NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7: Melintasi Kegelapan

​Chapter 7: Melintasi Kegelapan

​Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul dua dini hari. Suasana di dalam mall kini jauh lebih mencekam. Lampu-lampu darurat yang berkedip kemerahan memberikan siluet mengerikan pada deretan manekin yang hancur di sepanjang koridor. Di luar stan makanan ini, suara erangan zombi sudah mulai berkurang, berganti dengan suara langkah terseret yang monoton dan acak.

​“Sudah waktunya,” bisikku pelan.

​Kurumi terbangun dari tidur ayamnya. Dia segera menyambar sekopnya, matanya waspada meski gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. “Kita benar-benar akan keluar sekarang?”

​“Ya. Pegang ranselmu erat-erat. Jangan sampai

ada suara logam yang beradu. Jika aku berhenti, kamu juga harus berhenti. Jangan pernah mendahuluiku,” instruksiku sambil perlahan menaikkan rolling door hanya setinggi pinggang manusia.

​Kami merangkak keluar dengan sangat hati-hati. Udara di luar stan terasa sangat dingin dan berbau anyir yang tajam. Aku memegang pipa besiku dengan posisi siap menyerang, sementara tangan kiriku memberi isyarat agar Kurumi tetap rendah.

​Kami menyusuri tepian dinding, menghindari tumpukan pecahan kaca yang bisa menimbulkan suara berisik. Di tengah kafetaria, aku melihat pemandangan yang mengerikan—sisa-sisa dari penyintas yang tadi tidak kuselamatkan. Hanya tinggal genangan darah dan potongan pakaian. Kurumi sempat tersentak dan menutup mulutnya, tapi aku menarik lengannya dengan kasar agar dia terus bergerak.

​“Jangan dilihat. Fokus pada langkahmu,” bisikku tanpa rasa kasihan.

​Kami sampai di depan pintu akses menuju lorong pembuangan sampah. Pintu itu terbuat dari besi berat dan untungnya tidak terkunci. Namun, saat aku mencoba mendorongnya perlahan, pintu itu mengeluarkan suara derit yang tajam. Krieeeet…

​Seketika, tiga sosok zombi yang tadinya sedang berdiam diri di dekat eskalator menoleh serentak. Mata mereka yang keruh menangkap pergerakan kami. Tanpa peringatan, mereka mulai berlari kencang—tipe runner yang masih memiliki otot kaki yang utuh.

​“Lari ke dalam!” perintahku.

​Kami menghambur masuk ke dalam lorong pembuangan sampah yang sempit. Aku segera membanting pintu besi itu dan menahannya dengan seluruh berat tubuhku. Dug! Dug! Pintu itu dihantam dari luar.

​“Zidan, kuncinya! Cepat!” seru Kurumi panik.

​Aku meraba pinggiran pintu, tapi tidak ada grendel di sini. Sial. Ini pintu satu arah yang seharusnya hanya bisa dikunci dari luar. “Tidak ada kunci! Kurumi, cari sesuatu untuk mengganjal ini!”

​Kurumi dengan cepat melihat sekeliling dan menemukan sebuah balok kayu panjang yang entah dari mana asalnya. Dia menyelipkannya di antara pegangan pintu dan celah dinding. Untuk sementara, pintu itu aman.

​Kami menarik napas panjang. Lorong ini sangat gelap, hanya ada cahaya redup dari ponselku yang sengaja ku tutupi sebagian dengan telapak tangan agar tidak terlalu mencolok. Bau busuk di sini jauh lebih parah daripada di gudang. Ini adalah tempat penampungan sampah sementara sebelum dibawa ke basement.

​“Zidan… lihat itu,” Kurumi menunjuk ke ujung lorong.

​Ada sebuah tangga besi yang menuju ke bawah, tapi di sana ada seorang petugas keamanan yang sudah berubah menjadi zombi. Dia masih mengenakan seragam lengkap, namun perutnya sudah robek terbuka. Yang membuatnya berbahaya adalah senapan laras pendek yang masih tergantung di pundaknya.

​“Senjata api,” gumamku. Mataku berkilat. Di dunia seperti ini, memiliki senjata api adalah pembeda antara pemangsa dan mangsa.

​“Kamu mau mengambilnya? Itu berbahaya, dia masih bergerak!” Kurumi menahan lenganku.

​“Kita butuh senjata itu untuk keluar dari area parkir. Di sana pasti lebih banyak monster,” aku melepaskan pegangan tangannya. “Kamu tetap di sini. Jika aku gagal, lari lah kembali ke atas.”

​Aku mendekati zombi petugas itu dengan langkah tanpa suara. Dia sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena sedang asyik mengunyah sesuatu di lantai. Saat jarakku tinggal dua meter, aku sengaja melemparkan sebuah koin ke arah berlawanan. Ting!

​Zombi itu menoleh ke arah suara koin. Di saat itulah, aku melompat dan menghujamkan ujung pipa besiku tepat ke lubang telinganya. Jlep!

​Makhluk itu kejang sejenak sebelum akhirnya jatuh terkulai. Aku segera melucuti senapan laras pendek itu dari tubuhnya, beserta beberapa kotak peluru yang ada di sabuknya. Sebuah keberuntungan yang sangat logis.

​“Berhasil,” kataku sambil memeriksa mekanisme senjata tersebut. Ini adalah shotgun pompa. Suaranya akan sangat berisik, tapi daya hancurnya tidak tertandingi.

​“Kamu benar-benar nekat… tapi aku akui, itu hebat,” Kurumi mendekat, wajahnya tampak sedikit kagum namun tetap berusaha terlihat ketus.

​“Ini bukan soal nekat, ini soal kebutuhan. Sekarang, kita turun ke basement,” aku memimpin jalan menuruni tangga besi yang berkarat.

​Begitu sampai di bawah, suhu udara turun drastis. Area parkir basement yang luas terbentang di depan kami. Ratusan mobil terparkir rapi, namun banyak di antaranya yang sudah hancur menabrak pilar. Yang mengerikan adalah kabut tipis yang menyelimuti lantai, dan di balik kabut itu, aku bisa mendengar suara erangan ribuan makhluk yang sedang menunggu mangsa.

​“Zidan, bagaimana kita bisa melewati semua itu?” suara Kurumi bergetar.

​Aku melihat sebuah mobil SUV hitam yang mesinnya masih terlihat utuh. “Kita tidak akan berjalan kaki. Kita akan berkendara keluar dari neraka ini.”

​“Tapi suaranya pasti akan memancing mereka semua!”

​Aku menoleh padanya dan tersenyum tipis—senyum pertama yang kuberikan sejak kiamat dimulai. “Memang itu tujuannya. Kita akan membuat keributan besar, dan saat mereka semua berkumpul di belakang kita, kita sudah berada jauh di jalan raya.”

​Aku tidak peduli jika suara mobil itu nantinya akan membahayakan penyintas lain di sekitar mall. Yang penting bagiku adalah aku dan Kurumi keluar dari tempat ini hidup-hidup. Persetujuan moral orang lain tidak ada gunanya jika aku sudah menjadi mayat.

​“Masuk ke mobil, Kurumi. Dan jangan lepaskan sekop mu. Jika ada yang mencoba masuk lewat kaca, hancurkan kepala mereka tanpa ragu,” kataku sambil mulai membongkar kabel di bawah kemudi untuk menyalakan mesin secara paksa.

​Aku adalah Zidan, dan aku akan bertahan hidup, tidak peduli berapa banyak aturan yang harus kulanggar.

Catatan Penulis:

Aksi pelarian yang sesungguhnya dimulai! Zidan berhasil mendapatkan senjata api dan rencana gila baru. Akankah SUV itu bisa menembus ribuan zombi di basement? Ataukah mereka akan terjebak di dalam kaleng besi tersebut? Terus ikuti kisahnya dan jangan lupa Like serta Komentar kalian ya! Dukungan kalian adalah bensin bagi penulis!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!