NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 7 Mereka Membuat Rencana Untuk Menggangguku

Sinar matahari tengah bolong, pasti tepat berada di atas kepala, yang memancarkan hawa panas menyengat hingga ke halaman rumah mewah itu. Di ruang tengah, Pak Baskoro baru saja menutup laptopnya dengan helaan napas lega setelah menyelesaikan rapat daring yang cukup alot. Suasana rumah terasa begitu tenang, hanya terdengar detak jam dinding yang mengisi keheningan.

Tak lama kemudian, suara deru mobil terdengar di halaman, disusul suara langkah kaki dan riuh rendah obrolan. Pintu depan terbuka, menampakkan Nyonya Sarah dan Siska yang masuk dengan wajah lelah namun puas, sementara di belakang mereka, Bi Sumi tampak kewalahan menjinjing kantong-kantong belanjaan yang penuh.

Sarah mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Dia mengernyitkan dahi melihat rumah yang tampak sepi, hanya ada suaminya yang kini sudah beralih duduk santai sambil membolak-balik halaman majalah bisnis.

Sarah-pun mendekat. Tepat di hadapan suaminya, terdapat laptop di atas meja, lalu ia bertanya. "Mas, kamu tadi meeting?" lanjutnya sambil duduk di sofa seberang suaminya

"Terus, udah selesai meeting-nya?" tanya sarah

"Baru aja selesai. Meeting hari ini lancar semua," jawaban Suaminya itu tanpa mengalihkan pandangan dari majalahnya.

Sarah meletakkan tas mewahnya, lalu kembali menoleh ke sekeliling ruangan. "Oh ya, Mas... yang lain ke mana? Kok sepi banget? Reno juga udah pulang ya?"

Baskoro menurunkan majalahnya, menatap istrinya dengan senyum tipis yang penuh arti. "Reno udah pulang dari tadi, ada urusan kantor katanya. Kalau Bara sama menantu kamu, mereka lagi pergi jalan-jalan cari angin."

Mendengar jawaban itu, gerakan tangan Nyonya Sarah yang sedang merapikan rambutnya mendadak terhenti. Matanya memicing, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

"Jalan-jalan? Berdua aja?" tanya Sarah dengan nada suara yang naik satu oktav.

"Iya, berdua doang. Mas yang nyuruh," sahut Baskoro santai. "Kasihan mereka di rumah terus, butuh waktu buat berduaan. Aku ngelakuin ini biar mereka makin dekat sarah."

Lanjutnya sambil mengangkat kembali majalah, "Terus Mas juga tadi sudah transfer uang saku buat Renata biar dia bisa belanja sepuasnya."

Wajah Nyonya Sarah yang tadinya segar sehabis belanja kini mendadak berubah masam. Dia melirik ke arah Siska yang juga tampak terkejut. Bayangan Renata yang sedang asyik menghabiskan uang suaminya atau lebih tepatnya uang keluarga Adiwangsa, membuat hatinya terasa panas terbakar api cemburu dan tidak suka.

"Mas transfer uang ke Renata! KOK KAMU NGGAK BILANG AKU DULU?!" tanya Sarah, suaranya kini terdengar tajam dan menuntut.

Baskoro menutup majalahnya dengan suara plak yang cukup keras, tanda dia mulai terusik dengan nada bicara istrinya yang mulai meninggi. Dia menatap Sarah dengan tenang, namun ada ketegasan yang tak terbantah di matanya.

"Ya tadi aku barusan bilang ke kamu, lagian aku nggak sempat buat tanya dulu ke kamu karena kamu juga lagi diluar pasti kamu nggak bisa jawab panggilan aku," jawab Pak Baskoro santai, menyandarkan punggungnya ke sofa. "Lagipula apa masalahnya, Sarah? Renata itu menantu kita, istri sah anak-mu. Memberi dia uang saku untuk jalan-jalan dengan suaminya sendiri itu hal yang wajar, kan?"

