NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kecurigaan Cheonmyeong

Tiga hari telah berlalu sejak malam pertama Seol berlatih di hutan belakang. Tiga hari sejak Moojin melaporkan bahwa pemuda yang dianggap sampah itu tiba-tiba memiliki qi.

Dan Ryu Cheonmyeong belum bisa tidur nyenyak sejak saat itu.

Bukan karena takut. Tidak. Ryu Cheonmyeong tidak mengenal rasa takut. Ia adalah jenius yang lahir sekali dalam seratus tahun, murid kesayangan tetua, pewaris sah Klan Ryu. Tidak ada yang bisa membuatnya takut.

Tapi kegelisahan itu ada. Menggerogoti. Seperti ulat kecil yang mengunyah kayu dari dalam, perlahan, tanpa suara, hingga suatu hari pohon terkuat pun tumbang.

Ia tidak suka perasaan itu.

---

Kediaman Utama – Pagi Hari

Cheonmyeong duduk di beranda kediamannya, secangkir teh hangat di tangan kirinya, buku kuno tentang teknik pedang di tangan kanannya. Tapi matanya tidak membaca. Matanya tertuju pada gerbang utama desa, tempat di mana setiap pagi, Seol lewat untuk mengambil air dari sumur umum.

Itu adalah tugas yang diberikan kepada keluarga cabang. Tugas rendahan yang tidak pantas bagi seorang pendekar sejati.

Namun pagi ini, Cheonmyeong melihat sesuatu yang berbeda.

Cara Seol berjalan.

Pemuda itu bergerak dengan langkah yang mantap, tidak lagi tertunduk seperti biasanya. Bahunya tidak lagi membungkuk. Matanya—meski masih tampak lelah—menatap lurus ke depan, bukan ke tanah. Dan yang paling mencurigakan: napasnya.

Cheonmyeong, dengan indra qi-nya yang tajam, bisa merasakan irama napas Seol dari kejauhan. Itu adalah irama yang teratur, dalam, dan terkendali—irama yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sedang melatih pengendalian qi.

Dia berlatih. Diam-diam.

Cheonmyeong meletakkan cangkir tehnya. Suara keramik menyentuh kayu terdengar nyaring di pagi yang sunyi.

“Moojin.”

Bayangan itu muncul dari balik tiang kayu, berlutut dengan satu lutut. “Tuan.”

“Apa yang kau temukan dalam tiga hari terakhir?”

Moojin mengangkat wajahnya. Di bawah topeng hitam yang menutupi separuh wajahnya, matanya tampak gelisah—sesuatu yang jarang terjadi pada seorang pendekar bayangan sekelasnya.

“Dia sangat berhati-hati, Tuan. Tidak kembali ke gua. Tidak pergi ke hutan belakang lagi. Dia hanya melakukan tugas sehari-hari seperti biasa. Tapi…”

“Tapi?”

“Saya melihat tangannya, Tuan. Saat ia mengambil air dari sumur, tangannya tidak gemetar seperti dulu. Dan saat ia membawa dua ember penuh di kedua tangan, napasnya tidak terengah-engah. Seorang dengan meridian rusak seharusnya tidak bisa melakukan itu.”

Cheonmyeong menyipitkan matanya. “Jadi dia menyembunyikannya.”

“Sepertinya begitu, Tuan. Dia pura-pura lemah di depan orang lain, tapi saya yakin ada sesuatu yang telah berubah dalam dirinya.”

Keheningan menyelimuti beranda. Angin pagi bertiup lembut, membawa aroma dedaunan basah dari hutan.

“Diam-diam kau mengawasinya,” kata Cheonmyeong akhirnya. “Jangan biarkan ia tahu. Aku ingin tahu sejauh apa perkembangannya. Jika ia benar-benar mendapatkan sesuatu dari gua itu…”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi Moojin mengerti. Ia membungkuk, lalu menghilang seperti kabut.

Cheonmyeong kembali menatap ke arah sumur. Seol sudah tidak ada di sana. Tapi jejak napasnya masih terasa di udara—sebuah tanda yang tidak akan terdeteksi oleh kebanyakan orang, tetapi bagi Cheonmyeong, itu adalah bukti.

Kau menyembunyikan sesuatu, sepupu kecilku.

Ia tersenyum. Bukan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan di depan tetua. Ini adalah senyum yang berbeda—senyum seorang predator yang baru menemukan jejak mangsa yang menarik.

“Aku akan mencari tahu,” bisiknya. “Dengan caraku sendiri.”

---

Di Kediaman Cabang – Siang Hari

Seol sedang membersihkan lumbung padi ketika ia merasakan tatapan itu lagi.

Sudah tiga hari sejak malam di hutan belakang. Tiga hari sejak ia merasakan ada yang mengawasinya. Sejak saat itu, ia tidak kembali ke gua, tidak pergi ke hutan belakang, bahkan tidak berani melakukan latihan qi di siang hari.

