar ruangan, menuruni tangga dengan langkah yang lebar.
(Zayn membatin: Maryam, jangan sampai terjadi apa-apa padamu! Jika aku kehilanganmu, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri. Kau adalah kunci dari segalanya, kau adalah satu-satunya orang yang membuatku kembali merasakan nurani. Sabrina... jika kau berani menyentuh seujung kukunya saja, aku bersumpah akan menghancurkan keluarga Baskoro sampai ke akar-akarnya!)
Zayn berlari menuju pintu belakang yang menuju ke arah taman. Dari kejauhan, ia melihat Sabrina sedang berdiri membelakanginya di tepi kolam, dan Maryam tampak sedang berjuang di dalam air yang cukup dalam, gamisnya yang basah membuatnya tampak sulit bergerak.
Kembali ke tepi kolam, Sabrina melihat Maryam yang sedang kesulitan. Ia merasa inilah saatnya. Dengan pura-pura tersandung, Sabrina menjatuhkan tubuhnya ke arah Maryam.
"Aduh!" teriak Sabrina palsu. Tangannya mendorong kuat bahu Maryam.
BYURRR!
Tubuh Maryam terjatuh ke bagian kolam yang paling dalam. Air masuk ke dalam hidung dan mulutnya melalui kain niqab yang seketika menempel erat, menghambat jalur napasnya. Gamis hitamnya yang lebar dan panjang menyerap air dengan cepat, berubah menjadi beban yang menarik tubuhnya ke dasar kolam. Maryam mencoba menggapai permukaan, namun berat kainnya membuatnya seolah ditarik oleh ribuan tangan ke bawah.
(Batin Maryam menjerit: Ya Allah... tolong hamba! Napas hamba sesak... hamba tidak bisa menghirup udara! Apakah ini akhir dari segalanya? Ayah... maafkan Aaliyah... hamba belum sempat membersihkan nama kita. Zayn... tolong...)
Di atas permukaan, Sabrina berpura-pura panik namun tidak melakukan apa pun. Ia hanya berdiri di tepi kolam sambil melihat gelembung udara yang semakin sedikit keluar dari bawah air.
"Aduh, tolong! Tolong! Maryam terpeleset!" teriak Sabrina dengan suara yang tidak terlalu keras, memastikan tidak ada orang yang segera datang.
(Sabrina membatin: Matilah kau! Tenggelamlah bersama semua rahasiamu! Begitu kau mati, aku akan menangis di depan Zayn dan mengatakan kau lalai saat bekerja. Zayn tidak akan punya bukti apa pun untuk menyalahkanku. Dunia akan menganggap ini kecelakaan tragis seorang pelayan rendahan.)
Tiba-tiba, sesosok bayangan melesat melewati Sabrina. Dengan gerakan yang sangat cepat dan bertenaga, Zayn Al-Fatih melompat masuk ke dalam kolam tanpa melepas jas mahalnya.
BYURRR!
Zayn berenang dengan cepat menuju titik di mana tubuh Maryam perlahan mulai tenggelam. Di bawah air yang jernih, Zayn melihat mata Maryam yang terpejam, wajahnya tertutup kain hitam yang mencekik. Zayn meraih pinggang Maryam, menarik tubuh wanita itu dengan sekuat tenaga menuju permukaan.
Saat mereka muncul di permukaan, Maryam sudah tidak sadarkan diri. Zayn membawanya ke tepi kolam, mengangkat tubuhnya yang sangat berat karena air ke atas lantai pualam.
"Maryam! Maryam, bangun!" teriak Zayn, suaranya pecah oleh ketakutan yang nyata. Ia tidak peduli dengan pakaiannya yang basah kuyup. Ia menekan dada Maryam, mencoba melakukan pertolongan pertama.
Sabrina berdiri di sana, wajahnya pucat pasi bukan karena kasihan, tapi karena takut aksinya ketahuan. "Zayn! Oh my God, Zayn! Tadi dia tiba-tiba jatuh, aku mencoba menolongnya tapi aku tidak bisa berenang!"
Zayn mendongak, menatap Sabrina dengan tatapan yang begitu mengerikan hingga Sabrina mundur tiga langkah. "Diam kau, Sabrina! Jangan berani-berani bicara satu kata pun atau aku akan mencekikmu sekarang juga!"
(Zayn membatin: Kau pikir aku buta? Aku melihatmu mendorongnya! Aku melihat ekspresi kemenangan di wajahmu sebelum aku melompat tadi! Kau benar-benar iblis, Sabrina! Jika Maryam tidak bangun, aku bersumpah kau akan mendekam di penjara seumur hidupmu!)
Zayn kembali fokus pada Maryam. "Maryam, kumohon... bangunlah! Jangan tinggalkan aku sekarang!"
Zayn terpaksa menarik tali niqab Maryam yang sudah mencekik leher wanita itu. Dengan tangan gemetar, ia membuka kain hitam tersebut agar Maryam bisa bernapas.
Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar bagi Zayn Al-Fatih.
Saat kain hitam itu terlepas, di bawah sinar matahari yang terik, terpampanglah wajah asli Maryam. Wajah yang selama ini tersembunyi dengan rapat. Wajah yang memiliki garis kecantikan yang sangat akrab di ingatan Zayn. Kulit kuning langsat yang halus, hidung mancung yang sempurna, dan bibir yang meskipun kini pucat kebiruan, tetap memancarkan keanggunan seorang bangsawan.
