ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30—Skakmat
“Kamu bisa sepintar ini jangan bilang karena kekuatan terkutuk itu?”
Rahmat tidak membalas provokasi itu dengan kata-kata. Sorot matanya tetap terkunci pada Alfian, sementara jarinya masih menempel statis di pelatuk. Kalimat Alfian barusan—soal "kemampuan terkutuk"—adalah konfirmasi terakhir yang ia butuhkan. Alfian tahu tentang kekuatan sistemnya.
"Jadi, kamu memang mengincarnya sejak awal," gumam Rahmat dingin.
Alfian merogoh saku celananya, gerakannya lambat seolah ingin menunjukkan bahwa ia tidak memegang senjata. Ia mengeluarkan sebuah pemantik api logam bermotif tengkorak hitam, memainkannya dengan lincah di sela jarinya.
"Mengincar? Terlalu menuduh, Mat. Aku lebih suka menyebutnya sebagai 'pengawasan aset'," Alfian tersenyum, tapi kali ini matanya memancarkan kegelapan yang pekat. "Dan kamu salah satu hal … aku bukan MR black ataupun anggota black spider. Aku tahu sosoknya, tapi itu bukan aku.”
“Omong kosong. Selain alasan yang kusebut, kamu juga punya alasan pribadi sampai berani membuat Reno bunuh diri, kamu dendam dengan perlakuan dia atas tindakan semana-mena ke Emilia bukan.”
“Rahmat kamu mempermasalahkan hal begitu, dengan kemampuan terkutuk itu?” Alfian menghela napas jijik. “Reno pantas mendapatkan hal itu. Ganjaran atas segala hal yang dia lakukan, karena itulah aku melakukannya”
Alfian melirik si penguntit gendut yang kini sudah pingsan karena syok. "Pria ini? Dia cuma pion. Sama seperti Reno. Mereka semua hanyalah variabel yang bisa kubuang kapan saja untuk menjaga narasi tetap berjalan. Tapi kamu... kamu merusak naskahku hari ini, Rahmat."
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki terdengar dari luar gudang. Bukan satu atau dua orang, tapi puluhan.
“Ucap narasi dan dialog itu semua di pengadilan, Tuan MR Black atau siapapun itu.”
Di gudang itu, lusinan para polisi sudah berada di tempat tujuan, mereka sigap memegang senjata. Anisa sang ketua osis terlihat memandu.
Ia sudah merencanakan ini dengan Rahmat sejak dia menerima pesan bahwa kemungkinan dia mengetahui siapa dalang dan pengkhianat dari balik SMA garuda ini. Alasan Rahmat mendapatkan pistol juga pinjaman dari Anisa.
Dan dia tidak menyangka murid baik-baik, teladan, dan terkenal karena mendirikan sekte garda depan Alya adalah kuncinya.
“Jangan bergerak! Alfian kamu ditahan atas tuduhan pembunuhan Reno dan atas tersangka sebagai pelaku dari dalang penculikan yang marak akhir-akhir ini! Atau paling tidak berhubungan.”
Alfian terkekeh melihat jumlah orang yang menodong dia senjata. Ia tentu cari aman.
Para murid tentu heboh bukan main, ini kedua kalinya terjadi penyelundupan polisi di sekolah, namun beruntung hari sudah sore jadi saksi mata sedikit. Hanya orang yang membeli tiket konser dan beberapa peserta lomba.
Mereka berbondong-bondong melirik ke jendela.
Alfian hanya mengangkat kedua tangannya dengan santai, pemantik api bermotif tengkorak itu masih terselip di jemarinya. Tidak ada ketakutan di wajahnya, hanya seringai tipis yang seolah mengatakan bahwa semua ini masih bagian dari permainannya.
"Wah, Kak Anisa... tidak kusangka Kakak punya koneksi secepat ini," ucap Alfian dengan nada meremehkan.
"Diam, Alfian! Kamu punya banyak hal yang harus dijelaskan di kantor polisi," bentak Anissa.
Beberapa murid yang masih berada di lingkungan sekolah mulai berkerumun di kejauhan dengan wajah pucat pasi. Bisik-bisik ketakutan mulai menjalar.
"Eh, itu si gendut penguntit yang ditangkap?!"
"Syukurlah! Ternyata dia dalangnya!"