Gu mengajarkannya sesuatu yang lebih berharga daripada teknik pedang: kesabaran.

“Musuhmu sudah curiga,” kata Gu saat mereka berbicara melalui pikiran—sesuatu yang bisa mereka lakukan setelah kontrak jiwa terjalin. “Jika kau terus berlatih seperti kemarin, kau akan tertangkap. Dan jika kau tertangkap, kau akan mati. Bukan karena mereka akan membunuhmu, tetapi karena mereka akan mengambil batu ini darimu, dan tanpa batu ini, meridianmu akan kembali rusak.”

Seol menggerakkan sapu lidi di tangannya dengan gerakan lambat, berusaha terlihat seperti biasa. Tapi pikirannya bekerja cepat.

“Apa yang harus kulakukan?” pikirnya.

“Kau harus belajar menyembunyikan qi-mu. Itu adalah pelajaran kedua. Sama pentingnya dengan mengumpulkan qi. Bahkan lebih penting untuk saat ini.”

“Menyembunyikan qi? Tapi qi-ku masih sangat kecil. Apa perlu disembunyikan?”

Gu mendengus dalam benaknya. “Kau pikir kecil itu tidak terdeteksi? Kau salah. Orang dengan indra tajam—seperti sepupumu yang sombong itu—bisa merasakan qi sekecil apa pun jika mereka fokus. Tapi jika kau belajar menyembunyikannya, mereka tidak akan bisa merasakannya meski kau berdiri tepat di depan mereka.”

Seol mengangguk pelan, lalu segera sadar bahwa gerakan itu mungkin terlalu mencolok. Ia berpura-pura mengusap keringat di dahinya.

“Bagaimana caranya?”

“Ingat pusaran yang kau ciptakan? Sekarang, bayangkan kau membalikkan pusaran itu. Alih-alih menarik qi ke dalam, kau menekan qi ke dalam inti tubuhmu—sekecil mungkin, sekecil butiran pasir. Tutup semua jalan keluar. Buat qi-mu seolah tidak ada.”

Seol mencoba membayangkannya. Ia merasakan qi kecil yang telah ia kumpulkan selama tiga hari—masih sangat sedikit, seperti genangan air di telapak tangan—mulai bergerak. Ia mendorongnya ke pusat dadanya, menekannya, memadatkannya.

Qi itu menolak. Seperti air yang ditekan dengan tangan, ia berusaha keluar dari celah-celah jari.

“Jangan memaksa,” peringat Gu. “Perlahan. Qi adalah teman, bukan budak. Katakan padanya untuk bersembunyi, jangan perintahkan.”

Seol menarik napas dalam-dalam. Ia membayangkan qi-nya sebagai anak kecil yang ketakutan, bersembunyi dari musuh di balik semak-semak. Tenang. Diam. Jangan bergerak.

Perlahan, qi itu mulai mereda. Genangan air di telapak tangannya berubah menjadi tetesan, lalu menjadi embun, lalu menjadi sesuatu yang sangat kecil hingga hampir tidak ada.

Lalu benar-benar tidak ada.

Seol membuka matanya. Ia tidak bisa merasakan qi-nya sama sekali. Seolah-olah ia kembali menjadi dirinya yang dulu—kosong, hampa, tidak berarti.

Tapi ia tahu itu ada. Di suatu tempat di dalam dadanya, di tempat yang paling tersembunyi, qi itu menunggu.

“Bagus,” kata Gu, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, nada suaranya terdengar puas. “Kau pembelajar yang cepat. Mungkin karena kau sudah terbiasa menjadi tidak terlihat.”

Seol tersenyum kecil. “Itu satu-satunya keahlian yang aku miliki selama ini. Menghilang.”

“Sekarang kau akan menggunakannya sebagai senjata.”

---

Malam Hari – Lorong Menuju Kediaman Utama

Cheonmyeong berjalan menyusuri lorong kayu menuju ruang pertemuan keluarga. Panggilan mendadak dari tetua tertua, Ryu Dohwan, membuatnya harus hadir meski hari sudah larut.

Ia tidak menyukai panggilan mendadak. Biasanya itu berarti ada masalah.

Saat ia memasuki ruangan, ia melihat tiga tetua sudah duduk di tempat mereka. Ryu Dohwan di tengah, wajahnya keriput namun matanya masih tajam seperti elang. Di sampingnya, tetua kedua Ryu Jong—saudara dari kakek Cheonmyeong—dan tetua ketiga Ryu Myeong, yang mengurusi urusan luar klan.

“Duduk, Cheonmyeong,” kata Ryu Dohwan dengan suara berat.

Cheonmyeong membungkuk hormat lalu duduk di bantal sutra yang telah disediakan. “Apa yang menyebabkan sabeom-nim memanggil di larut malam?”

