🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Antara tugas dan perasaan
Pagi di rumah sakit terasa dingin dan sunyi, meskipun aktivitas mulai berjalan perlahan. Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela tidak cukup untuk menghangatkan suasana di dalam ruangan itu.
Anindia masih duduk di samping ranjang , tangannya tak sedetik pun lepas dari tangan ibunya. Tangan ibunya sudah mulai keriput, dimakan usia. Sesekali ia mengusap lembut tangan ibunya, memastikan bahwa semua nyata adanya.
"Mama istirahat, ya. Jangan banyak pikiran," ujar Anindia lembut.
Ibunya tersenyum tipis. Wajahnya masih pucat, tapi sorot matanya tetap teduh seperti biasa. "Kamu juga jangan lupa kuliah, nak."
"Ma," ujar Anindia lirih, penuh penolakan yang tertahan.
"Mama gak apa-apa," lanjut ibunya pelan. "Kuliah kamu lebih penting. Mama cuma butuh istirahat."
Anindia menunduk, hatinya jelas menolak. Tapi di lain sisi, ia tahu bahwa ibunya selalu mendahulukan dirinya, bahkan saat kondisi seperti ini.
Sementara itu, Keanu berdiri di ambang pintu. Tatapannya bergantian menatap Anindia dan ibu mertuanya. Ia tidak menyela, tapi jelas mendengarkan semuanya.
Anindia menoleh ke arah Keanu, wajahnya menunjukkan ekspresi ragu. "Mas," panggilnya lirih. "Aku harus kuliah, ya?"
Keanu langsung melangkah mendekat, namun tidak langsung menjawab. Ia menatap Anindia beberapa saat, membaca perasaan yang jelas dari raut wajah istrinya.
"Kalau kamu mau tetep di sini, aku juga gak masalah," ujar Keanu jujur. "Tapi kalau Mama sendiri yang minta kamu kuliah..."
Kalimatnya menggantung, tapi cukup untuk membuat Anindia mengerti. Anindia menghela nafas panjang. Tangannya kembali menggenggam tangan ibunya, seolah berat untuk melepaskan.
"Nindi balik lagi nanti, Ma," ujar Anindia pada akhirnya.
"Iya, Mama tunggu," ujar ibunya lirih.
"Nindi berangkat dulu ya, Ma," lanjut Anindia sembari mencium tangan ibunya.
Ibunya hanya mengangguk singkat, masih terlihat lemah. Perlahan, Anindia berdiri. Tangannya terlepas dari genggaman tangan ibunya, langkahnya terasa berat.
"Ma, kami berangkat dulu ya." Pamit Keanu yang juga menyalami tangan ibu mertuanya. "Nanti kami balik lagi."
Tidak ada jawaban, selain anggukan singkat. Keanu langsung berjalan di samping Anindia, menggenggam tangannya penuh perhatian.
"Ayo sayang," ujar Keanu pelan.
Anindia mengikuti langkah suaminya. Namun, sebelum benar-benar keluar, pandangannya kembali menoleh ke arah ibunya.
...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...
Langkah Anindia masih terasa berat bahkan setelah keluar dari rumah sakit. Setelah turun dari mobil, ia masih terlihat kosong. Pikirannya masih tertuju pada ibunya yang terbaring di rumah sakit.
Pintu terbuka, suasana rumah terasa berbeda sejak Anindia mengetahui ibunya dirawat. Suasana rumah itu cukup tenang, tapi bagi Anindia terasa ada yang kurang. Kontak batin antara ibu dan anak terasa begitu kuat di dalam dadanya.
Di sela-sela keheningan itu, tiba-tiba saja...
"Ta... Ta... Ta...!" Suara ocehan kecil itu terdengar dari dalam rumah.
Langkah Anindia terhenti. Matanya langsung menoleh ke sumber suara. Dan dalam hitungan detik, hatinya terasa sedikit hangat.
Di ruang tengah, ibu Keanu terlihat sedang menggendong Shaka. Tubuh kecil itu sudah bersih dan wangi setelah mandi. Rambut halusnya masih sedikit lembab.
"Eh, ayah sama bunda udah pulang," ujar ibu Keanu berjalan mendekat, dengan senyuman hangat terpancar dari wajahnya.
