Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Pejabat Korup
Hujan di Mobelle tidak berhenti selama tiga hari. Langit berwarna abu-abu pekat, seolah menanggung beban dosa yang tak terhitung jumlahnya. Di dalam istana, ketegangan juga meningkat setinggi air sungai yang meluap.
Floren duduk di ruang kerjanya, sebuah ruangan kecil di samping perpustakaan pribadi. Tidak ada hiasan mewah di sini, hanya tumpukan dokumen, peta, dan sebuah meja kayu solid. Ia sedang memeriksa laporan keuangan dari Provinsi Selatan—wilayah yang paling menderita di bawah pemerintahan ibunya dulu.
Angka-angka itu tidak masuk akal.
"Panen gandum turun 40%," gumam Floren, jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kertas perkamen. "Tapi pajak yang dikumpulkan naik 200%. Ke mana perginya selisihnya?"
Di hadapannya, berdiri Gubernur Halloway. Seorang wanita paruh baya dengan tubuh gemuk, wajah bulat yang selalu tersenyum, dan mata licik seperti tikus got. Dia adalah salah satu pejabat tertua yang selamat dari kudeta Floren, berkat kemampuannya berpindah haluan dengan cepat dan menyuap jenderal-jenderal kunci.
"Oh, Yang Mulia," kata Halloway dengan suara manis yang dibuat-buat. "Anda tahu bagaimana cuaca akhir-akhir ini. Badai... hama... petani malas. Kami harus bekerja ekstra keras untuk memastikan pasokan ke ibukota tetap lancar. Pajak tambahan itu adalah 'biaya administrasi' dan 'dana darurat'."
Floren menatapnya datar. "Dana darurat? Untuk apa? Membeli perhiasan baru untuk suami-suami Anda? Atau membangun villa musim panas di tepi danau?"
Wajah Halloway memucat sejenak, tapi ia segera menutupinya dengan tawa gugup. "Ah, Yang Mulia selalu bercanda. Gosip-gosip jahat dari musuh-musuh politik Anda, pasti."
Floren tidak tersenyum. Ia mengambil pena bulu, mencelupkannya ke tinta hitam, dan menandatangani sebuah surat perintah.
"Gubernur Halloway," kata Floren pelan. "Anda diberhentikan dari jabatan efektif hari ini. Aset Anda akan disita untuk membayar kembali pajak yang diperas dari rakyat Provinsi Selatan. Dan Anda akan diadili besok pagi di Alun-Alun Utama."
Hening.
Halloway terdiam. Senyumnya hilang. Matanya membelalak.
"Anda... Anda tidak bisa!" desisnya, suaranya berubah menjadi jeritan histeris. "Saya telah melayani kerajaan ini selama dua puluh tahun! Saya punya koneksi! Saya punya teman-teman di Dewan Menteri! Ibu Anda dulu menghargai saya!"
"Ibu saya mati," potong Floren dingin. "Dan teman-teman Anda di Dewan Menteri terlalu sibuk menghitung uang suap untuk menyelamatkan Anda. Keluar."
Dua penjaga wanita memasuki ruangan, menyeret Halloway yang menjerit-jerit dan mengutuk.
"Sialan kau, anak haram! Kau akan menyesal! Rakyat akan membencimu! Kau akan mati tanpa tubuh, Mereka akan—"
Pintu tertutup, memutus teriakannya.
Floren menghembuskan napas panjang. Tangannya gemetar sedikit. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang mendidih. Setiap angka di laporan itu mewakili keluarga yang kelaparan. Anak-anak yang meninggal karena kurang gizi. Petani yang bunuh diri karena utang.
Halloway bukan satu-satunya. Ada puluhan pejabat seperti dia. Parasit yang menghisap darah rakyat sambil bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Memori Floren asli bergolak. Mereka harus dihukum. Di depan umum. Agar mereka takut.
Amel, di dalam jiwa itu, merasa ngeri. Eksekusi publik? Itu barbar. Itu akan membuat mereka membencimu lebih lagi.
Tapi logika Amel yang rasional menyadari kebenaran pahit: Dalam sistem yang korup hingga ke akar-akarnya, hukum tertulis tidak cukup. Orang-orang seperti Halloway tidak percaya pada penjara. Mereka percaya pada kekuatan. Dan satu-satunya bahasa yang mereka pahami adalah ketakutan akan kematian.
