menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Sore itu suasana kantor mulai berubah lebih santai. Jam kerja memang belum selesai, tetapi beberapa pegawai marketing sudah mulai merapikan meja masing-masing. Ada yang masih sibuk mengetik laporan, ada juga yang mengobrol pelan sambil menunggu waktu pulang. Pendingin ruangan yang sejak siang menyala membuat suasana terasa nyaman, meski pekerjaan seharian cukup menguras tenaga. Dunia kantor memang aneh. Manusia menghabiskan delapan jam hidupnya di ruangan penuh lampu putih sambil pura-pura tidak stres.
Shinta masih fokus di depan komputernya. Sesekali dia melihat data penjualan yang tadi diberikan Rara. Hari pertamanya bekerja cukup melelahkan. Banyak hal yang harus dipelajari, banyak nama orang yang harus diingat, dan yang paling melelahkan adalah fakta bahwa mantan pacarnya ternyata bekerja di tempat yang sama.
Andika duduk beberapa meja di depannya. Pria itu terlihat serius memeriksa laporan sambil sesekali membalas pesan di ponselnya. Ekspresinya tenang seperti biasa. Sikap itu justru membuat Shinta semakin kesal. Seolah tidak ada yang berubah setelah mereka putus setahun lalu.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari arah pintu ruangan marketing.
“Andika.”
Beberapa kepala langsung menoleh.
Seorang gadis cantik dengan kerudung krem berdiri di depan pintu. Wajahnya manis dengan senyum ramah. Dia mengenakan seragam staf produksi lengkap dengan kartu identitas yang menggantung di lehernya.
Andika yang tadinya duduk langsung berdiri.
“Aqila,” ucapnya sambil menghampiri gadis itu.
Beberapa staf marketing langsung saling melirik dengan ekspresi jahil.
“Wah, ada yang dijemput pacar.”
“Jam kerja malah mesra-mesraan.”
“Marketing kalah saing sama bagian produksi.”
Ruangan langsung dipenuhi tawa kecil.
Andika hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Iri bilang saja. Cari pacar sana,” balasnya santai.
“Mentang-mentang laku.”
“Kalau tampang seperti Andika gampang.”
“Andika mah modal senyum saja jadi.”
Andika tertawa kecil mendengar godaan teman-temannya. Aqila sendiri tampak malu-malu sambil memegang sebuah bingkisan plastik bening.
“Aku bawakan kue kering,” kata Aqila pelan.
Dia menyerahkan toples plastik berisi aneka kue pada Andika.
“Nanti pulang bareng, ya.”
Andika mengangguk ringan.
“Iya.”
Senyumnya terlihat hangat. Terlalu hangat menurut Shinta.
Shinta yang sedari tadi memperhatikan hanya memalingkan wajah pura-pura fokus pada layar komputer. Namun tangannya berhenti mengetik sejak tadi. Dadanya terasa tidak nyaman.
Rara yang duduk di sebelahnya memperhatikan perubahan ekspresi Shinta.
“Kamu kenal Andika sebelumnya?” tanya Rara tiba-tiba.
Shinta langsung menoleh cepat.
“Hah? Tidak.”
“Perasaan wajah kamu langsung berubah sejak cewek itu datang.”
“Perasaan kamu saja.”
Rara menyipitkan mata curiga.
“Hm.”
Sementara itu Andika kembali ke mejanya sambil membawa toples kue tadi. Dia membuka tutupnya lalu berdiri.
“Ayo ambil. Aqila bikin kebanyakan katanya.”
Beberapa pegawai langsung mendekat mengambil kue.
“Pacar kamu rajin juga.”
“Enak kalau punya pasangan bisa dibawain makanan.”
“Aku dibawain tagihan pinjol.”
Tawa kembali terdengar.
Andika hanya menggeleng geli.
Shinta sebenarnya tidak ingin ikut mengambil. Namun Andika tiba-tiba berhenti di dekat mejanya lalu menyodorkan toples itu.
“Kamu mau?”
Shinta menatap toples itu sebentar sebelum akhirnya mengambil satu kue nastar.
Dia menggigit sedikit dengan ekspresi datar.
Andika memperhatikannya.
“Enak?”
Shinta menelan kuenya pelan lalu menjawab singkat.
“Tidak enak.”
Beberapa orang yang mendengar langsung menoleh.
Andika justru tersenyum kecil.
“Masa?”
“Kurang gula,” jawab Shinta dingin.
Padahal sebenarnya enak. Sangat enak malah. Itu yang membuatnya tambah kesal. Bahkan pacar baru Andika bisa membuat kue seenak itu. Hidup memang suka menghina manusia dengan cara kreatif.
Andika tidak membalas lagi. Dia hanya mengangguk kecil lalu kembali ke tempat duduknya.
Rara kini makin yakin ada sesuatu.
“Kalian pernah dekat, ya?”
“Tidak.”
“Bohong.”
Shinta mendesah pelan.
“Kerja saja.”
Rara tertawa kecil melihat reaksinya.
Waktu berjalan perlahan hingga akhirnya jam pulang tiba. Suasana kantor yang tadi tenang langsung berubah ramai. Suara kursi digeser, komputer dimatikan, dan obrolan pegawai terdengar di mana-mana.
Shinta merapikan tasnya dengan cepat. Dia ingin segera pulang dan mandi air hangat sambil melupakan hari yang melelahkan ini.
