NovelToon NovelToon
Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Sial! Aku Bereinkarnasi Jadi Penjinak Cacing Terlemah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Mati karena kelelahan melayani 10 istri cantik? Itu adalah akhir paling konyol dalam hidup Arka. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlahir kembali sebagai Reno, seorang pemuda miskin di desa terpencil dunia Beast Tamer.
Di dunia di mana kekuatan ditentukan oleh hewan kontrak, Reno justru menjadi bahan tertawaan karena hanya mampu menjinakkan seekor cacing tanah kecil yang lemas. Semua orang menghinanya, menganggap masa depannya telah berakhir sebagai petani rendahan.
Tapi mereka tidak tahu... cacing itu bukanlah cacing biasa. Di dalam tubuh kecil itu, bersemayam jiwa Nidhogg, Naga Kuno legendaris yang pernah memusnahkan sebuah negara dalam satu malam!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan Pertama Sang Penghancur

Episode 1

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah dinding bambu rumah Reno yang sudah mulai rapuh. Sinar itu jatuh tepat di wajahnya, memaksa kelopak mata Reno terbuka perlahan. Ia tidak lagi terbangun oleh suara alarm ponsel pintar atau teriakan manja salah satu dari sepuluh istrinya yang menuntut sarapan mewah di tempat tidur. Di sini, di kehidupan barunya, ia terbangun oleh suara kokok ayam jantan milik tetangga dan aroma asap kayu bakar yang khas.

Reno menguap lebar, meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia merasakan sensasi luar biasa yang sudah lama tidak ia rasakan di kehidupan sebelumnya. Di dunia modern dulu, sebagai Arka, ia selalu merasa lelah. Dadanya sering sesak karena tekanan darah tinggi dan stres mengurus bisnis serta sepuluh istri yang tak pernah puas. Tapi sekarang, meski ia hanya tidur di atas dipan kayu beralaskan tikar pandan yang kasar, tubuh remajanya terasa penuh energi.

"Reno? Sudah bangun, Nak? Cepat cuci mukamu, Ibu sudah siapkan ubi rebus," suara lembut Siti, ibunya, terdengar dari balik sekat ruangan yang hanya terbuat dari kain lusuh.

"Iya, Bu! Sebentar lagi Reno keluar!" jawab Reno dengan suara yang lebih jernih dan bertenaga.

Reno tidak langsung bangkit. Pandangannya beralih ke sebuah mangkuk tanah liat kecil yang terletak di atas meja kayu reyot di samping tempat tidurnya. Di dalam mangkuk yang berisi tanah lembap itu, seekor cacing merah kecil melingkar diam. Jika dilihat sekilas, itu hanyalah cacing tanah biasa yang sering digunakan pemancing untuk umpan. Namun bagi Reno, makhluk kecil ini adalah satu-satunya alasan mengapa ia bisa bermimpi untuk mengubah nasib kemiskinannya.

"Oi, Nidhogg. Kau masih hidup, kan?" bisik Reno sambil menusuk pelan tubuh cacing itu dengan ujung jarinya.

"Jangan lancang menyentuhku dengan jari kotor mu, Manusia Rendah!" Sebuah suara berat dan penuh wibawa tiba-tiba menggelegar di dalam kepala Reno. Meskipun suaranya terdengar seperti dewa yang murka, kenyataannya cacing itu hanya bisa menggeliat lemah di atas tanah. "Perutku terasa seperti diperas! Energi di tempat ini sangat menjijikkan. Tanah ini kering, mati, dan tidak mengandung nutrisi sihir sedikit pun!"

Reno terkekeh pelan, sedikit terhibur melihat kesombongan makhluk yang kini nasibnya bergantung padanya. "Sabar sedikit, Naga Besar. Kita ini miskin. Bisa makan ubi saja sudah syukur bagi kami. Jangan harap aku bisa memberimu daging naga atau sari bunga surga di pagi buta begini."

"Ubi?! Kau mau memberi makan sang Naga Pemusnah dengan akar tanaman yang tumbuh di lumpur?!" Nidhogg tampak sangat tersinggung. Tubuh kecilnya berdiri tegak, mencoba terlihat mengancam meskipun ukurannya tidak lebih besar dari batang korek api. "Dengarkan aku baik-baik, Reno! Jika dalam tiga hari aku tidak mendapatkan asupan inti energi dari binatang buas, tubuh ini akan mengecil dan jiwaku akan tertidur kembali ke dalam segel! Jika itu terjadi, kontrak jiwa ini akan menarik seluruh energimu dan kau juga akan mati!"