Shaka yang berada dalam gendongan langsung bereaksi. Matanya berbinar, tubuhnya sedikit bergerak, tangannya terulur ke arah Anindia.
"Ba... Ba!" Ocehnya lagi, kali ini terdengar lebih jelas meski tetap cadel.
Anindia langsung mendekat. Langkahnya yang tadi terasa berat, kini terasa lebih ringan. Ia langsung menerima tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Bunda di sini, sayang," ujar Anindia lembut sembari mencium pipi Shaka.
Shaka langsung merespon. Tangannya menyentuh wajah Anindia, seolah memastikan keberadaan ibunya. Wajah kecilnya mendekat, pipinya menempel di pundak Anindia.
Anindia memejamkan mata sejenak. Untuk beberapa saat, semua rasa cemas itu mereda. Ia mengusap punggung Shaka, lalu mengecup pucuk kepala putranya.
"Kangen, ya?" Ujar Anindia yang menirukan suara anak kecil.
"Ba... Ba... Ba..." Sahut Shaka, entah merespon atau sekedar mengoceh.
Keanu memperhatikan, hatinya terasa hangat melihat keduanya. Anindia yang tadinya terlihat rapuh, kini justru terlihat tenang setelah memeluk Shaka.
"Gimana kondisi Mama kamu?" Ujar ibu Keanu di sela-sela keheningan.
"Udah agak stabil, Ma." Ujar Anindia pelan. "Masih diobservasi."
"Alhamdulillah," ujar ibu Keanu lega.
Anindia mengangguk kecil, lalu menoleh kembali ke arah Shaka. Jemarinya mengusap pipi kecil itu dengan penuh kasih sayang.
Keanu melangkah mendekat, membelai pucuk kepala Shaka sejenak. Lalu, ia menyentuh pundak Anindia pelan. "Kita siap-siap dulu, ya," ujarnya.
Anindia mengangguk, lalu kembali menyerahkan Shaka pada ibu mertuanya dengan hati-hati. "Shaka sama Oma dulu, ya? Bunda harus pergi," ujarnya.
"Iya nak, kalian pergilah." Ujar ibu Keanu. "Shaka biar sama Mama."
"Makasih ya, Ma," balas Anindia dengan seutas senyum tipis yang hanya diangguki singkat oleh ibu Keanu.
"Bunda pergi dulu ya, sayang," ujar Anindia pada Shaka.
Shaka terlihat bingung, tangannya kembali terulur seolah belum puas digendong ibunya. Anindia mengecup pipi Shaka sekali lagi, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Keduanya melangkah ke kamar, mempersiapkan segala yang dibutuhkan sebelum pergi kuliah. Sesekali Anindia terlihat berhenti, seakan tidak fokus untuk pergi ke kampus hari ini.
"Masih kepikiran?" Ujar Keanu, seolah mengerti.
Anindia menghela nafas berat. "Iya, Mas. Kepikiran Mama terus."
Tanpa diminta, Keanu langsung membantu Anindia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. "Insya Allah Mama baik-baik aja." Ujar Keanu lembut. "Kita hanya perlu berdoa, supaya Mama lekas sembuh."
Kata-kata yang keluar dari mulut Keanu terdengar begitu lembut, menjadi satu-satunya penguat hati Anindia saat ini.
"Nanti kalau kamu capek atau gak kuat, bilang," lanjut Keanu sembari menatap Anindia. "Aku temenin, atau kita langsung balik aja."
Tanpa sadar, seutas senyum tipis terukir di wajah Anindia. Ia merasa tenang dengan Keanu yang selalu ada untuknya. "Iya Mas, terima kasih."
Keanu tersenyum, tidak menjawab ucapan terima kasih Anindia. "Ayo," ajaknya kemudian.
Keduanya kembali melangkah, kali ini menuju ke arah garasi. Keanu menghidupkan mesin motor kesayangannya, lalu memasang helm untuk dirinya dan juga Anindia.
Setelah Anindia naik, Keanu langsung melajukan motornya. Angin pagi itu menerpa dengan lembut. Rambut di punggung Anindia bergerak sedikit mengikuti arah mata angin.
Anindia menyandarkan kepalanya di pundak Keanu, seolah mencari sedikit ketenangan dari suaminya. Keanu mengelus lembut tangan Anindia, seolah mengerti apa yang dibutuhkan Anindia saat ini.