Begitu keluar gedung perusahaan, udara sore langsung menyambutnya. Langit mulai berubah jingga. Beberapa pegawai terlihat berjalan menuju parkiran motor dan mobil.
Shinta mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi ojek online.
Ayahnya sudah mengabari kalau malam ini pulang terlambat sehingga tidak bisa menjemputnya. Biasanya dia tidak masalah naik bus umum, tetapi hari ini tubuhnya terlalu lelah untuk berdiri berdesakan.
Saat sedang menunggu driver menerima pesanan, dia melihat Aqila berdiri tidak jauh darinya.
Gadis itu tampaknya sedang menunggu seseorang.
Shinta sebenarnya ingin menjauh, tetapi kalau pindah sekarang justru terlihat aneh. Akhirnya dia tetap berdiri sambil pura-pura sibuk melihat layar ponsel.
Aqila menoleh lalu tersenyum ramah.
“Kamu Shinta, kan?”
Shinta sedikit terkejut.
“Iya.”
“Aku Aqila. Tadi ketemu di ruang marketing.”
Shinta mengangguk tipis.
“Aku tahu.”
“Kamu lagi nunggu jemputan?”
“Aku pesan ojek online.”
“Ooh.”
Aqila tersenyum kecil lagi. Sikapnya terlihat ramah dan santai. Itu justru membuat Shinta makin sulit membencinya. Akan lebih mudah kalau Aqila ternyata menyebalkan. Sayangnya hidup tidak semudah sinetron murahan.
Tak lama kemudian suara motor terdengar mendekat.
Andika datang menggunakan motor hitamnya lalu berhenti tepat di depan Aqila.
“Sudah lama nunggunya?” tanya Andika.
“Tidak kok.”
Aqila langsung naik ke motor itu dengan terbiasa.
Sebelum memakai helm, dia sempat menoleh pada Shinta.
“Duluan ya, Shinta.”
Shinta memaksakan senyum kecil.
“Iya.”
Andika ikut menoleh sekilas.
“Besok jangan telat.”
Nada bicaranya terdengar biasa saja. Namun bagi Shinta, itu malah terasa seperti sengaja pamer kebahagiaan.
“Iya, Pak Marketing Hebat,” balas Shinta datar.
Andika tertawa kecil sebelum akhirnya menjalankan motornya pergi meninggalkan area perusahaan.
Shinta memperhatikan motor itu menjauh sampai hilang di tikungan jalan.
Dalam hati dia ingin melempar helm ke kepala Andika. Atau minimal menusuk ban motornya pakai garpu. Sayangnya manusia dewasa harus menjaga citra agar tidak masuk grup WhatsApp kantor dengan judul “pegawai baru emosian.”
Sementara itu di perjalanan, Aqila yang duduk di belakang Andika tampak memperhatikan sepupunya itu.
“Shinta pegawai baru marketing, ya?”
“Iya.”
“Hari pertama kerja?”
Andika mengangguk pelan.
“Iya.”
Aqila diam sebentar lalu menyipitkan mata curiga.
“Kamu kenal dia sebelumnya?”
Andika langsung menjawab cepat.
“Tidak usah banyak tanya.”
“Nah kan. Pasti ada sesuatu.”
“Tidak ada.”
Aqila tertawa kecil.
“Aku ini sepupu kamu dari kecil. Kalau kamu bohong kelihatan.”
Andika tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke jalan depan sementara angin sore berhembus cukup kencang.
Motor mereka melaju melewati deretan toko dan lampu jalan yang mulai menyala.
Aqila kembali bicara.
“Dia cantik.”
Andika mendesah pelan.
“Qila.”
“Apa?”
“Tidak usah bahas dia.”
“Kenapa?”
Beberapa detik Andika terdiam sebelum akhirnya bicara pelan.
“Pokoknya jangan bahas Shinta di depan Ayah.”
Nada suaranya kali ini lebih serius.
Aqila sedikit terkejut lalu mengangguk pelan.
“Oh.”
Dia akhirnya mulai mengerti.
Pamannya memang cukup dekat dengan Andika dan sering ikut mencampuri urusan pribadi keponakannya itu. Kalau sampai tahu Shinta adalah mantan Andika yang kini bekerja di perusahaan yang sama, pasti akan banyak pertanyaan muncul.
Dan itu jelas merepotkan.
Manusia memang lucu. Putus cinta saja bisa berubah jadi operasi rahasia keluarga.
Aqila bersandar santai sambil memegang jaket belakang Andika.
“Paman pasti suka sama Shinta.”
Andika tidak menjawab.
Ekspresinya berubah tenang, tetapi pikirannya jelas tidak benar-benar tenang.
Di sisi lain, Shinta akhirnya mendapat driver ojek online.
Dia naik ke motor sambil masih memikirkan kejadian tadi.
Andika sudah punya pacar.
Kalimat itu terus terulang di kepalanya.
Setahun lalu dia pikir Andika akan sulit melupakannya. Ternyata sekarang pria itu sudah terlihat baik-baik saja. Bahkan bisa tertawa santai bersama perempuan lain.
Shinta memalingkan wajah menatap jalanan sore yang mulai ramai.
Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Bukan karena masih ingin balikan.
Mungkin.
Atau mungkin karena dia tidak suka kalah.
Dan lebih menyebalkan lagi, pacar baru Andika ternyata bukan wanita biasa sama sekali.