Sesuai rencana Rahmat dan Anissa, polisi sengaja menggiring si pria gendut keluar lebih dulu dengan pengawalan ketat dan sirine yang menyalak. Tindakan ini menjadi umpan visual yang sempurna. Perhatian massa dan beberapa siswa yang tersisa tersedot sepenuhnya pada si penguntit yang meronta-ronta, membuat mereka berasumsi bahwa dialah sang penjahat utama.
Walaupun tidak sepenuhnya salah bahwa dia berdosa
“kudengar dari kesaksian polisi katanya dia penguntit yang punya niat buruk ke Alya.”
“SERIUS!??”
“Katanya dia diam-diam memfoto dewi kita Alya!”
“SERIUS IHH MENJIJIKAN BANGET!”
Di saat kerumunan sibuk menyoraki si pria gendut, dua anggota intelijen berpakaian preman bergerak cepat di dalam kegelapan gudang. Tanpa suara, mereka memiting lengan Alfian ke belakang.
KLIK!
Suara borgol besi yang mengunci pergelangan tangan Alfian terdengar dingin. Ia dibawa keluar melalui pintu belakang gudang yang terhubung langsung dengan mobil hitam tanpa atribut kepolisian. Operasi ini dilakukan dengan sangat rapi dan diam-diam; Alfian lenyap dari sekolah tanpa ada satupun murid yang menyadari bahwa "ketua sekte" favorit mereka baru saja diringkus sebagai tersangka pembunuhan.
Rahmat menurunkan pistol pinjaman dari Anisa, mengembalikannya dengan gerakan pelan. Napasnya masih menderu.
"Kerja bagus, Rahmat," bisik Anissa sembari menerima kembali senjatanya. "Tanpa analisis darimu, kita tidak akan pernah tahu kalau serigala itu ada di dalam barisan kita sendiri."
Lalu saat Alfian merasa menyerah dan memutuskan untuk memberikan penjelasan segala hal yang dia punya, langkah seorang gadis membuat dia terkejut.
Gadis dengan rambut pendek sebahu, langkahnya gontai dan terengah-engah. Emilia teman masa kecilnya datang.
“Emi?”
Emilia menatap ada tunjukan kekhawatiran lalu gadis berkata. “Ada apa ini? Al, kamu terlibat dalam hal berbahaya lagi?!
Emilia berdiri di sana, napasnya memburu, matanya yang sembab menatap tajam ke arah Alfian yang sudah terborgol. Gadis itu tidak peduli pada polisi atau Rahmat yang mematung di sana; dunianya saat ini hanya tertuju pada sahabat masa kecilnya yang kembali melakukan "kebodohan" yang sama.
"Emi? Sedang apa kamu di sini?" Alfian bergumam, suaranya yang tadinya dingin dan berwibawa mendadak goyah, kembali menjadi Alfian yang biasa dikenal Emilia.
"Lagi, Al? Kamu terlibat dalam hal berbahaya lagi?!" teriak Emilia, suaranya parau menahan tangis. "Kenapa kamu selalu begini? Selalu masuk ke dalam masalah yang bukan urusanmu, lalu membuat semua orang menyalahpahami mu!"
Para intelijen yang memegang Alfian sempat ragu, namun Rahmat memberi isyarat dengan tatapan mata agar mereka menunggu sejenak.
“Begini Emi,” lanjut Alfian. “Aku tidak terlibat hal bahaya apapun … ini cuma …” Alfian melirik Rahmat.
Dan si sultan itu paham arti lirikannya. “Tenang saja, Emilia. Temanmu ini cuma ditanya untuk kesaksian karena dia terlihat memahami sesuatu tentang kasus pak gendut itu. Jadi dia dibawa.”
“BETUL!! Hahaha jadi jangan khawatir gitu, hahaha.”
“Kamu serius? Gak bohong, kan,” kata Emilia dengan air mata.
“Iya serius!”
“Kalau begitu aku percaya!”
Dan alfian pun dibawa ke mobil, untuk ditahan dan dijadikan kesaksian sementara waktu.
“Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih padamu rahmat, kalau bukan karenamu aku tidak akan sadar bahwa serigala ternyata ada di sekitar kita sendiri.”
“Sama-sama. Kakak tidak ikut mereka untuk melakukan sesi tanya jawab?”
“Inginnya begitu, namun aku masih ada urusan dengan OSIS. Pengumuman pemenang lomba pentas seni … Rahmat, kamu juga segera berbaris dan ikuti upcara penutupan hari ini.” Ucap Anisa dan dia meninggalkan ruangan itu sendirian.