Motor memasuki area kampus. Suasana kampus mulai ramai. Beberapa mahasiswa terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Keanu memarkirkan motornya di tempat parkir. Anindia langsung turun dengan hati-hati. Rambutnya sedikit berantakan, tapi ia tidak begitu peduli.
Keanu juga melakukan hal yang sama. Setelah turun dari motornya, Keanu langsung berjalan mendekat ke arah Anindia. Tanpa kata, ia langsung merapikan rambut Anindia. Gerakan itu singkat, tapi langsung membuat jantung Anindia berdegup sedikit lebih kencang.
"Siap, sayang?" Tanya Keanu memastikan.
Anindia terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan berdampingan memasuki area kampus.
Keanu mengantar Anindia sampai di depan kelasnya, memastikan istrinya tetap aman. "Aku ke kelas dulu, ya," ujar Keanu sembari mengacak pucuk kepala Anindia sejenak.
"Iya Mas," ujar Anindia kemudian.
Tanpa kata, Keanu melangkahkan kakinya. Tapi, baru beberapa langkah, ia kembali terhenti. Ia menoleh ke belakang, memastikan bahwa Anindia baik-baik saja.
Anindia mengangguk singkat, seolah meyakinkan Keanu bahwa ia baik-baik saja. Lalu, ia melangkahkan kakinya ke dalam kelas. Begitu juga dengan Keanu yang kembali melanjutkan langkahnya.
Di dalam kelas, Anindia duduk di kursinya. Buku sudah terbuka di depannya, pulpen sudah ada di tangan. Tapi, pikirannya kosong, seakan tidak benar-benar fokus untuk mengikuti kuliah hari ini.
Suara dosen yang mulai menjelaskan materi terasa jauh. Kata-kata itu terdengar, tapi tidak benar-benar masuk. Jiwanya ada di dalam ruangan, tapi pikirannya melayang ke arah lain.
Beberapa menit terasa berlalu begitu saja. Lamunan Anindia sedikit buyar ketika dosen mengingatkan sekali lagi tentang tugas mereka.
"Tugas dikumpulkan hari Jum'at sebelum jam 12 siang. Lewat dari itu, nilai saya potong!" Tegas sang dosen. "Tidak ada alasan. Siapa yang tidak mengumpul, siap-siap mengulang."
Anindia menghela nafas panjang, pikirannya jelas berkecamuk saat ini. Ia kepikiran ibunya, belum lagi harus berhadapan dengan dosen yang tak kenal toleransi. Sangat melelahkan.
Jam kuliah berakhir. Anindia melangkah keluar dari ruangan. Hari itu, ia tidak seperti biasanya, tidak se-ceria hari-hari sebelumnya. Langkahnya gontai, hatinya dipenuhi rasa kekhawatiran terhadap ibunya. Ia berjalan melewati koridor kampus, tiba-tiba saja...
Brukk!
Tanpa sadar, ia menabrak tubuh seseorang. Buku di tangan Anindia terjatuh ke lantai. Ia terkejut, refleks mundur satu langkah.
"Eh, maaf," ujar Anindia cepat sembari menunduk, mengambil bukunya di lantai.
"Anindia?" Ujar suara itu, terasa tidak asing.
Anindia mengangkat pandangannya. Dan benar saja, suara itu berasal dari Ardy. Ia terdiam sejenak, lalu kembali berdiri tegak. Ekspresinya berubah dalam sekejap, tidak ada senyum, tidak ada basa-basi berlebih.
"Kak Ardy," sapa Anindia singkat, terasa sopan namun berjarak.
Ardy memperhatikan Anindia beberapa detik lebih lama, seolah sedang memastikan sesuatu. Lalu, ia tersenyum tipis.
"Lo lagi buru-buru?" Tanya Ardy santai.
Anindia menggeleng singkat. "Enggak, kak."
Ardy mengangguk pelan. "Kebetulan ketemu. Gue mau bahas sedikit soal proyek kemarin. Ada waktu?"
Nada bicara Ardy terdengar biasa, tapi arah pembicaraannya jelas. Anindia sudah cukup paham, terlebih feeling Keanu jarang sekali meleset.
"Maaf, kak," jawab Anindia tanpa ragu. "Aku gak bisa. Aku harus ke rumah sakit."