Floren berdiri. Ia harus melakukan ini. Bukan karena ia menikmati kekerasan, tapi karena ia ingin menghentikan kekerasan yang lebih besar: kelaparan massal.
Keesokan paginya, Alun-Alun Utama dipenuhi ribuan warga.
Langit masih mendung, angin dingin menerbangkan debu dan daun kering. Rakyat berkumpul dengan wajah-wajah lelah, mata cekung, dan pakaian compang-camping. Mereka tidak datang karena ingin melihat hiburan. Mereka datang karena diperintahkan. Dan karena rasa penasaran yang melanda.
Di tengah alun-alun, sebuah panggung kayu sederhana didirikan. Di atasnya, berdiri Floren, mengenakan jubah hitam polos tanpa hiasan emas. Di sampingnya, Jenderal Kaelia berdiri tegak, tangan di gagang pedang, wajahnya seperti topeng batu.
Di lantai panggung, berlutut sepuluh orang. Gubernur Halloway ada di antara mereka, bersama dengan kepala bea cukai, menteri pekerjaan umum, dan beberapa bangsawan tingkat rendah lainnya. Mereka semua terikat, mulut mereka disumbat kain agar tidak bisa berteriak fitnah.
Rakyat berbisik-bisik.
"Itu Gubernur Halloway..."
"Dia yang menaikkan pajak garam tahun lalu..."
"Apa yang akan dilakukan Ratu? Menyiksanya?"
"Mungkin dia akan menjual mereka sebagai budak..."
Floren melangkah ke mikrofon amplifikasi sihir (sebuah kristal suara yang diletakkan di depan podium). Suaranya bergema jelas di seluruh alun-alun, dingin dan tajam.
"Warga Mobelle," mulai Floren.
Ribuan kepala menunduk, lalu perlahan-lahan mengangkat wajah mereka. Mata mereka penuh kebencian, ketakutan, dan kecurigaan.
"Kalian mengenal orang-orang ini," lanjut Floren, menunjuk para tahanan. "Mereka adalah pejabat kalian. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya melindungi kalian, memastikan jalan kalian aman, makanan kalian cukup, dan pajak kalian adil."
floren berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Tapi selama sepuluh tahun terakhir, mereka telah mencuri dari kalian. Mereka mengambil roti dari mulut anak-anak kalian untuk membeli anggur mahal. Mereka mengambil atap dari rumah kalian untuk membangun istana pribadi. Mereka membiarkan jembatan runtuh sehingga dagangan kalian jatuh ke jurang, hanya agar mereka bisa memungut biaya perbaikan fiktif."
Suara geraman mulai terdengar dari kerumunan. Kebencian yang selama ini tertahan mulai mendidih.
"Saya tidak merebut takhta ini untuk menjadi tiran," kata Floren, suaranya meninggi. "Saya merebutnya untuk membersihkan kotoran yang telah membusuk di tubuh kerajaan ini. Ibu saya mungkin lemah. Tapi saya tidak."
Floren mengeluarkan gulungan perkamen dari sakunya.
"Ini adalah daftar kejahatan mereka. Bukti-bukti transfer uang ilegal. Surat-surat perintah pemerasan. Kesaksian dari rakyat yang telah ditindas. Semua telah diverifikasi oleh Kantor Audit Kerajaan yang baru saya bentuk."
Ia melemparkan gulungan itu ke arah kerumunan. Beberapa pemuda menangkapnya dan mulai membacakannya dengan lantang. Bisikan-bisikan berubah menjadi teriakan marah.
"Penipu!"
"Pencuri!"
"Bunuh mereka!"
Floren menunggu sampai keributan mencapai puncaknya. Lalu, ia mengangkat tangannya. Hening tiba-tiba.
"Hukum Mobelle menyatakan bahwa pengkhianatan terhadap rakyat dihukum mati," kata Floren. "Tidak ada pengampunan. Tidak ada suap. Hanya keadilan."
Ia menoleh ke Kaelia. "Jenderal."
Kaelia melangkah maju. Ia menarik pedangnya. Bilah baja itu berkilau dingin di bawah langit abu-abu.
