NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:638
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dr. Hendra Wijaya — Malaikat Berkedok Iblis

Hari Selasa, pukul 09.00. Upacara bendera di sekolah.

Hari ini berbeda. Biasanya upacara berlangsung biasa-biasa saja—lagu kebangsaan, amanat pembina upacara, lalu bubar. Tapi hari ini, ada tamu istimewa.

"Anak-anak," kata Kepala Sekolah, Pak Firmansyah, berdiri di mimbar. "Hari ini kita kedatangan donatur kita, Bapak Dr. Hendra Wijaya. Beliau yang telah membangun gedung laboratorium dan perpustakaan baru untuk kita semua."

Seorang pria paruh baya naik ke mimbar. Tinggi, rambut hitam dengan sedikit uban di pelipis, kacamata berbingkai emas, senyum lebar. Dia memakai setelan jas hitam yang rapi, dan aroma parfum mahal menyebar hingga ke barisan belakang—tempat aku berdiri.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Dr. Hendra, suaranya berat dan dalam. "Senang bertemu dengan kalian. Sekolah ini seperti rumah kedua bagi saya. Setiap kali saya berkunjung, saya selalu terharu melihat semangat belajar kalian."

Tepuk tangan menggema.

Aku tidak bertepuk tangan.

"Nay, kenapa kamu nggak tepuk tangan?" bisik Sasha.

"Perutku sakit."

"Bohong. Kamu tegang."

Rasya dari barisan samping menatapku—matanya berkata, "tenang."

Dr. Hendra melanjutkan pidatonya. "Saya tidak hanya ingin membangun gedung untuk kalian. Saya juga ingin membantu kalian meraih mimpi. Karena itu, tahun ini, saya akan menambah kuota beasiswa. Bagi yang berprestasi, akan saya biayai hingga ke perguruan tinggi."

Tepuk tangan meriah. Beberapa anak bersorak.

"Tapi ada satu syarat." Dr. Hendra tersenyum. "Kalian harus rajin belajar. Jangan terlibat hal-hal yang negatif. Jangan..." dia matanya beralih—tepat ke arahku, "—terlibat masalah hukum. Karena reputasi sekolah ini adalah tanggung jawab kita bersama."

Aku menggigit bibir.

Dia tahu. Dia tahu aku terlibat dalam kasus Jenderal.

Dan dia memperingatkanku—di depan seluruh sekolah.

---

Setelah Upacara — Di Kelas

"Kok kamu diem-diem aja?" tanya Sasha begitu kami duduk.

"Apa yang bisa aku lakuin? Teriak 'dia penjahat' di depan semua orang? Nggak ada yang akan percaya."

"Tapi—"

"Kita harus sabar, Sha. Dr. Hendra licik. Dia tahu cara memainkan opini publik."

Kayla berjalan masuk ke kelas. Wajahnya pucat. Dia duduk di sampingku tanpa bicara.

"Kay," bisikku.

"Aku tahu. Aku liat pidatonya."

"Apa yang dia rencanakan?"

"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti..." Kayla menelan ludah, "dia tidak akan berhenti sampai kita semua mati."

---

Jam Istirahat — Dr. Hendra Mendekati Kami

Aku sedang makan di kantin ketika bayangan besar menutupi mejaku.

"Nayla Kirana, ya?"

Aku menoleh. Dr. Hendra berdiri di samping meja, dengan dua orang asisten di belakangnya. Senyumnya masih merekah, tapi matanya... matanya sedingin es.

"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"

Dia duduk di seberangku—tanpa permisi. "Boleh saya bergabung?"

"Terserah, Pak."

"Kamu tidak suka saya."

Aku tidak menjawab.

"Saya tahu kamu terlibat dalam kasus Jenderal Purnomo. Saya juga tahu kamu punya bukti-bukti yang memberatkan beliau."

"Iya, Pak."

"Kamu anak yang berani." Dr. Hendra memanggil asistennya, yang meletakkan sebuah kotak kue di atas meja. "Ini untukmu. Macaron dari Prancis. Harganya... mahal. Tapi kamu pantas menerimanya."

Aku melihat kue itu. "Maaf, Pak. Saya sedang diet gula."

Dr. Hendra tertawa kecil. "Kamu lucu, Nayla. Tapi dengarkan saya." Dia mencondongkan badan—suaranya berbisik. "Jenderal Purnomo mungkin akan dihukum. Tapi saya... saya tidak akan tersentuh. Karena saya lebih pintar dari dia. Saya lebih kaya dari dia. Dan saya punya lebih banyak koneksi daripada dia."

"Lalu?"

"Lalu, jangan coba-coba melawan saya. Fokus saja pada sekolah. Raih beasiswa saya. Lupakan semua tentang... masa lalu." Dia berdiri. "Selamat belajar, Nayla. Kita akan sering bertemu."

Dia pergi, meninggalkan kotak kue mahal di atas meja.

Sasha yang dari tadi membeku akhirnya bernapas. "Nay, gila. Dia—"

"Aku tahu."

"Kamu nggak takut?"

"Takut. Tapi aku lebih marah."

---

Pulang Sekolah — Chat dengan Rasya

Rasya (15.00): "Dr. Hendra deketin kamu?"

Nayla (15.01): "Iya. Di kantin."

Rasya (15.01): "Dia ngomong apa?"

Nayla (15.02): "Ancaman terselubung. Suruh aku berhenti lawan dia."

Rasya (15.02): "Awas. Dia lebih berbahaya dari Jenderal."

Nayla (15.03): "Aku tahu."

Rasya (15.03): "Besok kita bicara dengan Inspektur Widi."

Nayla (15.04): "Setuju."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!