Nyonya Sarah mendengus, tangannya bersedekap di dada. Napasnya terdengar memburu, tidak terima dengan pembelaan suaminya. "Wajar gimana, Mas? Dia itu baru masuk ke keluarga ini. Kita belum tahu dia itu tipe perempuan seperti apa. Jangan-jangan dia cuma mau menguras harta kamu aja! Kamu tahu sendiri kan pernikahan mereka ini awalnya karena apa?"

"Cukup, Sarah," potong Pak Baskoro, suaranya merendah namun penuh peringatan. "Jangan bahas itu lagi. Aku yang mau mereka dekat. Dan aku lihat tadi pagi, mereka sudah mulai akur. Bahkan Bara tadi bangun agak siang karena kelelahan menemani istrinya."

Siska yang sejak tadi duduk di ruang makan hanya bisa menyimak sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik dengan tatapan sinis. Dia tahu mamanya tidak akan pernah suka jika ada wanita lain yang mendapatkan perhatian dan lebih matre dari mamahnya.

"Aku cuma nggak mau kamu dimanfaatin, Mas," gumam Sarah lagi, suaranya melembut namun tetap penuh kebencian yang terselubung. "Uang itu harusnya bisa buat tabungan Siska atau keperluan lain yang lebih jelas."

"Uang itu bukan masalah buat kita, Sarah. Yang jadi masalah adalah kalau kamu terus-terusan menaruh curiga pada menantumu sendiri," pungkas Baskoro.

"Sudah, jangan diperpanjang. Biarkan mereka menikmati waktu berdua. Siapa tahu pulang dari jalan-jalan, kita segera dapat kabar baik soal cucu.

Nyonya Sarah hanya bisa terdiam membeku di tempatnya, menatap punggung suaminya dengan amarah yang membara di dada. Dia memalingkan wajah ke arah Siska, matanya berkilat tajam.

"Siska, kamu dengar itu?" ucap Sarah penuh dendam. "Papa kamu benar-benar udah dibutakan oleh perempuan itu. Kita jangam diam aja. Mama harus tahu apa yang sebenarnya perempuan itu rencana-in."

Siska menggeser kursi makan dengan bunyi decit, lalu melangkah mendekati mamanya. Dia duduk tepat di sebelah Nyonya Sarah, menyandarkan sikunnya dengan senyum miring yang penuh arti.

"Tenang aja, Ma. Nanti biar Siska yang cari tahu," ucap Siska pelan, suaranya terdengar licin seperti ular. "Mama jangan emosi dulu di depan Papa, nanti malah Papa makin belain perempuan itu."

Nyonya Sarah menoleh, menatap putri bungsunya dengan binar harapan sekaligus amarah yang masih berkobar. "Gimana caranya, Siska? Kamu lihat sendiri tadi Papa sampai transfer uang sebanyak itu tanpa bilang ke Mama. Itu kan keterlaluan! Bisa-bisa harta keluarga ini habis cuma buat foya-foya sama perempuan gatau diri."

Siska terkekeh sinis, jemarinya lincah memainkan ponsel di atas meja. "Ma, Siska tahu persis tipe perempuan kayak Kak Renata. Dia itu cuma akting di depan Papa biar kelihatan manis. Padahal, Siska yakin dia punya rencana besar buat nguasain Kak Bara. Tapi Mama lupa ya? Kak Bara nggak semudah itu ditaklukkan oleh wanita yang nggak dia cintai."

"Maksud kamu?" tanya Nyonya Sarah penasaran.

"Siska tahu Kak Bara masih sering komunikasi sama Maya," bisik Siska sambil mendekatkan wajahnya ke telinga mamanya. "Buktinya kemaren Kak Bara dan Kak Maya masih sempat bertemu di rumah ini. Kalau sampai aja Kak Renata beneran 'berkuasa' di hati Kak Bara, nggak mungkin kan Maya masih berani dateng kerumah?"

Nyonya Sarah terdiam sejenak, lalu senyum puas perlahan terbit di wajahnya yang penuh riasan itu. "Jadi... Bara masih main di belakang?"