Ryu Dohwan tidak langsung menjawab. Ia mengambil selembar kertas dari lengan bajunya dan meletakkannya di atas meja.

“Ini surat dari Sekte Pedang Surgawi,” katanya.

Cheonmyeong mengerutkan kening. “Sekte Pedang Surgawi? Apa urusan mereka dengan klan kecil seperti kita?”

“Bukan dengan klan. Dengan Murim Tengah secara keseluruhan.” Ryu Dohwan menghela napas. “Mereka mengumumkan bahwa tiga tahun lagi akan diadakan Turnamen Persilatan Sejati. Semua klan dan sekte diundang untuk mengirim wakil terbaik mereka.”

Cheonmyeong merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Turnamen Persilatan Sejati adalah ajang paling bergengsi di Murim. Pemenangnya tidak hanya mendapat kekayaan dan ketenaran, tetapi juga kesempatan untuk berguru pada pendekar-pendekar legendaris.

“Dan klan kita?” tanyanya, berusaha tetap tenang.

“Kita hanya punya satu kuota,” kata tetua kedua, Ryu Jong, dengan nada tidak puas. “Dan karena kau adalah murid terbaik kita, kau akan mewakili Klan Ryu.”

Cheonmyeong menunduk untuk menyembunyikan senyumnya. “Aku tidak akan mengecewakan klan.”

“Tapi,” potong Ryu Dohwan, “ada satu syarat yang tidak biasa. Sekte Pedang Surgawi meminta agar setiap klan yang berpartisipasi juga mengirimkan satu ‘murid cadangan’—biasanya murid terlemah mereka—sebagai bentuk… pemerataan kesempatan.”

Suasana di ruangan berubah. Cheonmyeong mengangkat kepalanya, senyumnya menghilang.

“Murid cadangan?”

“Mereka bilang itu untuk memberi kesempatan pada mereka yang kurang berbakat untuk merasakan atmosfer persilatan sejati,” kata Ryu Myeong dengan nada sinis. “Omong kosong belaka. Mereka hanya ingin mempermalukan klan-klan kecil dengan mempertontonkan kelemahan kita.”

“Siapa yang akan dikirim?” tanya Cheonmyeong, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

Ryu Dohwan menatapnya dengan mata yang sulit dibaca. “Berdasarkan hasil ujian tahun ini, satu-satunya yang memenuhi kriteria ‘murid terlemah’ adalah Ryu Seol.”

Nama itu menggantung di udara seperti pisau yang belum jatuh.

Cheonmyeong terdiam sejenak. Pikirannya berputar cepat. Di satu sisi, ini adalah kesempatan sempurna untuk mempermalukan Seol di depan seluruh dunia persilatan. Di sisi lain…

Jika dia benar-benar mendapatkan sesuatu dari gua itu, tiga tahun mungkin cukup baginya untuk berkembang.

“Keputusan sudah bulat,” kata Ryu Dohwan, seolah membaca pikirannya. “Seol akan pergi sebagai murid cadangan. Tidak ada yang mengharapkan apa pun darinya. Fokus utamamu adalah membawa nama Klan Ryu ke puncak turnamen.”

Cheonmyeong membungkuk. “Aku mengerti, Sabeom-nim.”

Ia keluar dari ruangan dengan langkah tenang, tetapi di dalam hatinya, badai sedang berkecamuk.

Tiga tahun. Cukup lama bagi sampah untuk menjadi sesuatu. Atau cukup lama bagiku untuk menghancurkannya sebelum ia sempat tumbuh.

---

Di Gubuk Cabang – Malam yang Sama

Seol terbangun dari tidurnya karena suara Gu yang mendesak dalam benaknya.

“Bangun. Ada yang mendekat.”

Seol duduk dengan cepat, matanya menyipit ke arah jendela. Gelap. Hanya ada bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin.

“Siapa?”

“Seseorang dengan qi yang lebih kuat darimu. Jauh lebih kuat. Jangan bergerak. Jangan bernapas terlalu keras. Biarkan ia mengawasi.”

Seol menuruti. Ia duduk diam di tempat tidurnya, matanya setengah tertutup, berusaha terlihat seperti sedang tidur.

Dan kemudian ia merasakannya.

Seperti ada angin dingin yang masuk ke dalam ruangan tanpa membuka jendela. Seperti ada beban tak terlihat yang menekan dadanya. Itu adalah tekanan qi—sesuatu yang Gu jelaskan sebagai aura yang dipancarkan oleh pendekar kuat untuk mengintimidasi lawan.

Seol belum pernah merasakan ini sebelumnya. Tapi sekarang ia merasakannya dengan jelas.

Dan ia tahu persis dari siapa tekanan itu berasal.

Cheonmyeong.