Reno terdiam. Senyumnya menghilang seketika. "Kau serius? Kita benar-benar bisa mati hanya karena kau kelaparan?"

"Apa menurutmu aku punya selera humor untuk bercanda dalam kondisi seperti ini? Darah yang kau berikan saat upacara kemarin hanya cukup untuk membangunkan ku dari tidur seribu tahun, tapi tidak cukup untuk mempertahankan ku dalam bentuk fisik!"

Reno menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Sepertinya rencana untuk hidup tenang sebagai petani di desa terpencil harus ia lupakan sejenak. Ia harus mencari cara untuk memberi makan rekan kontraknya yang rewel ini sebelum maut menjemputnya untuk kedua kali.

Reno bangkit dari dipan, merapikan baju kasarnya yang penuh tambalan, lalu berjalan menuju dapur. Di sana, ibunya sedang menyajikan dua buah ubi rebus yang masih mengepulkan uap panas dan dua gelas air putih. Ayahnya, Pak Darman, sudah duduk di kursi kayu sambil mengasah sabitnya. Wajah ayahnya nampak lebih tua dari usia aslinya, guratan keriput di dahi dan tangannya yang kasar menjadi bukti betapa kerasnya kehidupan mereka sebagai petani di bawah tekanan pajak tuan tanah.

"Makanlah yang banyak, Reno. Hari ini kita harus ke sawah lebih awal. Pintu air di bagian utara rusak lagi, kita harus memperbaikinya sebelum sawah kita kering," ucap Pak Darman tanpa menoleh, fokus pada asahan sabitnya.

"Pak," Reno memecah keheningan sambil mengupas kulit ubi. "Boleh tidak hari ini Reno ke hutan belakang desa saja? Reno mau cari kayu bakar sekalian lihat-lihat tanaman obat yang mungkin bisa kita jual ke pasar kota."

Pak Darman menghentikan gerakan tangannya. Beliau menoleh ke arah Reno dengan tatapan cemas. "Hutan belakang? Reno, bapak sudah bilang berkali kali, jangan masuk ke sana sendirian. Akhir-akhir ini banyak kabar tentang Belalang Sembah Raksasa yang mulai turun ke pinggiran hutan. Mereka itu binatang liar Tingkat Perunggu. Penjinak magang seperti kita, apalagi kamu yang baru saja melakukan kontrak, bukan tandingan mereka."

"Reno janji nggak akan masuk jauh-jauh, Pak. Cuma di pinggiran yang banyak pohon tumbangnya saja. Lagipula, Reno perlu melatih binatang kontrak Reno agar lebih terbiasa dengan alam," Reno mencoba meyakinkan ayahnya dengan alasan yang logis.

Pak Darman menghela napas, melihat ke arah kantong baju Reno di mana cacing itu bersembunyi. Beliau merasa bersalah karena tidak mampu membelikan anaknya telur binatang yang lebih kuat. "Ya sudah. Tapi berjanjilah, jika kau melihat sesuatu yang aneh atau mendengar suara ranting patah yang besar, segera lari. Jangan menoleh ke belakang. Nyawamu lebih berharga daripada segunung kayu bakar."

"Iya, Pak. Reno mengerti," jawab Reno tulus.

Setelah menghabiskan sarapan sederhananya, Reno segera berangkat menuju hutan. Udara pagi di Desa Tanah Merah sangat segar, jauh berbeda dengan polusi kota yang biasa ia hirup di masa lalu. Namun, pikirannya tidak sesegar udaranya. Di kantong bajunya, Nidhogg terus menerus mengoceh.

"Manusia, kenapa jalanmu lambat sekali? Apa kau sengaja ingin aku mati kelaparan? Aku bisa merasakan keberadaan energi di arah jam dua. Cepat bergerak ke sana!"

"Bisa diam tidak?" bisik Reno kesal, matanya waspada melihat sekeliling. "Jika ada penduduk desa lain yang melihatku bicara dengan kantong baju, mereka akan menganggap ku sudah gila karena frustrasi mendapatkan cacing sebagai binatang kontrak."

"Hmph! Mereka itu hanya kumpulan semut yang tidak tahu apa-apa. Biarkan mereka bicara sesuka hati. Begitu aku berevolusi, aku akan menghanguskan desa ini jika kau mau," balas Nidhogg sombong.

"Jangan berani-berani kau menyentuh desaku," ancam Reno dengan nada serius. "Dengar, Nidhogg. Kita di sini untuk bertahan hidup, bukan untuk memusnahkan orang. Paham?"

Nidhogg hanya mendengus di dalam pikiran Reno.

Reno mulai memasuki area hutan yang lebih rimbun. Pohon-pohon raksasa dengan akar menjalar menutupi sinar matahari, menciptakan suasana remang-remang yang lembap. Aroma tanah dan daun busuk menyeruak. Reno memperkuat genggamannya pada sabit di tangan kanannya.

"Berhenti!" perintah Nidhogg tiba-tiba. "Aku menciumnya. Aroma cairan tubuh yang kental dan penuh nutrisi. Di balik semak berduri itu. Ada sesuatu yang sedang makan."

Reno merendahkan tubuhnya, bergerak mengendap endap seperti seekor predator. Ia menyibakkan dedaunan dengan sangat hati-hati dan matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya.

Seekor serangga hijau raksasa seukuran anjing dewasa sedang berdiri di atas bangkai kelinci. Serangga itu memiliki dua kaki depan yang berbentuk seperti gergaji tajam dan bergerigi. Belalang Sembah Hijau binatang liar Tingkat Perunggu tahap rendah. Kaki gergajinya tampak berkilau tajam saat ia memotong daging mangsanya dengan mudah.

"Itu dia," gumam Reno dengan jantung berdegup kencang. "Nidhogg, kau yakin bisa mengalahkannya? Tubuhmu bahkan tidak sebesar salah satu kakinya."

"Jangan samakan aku dengan serangga bodoh itu, Reno! Aku memang lemah secara fisik sekarang, tapi jiwaku adalah predator puncak. Dekati dia sampai jarak dua meter. Saat dia lengah, lemparkan aku ke arah kepalanya!"

Reno menelan ludah. Ini adalah pertaruhan nyawa pertamanya di dunia ini. Jika ia gagal, satu tebasan dari belalang itu bisa membuat perutnya robek. Ia mengambil sebuah batu kecil dari tanah, lalu melemparnya ke arah semak-semak di sisi kiri belalang tersebut.

Tuk!

Belalang itu tersentak. Kepalanya yang berbentuk segitiga berputar seratus delapan puluh derajat, menatap ke arah sumber suara. Di saat itulah, Reno meledakkan kekuatannya. Ia melompat keluar dari persembunyian dengan kecepatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

"Sekarang, Nidhogg!" teriak Reno.

Ia merogoh kantong bajunya dan melempar cacing merah itu sekuat tenaga. Nidhogg meluncur di udara seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Belalang Sembah itu menyadari ada sesuatu yang terbang ke arahnya. Dengan insting binatang buas, ia mengayunkan kaki gergajinya untuk membelah Nidhogg menjadi dua.

Namun, di tengah udara, sesuatu yang mengerikan terjadi. Nidhogg tidak menghindar. Sebaliknya, tubuh kecilnya mengeluarkan kabut hitam pekat yang dingin dan mencekam. Begitu kabut itu menyentuh tubuh belalang, serangga raksasa itu mendadak kaku. Gerakannya terhenti di udara seolah olah waktu bagi dirinya telah berhenti.

HAP!

Nidhogg mendarat tepat di antara dua mata besar belalang tersebut. Cacing kecil itu tidak menggigit kulit keras si serangga, melainkan mengeluarkan aura gelap yang merembes masuk ke dalam pori-pori kepala belalang.

Detik berikutnya, sebuah pemandangan mengerikan terjadi. Tubuh Belalang Sembah yang tadinya hijau segar dan penuh energi, perlahan lahan mulai mengerut. Cairan tubuhnya, ototnya, bahkan energinya dihisap paksa oleh Nidhogg melalui sebuah teknik terlarang bernama Soul Devour. Belalang itu hanya bisa bergetar hebat tanpa bisa bersuara, sampai akhirnya ia tumbang ke tanah dengan tubuh yang kering kerontang seperti kerupuk.

