Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
******
Pukul sepuluh pagi menjelang siang. Calista dan Damar sudah berada di salah satu ruang meeting eksklusif di hotel tempat mereka menginap. Ruangan itu luas, bernuansa elegan, dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke pusat kota Arctovia— lokasi strategis yang kerap dipilih untuk pertemuan bisnis kelas atas.
Calista duduk tenang di sisi kanan Damar, jemarinya menelusuri layar tablet berisi proposal kerja sama yang baru saja diberikan pria itu padanya.
“Dharma Pratama Group?” Calista sedikit tercengang, alisnya terangkat samar saat membaca nama perusahaan di halaman pertama dokumen tersebut.
Damar melirik singkat ke arahnya. “Kenapa?” ucapnya datar. “Itu perusahaan yang akan bekerja sama dengan Pranawijaya Group.”
Calista tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali ke layar tablet, namun pikirannya sudah melayang ke arah lain. Nama itu—entah mengapa—memberinya perasaan ganjil. Ada sesuatu yang bergetar di nalurinya, seolah ini bisa menjadi celah… sebuah pintu kecil yang mungkin membawanya lebih dekat pada kebenaran tentang tubuh aslinya.
Belum sempat ia menyusun benang pikirannya, pintu ruang meeting terbuka.
Seorang pria tinggi dengan setelan jas rapi melangkah masuk, diikuti oleh seorang sekretaris pria yang membawa beberapa berkas. Aura kepemimpinannya langsung terasa, tenang namun tegas.
Dimas.
Calista refleks mendongak.
Calista dan Damar sontak berdiri. Keempatnya saling membungkuk hormat sesuai etika bisnis sebelum akhirnya saling menyapa.
Calista mau tak mau harus menjabat tangan pria yang dulu—saat dirinya masih menjadi Aruna—pernah begitu gigih mengejarnya.
“Senang bertemu dengan Anda, Nona Pranawijaya,” ujar Dimas dengan senyum tipis namun hangat, genggamannya mantap dan percaya diri.
Jantung Calista berdetak sedikit lebih cepat, meski wajahnya tetap tenang. “Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Dimas,” balasnya sopan, lalu dengan cepat melepaskan jabatan tangan mereka.
“Tidak perlu terlalu formal,” kata Dimas ringan, senyumnya belum memudar. “Cukup panggil saya Dimas saja.”
Calista mengangguk kecil. “Kalau begitu, panggil saya Calista.”
Di sebelah Calista, terlihat Damar mengeras. Ia melirik interaksi singkat itu dengan jelas rasa tidak suka yang sama sekali tidak ia sembunyikan. Sebuah deheman kecil keluar dari tenggorokannya—cukup keras untuk menarik perhatian.
“Ehem.” Damar meluruskan jasnya. “Baik, Tuan Dimas, Nona Calista. Jika tidak ada lagi yang perlu diperkenalkan, mari kita mulai pembahasan kerja sama ini.”
Nada suaranya dingin, profesional… namun sarat penekanan.
Dimas melirik Damar sekilas, lalu tersenyum tipis seolah memahami ketegangan yang tiba-tiba muncul. Ia mengambil tempat duduk di seberang mereka, sementara sekretarisnya segera menyiapkan dokumen rapat.
Calista ikut duduk kembali, menyandarkan punggungnya dengan tenang. Namun di balik ekspresi datarnya, pikirannya bergejolak.
“Baiklah,” ucap Dimas akhirnya.
Ia menerima dokumen rapat yang disodorkan sekretarisnya, lalu meletakkannya rapi di atas meja sebelum membuka halaman pertama. Dengan satu gerakan tenang, ia mengangkat pandangan, menatap Calista dan Damar bergantian—tatapan seorang CEO yang terbiasa memegang kendali.
“Sebagai pembuka,” lanjut Dimas, suaranya mantap dan terukur, “izinkan saya menyampaikan garis besar produk dan skema kerja sama yang telah disiapkan oleh Dharma Pratama Group.” Dimas mengeluarkan beberapa idenya mengenai kerja sama mereka.
Damar mengangguk setuju pada beberapa poin, wajahnya tetap datar.
Namun Calista disebelahnya sedikit menambahkan, ia menyampaikan beberapa ide alternatif—penyesuaian skema kerja sama yang lebih fleksibel, penguatan posisi Pranawijaya Group di tahap awal, serta mitigasi risiko jangka panjang. Ia menyusunnya singkat namun tajam, jelas bukan pemikiran spontan.
Damar mendengarnya bahkan sampai dibuat tercengang. Ia tidak menyangka Calista— yang selama ini dikenal bodo, manja. kini bisa berbicara dengan begitu lihai, sistematis, dan… berbahaya di meja negosiasi.
Beberapa detik hening menyelimuti ruang meeting setelah Calista selesai berbicara.
Dimas tidak langsung menanggapi. Ia menyandarkan punggung ke kursi, jemarinya saling bertaut, matanya menatap Calista dengan sorot yang jauh lebih serius dibandingkan sebelumnya. Bukan lagi tatapan sopan, melainkan tatapan seorang pebisnis yang baru saja menemukan variabel tak terduga.
“Menarik,” ucap Dimas akhirnya. “Terutama soal penguatan posisi Pranawijaya Group di fase awal. Biasanya pihak investor yang meminta kendali lebih besar.”
Calista tersenyum tipis—bukan senyum ramah, melainkan senyum percaya diri seseorang yang paham betul nilai tawarnya.
“Justru karena itulah saya mengusulkannya,” jawabnya tenang. “Tahap awal adalah fase paling rapuh dalam kerja sama. Jika kendali strategi berada di tangan pihak yang memahami konsep sejak awal, risiko kegagalan bisa ditekan secara signifikan.”
Ia lalu menggeser tablet ke tengah meja, menampilkan bagan alur kerja.
“Dalam dua belas hingga delapan belas bulan pertama, Pranawijaya Group akan fokus pada pengembangan konsep, validasi pasar, dan penyesuaian produk. Dharma Pratama Group tetap memegang kendali finansial dan produksi, namun keputusan strategis utama—terutama yang berkaitan dengan arah produk—akan kami koordinasikan secara langsung.”
Damar menoleh ke arah Calista, kali ini tanpa berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Cara Calista menyampaikan ide… terlalu matang untuk sekadar hasil membaca dokumen beberapa jam saja.
Dimas mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Dan mitigasi risikonya?”
Calista tidak membutuhkan waktu lama.
“Jika target pasar tahap pertama tidak tercapai,” katanya, “kami telah menyiapkan dua skema cadangan. Pertama, reposisi produk ke segmen korporasi dan hospitality. Kedua, diversifikasi model kerja sama tanpa menambah beban modal awal di pihak Anda.”
Ia mengangkat pandangan. “Dengan begitu, kerugian bisa ditekan, dan reputasi kedua perusahaan tetap aman.”
Sekretaris Dimas secara refleks mencatat cepat.
Untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Damar melihat ekspresi puas di wajah Dimas—bukan karena dominasi, melainkan karena tantangan intelektual.
“Terus terang,” kata Dimas pelan, “saya tidak menyangka usulan ini datang dari Anda, Calista.”
Calista menyambut kalimat itu dengan tenang. “Kerja sama yang baik bukan tentang siapa yang lebih besar, Dimas. Tapi siapa yang lebih siap.”
Kalimat itu melayang di udara—ringan, namun menghantam tepat sasaran.
Damar menarik napas dalam-dalam. "Hmm, kamu sangat mirip dengan seseorang yang sangat saya kenal. Baiklah saya setuju dengan semua ide briliant mu. " Dimas berkata dengan mantap. Rapat kecil-kecil mereka akhirnya berakhir dengan baik dan puas.
"Sudah waktunya makan siang, bagaimana kita makan siang bersama, Calista? " tawar Dimas membuat Damar sontak langsung menoleh.
“Baiklah,” ujar Calista dengan nada tenang. “Suami saya bisa menunjukkan salah satu restoran di kota Arctovia yang terkenal dengan hidangannya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan senyum tipis. “suami saya sudah beberapa kali datang ke sini. Ia pernah berkata ingin mengajak saya dan menikmati makanan yang benar-benar sesuai dengan selera saya.”
"Ya, restorannya tidak jauh dari hotel. " ujar Damar sedikit bersemangat, "tempatnya juga cukup tenang untuk kita melanjutkan pembicaraan. "
Dimas tersenyum samar, ia bisa melihat kecemburuan seorang suami pada sang istri di mata Damar. “Kalau begitu,” katanya ringan, “saya tidak sabar mencicipi rekomendasinya. Biasanya, pilihan yang sudah dicoba langsung memang tidak pernah mengecewakan."
Mereka bertiga—Calista, Damar, dan Dimas—beserta sekretaris Dimas kemudian keluar dari hotel menuju restoran yang telah direkomendasikan. Langkah mereka menyusuri lobi hotel yang luas dan mewah, menarik beberapa pasang mata tamu lain yang berlalu-lalang.
Damar berjalan sedikit di depan, sikapnya tenang dan terukur, jelas sudah hafal dengan area sekitar. Calista berada di sisinya, langkahnya anggun, sementara Dimas mengikuti di belakang dengan ekspresi santai namun penuh pengamatan—seolah tengah membaca dinamika di antara pasangan itu.
Terlebih pada Calista, ia bukan tidak tau perbincangan orang-orang mengenai betapa buruknya sikap anak tunggal seorang Hendra Pranawijaya. Namun, dilihatnya ini sangat beda jauh dengan yang digosipkan.
Begitu tiba di luar, sebuah mobil telah menunggu. Sekretaris Dimas sigap membuka pintu, memastikan semuanya berjalan rapi dan efisien.
Perjalanan menuju restoran berlangsung singkat, namun cukup untuk menciptakan keheningan yang sarat makna di dalam kendaraan.
Tidak lama mereka telah tiba di restoran yang ditentukan Damar. Calista dan Damar duduk bersebelahan, sedangkan Dimas duduk di depan Calista.
Selagi menunggu pesanan makanan mereka datang, ketiganya kembali berbincang-bincang kecil mengenai kerja sama walau pembicaraan lebih di dominasi oleh Calista dan juga Dimas, Damar hanya sesekali menimpali.
"Saya dengar dengar anda cukup dekat dengan Nona Aruna, Dimas. Saya turut berduka saat mendengar berita kecelakaan pesawat yang membawa Nona Aruna di dalamnya. " Calista membuka pembicaraan yang sedari tadi di tahan untuk menanyai beberapa hal.
"Ya, saya lumayan dekat dengannya. Anda mengetahui Aruna, Calista? " penasaran Dimas.
"Ya, saya pernah sesekali bertemu dan sedikit berbincang ringan dengannya. " ujar Calista, "apakah tubuh Nona Aruna sudah ditemukan? Saya sempat membaca beritanya kemarin. " tambah Calista, ia penasaran bagaimana kondisi tubuh aslinya sekarang.
"Belum, tapi saya sudah mengerahkan beberapa tim untuk menemukannya. Pesawat itu terjatuh di sekitar perairan laut yang begitu dalam, sehingga kecil kemungkinan untuk ditemukan. "
Calista termenung sejenak, memikirkan nasib tubuh aslinya. Ia baru mengetahui bahwa jatuhnya pesawat itu di bawah perairan air laut.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