NovelToon NovelToon
Cinta Tak Perna Salah (Dilema Cinta Riana )

Cinta Tak Perna Salah (Dilema Cinta Riana )

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: Wisye Titiheru

Seri Cinta Tak Perna Salah dengan menceritakan dilema dari kisah cinta seorang dokter Riana Yang terhalang oleh perbedaan. kisah ini mengisahkan tentang perjodohan, perselingkuhan dan cinta beda usia yang menjadi permasalahan orangtua. Dan juga rahasia lama yang tersimpan. yang menjadi pengahalang Riana untuk bahagia bersama pilihannya.
Apakah dokter Riana akan bisa bertahan dalam masalah yang dia hadapi untuk mempertahankan cinta sejatinya???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Respon Orangtua

Rian Timothy seorang diplomat teman sekolah sahabat dari Davin Andreas sangat terkejut dan marah mengetahui keadaan kakaknya yang sudah mengandung. Yang dia pikirkan bagaimana mereka menghadapi mamanya.

Lewat tiga puluh menit, Stella Andreas kakaknya Davin pun tiba. Ini kali pertama baginya datang kesini. Begitu kaget dan senangnya dia ada Riana dan Rian kakak beradik ini.

"Acara syukuran ya dek. Hanya kita berempat."

Stella tidak tahu, bahwa akan ada berita mengejutkan yang akan dia dengar nanti. Davin mempersilahkan kakaknya duduk. Stella semakin di buat curiga.

"Ada apa ini??"

"Kak Ria mengandung anakku, Mba!!!

"Apa???"

"Ria, hamil anak kamu?? Kapan kalian pacaran??

Davin pun menceritakan semua tentang hubungannya dengan Riana sahabat kakaknya. Stella menangis, bukan karena tidak suka namun dia yakin bahwa orang tuanya Riana akan menentang.

"Ria, kenapa harus Davin??? Dia pantas jadi adikmu."

"Kak Ria tidak salah, aku yang memaksanya karena aku jatuh cinta padanya kak. Aku tidak bisa jauh darinya."

"Kamu Ria, apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti Davin??."

"Aku nyaman bersamanya Stel. Aku dihargai sama Davin. Dan..... aku jatuh cinta padanya."

"Kamu tahu sendirikan, bahwa mama kamu??"

"Kami akan hadapi."

"Kalau tidak disetujui??"

"Saya akan memilih Davin."

"Kalian berdua memang gila. Apa kata orang??"

"Kami tidak butuh pengakuan orang kak. Yang kami butuh hanya pengakuan kalian."

"Mama dan papa, pasti tidak melarang. Namun kakak yakin mereka pasti akan kecewa."

Akhirnya keempat kakak beradik ini menyusun strategi bagaimana menghadapi orangtua mereka. Dan keputusannya bertemu dengan orang tua Davin terlebih dahulu. Rian menyetujui. Karena kalau orangtuanya pasti mama tidak menyetujui.

Sekarang Davin dan Riana, juga Stella ada di rumah keluarganya. Mereka akan bertemu papa dan mama Davin. Rian tidak ikut, karena dia langsung ke rumahnya menanti kedatangan kakak dan sahabatnya.

"Ria... Sini sayang, tante masak enak. Kita makan siang sama - sama ya."

"Iya, tante."

Selesai makan siang, ketika Davin mau memulai pembicaraan, Ria yang rasa mual langsung ke kamar mandi. Ria memuntahkan semua isi perutnya. Davin menyusul Ria ke kamar mandi. Mama dan papanya hanya memperhatikan mereka dalam kebinggungan.

"Ria hamil, cucu mama dan papa."

"APA!!!???"

"Mama, tenang dulu."

Papanya Davin dan Stella terdiam. Sementara mamanya sudah mengeluarkan air mata.

"Ria hamil anak aku pa, ma."

"Maafkan aku tante dan om."

Riana sudah berlutut memohon ampun. Davin pu ikut berlutut.

"Davin sayang dan jatuh cinta kepadanya, Davin yang memaksa memilikinya."

Papanya langsung mengangkat Ria dan memeluknya. Di ikuti oleh mamanya Davin dan Stella.

"Sekarang papa dan mama harus bagaimana?? Kita harus melamar Ria."

"Ria, ngak mau tante dan om di permalukan karena kami."

"Kamu mengandung cucu mama dan papa, kami harus bertanggung jawab."

"Davin dan Ria yang akan ke keluarga Ria pa, ma."

"Kalau????"

"Kami akan tetap menikah ma, pa. Ria mohon restunya kalian."

Ria dan Davin sudah berada di halaman rumahnya Ria.

"Sayang, kalau aku di pukul sama orangtuamu, Jangan dilerai. Aku siap menerimanya karena sudah membuat anak mereka hamil."

Ria hanya mengangguk. Davin memberi ciuman dan memeluknya. Mereka pun masuk ke rumah. Sudah sore kira - kira pukul tiga lewat tiga puluh menit. Rian sudah menanti dalam kecemasan. Dia takut tejadi sesuatu kepada kakak perempuan yang dia sayangi.

Dan benar, begitu Davin menyampaikan keadaan mereka. Mamanya langsung marah, kakak perempuannya di pukul. Davin memeluk Riana. Begitu juga dengan Davin di pukul oleh mamanya. Papanya Riana dan Rian hanya berdiam, dia bingung, sedih dan terlebih kaget. Dan lebih sadisnya mami mengeluarkan semua baju kakaknya didalam lemari di buang dan hampir saja membakar surat - surat penting milik kakaknya namun di rampas oleh adiknya.

"KELUAR... KAMU BUKAN LAGI ANAKKU MULAI HARI INI. KELUAR."

"Mama maafkan Ria, maafkan."

"KELUAR KAMU BUKAN ANAKKU, JANGAN MEMANGGILKU MAMA LAGI AKU TIDAK SUDI. KELUAR."

"Papa......maafkan Ria."

Papanya menangis dan hanya memberi kode dengan matanya. Ria tidak tahu apakah itu kode karena sudah memberi maaf atau menyuruhnya untuk keluar."

"JANGAN BAWA SEMUA FASILITAS KENDARAAN YANG KAMI BELIKAN BUATMU. MULAI SAAT INI, ITU BUKAN PUNYA KAMU."

Rian membantu kakaknya membereskan pakaian yang di hancurkan mamanya dan bersama - sama dengan Davin membawa ke dalam mobil Davin. Hanya yang Riana beli dibawa olehnya. Tas - tas mahal dan baju mahal pemberian orangtuanya tidak dibawa. Rian juga menyerahkan tas yang berisi surat - surat penting kakaknya.

"RIAN MASUK. MULAI SAAT INI DIA BUKAN KAKAKMU."

"Tolong jaga dan sayangi kakakku bro. Aku percaya padamu."

"RIAN MASUK, KAMU JUGA MAU MEMBANGKANG SEPERTI DIA."

"Adek masuk, maafkan kakak. Tolong jaga mereka ya. Kakak sayang adek." Rian langsung memeluk dan mencium kakaknya.

"Rian akan selalu menyayangi kakak. Jaga kesehatan baik - baik. Juga keponakan aku."

Davin dan Riana pun meninggalkan rumah besar keluarga Timothy. Dalam perjalanan Riana hanya menangisi keadaannya. Davin mengusap tangannya sambil menyetir.

"Kita harus menikah sayang. Biar status anak kita berdua jelas pada saat dia lahir nanti."

Riana hanya mengangguk, sudah seminggu ini, dia hanya menangis. Saat ini dokter Riana sedang mengajukan cuti yang sudah hampir tiga tahun dia tidak perna cuti. Jadi pihak rumah sakit memberinya cuti yang cukup lama sebulan. Davin memasang CCTV di setiap ruangan, agar dia bisa memantau keadaan Riana saat dia dirumah sendiri. Sekarang ini Riana dan Davin tinggal bersama di apartemen punya Davin.

"Kakak, bagaimana kabarnya??? Bagaimana keadaan cucu papa??" Ria menangis waktu tahu papanya menanyakan kabarnya dan calon cucunya.

"Kakak, jangan menangis. Maafkan papa yang tidak bisa membela kakak di depan mama."

"Kakak baik - baik papa, terima kasih karena papa mau menelepon kakak."

"Papa tetap sayang kakak."

"Maafkan kakak karena sudah membuat papa malu."

"Papa menghargai pilihan kakak, jika itu untuk bahagianya kakak papa setuju."

"Mama???"

"Itu urusan papa, kakak tahu sendirikan bagaimana watak mamamu. Tetapi papa yakin, di lubuk hatinya paling dalam dia sayang oadamu nak."

Riana dan papanya telepon sangat lama, ada satu jam lamanya. Sore hari Davin sudah pulang kerja. Dia langsung mencium bibir kekasihnya dan mencium perut Riana dimana calon anak mereka sedang bertumbuh.

"I love you."

Riana langsung memeluknya dan menangis dalam pelukan Davin. Davin memeluknya sangat erat dan berjanji dalam hati untuk menjaga dan melindunginya.

Ria dan Davin tidak mau tinggal di rumah orangtua Davin, karena takut mamanya Riana akan membuat masalah dengan keluarga Andreas. Riana tahu betul watak mamanya. Namun orangtua Davin bersama Stella sahabatnya selalu datang ke rumah ini. Apalagi hamil kali ini, Ria selalu sakit.

"Jam tujuh kita akan ke dokter kontrol kandunganmu sayang."

"Iya."

"Mama, papa dan kakak ikut."

Riana tersenyum, sahabatnya sudah menjadi kakak iparnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!