" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pecahnya Keheningan
Sore itu, sebuah mobil tua berhenti di depan gang. Ayah dan Ibu Arumi datang tanpa kabar. Mereka melangkah masuk ke rumah kontrakan yang pengap itu, disambut oleh aroma apak dan kegelapan karena listrik yang masih padam.
Arumi baru saja pulang dari warung makan, wajahnya kuyu, tangannya kasar karena deterjen, dan bajunya basah oleh keringat. Ia terkejut melihat orang tuanya duduk di kursi plastik yang reyot. Baskara ada di sana, duduk diam seperti biasa, bahkan tidak menyuguhkan air putih untuk mertuanya.
"Arumi? Kenapa penampilanmu seperti ini?" Ibu Arumi bangkit, matanya membelalak melihat anak perempuannya yang dulu selalu rapi kini tampak seperti buruh cuci.
"Aku... aku habis kerja, Bu," jawab Arumi pelan, mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik daster.
"Kerja? Untuk apa kamu kerja? Kamu sedang hamil!" Ayah Arumi menyela, suaranya berat dan penuh otoritas. Ia menoleh pada Baskara. "Baskara, kenapa istrimu yang hamil sampai harus keluar mencari uang?"
Baskara hanya mengangkat bahu sedikit, matanya tetap menatap lantai. "Dia yang mau sendiri, Yah. Saya sudah bilang tidak usah, tapi dia keras kepala."
"Keras kepala karena kita tidak punya beras, Yah!" Arumi tiba-tiba meledak. Suaranya pecah di tengah ruangan yang sempit itu. "Listrik diputus, kontrakan mau diusir, dan Mas Baskara cuma bisa bilang 'sabar' sambil tidur!"
Ibu Arumi terdiam, ia berjalan menuju dapur dan membuka tudung saji. Kosong. Ia membuka tempat beras. Kosong. Ia melihat tumpukan tagihan yang belum terbayar di atas meja kayu.
"Baskara," suara Ibu Arumi mendadak dingin dan tajam. "Kamu pria dewasa. Kamu menikahi anakku bukan untuk membiarkannya kelaparan sambil mengandung cucuku."
"Saya sudah berusaha sebisanya, Bu," jawab Baskara datar, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun.
"Berusaha apa?" bentak Ibu Arumi, air matanya mulai mengalir karena marah. "Sejak kami duduk di sini sepuluh menit lalu, kamu bahkan tidak bergerak untuk mengambilkan air minum! Kamu membiarkan istrimu yang hamil besar pulang kerja dengan baju basah kuyup, sementara kamu cuma duduk membatu di sini?"
"Sudahlah, Bu. Namanya juga rumah tangga, ada pasang surutnya," potong Ayah Arumi, mencoba menenangkan istrinya karena gengsi pria.
"Pasang surut apa, Pak?!" Ibu Arumi berbalik menatap suaminya dengan berani. "Ini bukan pasang surut! Ini penindasan pelan-pelan! Dulu kita mengekang Arumi karena kita ingin dia aman, tapi sekarang kita menyerahkannya pada pria yang bahkan tidak punya nyali untuk memberi makan istrinya sendiri!"
Ibu Arumi menghampiri Arumi, memegang kedua bahu anaknya yang bergetar karena tangis.
"Arumi, dengar Ibu," bisik Ibunya, suaranya melembut namun penuh kekuatan. "Ibu yang dulu menjodohkanmu karena mengira pria ini mapan dan bisa membimbingmu. Ibu salah. Ibu berdosa padamu."
Baskara mendongak, wajahnya tampak sedikit terusik, namun tetap diam.
"Ikut Ibu pulang sekarang," tegas Ibu Arumi.
Tapi, Bu... Arumi istri Mas Baskara..." bisik Arumi ragu.
"Istri itu dimuliakan, Arumi! Bukan dibiarkan layu sebelum sempat mekar!" Ibu Arumi menatap Baskara dengan tatapan menghina. "Jika dia tidak bisa memberimu kehidupan, dia tidak berhak memilikimu. Kemasi barang-barangmu. Ayahmu mungkin gengsi, tapi Ibu tidak akan membiarkan cucu Ibu lahir di rumah sedingin kuburan ini!"
Baskara hanya menatap mereka pergi menuju kamar untuk berkemas. Ia tidak berdiri untuk menahan, tidak juga meminta maaf. Ia hanya menarik napas panjang, kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, dan membiarkan keheningan kembali menguasai rumah itu.
Di ambang pintu, Arumi menoleh sekali lagi pada suaminya. Ia melihat seorang pria berusia tiga puluh sembilan tahun yang sudah menyerah pada dunia. Dan di saat itulah, Arumi tahu, keputusannya untuk "mengundurkan diri" bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan.