NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Penyangkalan

Detik jam dinding di Apartemen 402 terdengar seperti dentuman palu hakim bagi Ziva. Ia terpaku di sofa, matanya melebar menatap selembar foto kecil di tangan Gibran. Itu fotonya. Foto candid saat ia tertidur di atas meja redaksi mading bulan lalu, dengan sisa tinta pulpen di pipi dan rambut yang berantakan.

​Gibran menatap foto itu, lalu menatap Arkan dengan kening berkerut.

"Ar, ini... sejak kapan lo jadi tukang foto keliling? Apalagi objeknya Ziva? Lo bilang lo benci pelanggar aturan kayak dia."

​Sisil ikut mendekat, menyambar foto itu dari tangan Gibran. "Wah, gila! Ini kan pas Ziva tepar habis begadang ngerjain edisi khusus sekolah. Kok bisa ada di dompet lo, Ar? Jangan-jangan selama ini lo... naksir Ziva?"

​Ziva merasa wajahnya memanas. Bukan karena baper, tapi karena ngeri. Ia melirik Arkan, menanti jawaban "logis" dari sang Ketua OSIS.

​Arkan berdiri tegak, tangannya masih memegang gelas sirup yang kini terasa dingin. Wajahnya tidak berubah warna, namun rahangnya mengeras.

"Itu barang bukti," ucapnya datar. Sangat datar, hingga terdengar sedikit dipaksakan.

​"Barang bukti?" Sisil tertawa hambar. "Bukti apaan? Bukti kalau Ziva cantik pas tidur?"

​"Bukti pelanggaran fasilitas sekolah," potong Arkan cepat, suaranya kembali ke mode otoriter. "Ziva tidur di ruang redaksi saat jam sekolah belum usai. Itu penyalahgunaan ruangan. Aku mengambil fotonya untuk laporan ke Pembina OSIS, tapi belum sempat aku serahkan karena banyak urusan lain. Foto itu terjepit di antara nota belanja kantin di dompetku."

​Gibran menyipitkan mata. "Laporan? Ar, itu kejadian bulan lalu. Sejak kapan lo nyimpen 'barang bukti' seremeh itu di dompet, bukan di map laporan OSIS?"

​"Aku lupa, Gibran. Manusiawi, kan?" Arkan menyambar foto itu dari tangan Sisil dengan gerakan kilat dan menyimpannya ke saku celana. "Sudah, jangan bahas hal tidak penting. Fokus ke tugas sosiologi. Kita belum selesai bahas bab struktur sosial."

​Sisil mencibir, tapi ia kembali duduk. "Dasar robot. Foto cewek secakep itu dibilang barang bukti. Ziv, lo nggak marah foto lo diambil diem-diem?"

​Ziva berdehem, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

"Gue... gue udah biasa dihukum sama dia, Sil. Nggak aneh kalau dia simpen foto aib gue buat bahan ancaman. Dia kan emang penguasa tirani."

​Meskipun mulutnya berkata begitu, Ziva bertanya-tanya dalam hati: Apa bener buat laporan? Tapi kenapa sudut fotonya agak lusuh, kayak sering dipegang?

​Retakan di Ruang Guru

​Sementara itu, di sekolah, sebuah drama lain sedang bergulir. Clarissa Putri sedang berdiri di depan meja Pak Danu, guru kesiswaan. Wajahnya tampak gusar.

​"Pak, saya mau lapor. Belakangan ini Arkan sering sekali pulang duluan tanpa koordinasi dengan pengurus inti lainnya," ujar Clarissa dengan nada prihatin yang dibuat-buat.

"Bahkan kemarin, saya lihat Ziva masuk ke mobil yang mirip sekali dengan mobil jemputan keluarga Arkan di tikungan dekat minimarket."

​Pak Danu melepas kacamatanya, menggosok pangkal hidungnya. "Clarissa, Arkan itu siswa teladan. Mungkin ada urusan keluarga yang mendesak. Soal Ziva... kamu yakin itu mobil Arkan?"

​"Saya yakin, Pak. Saya kenal plat nomornya. Saya takut Arkan terpengaruh pergaulan bebas Ziva. Bapak tahu sendiri kan Ziva itu anak jurnalisme yang agak... liar?"

​Pak Danu mengangguk perlahan. "Baik, saya akan pantau.

Tapi jangan menyebarkan rumor ini ke anak-anak lain sebelum ada bukti kuat. Kamu mengerti?"

​Clarissa tersenyum penuh kemenangan. "Tentu, Pak. Saya hanya peduli pada reputasi Arkan."

​Keluar dari ruang guru, Clarissa meremas tali tasnya. "Lo nggak bakal bisa sembunyi terus, Ziva. Gue bakal cari tahu

di mana lo tinggal sekarang," gumamnya sinis.

​Di Balik Pintu yang Tertutup

​Pukul lima sore, Gibran dan Sisil akhirnya pulang. Apartemen itu kembali sunyi, hanya menyisakan dua jiwa yang terperangkap dalam satu atap. Ziva langsung berdiri, hendak masuk ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Arkan memanggilnya.

​"Ziva."

​Ziva berhenti, tapi tidak menoleh.

"Apa? Mau bahas 'barang bukti' lagi?"

​"Maaf," ucap Arkan lirih.

​Ziva berbalik, matanya membelalak. "Hah? Lo... lo barusan minta maaf? Arkananta Dewa bisa minta maaf?"

​Arkan duduk di sofa, menyandarkan kepalanya ke belakang. Ia terlihat sangat lelah. "Maaf karena hampir membuat kita ketahuan. Dan soal foto itu... aku tidak bermaksud menjadikannya barang bukti. Aku hanya... tidak tahu cara membuangnya."

​Ziva berjalan mendekat, rasa penasarannya mengalahkan rasa malasnya. "Kenapa lo simpen, Ar? Jujur sama gue. Lo beneran suka sama gue dari sebelum kita dijodohin?"

​Arkan menatap Ziva lama. Ada pergulatan hebat di matanya. Antara logika yang menolak dan perasaan yang mulai memberontak.

"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Aku hanya merasa, di foto itu, kamu terlihat tenang. Tidak berisik seperti biasanya. Itu membuatku... sedikit tenang juga saat melihatnya."

​Ziva terdiam. Kalimat itu lebih berdampak daripada pernyataan cinta mana pun yang pernah ia dengar. Arkan, si robot dingin, menemukan ketenangan dari melihat fotonya saat tidur.

​"Tapi itu nggak mengubah keadaan, Ar," suara Ziva melunak.

"Dekat sama lo itu bahaya buat gue. Clarissa udah mulai curiga. Pak Danu mungkin juga. Kita harus makin hati-hati."

​"Aku tahu," Arkan berdiri, lalu berjalan menuju kamarnya.

"Mulai besok, jangan naik ojek. Aku akan mengantarmu lebih pagi lagi, jam lima subuh. Kita akan sarapan di mobil saja."

​"Jam lima?!" Ziva memprotes. "Gila lo! Ayam aja belum bangun!"

​"Itu aturan baru," sahut Arkan tanpa menoleh, namun ada sedikit lengkungan tipis di sudut bibirnya yang tidak terlihat oleh Ziva.

​Malam itu, Ziva berbaring di kasurnya, menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa "mendiami" Arkan adalah hal yang mudah. Ada sesuatu yang mulai mencair di antara mereka, sebuah resonansi rahasia yang lebih berbahaya daripada sekadar ketahuan guru kesiswaan.

​Sementara itu, di bawah lampu jalanan dekat apartemen, sebuah motor sport berhenti. Pengendaranya membuka kaca helm, menatap gedung apartemen dengan saksama. Itu Revan. Ia memegang ponselnya, melihat koordinat GPS yang baru saja ia dapatkan dari seseorang.

​"Apartemen 402... Jadi di sini lo sembunyi, Ziva?" bisik Revan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!