Para tahanan mulai meronta-ronta. Mata Halloway membelalak ketakutan. Ia mencoba berteriak lewat sumbatan kainnya, air liur mengalir dari sudut bibirnya.
Floren tidak menoleh lagi. Ia tidak bisa. Jika ia melihat mata Halloway, ia mungkin akan ragu. Dan keraguan adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki.
"Eksekusi," perintah Floren.
Kaelia mengangguk. Dengan gerakan cepat dan efisien, tanpa drama, tanpa kesenangan sadis, ia dan empat algojo lainnya menebas leher para tahanan.
Drak.
Darah menyembur, mewarnai kayu panggung menjadi merah tua. Tubuh-tubuh itu roboh.
Kerumunan terdiam sesaat, terpaku oleh kejutan dan horor. Lalu, seorang wanita tua di barisan depan menangis. Bukan karena sedih, tapi karena lega.
"Dia melakukannya..." bisik wanita itu. "Dia benar-benar membunuh mereka."
Floren menatap mayat-mayat itu. Perutnya mual. Jantungnya berdebar kencang. Ia merasa kotor. Darah di tangannya (meski secara metaforis) terasa berat.
Tidak ada cara bersih untuk melakukan hal kotor, batinnya.
Ia menoleh ke arah rakyat. Wajah-wajah mereka telah berubah. Kebencian murni tadi kini bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Mereka tidak lagi melihat Floren sebagai gadis muda yang naif. Mereka melihatnya sebagai monster yang efisien.
"Mulai hari ini," kata Floren, suaranya sedikit serak, "pajak di Provinsi Selatan diturunkan sebesar 50%. Dana yang disita dari pejabat-corrupt akan digunakan untuk membangun irigasi dan sekolah. Siapa pun yang mencoba memeras rakyat lagi akan berakhir seperti mereka."
Floren berbalik dan berjalan meninggalkan panggung. Kaelia mengikuti di belakangnya, membersihkan pedangnya dengan kain putih.
Saat mereka masuk kembali ke gerbang istana, Kaelia berbicara pelan.
"Itu berhasil," kata Kaelia. "Mereka takut. Sangat takut."
"Tapi itu bukan fondasi kuat. Fondasinya adalah keadilan. Hari ini, saya memberikan keduanya."
"Anda terlihat pucat," observasi Kaelia.
"Saya tidak terbiasa dengan bau darah segar di siang hari bolong," aku Floren jujur.
Kaelia menatapnya sekilas. Ada sesuatu yang berbeda di matanya. Rasa hormat? Atau mungkin pemahaman?
"Banyak Ratu yang menikmati momen itu," kata Kaelia. "Mereka tersenyum. Mereka bersorak. Anda... Anda tampak seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas membersihkan toilet umum. Menjijikkan, tapi perlu."
Floren hampir tersenyum. Hampir.
"Analogi yang kasar, Jenderal."
"Tapi akurat."
Mereka berjalan menyusuri koridor istana yang sepi. Di kejauhan, teriakan rakyat masih terdengar samar-samar. Beberapa bersorak mendukung, sebagian besar diam dalam ketakutan.
Floren tahu, hari ini ia telah mengukuhkan reputasinya sebagai "Tiran Berdarah". Rakyat tidak peduli mengapa ia membunuh pejabat itu. Mereka hanya melihat darah. Mereka hanya melihat kematian.
Biarkan mereka membenci saya, batin Floren. Selama mereka kenyang. Selama mereka aman. Suatu hari, mereka akan mengerti.
Tapi saat itu belum tiba.
Saat Floren mencapai kamarnya, ia menemukan sebuah catatan kecil terselip di bawah pintunya. Tulisan tangan yang rapi dan elegan.
Yang Mulia,
Lagu membutuhkan pendengar. Tapi kadang, penyanyi juga perlu mendengar keheningan.
- Kael
Floren meremas kertas itu. Kael. Pria misterius dari Zenthoria. Dia sudah mulai bergerak. Dia sudah mulai mengirim pesan.
Floren melemparkan kertas itu ke perapian. Api menyantapnya dalam hitungan detik.
"Permainan dimulai," bisik Floren.
Dan di luar, hujan akhirnya berhenti, meninggalkan genangan air merah muda yang memantulkan langit yang masih kelabu.