Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.
Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.
Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.
Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIR YANG PAHIT.
"Kau pikir Fardan benar-benar mencintaimu, Alisha? Lihat dirimu. Hanya seorang gadis yatim piatu yang beruntung menjebak putraku di ranjang," desis Ratna, ibu mertua Alisha, sambil menyesap sampanye di sudut ballroom hotel mewah malam itu.
Alisha meremas gaun satinnya, berusaha menjaga senyum di depan para kolega bisnis suaminya. "Fardan yang memintaku menikah dengannya, Ma. Anda tahu itu."
Ratna tertawa sinis, matanya berkilat penuh kebencian. "Dia hanya bertanggung jawab karena merasa bersalah. Tapi darah tidak pernah bohong. Sherly jauh lebih pantas mendampinginya di takhta Raffasyah Group daripada desainer interior kelas teri sepertimu."
Pesta perayaan kesuksesan proyek properti terbaru Fardan berlangsung meriah. Denting gelas kristal dan musik klasik memenuhi ruangan, namun bagi Alisha, udara terasa mencekik. Ia mencari sosok suaminya di tengah kerumunan, namun Fardan tidak terlihat sejak satu jam lalu.
Seorang pelayan hotel menghampiri Alisha dengan sikap membungkuk hormat. "Nyonya Alisha? Tuan Fardan menunggu Anda di Private Suite nomor 909. Beliau mengatakan kepalanya pusing dan butuh bantuan Anda."
Jantung Alisha berdegup kencang. "Pusing? Apa dia terlalu banyak minum?"
"Saya kurang tahu, Nyonya. Beliau terlihat sangat tidak berdaya saat asistennya mengantar ke atas," jawab pelayan itu datar.
Tanpa curiga, Alisha bergegas menuju lift. Di dalam tas kecilnya, terselip sebuah kotak beludru berisi sepatu bayi mungil dan hasil tes kehamilan positif. Ia sudah merencanakan ini. Malam ini, di tengah kesuksesan besar suaminya, ia ingin memberikan kejutan bahwa pewaris yang selama ini Fardan impikan telah hadir.
Langkah kaki Alisha bergema di lorong sunyi lantai sembilan. Ia berhenti di depan pintu kamar 909 yang sedikit terbuka. Sayup-sayup, suara desahan dan tawa kecil terdengar dari dalam.
"Fardan? Kau di dalam?" panggil Alisha pelan.
Tidak ada jawaban, hanya suara gesekan kain yang semakin jelas. Alisha mendorong pintu perlahan. Wangi parfum wanita yang menyengat langsung menusuk indra penciumannya. Matanya membelalak melihat pemandangan di atas ranjang king size itu.
Fardan terbaring terlentang dengan kemeja yang sudah setengah terbuka. Matanya terpejam, wajahnya memerah karena pengaruh obat yang kuat. Di atasnya, Sherly teman masa kecil Fardan, sedang melumat bibir pria itu dengan rakus. Tangan Fardan yang terkulai lemas diposisikan secara paksa oleh Sherly agar melingkari lehernya, seolah-olah Fardan yang menarik wanita itu mendekat.
"Oh, Fardan... lebih dalam lagi," rintih Sherly sengaja dikeraskan saat menyadari kehadiran Alisha di ambang pintu.
Alisha mematung. Kotak hadiah di tangannya jatuh ke lantai karpet tanpa suara. "Fardan?" suaranya bergetar hebat.
Sherly menoleh dengan pura-pura terkejut, namun senyum kemenangan terpancar di matanya. "Alisha? Maaf, Fardan yang memintaku ke sini. Katanya dia bosan denganmu yang terlalu datar di ranjang."
"Lepaskan dia!" teriak Alisha, suaranya pecah.
Ia mendekat, hendak menarik Sherly, namun ia melihat mata Fardan yang sayu terbuka sedikit. Pria itu bergumam tidak jelas, tangannya meremas bahu Sherly tanpa sadar karena pengaruh zat kimia dalam darahnya. Bagi Alisha, itu terlihat seperti pelukan balasan.
"Cukup!" Alisha mundur selangkah, napasnya memburu. "Kalian... kalian menjijikkan!"
Ia berbalik dan berlari secepat mungkin, mengabaikan panggilan palsu Sherly yang memintanya kembali. Alisha terus berlari hingga mencapai lobi, lalu memesan taksi menuju rumah mereka. Pikirannya kosong, hanya ada bayangan pengkhianatan yang terus berputar seperti kaset rusak.
Sesampainya di mansion Raffasyah, Alisha langsung menuju kamar untuk mengemas barang. Namun, di ruang tengah, Ratna dan Maya, kakak perempuan Fardan, sudah menunggu dengan tumpukan kertas di atas meja marmer.
"Mau lari ke mana, Menantu Kesayangan?" sindir Maya sambil melipat tangan di dada.
"Biarkan aku lewat. Aku ingin mengambil barang-guruku," ujar Alisha dengan suara serak.
Ratna melemparkan sebuah map cokelat ke hadapan Alisha. "Tanda tangani itu. Surat cerai. Fardan sudah setuju. Dia sadar bahwa memilihmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."
Alisha menatap surat itu dengan tatapan kosong. "Dia tidak sadar saat di hotel tadi. Kalian menjebaknya, bukan?"
"Menjebak?" Ratna berdiri, mendekati Alisha dengan wajah angkuh. "Kami hanya mengembalikan dia ke jalan yang benar. Dia tidak pernah mencintaimu, Alisha. Dia hanya merasa terjebak karena skandal yang kau buat saat kuliah dulu agar dia menikahimu. Sekarang, semua sudah selesai."
"Aku tidak pernah menjebaknya! Fardan yang membawaku ke apartemennya malam itu!" bantah Alisha.
"Siapa yang akan percaya pada wanita miskin sepertimu?" Maya menyela dengan tawa menghina. "Tanda tangani sekarang, atau kami akan menyeretmu keluar dengan tangan kosong. Kau tidak akan mendapatkan satu sen pun dari harta Raffasyah."
Alisha menarik napas panjang, menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ia mengambil pulpen di atas meja dan menorehkan tanda tangannya dengan tangan gemetar namun tegas.
"Aku tidak butuh uang kalian. Simpan saja semua harta kotor ini untuk Sherly," desis Alisha.
Ia naik ke atas, masuk ke kamar yang selama ini ia tempati bersama Fardan. Ia membuka lemari besar berisi gaun-gaun desainer ternama, perhiasan berlian, dan tas kulit mahal pemberian Fardan. Alisha tidak menyentuh satu pun dari barang itu. Ia hanya mengambil koper kecil berisi baju-baju lama yang ia beli dengan uang hasil kerjanya sendiri sebelum menikah.
Saat ia berjalan menuruni tangga, Ratna memeriksa koper Alisha dengan kasar. "Hanya ini? Kau tidak mencuri perhiasan?"
Alisha menarik kopernya kembali. "Aku bukan pencuri seperti kalian yang mencuri kebahagiaan orang lain."
Ia keluar dari gerbang tinggi mansion itu tanpa menoleh lagi. Langit malam kota Jakarta terasa sangat dingin. Alisha memanggil taksi dan memberikan alamat sebuah apartemen kecil di pinggiran kota. Rumah milik Sarah, sahabat karibnya.
Pintu apartemen terbuka, dan Sarah terkejut melihat keadaan Alisha yang kacau balau. "Alisha? Ada apa denganmu? Kenapa membawa koper?"
Alisha langsung ambruk di pelukan sahabatnya, tangisnya pecah sejadi-jadinya. "Dia melakukannya, Sarah. Fardan berkhianat di depan mataku. Keluarganya... mereka mengusirku."
Sarah menuntun Alisha masuk ke dalam, memberinya minum, dan mencoba menenangkannya. "Tenanglah, kau sedang hamil, Al. Pikirkan bayimu."
"Bayi ini tidak punya ayah mulai malam ini," ucap Alisha tegas, matanya memerah. "Sarah, aku harus pergi. Jauh dari sini. Aku tidak ingin Fardan atau keluarganya tahu tentang anak ini. Mereka akan merebutnya dariku."
"Kau gila? Kau mau ke mana dalam kondisi begini?"
"Ke luar negeri. Ke mana saja. Kau punya koneksi di London, bukan? Tolong bantu aku, Sarah. Aku tidak bisa tinggal di sini satu hari lagi. Aku takut mereka akan melacakku."
Sarah menatap Alisha dengan tatapan iba, namun ia tahu betapa keras kepalanya sahabatnya itu. "Tapi kau harus memberitahu Fardan. Setidaknya dia harus tahu dia akan punya anak."
"Tidak," potong Alisha cepat. "Dia memilih Sherly. Dia memilih keluarganya. Biarkan dia hidup dengan pilihannya. Anak ini milikku sepenuhnya. Dia adalah Rafka Ghifari, dan dia tidak akan pernah menyandang nama Raffasyah."
Malam itu, di bawah keremangan lampu apartemen, Alisha mulai menyusun rencana pelariannya. Ia mengusap perutnya yang masih rata, merasakan denyut kehidupan kecil di sana. Di dalam hati, ia berjanji bahwa putranya tidak akan pernah merasakan hinaan yang ia terima. Ia akan membesarkan anak itu menjadi sosok yang lebih hebat dari ayahnya, sosok yang suatu saat nanti akan meruntuhkan kesombongan istana Raffasyah.
Alisha tidak tahu bahwa di saat yang sama, di kamar hotel 909, Fardan mulai sadar dari pengaruh obatnya dengan kepala berdenyut hebat, hanya menemukan Sherly di sampingnya dan surat cerai yang sudah ditandatangani Alisha di atas meja kerjanya esok pagi.
Tanpa satu kata pamit pun, Alisha menghilang dari radar, membawa benih sang CEO.
perjuangan
tapi di sebutkan anak anak maya