"Pastinya, Ma. Jadi kita biarkan saja mereka jalan-jalan hari ini. Biar si wanita itu ngerasa di atas angin dulu," lanjut Siska dengan nada meremehkan. "Siska bakal pantau lewat media sosial temen-temen Siska yang mungkin lagi main diluar. Atau kalau perlu, Siska bakal ngasih tau Kak Maya mereka berdua lagi jalan-jalan. That simple! biar mereka bertemu secara tidak sengaja. Seru kan, Ma, kalau ada drama di tempat umum gitu."

Nyonya Sarah mengangguk-angguk setuju, hatinya merasa sedikit lebih lega setelah mendengar rencana licik putrinya. "Benar juga kamu, Siska. Biar wanita itu tahu rasa. Jangan harap dia bisa hidup tenang di rumah ini cuma modal muka polos dan belas kasihan Papa kamu."

Keduanya pun saling bertukar pandang penuh persekongkolan. Di tengah teriknya siang itu, di balik kemewahan dalam rumah keluarga Adiwangsa, Nyonya Sarah dan Siska sedang membuat rencana besar untuk menjatuhkan Renata dengan sangat rapi.

Siska tersenyum licik, matanya berkilat penuh kemenangan saat jarinya mengetik lincah di atas layar ponsel.

Chat Maya.

"Halo Kak Maya... Kakak udah tahu kalau Kak Bara lagi keluar jalan-jalan mesra sama istrinya?"

Hanya butuh beberapa detik sampai tanda typing muncul. Di apartemennya yang mewah, Maya yang sedang bersantai dengan laptop di pangkuannya mendengus pelan melihat pesan itu.

"Aku udah tahu, Siska. Malah aku lebih tahu duluan sebelum kamu kabari." Balas Maya.

Siska membelalakkan mata, sedikit terkejut namun langsung mengetik balasan dengan semangat.

"Wah, hebat Kak Maya emang paling update! Terus respon Kakak gimana? Kakak nggak marah atau gimana gitu?"

"Yah, aku biarin aja mereka berduaan. Lagipula itu kan cuma buat formalitas di depan Papa kamu."

Melihat jawaban itu, ekspresi Siska langsung mind blowing. Dia tidak menyangka Maya bisa sesantai itu, padahal dia tahu betul betapa posesifnya Maya pada kakaknya dulu. Siska tidak mau rencananya gagal total hanya karena Maya bersikap "dewasa". Dia pun mulai mengeluarkan jurus kompornya.

"Duh, Kak... jangan terlalu santai. Tadi Papa transfer uang banyak banget, lho... ke mantunya buat belanja sepuasnya.

"Terus Kakak beneran nggak tahu mereka ke mana sekarang?"

Maya yang tadinya tenang, mulai merasa terusik. Membayangkan Renata yang sedang bermanja-manja menghabiskan hasil tranferan uang keluarga Adiwangsa, yang seharusnya menjadi miliknya jika pernikahan itu tidak terjadi, tiba darahnya sedikit mendidih.

"Gue nggak tahu lokasi pastinya. Bara cuma bilang mau keluar cari angin." Balas Maya.

Siska menyeringai.

"Masa sih Kakak nggak dikasih tahu? Bisa aja mereka ke mall gitu belanja pakian baru atau tas baru."

"Ehm... Kakak nggak mau mergokin mereka di sana buat ngelihat sejauh mana akting mereka?"

Di seberang sana, Maya terdiam. Jarinya berhenti di atas keyboard laptop. Meski dia belum menyusun rencana jahat, namun rasa penasaran dan ego yang terluka mulai mengambil alih logikanya. Kompor Siska berhasil membuat Maya yang tadinya ingin abai, kini mulai merasa perlu untuk "memantau" situasi secara langsung.

"Jadi mereka mau pamer kemesraan pakai uang Om Baskoro?" gumam Maya sinis. Dia menutup laptopnya dengan sentakan kasar, lalu bangkit menuju lemari pakaian.

Sementara di tempat lain, Siska tertawa, suara tawa yang terdengar sangat puas hingga bahunya terguncang. Dia menatap layar ponselnya sekali lagi sebelum akhirnya sebuah pesan balasan muncul dari Maya.

"Tenang aja, Siska. Aku sudah punya rencana sendiri. Thanks infonya."