Zayn tertegun. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia meraih amplop cokelat di sakunya yang sudah basah, mengeluarkan foto Aaliyah Humaira yang selama ini ia selidiki. Ia membandingkan foto itu dengan wajah wanita di pangkuannya.
(Zayn membatin: Tidak... tidak mungkin... Jadi selama ini... Maryam adalah Aaliyah Humaira? Putri Kyai dari Al-Azhar yang dikabarkan meninggal semalam? Dia berada di rumahku... mengurus ibuku... menyelamatkan perusahaanku... sementara aku menghinanya setiap hari? Ya Allah... dosa apa yang telah kulakukan padanya?)
Tiba-tiba, Maryam terbatuk, memuntahkan air dari paru-parunya. Matanya terbuka sedikit, menatap langit yang kabur sebelum fokus pada wajah Zayn yang berada tepat di atasnya. Maryam menyadari wajahnya sudah tidak tertutup kain. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba menutupi wajahnya dengan tangannya yang gemetar.
"Tuan... jangan lihat..." rintih Maryam lemah sebelum kembali pingsan di pelukan Zayn.
Zayn tidak memedulikan perintah itu. Ia justru memeluk tubuh Maryam dengan sangat erat, menyembunyikan wajah wanita itu di dadanya agar Sabrina tidak bisa melihat wajah aslinya.
"Bi Inah! Panggil dokter pribadi keluarga sekarang juga ke kamar tamu! Cepat!" perintah Zayn pada Bi Inah yang baru saja berlari datang dengan wajah panik.
Zayn menggendong Maryam dengan gaya bridal style, melangkah cepat menuju ke dalam rumah, mengabaikan Sabrina yang berdiri mematung dengan sejuta tanya dan ketakutan yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Di dalam kamar tamu yang mewah, dokter sedang memeriksa keadaan Maryam. Zayn berdiri di sudut ruangan, pakaiannya yang basah mulai mengering di tubuhnya, namun ia tidak peduli. Matanya tidak lepas dari wajah Maryam yang kini tampak sangat damai dalam tidurnya.
(Zayn membatin: Aaliyah... jadi kau masih hidup. Kau memilih bersembunyi di tempat yang paling berbahaya bagimu. Mengapa kau melakukan ini sendirian? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku semalam saat kita membuat perjanjian? Apakah kau begitu tidak mempercayaiku karena hinaan-hinaanku? Maafkan aku... aku bersumpah, mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu. Aku akan menjadi perisaimu, meskipun aku harus melawan seluruh dunia.)
Zayn melirik ke arah pintu. Ia melihat Sabrina sedang mencoba mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit. Zayn berjalan ke arah pintu dan menutupnya dengan keras, lalu menguncinya dari dalam.
Ia kembali ke sisi tempat tidur Maryam. Ia mengambil sapu tangan putih yang semalam ia berikan kepada wanita itu, yang kini jatuh di lantai. Sapu tangan itu basah, namun tetap bersih.
(Zayn membatin: Sabrina sudah keterlaluan. Dia mencoba membunuhnya. Aku tidak bisa lagi bermain sandiwaranya terlalu lama. Rian dan Baskoro juga sudah mulai bergerak. Aku harus mempercepat rencanaku. Tapi yang paling penting... aku harus tahu siapa yang memfitnah Aaliyah di pesantren. Karena siapa pun yang menghancurkan hidup wanita ini, dia juga telah menghancurkan duniaku.)
Tiba-tiba, jari-jari Maryam bergerak. Ia perlahan membuka matanya. Saat ia melihat Zayn sedang menatapnya dengan pandangan yang begitu lembut—pandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya—Maryam merasa jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Tuan Muda... niqab saya..." bisik Maryam, suaranya sangat serak.
Zayn meraih tangan Maryam, menggenggamnya dengan sangat lembut. "Jangan khawatirkan niqabmu, Aaliyah. Aku sudah tahu segalanya."
Mata Maryam membelalak. Ketakutan yang luar biasa terpancar dari matanya. Ia mencoba bangkit namun Zayn menahannya dengan lembut.
"Jangan takut. Aku bukan musuhmu," bisik Zayn lagi, kali ini dengan nada yang sangat tulus yang membuat pertahanan Maryam runtuh. "Aku tahu kau difitnah. Aku tahu kau bukan orang di foto itu. Dan aku bersumpah, aku akan membantumu mengambil kembali kehormatan keluargamu."
Air mata mulai mengalir di sudut mata Maryam. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kelegaan karena akhirnya ada seseorang yang mempercayainya di tengah dunia yang kejam ini.
(Batin Maryam menjerit: Ya Allah... apakah ini jawaban dari doa-doaku? Pria yang paling membenci agama ini, kini justru menjadi orang pertama yang membela kehormatanku? Mengapa hati hamba bergetar seperti ini? Apakah hamba boleh mempercayainya? Ataukah ini hanyalah ujian lain yang jauh lebih besar?)
Di luar kamar, Sabrina sedang menelepon seseorang dengan suara yang gemetar. "Halo, Papa? Rencana kita gagal! Zayn menyelamatkannya! Dan sepertinya Zayn melihat wajahnya! Kita harus melakukan sesuatu malam ini juga sebelum Zayn membongkar semuanya!"
Malam di kediaman Al-Ghifari tidak lagi akan menjadi malam yang tenang. Sebuah perang terbuka akan segera pecah di antara cinta yang baru tumbuh dan ambisi yang sudah berkarat. Sinetron kehidupan ini sedang menuju babak pengkhianatan yang paling mematikan.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji