NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DM HP - Bab 17

Cya duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Acara yang ditayangkan adalah acara kuliner.

Gadis itu memegangi perutnya yang sudah keroncongan.

Sudah hampir pukul satu siang, tapi ia belum makan apa pun.

“Rumah gede doang… tapi gak ada makanannya,” gerutunya pelan.

Ia sudah memeriksa kulkas dan setiap sudut dapur, namun tidak menemukan apa pun yang bisa dimasak.

Cya sebenarnya ingin pergi ke warung. Tapi setelah berkeliling kompleks, ia tidak menemukan satu pun warung di sekitar sana.

Ia juga tidak tau jalan keluar menuju jalan poros, karena semalam ia tertidur saat mobil Rajendra memasuki kompleks perumahan ini.

Cya ingin bertanya pada seseorang, tapi suasana di luar sangat sepi. Maklum, ini kompleks perumahan mewah—jarang ada orang yang berkeliaran di luar rumah. Entah karena sibuk bekerja, atau memang tidak terbiasa bersosialisasi.

“Mami… Papi… Cya lapar…” keluhnya lirih.

Ia kembali menatap televisi.

Melihat orang-orang di layar menikmati makanan dengan lahap, justru membuat perutnya semakin perih.

Saking fokusnya menonton, Cya tidak menyadari suara mobil yang berhenti di depan rumah.

Ia juga tidak sadar ketika pintu terbuka dan seseorang masuk.

“Cya, kamu sudah makan?”

Suara itu tiba-tiba terdengar di dekatnya.

“AAAH!” Cya terlonjak kaget sampai hampir jatuh dari sofa.

“Hantu! Tolong! Ada hantu!”

“Ini aku, suami kamu. Bukan hantu.”

Cya mendongak.

Begitu melihat Rajendra berdiri di sana—ditambah seorang pria lain di sampingnya—ia langsung menghela napas lega.

Sementara itu, Danish diam-diam memperhatikan Cya dari ujung kepala sampai kaki.

Cantik banget… batinnya.

Wajah Cya terlihat begitu bersih dan manis. Hidungnya mancung, matanya bulat dengan bulu mata lentik, dan kulitnya putih mulus.

Pantes aja Jendra mau nerima perjodohan ini.

“Om… aku lapar…” rengek Cya manja. Ia mendekati Rajendra, lalu menggoyang-goyangkan lengan pria itu.

Cya bahkan belum sadar kalau Danish membawa tiga bungkus makanan.

“Ayo ke dapur,” ujar Rajendra sambil menarik tangan Cya.

Danish merasa sedikit diabaikan, tapi tetap mengikuti mereka ke dapur.

Sesampainya di sana, mereka duduk di meja makan.

“Danish, mana makanannya?” tanya Rajendra.

Danish langsung meletakkan bungkusan di atas meja. “Ini.”

“Cya, ambil piring sama sendok ya.”

“Oke, Om.”

Cya langsung beranjak menuju rak piring.

“Jendra,” panggil Danish pelan.

“Hm?” Rajendra menoleh dengan satu alis terangkat.

“Lo gak ada niat buat ngenalin gue ke istri lo?”

“Sebentar.”

Tak lama, Cya kembali sambil membawa tiga piring dan sendok. Ia menatanya satu per satu di depan mereka. “Ini piringnya.”

Danish melirik Rajendra, memberi kode agar segera memperkenalkan dirinya.

“Cya.”

“Iya, Om?”

“Itu Danish. Sahabat sekaligus asisten pribadi saya.” Rajendra menunjuk ke arah Danish.

Danish tersenyum ramah. “Danish.” Ia mengulurkan tangan.

Cya menyambutnya. “Saya Cya.”

“Aku–kamu aja, biar lebih akrab,” ujar Danish, masih menggenggam tangan Cya.

Tangan Cya yang halus membuatnya enggan melepaskan.

“Ekhem.” Rajendra berdehem pelan.

Cya langsung menarik tangannya. Danish pun terpaksa melepas, meski sebenarnya belum ingin.

“Ayo makan. Saya udah lapar banget,” ujar Cya polos.

Mereka pun mulai makan bersama.

Suasana sempat hening, hanya terdengar suara sendok dan piring.

Setelah selesai, Rajendra berdiri. “Saya harus kembali ke kantor.”

Ia menoleh ke Cya. “Kamu bisa bersihin piringnya, kan?”

“Iya, bisa.” Cya tidak keberatan.

Meski di rumah orang tuanya ia jarang melakukan pekerjaan seperti ini karena ada Bi Ani, tapi untuk mencuci beberapa piring saja bukan masalah besar.

“Ya sudah, saya pergi dulu. Kamu jangan ke mana-mana.”

“Iya, Om. Lagian saya mau ke mana juga…”

“Kapan-kapan kamu main ke rumah aku, ya,” sela Danish. “Mama aku pasti senang kalau kamu datang.”

Cya tersenyum tipis.

Entah kenapa, Rajendra tidak suka melihat senyuman itu.

“Cya gak akan pergi tanpa izin dari gue,” ucapnya tegas.

Danish mengangkat kedua alisnya. “Oke deh…”

Ia lalu menoleh ke Cya. “Cya, aku pergi dulu, ya.”

“Iya, Kak. Hati-hati.”

Rajendra sedikit mengernyit.

Kenapa dia manggil Danish ‘Kak’, tapi ke gue malah ‘Om’?

Padahal jarak umur mereka tidak terpaut jauh.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rajendra langsung berjalan keluar dengan langkah lebar.

“Woi, tungguin gue!” Danish segera menyusulnya.

Cya yang ditinggal sendirian hanya bisa mengerutkan kening. “Kok muka Om Rajendra kayak kusut gitu, ya…” gumamnya pelan.

***

“Kenapa muka lo ditekuk kayak kanebo kering?” tanya Danish saat mereka sudah dalam perjalanan kembali ke kantor.

“Gak usah banyak tanya. Fokus nyetir aja,” jawab Rajendra ketus.

Danish mengernyit, melirik sekilas ke arah sahabatnya itu. “Lo kayak cewek lagi PMS aja.”

“Diam, Danish.”

Nada suara Rajendra terdengar tegas, meski masih berusaha menahan emosi.

Danish langsung mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.

Ia memilih diam.

Ia tau Rajendra sedang kesal— tapi ia benar-benar tidak tau apa penyebabnya..

***

Sesampainya di kantor, Rajendra langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Danish.

Langkahnya cepat, membuat Danish harus buru-buru menyusul dan menyamakan langkah.

Saat hendak masuk ke lift, tiba-tiba seorang karyawan menabrak Rajendra.

Brak

“Aduh—maaf, Pak! Maaf!” Karyawan itu langsung panik, lalu berjongkok untuk memungut berkas-berkas yang berserakan di lantai.

Rajendra menatapnya tajam. “Kamu itu kalau jalan lihat-lihat dong!” bentaknya.

Suasana mendadak hening.

Karyawan di hadapannya kaget, begitu juga Danish.

Ini pertama kalinya Danish melihat Rajendra membentak karyawan seperti itu.

Biasanya, bahkan saat marah, Rajendra tetap terlihat tenang dan berwibawa.

“Maaf, Pak…” ucap karyawan itu lagi, menunduk.

Rajendra tidak membalas. Ia hanya berdecak kesal, lalu melangkah masuk ke dalam lift.

Danish segera menyusul.

Di dalam lift, suasana terasa canggung.

Danish terus menatap Rajendra, seolah mencoba membaca pikirannya. “Baru kali ini gue lihat lo kayak tadi,” ucap Danish akhirnya.

Rajendra melirik sekilas. “Maksud lo?”

“Biasanya kalau lo marah, lo gak pernah sampai ngebentak karyawan kayak gitu.”

Rajendra mendengus kasar.

Tangannya naik memijat pangkal hidung, mencoba meredakan emosi yang masih tersisa.

Ia sendiri baru sadar—tadi ia memang berlebihan.

“Ini semua gara-gara Cya…” gumamnya tanpa sadar.

Danish langsung menoleh cepat. “Kenapa lo malah nyalahin Cya?”

Rajendra tersentak. “Hah?”

“Barusan lo bilang ini semua gara-gara Cya.” Danish menatapnya serius. “Emangnya Cya ngapain sampai lo ngomong kayak gitu?”

Rajendra terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangannya. “Lo salah denger.”

Jawabannya singkat, tapi jelas menghindar.

Danish menyipitkan mata.

Ia tau—Rajendra sedang menyembunyikan sesuatu.

***

Berkali-kali Rajendra menghela napas berat.

Berkas-berkas di hadapannya sama sekali tidak tersentuh.

Pikirannya terus melayang.

“Kenapa dari tadi pikiran gue malah ke Cya…” gumamnya frustasi.

Tangannya mengacak rambut kasar.

Untung saja ia sedang sendiri di dalam ruangan. Kalau ada Danish, pasti pria itu sudah cerewet bertanya macam-macam. “Pokoknya gue gak terima…”

Rajendra mengepalkan tangannya. “Kenapa dia manggil gue ‘Om’, tapi ke Danish malah ‘Kak’?”

Ia menghembuskan napas panjang.

Kesal.

Padahal alasannya sepele—tapi entah kenapa, hal itu benar-benar mengganggunya.

Rajendra akhirnya berdiri. Ia meraih kunci mobil di atas meja.

Daripada terus berada di kantor tanpa bisa fokus, lebih baik ia pulang.

Setidaknya… ia bisa memastikan keadaan di rumah.

Saat keluar dari ruangan, Danish langsung menyadarinya.

“Jendra, lo mau ke mana?”

“Pulang. Lo handle kerjaan gue hari ini.”

Danish mengangkat alis. “Tumben banget lo pulang tiba-tiba kayak gini.”

“Gue lagi gak enak badan,” jawab Rajendra singkat.

“Oh… mau gue anter?”

“Nggak usah. Gue bisa sendiri.”

“Oke, hati-hati.”

Rajendra mengangguk dan mulai melangkah.

Namun langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Danish berikutnya.

“Gue titip salam ya sama Cya.”

Rajendra langsung berbalik.

Ia kembali mendekati Danish dengan tatapan tajam. “Dia istri gue.”

Danish mengangguk santai. “Gue tau.”

“Terus kenapa lo mendekati dia secara terang-terangan?”

Rahang Rajendra mengeras.

Danish justru tersenyum tipis. “Jujur aja… gue tertarik sama istri lo.”

Ia menatap Rajendra tanpa ragu.

“Istri lo cantik banget. Sumpah.”

“Sebaiknya lo jauhin istri gue,” ucap Rajendra dingin.

Danish tidak tersinggung. “Kenapa lo harus marah? Bukannya lo sendiri bilang… lo gak akan pernah cinta sama dia? Perasaan lo cuma buat Aurel.”

Rajendra terdiam sesaat, lalu menjawab tegas, “Gue memang gak cinta sama dia. Tapi dia tetap istri gue.”

“Itu nggak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti lo bakal ceraiin dia, kan?” Rajendra menatap Danish lurus-lurus.

“Sampai kapan pun, gue gak akan menceraikan Cya.” Nada suaranya tegas, tanpa ragu. “Jadi kalau lo memang tertarik sama dia… gue harap lo jangan deketin dia.”

Danish terdiam sejenak.

Ia bukan pertama kali seperti ini.

Dulu, ia juga pernah terang-terangan bilang kalau ia tertarik pada Aurel—bahkan saat Aurel sedang mati-matian mengejar Rajendra.

Tapi akhirnya, Danish mundur sendiri.

Karena ia tau… hati Aurel hanya untuk Rajendra.

Namun kali ini berbeda.

Perasaannya pada Cya… bukan sekadar tertarik.

Ada sesuatu yang lain.

Lebih dalam.

Mungkin—cinta pada pandangan pertama.

Meski begitu, Danish tetap punya batas.

Ia tidak suka bermain licik.

Ia lebih memilih jujur di depan.

Lebih baik seperti ini… daripada diam-diam menikam dari belakang.

“Oke,” ucap Danish akhirnya. “Gue nggak akan ganggu Cya. Tapi…” Ia menatap Rajendra serius. Lo jangan sampai nyia-nyiain dia. Kalau sampai itu terjadi…” Danish tersenyum tipis. “Gue gak akan ragu buat maju. Perasaan gue ke Cya… lebih dari sekadar ke Aurel dulu. Gue yakin Cya juga belum punya perasaan apapun pada lo."

Rajendra menatapnya sebentar, lalu mengangguk tanpa pikir panjang. “Oke.”

Baginya, itu bukan masalah.

Karena ia yakin—ia tidak akan pernah menyakiti Cya.

Meski… ia belum mencintainya.

***

Saat Rajendra tiba di rumah, ia mendapati Cya tertidur di sofa dengan televisi yang masih menyala.

Tanpa banyak suara, ia mematikan TV, lalu mendekat.

Perlahan, Rajendra menggendong tubuh Cya dan membawanya ke kamar.

Ia meletakkan gadis itu dengan hati-hati di atas kasur.

Beberapa detik… Rajendra hanya berdiri, menatap wajah Cya lekat-lekat.

Tatapannya turun— hingga berhenti di bibir gadis itu.

“Bibir itu yang selalu manggil gue ‘Om’…” gumamnya pelan.

Entah dorongan apa yang menguasainya,

Rajendra perlahan menunduk.

Ia mengecup singkat bibir Cya.

Namun di saat yang bersamaan— mata Cya tiba-tiba terbuka lebar.

Rajendra langsung tersentak dan buru-buru menjauh.

"Aaaa!!" Teriak cya. "Om ngapain cium saya!" Gadis itu sudah mengubah posisinya menjadi duduk.

Rajendra gelagapan, laki-laki itu tentu salah tingkah dan tak tau harus menjawab apa.

"Jangan bilang Om mau perkosa saya." Tuding cya.

"Mana ada seorang suami yang memperkosa istrinya Cya." Kilah Rajendra. "Kalaupun saya menyentuh kamu, itu tidak bisa dikatakan memperkosa karena kamu adalah istri saya. Bahkan itu mendapatkan pahala."

Cya melotot tajam. "Jadi om benar-benar mau perkosa saya?"

"Enggak, Cya. Kamu tidak semenarik itu untuk saya perkosa." Elak Rajendra.

Mulut cya misuh-misuh. "Katanya saya gak menarik tapi pas saya tidur, Diam-diam om mau mengambil kesempatan untuk cium saya."

Rajendra mati kutu, kalau ketangkap basah seperti ini bisa apa? Membela diri pun percuma karena cya punya senjata untuk menyerangnya.

"Saya minta maaf." Pada akhirnya Rajendra minta maaf. Pada dasarnya memang ia salah.

Cya melipat kedua tangannya di dada. "Lain kali kalau mau cium-cium kaya gitu jangan pas saya lagi tidur."

Rajendra terdiam mencerna perkataan cya. Apa maksudnya cya berkata seperti itu? Apakah ia mengijinkan Rajendra menciumnya di saat ia tidak tidur?

"Jadi saya boleh cium kamu kalau kamu lagi gak tidur?"

"Eh gak bisa gitu juga dong Om. Om kan gak cinta sama saya, jadi ngapain om cium-cium saya?" Protes Cya.

Rajendra mengangkat satu alis. “Tapi kamu sendiri yang bilang jangan pas kamu tidur.” Ia sedikit mendekat, nada suaranya mulai jahil. “Berarti kalau kamu bangun… boleh, dong?”

Cya langsung menggeleng cepat. “Nggak boleh!”

Ia mengangkat jari telunjuknya, mengayunkannya ke kanan dan kiri.

Rajendra tersenyum tipis. “Kalau saya tetap mau?”

Ia kembali mendekat.

Cya refleks mundur hingga punggungnya menyentuh sandaran ranjang.

Tangannya menahan dada Rajendra. “Jangan macam-macam, Om…”

“Kenapa?” Rajendra menatapnya, masih dengan ekspresi menantang.

“Om kayak… setan kalau gitu.” Cya memejamkan mata, setengah takut, setengah kesal.

Rajendra terkekeh pelan. “Mana ada setan seganteng saya.”

“Perut saya malah mules lihat Om,” gumam Cya kesal.

Rajendra mengernyit, tidak percaya.

Ia mengira itu hanya alasan untuk menghindar.

Namun tiba-tiba—

pruttt…

Suara kentut terdengar jelas di antara mereka.

Rajendra langsung membeku. “Kamu… kentut?”

Ia refleks menjauh sedikit, tangannya menutup hidung—meski sebenarnya tidak ada bau apa pun.

Sementara itu, Cya langsung memerah wajahnya.

Malu setengah mati.

1
Aidil Kenzie Zie
ibunya Jendra mana sih kok nggak nongol-nongol🤔🤔
Fegajon: sabar. bentar lagi😛
total 1 replies
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!