NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24 : Obsesi

“Saat itu ego ku lebih tinggi. Aku tidak ingin melihat mu yang justru aku akan semakin sulit melepaskan mu. Mengirimkan mu sebuah pilihan untuk melupakan mu.” Jawab Lu terdengan lirih dan pilu.

“Ternyata—- aku tetap tidak bisa. Tapi melihat kau berada ditangan yang tepat, aku rasa aku bisa melepaskan mu.”

“Hahaha siapa maksud mu? Pria gila itu?”

“Jaga ucapan mu Lin. Dia seorang pangeran negara Xinglan.” Ujar Lu beranjak berdiri untuk membuka jendela kamarnya, “Tapi aku rasa dia membiarkan mu melanggar kehormatannya.”

“Melanggar kehormatannya?” Bisik Alin dalam mencemooh perkataannya, “Dia hanya pria arogan yang memaksakan tiap kehendaknya, berbanding jauh dengan dirimu.”

“Dia memiliki caranya sendiri Lin.” Senyum Lu, “Seorang pangeran Xinglan dididik untuk menjaga martabat di atas nyawanya sendiri. Namun, dia membiarkanmu bicara sekasar itu tentangnya, membiarkanmu masuk ke ruang pribadinya, bahkan membiarkanmu melihat sisi lemahnya yang tidak pernah diperlihatkan pada dunia."

Lu menghela napas panjang, uap tipis keluar dari mulutnya karena udara malam yang menggigit. "Jika itu bukan bentuk penyerahan kehormatan demi seorang wanita, lalu apa namanya?"

“Apa ini—“ Alin tergelak menahan tawanya, “Kau seakan sedang memperbaiki citranya di mataku. Jangan katakan kau merelakan nya hanya karena dia seorang pangeran? Apa dia menyuruh mu? Dia mengatakan sesuatu padamu?” Tawa Alin dalam senyuman kesalnya.

“Bukan karena tihta atau gelarnya Lin.” Potong Lu cepat, suaranya kini kembali tenang namun tegas. Ia berbalik, menatap langsung ke manik mata Lin. “Tapi karena di matanya, aku melihat ketakutan yang sama dengan yang kupunya, ketakutan akan kehilanganmu. Bedanya, dia memiliki kekuatan untuk melindungimu yang tidak aku miliki saat ini."

“Ck—- aku bahkan tidak perlu perlindungan darinya. Bahkan perkara pembangunan itu saja, aku yang berusaha melindunginya.” Kesal Alin.

“Lin…” Lu mengalah atas debat yang tak akan ada akhirnya, “Jika begitu lepaskan perasaan mu. Jangan terikat terlalu dalam. Lakukan seperti yang selama ini kau lakukan.” Nasehatnya.

“Sekali kau jatuh terlalu dalam karenanya, terlebih dia— aku tidak tahu bagaimana cara kalian akan mengakhirinya. Menyisakan rasa sakit.” Lanjut Lu kembali.

“Mingming—-“

“Kembalilah Alin. Ini sudah larut.” Sela Lu lembut, “Aku khawatir pengawal pangeranmu itu menyadari bahwa kau menghabiskan terlalu banyak waktu di kamar pria lain."

“Minghan aku—-“

Tepat sebelum Alin menyelesaikan kalimatnya, lampu gantung di kamar hotel tersebut mendadak berkedip. Detik berikutnya, pintu kamar terbuka dengan bunyi klik elektronik yang halus.

Seorang pria dengan setelan jas hitam sempurna melangkah masuk. Bukan Rei, melainkan Yuchen.

"Tuan Lu," sapa Yuchen dengan nada formal yang dingin. "Mobil untuk pengantaran Anda ke bandara besok pagi sudah dikonfirmasi. Dan Yang Mulia Pangeran Yan menjamin kepulangan mu akan aman.”

Kini matanya beralih ke Alin. "Dokter Yi, Yang mulia sedang menunggu Anda di restoran lantai bawah. Beliau menyarankan agar Anda tidak membuat beliau harus naik ke lantai ini secara pribadi."

Ancaman terselubung itu membuat darah Alin berdesir dingin. Ia tahu Rei tidak sedang menggertak. Jika pria itu melangkah ke kamar ini, ketenangan yang mereka bangun sejak semalam akan hancur seketika.

Alin melangkah mendekati sahabatnya Lu Minghan, “Maafkan aku Ming. Bersiaplah untuk penerbanganmu besok. Jaga dirimu baik-baik di Neterdhem."

Lu menatap Alin dengan tatapan enggan melepas Alin meski ia sudah mengakhirinya, namun ia tahu ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan perintah mutlak sang pangeran di negaranya sendiri. "Terima kasih untuk segalanya, Alin. Ikuti kata hatimu.” Pinta nya sebelum pintu kamar itu tertutup rapat.

...****************...

Di restoran privat lantai bawah hotel yang telah dikosongkan dari pengunjung lain, Rei duduk di sudut ruangan yang menghadap ke taman kaca dalam ruangan. Pria itu tampak menawan dengan kemeja rajut gelap yang santai namun tetap memancarkan aura aristokrat yang pekat. Sang pangeran datang menjemput wanitanya.

Saat Alin melangkah mendekat, Rei membalikkan tubuhnya. Sepasang mata elangnya mengunci pandangan Alin, dan senyum tipis yang mematikan terukir di bibirnya. Ruangan tertutup itu terasa dingin dan sunyi.

