NovelToon NovelToon
Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Diantara Ketulusan Dan Kekuasaan.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Office Romance / Komedi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Lobi kantor yang biasanya riuh saat jam pulang kini terasa seperti medan perang dingin bagi Sheila. Di sampingnya, Jeremy berjalan dengan langkah tegap, sesekali melirik jam tangan Rolex-nya dengan gaya yang seolah-olah mengatakan bahwa waktu Sheila adalah miliknya hari ini.

Sheila meremas ponsel di tangannya. Ia harus segera memberi tahu Malik bahwa rencana belanja bulanan mereka terancam batal karena "tugas negara" yang dipaksakan ini. Dengan menarik napas panjang, ia menekan tombol panggil.

"Halo, Malik?" suara Sheila mendadak berubah menjadi sangat lembut, jauh lebih manis dari biasanya.

Di seberang sana, suara Malik terdengar agak berisik, sepertinya ia sedang membereskan meja kerjanya. "Halo, Sayang. Aku baru mau jalan jemput kamu. Kamu sudah di lobi?"

Sheila melirik Jeremy dari sudut matanya. Pria itu tampak sengaja memperlambat langkahnya, telinganya seolah memanjang ingin mencuri dengar percakapan telepon itu.

"Ohh... kamu lembur juga? Nggak apa-apa, Sayang. Cuma mau nanya saja tadi," ucap Sheila sedikit dikeraskan, menekankan kata 'Sayang' dengan nada yang sangat manja—sesuatu yang jarang ia lakukan di tempat umum.

Jeremy hampir saja tersandung langkahnya sendiri mendengar penekanan itu. Ia berdeham keras, mencoba mengalihkan perhatian, namun Sheila tetap fokus pada ponselnya.

"Lembur? Eh, nggak kok, Shei. Aku nggak lembur hari ini. Kan kita mau ke supermarket beli stok bulanan kamu?" suara Malik terdengar bingung di seberang sana.

Sheila menggigit bibir bawahnya. Ia harus berbohong sedikit agar Jeremy tidak merasa menang karena sudah merusak rencana mereka. "Iya, Sayang... aku tahu kamu capek kalau harus nunggu aku. Soalnya aku tiba-tiba ada urusan kantor yang mendesak banget. Kamu langsung pulang saja ya, Sayang? Nanti kabari aku kalau sudah sampai rumah."

Jeremy mendengus pelan, suaranya cukup keras untuk masuk ke mikrofon ponsel Sheila. Ia melipat tangan di dada sambil menunggu Sheila menutup telepon.

"Oh, kamu yang ada urusan ya? Sama bos tengil itu lagi?" tanya Malik, nada suaranya berubah sedikit datar.

"Iya, Sayang. Maaf ya... nanti aku telepon lagi kalau sudah selesai. I love you, Sayang," ucap Sheila sambil memberikan kecupan jauh di udara yang terdengar sangat jelas. Muach!

Begitu tombol tutup ditekan, Sheila langsung membuang napas lega, namun wajahnya berubah menjadi kaku saat melihat Jeremy yang kini berdiri tepat di depannya dengan satu alis terangkat.

"Wah, wah. 'Sayang' sana, 'Sayang' sini. Sampai telingaku mau keriting dengarnya," sindir Jeremy. "Sengaja ya biar aku panas? Atau biar aku tahu kalau posisi si 'Jangkar Ketulusan' itu nggak tergoyahkan?"

Sheila memasukkan ponselnya ke dalam tas dengan gerakan anggun. "Itu namanya komunikasi yang sehat antar pasangan, Pak Jeremy. Sesuatu yang mungkin Bapak belum pernah rasakan karena terlalu sibuk jadi CEO yang otoriter."

Jeremy tertawa renyah, tawanya menggema di koridor lobi yang mulai sepi. "Otoriter? Aku ini visioner, Sheila. Aku cuma mau memastikan karyawanku punya wawasan luas, makanya aku ajak ke toko buku. Bukan cuma tahu harga diskon minyak goreng di supermarket."

"Supermarket itu kebutuhan hidup, Jer. Toko buku itu hobi," balas Sheila sambil terus berjalan menuju pintu keluar.

"Nah, karena itu kita harus seimbangkan kebutuhan hidup dan hobi," Jeremy mempercepat langkahnya, kini ia berjalan persis di depan Sheila dan membukakan pintu kaca besar kantor untuk gadis itu. "Silakan, Sayang... eh, maksudku, Asisten Sayang."

Sheila mendelik tajam. "Jangan panggil aku gitu! Nanti kalau ada yang dengar bisa salah paham!"

"Biarin saja. Biar seisi kantor tahu kalau kita punya 'hubungan spesial'... dalam urusan pekerjaan," Jeremy mengedipkan sebelah matanya, lalu menunjuk ke arah mobil SUV-nya yang sudah dipanaskan oleh sopir.

Perjalanan menuju toko buku di salah satu mall besar di Jakarta Selatan terasa begitu panjang bagi Sheila. Ia terus-menerus melirik ponselnya, merasa bersalah pada Malik. Di sampingnya, Jeremy justru terlihat sangat santai. Ia menyalakan radio yang sedang memutar lagu romantis tahun 90-an, sesekali jemarinya mengetuk kemudi mengikuti irama.

"Kenapa? Takut Malik marah?" tanya Jeremy tanpa menoleh.

"Malik nggak pernah marah. Dia itu sabar," jawab Sheila bangga.

"Sabar itu ada batasnya, Sheila. Orang yang terlalu sabar biasanya bakal meledak kalau sudah nggak kuat. Apa kamu nggak takut kalau suatu saat dia bosan sama kesabarannya sendiri?" Jeremy memberikan pandangan sekilas yang cukup dalam, membuat Sheila terdiam.

Kalimat Jeremy barusan terasa sedikit menyentil hati Sheila. Apakah benar Malik akan bosan? Tapi ia segera menepis pikiran itu. Malik bukan Jeremy yang impulsif dan penuh drama.

Sesampainya di toko buku, Jeremy langsung menarik Sheila ke bagian Architecture & Home Design. Tapi bukannya mencari buku, Jeremy malah asyik mengomentari sampul-sampul buku yang menurutnya desainnya buruk.

"Lihat ini, Shei. Masa proyek perumahan elit sampul bukunya kayak brosur fotokopian? Ini nih yang bikin orang nggak tertarik beli properti," keluh Jeremy sambil menyodorkan sebuah buku besar ke arah Sheila.

"Itu isinya bagus, Jer. Cuma desainnya saja yang simpel. Jangan cuma lihat dari luarnya saja dong," komentar Sheila sambil membolak-balik halaman buku tersebut.

Jeremy berdiri sangat dekat di belakang Sheila, ikut melihat halaman yang dibuka gadis itu. "Sama kayak aku, kan? Luarnya mungkin kelihatan tengil dan nyebelin, tapi kalau kamu buka 'halaman' dalamnya... mungkin kamu bakal nemuin sesuatu yang lebih berharga dari si Malik."

Sheila bisa merasakan napas Jeremy di dekat telinganya. Ia segera bergeser ke samping, mencoba menjaga jarak. "Halaman dalam Bapak paling cuma isi rencana-rencana buat ngerjain aku besok pagi."

Jeremy terkekeh, tangannya meraih buku lain di rak yang lebih tinggi. "Salah. Isinya itu daftar keinginan yang belum tercapai. Dan kamu tahu apa yang ada di urutan nomor satu?"

Sheila tidak menjawab, ia memilih berjalan ke rak buku fiksi, mencoba menjauh dari aura Jeremy yang semakin mengintimidasi perasaannya. Namun Jeremy tetap mengekor di belakangnya seperti bayangan.

"Urutan nomor satunya itu... dapet maaf dari kamu karena kejadian di kampus dulu," bisik Jeremy tiba-tiba, suaranya kali ini tidak terdengar tengil sama sekali. Ada nada penyesalan yang tulus di sana.

Sheila mematung di depan rak buku novel romantis. Ia menoleh perlahan, menatap mata Jeremy yang kini terlihat serius.

"Bapak... beneran minta maaf?" tanya Sheila ragu.

"Setiap hari aku mikirin itu, Shei. Makanya pas lihat nama kamu di daftar pelamar, aku nggak bakal lepasin kesempatan ini. Aku mau nebus semuanya, meskipun caranya mungkin sedikit... ya, kamu tahu sendiri, agak memaksa," Jeremy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak sedikit salah tingkah.

Sheila terdiam. Di antara deretan buku-buku fiksi yang penuh dengan drama cinta, ia menyadari bahwa kenyataan hidupnya sekarang jauh lebih rumit. Di satu sisi ada Malik yang tenang dan stabil, di sisi lain ada Jeremy yang penuh kejutan dan mulai menunjukkan sisi rapuhnya.

"Aku sudah maafin sejak lama, Jer. Tapi itu nggak berarti kamu bisa seenaknya mindahin meja aku atau batalin rencana pribadi aku," ucap Sheila akhirnya, suaranya tetap kalem namun tegas.

Jeremy tersenyum tipis, senyum yang kali ini terasa lebih hangat. "Oke. Sebagai gantinya karena sudah batalin belanja bulanan kamu, habis dari sini kita ke supermarket. Aku yang bayar semua belanjaan kamu. Gimana?"

"Nggak usah! Aku bisa bayar sendiri!"

"Nggak ada penolakan, Sheila Maharani. Ini perintah CEO. Ayo!" Jeremy langsung menarik ujung tas Sheila, membawanya menuju kasir dengan langkah riang kembali.

Sheila hanya bisa menghela napas pasrah, sambil dalam hati bertanya-tanya: Bagaimana cara aku menjelaskan semua belanjaan gratis ini ke Malik nanti?

1
putmelyana
next Thor ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!