Ardy mengernyitkan dahinya. "Rumah sakit?" Ulangnya.
"Iya," jawab Anindia singkat. "Mama aku lagi dirawat, kak."
Ekspresi Ardy berubah sedikit. Tanpa sadar, ia melangkah mendekat ke arah Anindia. "Sorry, gue gak tau," ujarnya. "Gimana keadaannya?"
"Masih diobservasi, kak," jawab Anindia singkat namun tetap sopan.
Suasana menjadi hening sejenak. Tidak ada percakapan apapun lagi di antara keduanya. Harusnya percakapannya berhenti di situ, tapi tiba-tiba saja Ardy kembali berujar.
"Kalo nanti udah senggang, kita bisa lanjut diskusinya?" Tanya Ardy hati-hati.
"Nanti aku kabari kalau memang ada waktu, kak," tegas Anindia.
Kalimat itu sebenarnya sudah cukup jelas. Tapi Ardy masih berdiri di tempatnya, tidak benar-benar memberi ruang.
"Nindi,"
Saat itu, tiba-tiba saja suara Keanu terdengar dari samping. Keduanya refleks menoleh. Ekspresi Keanu datar, tapi tatapannya jelas berbeda. Ia berhenti tepat di samping Anindia, posisinya sedikit maju, seolah tanpa sadar melindungi.
Tangan Keanu bergerak, menata buku di tangan Anindia dengan rapi. "Udah selesai?" Tanyanya lembut pada Anindia.
"Udah, Mas," jawab Anindia dengan anggukan singkat.
Keanu mengangguk, lalu pandangannya beralih ke arah Ardy. Tatapannya tenang, namun suasana terasa berubah.
"Masih ada yang perlu dibicarakan?" Tanya Keanu. Nada bicara terdengar datar, sopan. Tapi jelas tidak memberi celah.
"Gue cuma mau bahas proyek," jawab Ardy kemudian.
Keanu mengangguk perlahan. "Soal proyek bisa dibicarakan di waktu yang tepat." Ia mengambil jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sama tenangnya.
"Tapi untuk sekarang, Nindi lagi gak bisa," ujarnya.
Hening seketika. Tidak ada nada tinggi, tidak ada emosi yang meledak. Tapi kalimat itu terasa seperti memberi batasan yang jelas.
Ardy mengangguk kecil. "Iya, gue paham." Ujarnya dengan senyuman yang terlihat sedikit dipaksakan. "Btw, semoga ibu Anindia lekas sembuh."
Tanpa menunggu jawaban, Ardy langsung berbalik pergi. Keanu juga tidak mengatakan apa-apa lagi, tangannya langsung menggenggam tangan Anindia.
Langkah Ardy yang semakin menjauh tidak langsung membuat perasaan Anindia tenang. Justru sebaliknya, dadanya terasa semakin sesak. Bukan karena percakapan tadi, tapi karena semuanya terasa banyak dalam satu waktu.
Pikirannya kembali melayang ke rumah sakit. Tanpa sadar, tangannya mencengkram erat buku yang dipegangnya.
Anindia tidak ingin berada di sini terlalu lama, bukan kampus tempat yang ia butuhkan saat ini. Bukan tugas, bukan diskusi, atau hal-hal lain yang biasanya terasa penting.
Yang Anindia inginkan hanya satu, kembali ke rumah sakit. Ia hanya ingin memastikan bahwa ibunya baik-baik saja.
"Mas, kita ke rumah sakit sekarang, ya?" Pinta Anindia dengan nada cemas.
"Iya sayang," ujar Keanu kemudian. "Kita pulang sekarang."
Anindia mengangguk. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah pergi bersama Keanu. Mereka berjalan berdampingan di koridor kampus, dengan tangan yang saling tergenggam.
"Makasih, Mas," ujar Anindia di sela-sela keheningan. "Kalo kamu gak cepat, mungkin Kak Ardy masih ganggu aku."
Keanu melirik sekilas, senyuman tipis terukir di wajahnya. "Kamu udah bisa handle sendiri," jawabnya santai. "Aku cuma mastiin aja."
Anindia tersenyum tipis. Di tengah banyaknya hal yang membuatnya cemas hari ini, setidaknya ada satu hal yang tetap sama, yaitu Keanu yang selalu ada di sisinya.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