Tekanan itu bertahan selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad. Kemudian, perlahan, ia mencair, menghilang seperti kabut pagi yang terkena sinar matahari.

Seol menghela napas panjang setelah yakin bahwa kehadiran itu benar-benar pergi. Tangannya gemetar—bukan karena takut, tetapi karena konsentrasi yang terlalu keras untuk menyembunyikan qi-nya.

“Kau melakukannya dengan baik,” kata Gu. “Dia tidak merasakan qi-mu. Dia hanya melihat apa yang ingin dia lihat: anak cabang yang lemah dan tidak berguna.”

Seol mengepalkan tangannya. “Dia datang untuk menguji. Untuk memastikan.”

“Ya. Dan kau lulus ujian itu. Tapi ini baru awal.” Suara Gu menjadi lebih serius. “Dia tidak akan berhenti di sini. Orang seperti dia—yang terbiasa menjadi yang terbaik—tidak bisa mentolerir ketidakpastian. Dia akan mengujimu lagi. Dengan cara yang lebih langsung.”

“Seperti apa?”

“Seperti tantangan. Duel. Dia akan mencari alasan untuk bertarung denganmu di depan umum, untuk mempermalukanmu, untuk memastikan bahwa kau tidak lebih dari sampah yang ia kira.”

Seol terdiam. Bayangan duel dengan Cheonmyeong—jenius yang telah mencapai level Hwanung sejak usia enam belas tahun—terasa seperti mimpi buruk yang akan menjadi nyata.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Kau tidak bisa menolak jika dia menantangmu di depan orang banyak. Itu akan membuatmu kehilangan muka, dan klan akan mengusirmu.” Gu berhenti sejenak. “Tapi kau juga tidak bisa menerima. Dengan kekuatanmu saat ini, kau akan kalah. Telak.”

“Jadi?”

“Jadi kau harus membuatnya ragu. Kau harus menunjukkan sesuatu yang cukup untuk membuatnya berpikir dua kali, tetapi tidak cukup untuk membuatnya yakin bahwa kau ancaman. Kau harus bermain di batas antara terlihat lemah dan terlihat terlalu berbahaya untuk diganggu.”

Seol menghela napas. “Kedengarannya mustahil.”

“Itulah seni bertahan hidup di dunia persilatan, bocah. Bukan selalu tentang siapa yang terkuat. Tapi tentang siapa yang paling cerdik.”

Seol berbaring kembali di tempat tidurnya. Matanya terbuka lebar di kegelapan, menatap langit-langit gubuk yang berlubang.

Cheonmyeong akan menantangnya. Itu bukan lagi pertanyaan “jika”, tetapi “kapan”.

Dan ketika saat itu tiba, ia harus siap.

---

Di Kediaman Utama – Setelah Tengah Malam

Cheonmyeong duduk di kamarnya, pedang panjangnya tergeletak di pangkuan. Ia menutup mata, mengingat kembali apa yang ia rasakan saat mengintai gubuk Seol tadi.

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada qi. Tidak ada getaran. Tidak ada tanda-tanda latihan. Hanya seorang pemuda kurus yang tidur dengan napas tidak teratur, seperti biasanya.

Apakah Moojin salah? Apakah aku terlalu paranoid?

Ia menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak pernah salah dalam menilai qi. Ada sesuatu di hutan belakang tiga hari lalu. Moojin tidak mungkin salah.

Tapi malam ini, Seol benar-benar kosong. Seperti orang yang tidak pernah memiliki qi sedetik pun dalam hidupnya.

Dia menyembunyikannya?

Mustahil. Menyembunyikan qi membutuhkan teknik yang bahkan tidak diajarkan di Klan Ryu. Teknik itu hanya dimiliki oleh sekte-sekte besar atau pendekar bayangan tingkat tinggi. Tidak mungkin seorang anak cabang yang tidak pernah berlatih bisa menguasainya.

Lalu apa yang terjadi?

Cheonmyeong membuka matanya. Di cermin di depannya, ia melihat wajahnya sendiri—tampan, tegas, tetapi ada kerutan kecil di antara alisnya yang tidak bisa ia hilangkan.

“Tidak masalah,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Aku akan mencari tahu. Jika kau menyembunyikan sesuatu, aku akan menemukannya. Dan jika kau benar-benar mendapatkan kekuatan dari gua itu…”

Ia menggenggam gagang pedangnya erat-erat.

“Aku akan mengambilnya. Dengan atau tanpa izinmu.”

Pedang itu bergetar pelan, seolah merasakan getaran kegelapan dalam hati tuannya.

Di luar, angin malam bertiup lebih kencang. Daun-daun kering beterbangan di udara, menari dalam pusaran kecil sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Pusaran yang sama seperti yang diajarkan Gu pada Seol.

Tapi tidak ada yang menyadarinya.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!