"Kau mengabaikan panggilan ku beberapa hari ini. Aku kira kau begitu sibuk sampai kau akhirnya meluangkan waktu untuk bertemu Tuan Lu.” Ujar Rei mendekati wanita itu.

Alin tak menghindar, ia tetap berdiri ditempatnya. Menunjukkan bahwa dirinya tidak mudah takluk oleh kekuasaan pangeran. Ia tak akan membiarkan pria itu mendominasinya.

"Kau mengawasiku lagi, Rei. Kau berjanji akan memberiku ruang."

"Aku memberimu ruang untuk menyelesaikan urusanmu dengan Tuan Lu," sahut Rei tenang, "Dan urusan itu sudah selesai lima menit yang lalu saat ia menyuruh mu untuk keluar dari kamarnya. Sekarang, waktumu adalah milikku."

“Apa kau menyadap pembicaraan kami?” Kesal Alin tak percaya.

“Aku hanya berhati-hati. Kamar itu ditempati oleh keluarga berpengaruh di wilayah Orinthal. Aku tidak ingin ada kesalahan lagi dengan membiarkannya—“

“Kau bahkan belum mengakui kesalahanmu padaku.” Keluh Alin memaling bola matanya.

“Setidaknya aku memperbaiki kesalahan ku dan tidak akan mengulanginya kembali.” Ujar Rei lembut.

Teringat oleh Alin bagaimana dalam hitungan beberapa jam sang Pangeran membalik kekacauan yang ada.

"Kau mengubah dokumen itu, menarik ekstradisi, dan membiarkan laporan WHO lolos. Mengapa kau melakukannya? Untuk apa membantuku, jika awalnya kau hanya ingin menyudutkan ku dan membersihkan nama mu? Apa kau anggap aku ini permainan mu?”

"Karena aku ingin kau tahu, Alin, bahwa aku bisa menjadi apa pun yang kau inginkan," bisik Rei, suaranya rendah dan penuh penekanan yang intens. "Kau ingin aku menjadi pangeran yang adil? Aku bisa menghancurkan aliansi politikku sendiri demi menyelamatkan rakyat yang bahkan mereka bukanlah rakyatku. Kau ingin aku menjadi pria yang terhormat? Aku bisa membiarkan musuhku pergi dengan selamat karena kau yang memintanya."

Jemari panjang Rei bergerak, menyelipkan sehelai rambut Alin ke belakang telinganya, lalu jarinya turun mengusap rahang Alin yang tegang dengan kelembutan yang posesif. Sialnya, sentuhan dan aroma parfume pria itu, bahkan sudah mendominasi Alin. Degup jantung wanita itu semakin kencang berdetak.

"Aku dapat menjadi seseorang yang kau inginkan. Tapi kesabaran ku ada batasnya, kau dapat melihat sisi ku yang mengerikan jika hal yang ku inginkan tidak dapat ku raih.”

Alin menatap tepat ke dalam mata Rei. Logikanya terus berteriak bahwa pria di depannya ini adalah seorang sosiopat manipulatif yang egois. Namun, di bawah sentuhan hangat tangan Rei dan pengorbanan gila yang pria itu lakukan demi menuruti standarnya, tembok pertahanan Alin yang dibangun bertahun-tahun mulai runtuh, menyisakan sebuah perasaan asing yang mengerikan: rasa aman yang mulai ia nikmati di dalam kegilaan sang pangeran.

"Kau gila, Rei," bisik Alin, suaranya bergetar, bukan lagi karena amarah, melainkan karena kepasrahan yang mulai merayap.

Rei tersenyum, sebuah senyuman pemenang yang penuh kemenangan emosional. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Alin, membisikkan kata-kata yang mengunci takdir sang dokter selamanya.

"Aku memang gila, Dokter Yi. Dan kegilaan ini sepenuhnya adalah hasil karyamu."

“Jangan melimpahkan beban obsesimu padaku, Rei. Kau memilih untuk menjadi seperti ini." Alin menepis kasar tangan Rei, memutuskan kontak kulit yang sedari tadi membakar wajahnya. Suara tamparan pelan dari gesekan kulit itu menggantung di udara yang menyesakkan.

“Apa kau akan selalu melimpahkan beban mu pada ku? Dan akhirnya aku juga yang membereskannya? Atau kali ini—“

Alin kali ini tidak melangkah mundur, sebaliknya ia mengambil langkah berani, memangkas jarak hingga ia bisa merasakan panas dari tubuh sang pangeran. Melangkah perlahan mendekati pangeran hingga pria itu meneggakkan tubuhnya.

Rei tidak bergeming. Ia tak mundur, hanya memberi jarak dari batas tinggi tubuhnya, menegakkan diri, menjulang seperti bayangan yang siap menelan cahaya. Rei memberikan ruang bagi Alin untuk mendekat, namun matanya mengunci setiap pergerakan wanita itu dengan intensitas yang nyaris bersifat predator.

Alin mendongak, menantang kegelapan di dalam mata Rei dengan senyum miring yang provokatif—sebuah senyum yang menunjukkan bahwa wanita itu tidak lagi sekadar menjadi mangsa yang ketakutan.

“Apa aku perlu gunakan cara ku untuk menghentikan niat mu bersama ku?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!