"Oke Kak Maya, semoga rencana Kakak lancar jaya! Ditunggu kabar baiknya!" balas Siska dengan jempol yang lincah.

Setelah mengirim pesan itu, Siska melempar ponselnya ke atas sofa empuk di sampingnya dengan gaya penuh kemenangan. Dia menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada, dan menarik napas dalam-dalam. "Jos banget emang Kak Maya kalau sudah dipancing begini," gumamnya dengan senyum licik.

Suara tawa Siska yang cukup keras itu rupanya terdengar sampai ke area dapur. Nyonya Sarah yang sedang mengawasi Bi Sumi menyiapkan bahan masakan, langsung melongokkan kepalanya ke ruang tengah.

"Siska! Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri begitu?" sahut Nyonya Sarah dari dapur, bahkan tangannya masih memegang kain serbet.

Siska menoleh ke arah mamanya dengan wajah berseri-seri. "Aman, Ma! Tenang saja. Umpan Siska sudah dimakan sama 'ikan' yang tepat. Pokoknya Mama tinggal duduk manis saja, sebentar lagi bakal ada drama seru di luar sana yang bikin si Wanita itu nggak bakal berani pamer senyum di depan Papa lagi."

Nyonya Sarah yang mendengar itu langsung ikut tersenyum lebar. Rasa kesalnya soal uang transferan tadi mendadak menguap, digantikan oleh rasa penasaran yang menggelitik. "Bagus kalau begitu. Mama memang nggak salah punya anak kayak kamu. Ya sudah, Mama mau lanjut bantu Bi Sumi, kamu pantau terus kabarnya ya!"

"Siap, Ma!" seru Siska penuh semangat.

Siska kembali meraih ponselnya, menunggu dengan tidak sabar kabar apa yang akan dikirimkan Maya selanjutnya. Dia membayangkan betapa malunya Renata jika Maya tiba-tiba muncul dan mengacaukan "kencan" mahal mereka di mal.

Berpindah ke Maya. di apartemennya, Maya tidak lagi santai. Dia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang cantik namun penuh ambisi. Sambil memikirkan rencana apa yang berhasil.

Setelah di pikir-pikir, akhirnya ketemu. "Apa gue pura-pura sakit aja ya? terus suruh Bara langsung ke sini?" gumamnya pelan, menimbang-nimbang ide klasik itu.

"Ah, nggak seru."

Sekarang dia berpikir lagi, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu yang empuk, matanya berkilat penuh intrik. Akhirnya, sebuah senyum simpul yang mematikan terbit di wajahnya. Dia menemukan celah yang lebih halus namun berdampak besar.

"Mending gue buat drama ini makin panjang dan elegan," bisiknya pada diri sendiri. "Gue bakal ajak dia ketemuan di restoran atau cafe yang jauh dari mereka. Pakai alasan urusan 'darurat' yang cuma dia yang bisa bantu. Terus... kalau dia datang dan pasti dia ninggalin istrinya dongl... kita lihat saja gimana nasib si Renata itu pulang sendirian. Naik taksi? Atau di jemput orang lain? Ehm... kan bisa aja istrinya main di belakang juga."

Maya tertawa kecil, membayangkan wajah Renata yang kebingungan di tengah keramaian mal tanpa suami di sisinya. Baginya, ini bukan sekadar soal cemburu, tapi soal membuktikan siapa yang masih memegang kendali atas diri Bara.

"Lagipula, udah lama juga gue nggak ngobrol berdua sama Mas Bara tanpa gangguan 'benalu' itu," lanjutnya.

Maya segera meraih ponselnya, mencari kontak Bara. Dia menarik napas dalam-dalam, mengatur nada suaranya agar terdengar setenang dan sesedih mungkin sebelum menekan tombol panggil. Dia sudah menyiapkan skenario: sebuah masalah pribadi yang cukup mendesak untuk menarik Bara keluar dari "sandiwara" bahagianya bersama Renata.

Dengan gerakan anggun, Maya mengganti pakaiannya dengan gaun chic yang sangat memikat. Dia siap untuk menghancurkan kencan pertama Bara dan Renata hari ini.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!