Reno mendekat dengan napas terengah engah, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia melihat Nidhogg yang sekarang tampak sedikit lebih besar, kulitnya yang tadinya merah pucat kini berubah menjadi merah tua metalik yang berkilau.

"Ah... segar sekali," ucap Nidhogg sambil menggeliat puas. Suaranya kini terdengar jauh lebih jernih di kepala Reno. "Energi serangga ini sangat kotor, tapi setidaknya cukup untuk mengisi kekosongan di perutku."

Reno melihat bangkai belalang itu dengan tatapan ngeri. "Kau benar-benar memakannya hidup-hidup dari dalam?"

"Hanya energinya. Dagingnya tidak ada rasanya," jawab Nidhogg santai. "Sekarang, belah kepalanya. Di sana ada Kristal Inti. Kau membutuhkannya untuk membeli makanan di duniamu yang menyedihkan ini, kan?"

Reno segera mengambil pisau kecilnya dan membelah bagian kepala belalang yang sudah mengeras itu. Di dalamnya, ia menemukan sebuah batu kecil berwarna hijau seukuran kelereng yang berpendar redup. Kristal Inti Tingkat Perunggu.

Tangan Reno gemetar saat memegangnya. Di pasar desa, satu kristal seperti ini bisa ditukar dengan sepuluh karung beras atau uang yang cukup untuk makan keluarganya selama satu minggu penuh. Ini adalah harta karun bagi seorang petani miskin.

"Kita berhasil, Nidhogg," bisik Reno dengan mata berbinar. "Kalau kita bisa dapat sepuluh lagi, ayah dan ibu tidak perlu kerja keras di sawah lagi."

"Sepuluh? Jangan bercanda, Manusia! Untuk berevolusi ke tahap berikutnya, Cacing Sisik Besi. Aku butuh setidaknya seribu kristal seperti ini! Atau inti dari binatang Tingkat Perak yang jauh lebih kuat!"

Reno terdiam sejenak. Seribu? Angka itu terdengar mustahil baginya saat ini. Namun, melihat kekuatan Nidhogg tadi, Reno tahu bahwa ia tidak boleh menyerah. Jika cacing kecil ini bisa membunuh binatang Tingkat Perunggu hanya dalam hitungan detik, maka masa depan mereka bukan lagi sekadar impian.

Reno baru saja hendak memasukkan kristal itu ke kantongnya ketika indra pendengarannya yang tajam menangkap suara aneh. Bukan suara binatang, melainkan suara gesekan kain dan langkah kaki yang terburu buru.

"Tolong! Siapa saja... tolong aku!"

Sebuah teriakan melengking memecah kesunyian hutan. Reno mengenali suara itu. Itu adalah Lani, anak gadis penjahit desa yang selalu bersikap baik padanya. Reno menatap ke arah suara itu berasal, lalu melirik ke arah Nidhogg.

"Sepertinya makan siangmu belum berakhir, Cacing," ucap Reno sambil mempererat pegangan sabitnya.

"Hmph! Selama itu menghasilkan energi, aku tidak keberatan siapa pun mangsanya. Ayo, Manusia! Tunjukkan padaku seberapa cepat kau bisa berlari!"

Tanpa membuang waktu, Reno melesat menembus semak-semak, berlari menuju sumber teriakan tersebut. Langkah kakinya mantap, jiwanya membara. Inilah awal dari petualangan yang akan mengubah seorang anak petani menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.

1
Bambang Hartono
lanjutkan
Jack Strom
Tanggung dah... 😁
Jack Strom
Hmmm... 🤔
Jack Strom
Biasa, lawan berlapis... hehehe 😛
Jack Strom
Hajar!!! 😁
Jack Strom
Wow, alasan Raka sangat logis... Tapi, benarkah? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aneh... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Mantap.. 😁
Jack Strom
Waduh, Raka mulai mengancam... 🤔
Jack Strom
Sandiwara satu babak kah dengan Bagas? 🤔
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, bertarung... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Ayo, berpetualang... 😁
Jack Strom
Keren... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Aduh, sumber masalah jadi lolos... 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!