NovelToon NovelToon
Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuli di Kerajaan Mantan Istri

Pukul lima pagi, saat kabut tipis masih menyelimuti jalanan dan lampu-lampu jalan belum sepenuhnya padam, Setya sudah berdiri di depan pintu gerbang besi Gudang Berkah Arumi.

Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi karena rasa malu yang menghantam ulu hatinya. Di tangannya, ia memegang seragam kerja berwarna biru kusam dengan logo "Gudang Arumi" di bagian dada kiri.

​Ia, Setya, pria yang dulu memiliki ruangan sendiri di pelabuhan dan dihormati oleh puluhan anak buah, kini harus berdiri mengantre bersama pria-pria kasar lainnya untuk sekadar melakukan absensi manual.

​"Ayo cepat! Jangan bengong saja! Karung-karung bawang itu tidak akan pindah sendiri ke truk!" bentak kepala gudang, seorang pria berbadan tegap yang dulu mungkin tidak akan berani menatap mata Setya.

​Setya tersentak. Ia mulai memanggul karung bawang seberat 50 kilogram itu. Beratnya luar biasa, membuat tulang punggungnya terasa seolah ingin patah. Setiap langkahnya menuju truk terasa seperti siksaan. Keringat mulai membanjiri tubuhnya, bercampur dengan debu dari kulit bawang yang membuat kulitnya gatal dan perih.

​Dam yang paling menyakitkan adalah saat sebuah mobil SUV putih yang mengkilap masuk ke area gudang. Pintu terbuka, Arumi turun dari sana. Arumi tampak sangat berwibawa dengan pakaian kerja yang modis, tapi tetap sopan. Ia memegang segelas kopi mahal di satu tangan dan tablet di tangan lainnya.

​Setya refleks menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik karung bawang yang ia panggul. Ia tidak ingin Arumi melihatnya dalam kondisi sehina ini. Sayangnya, Arumi justru sengaja berhenti tepat di samping truk tempat Setya bekerja.

​"Pastikan semua barang masuk sesuai manifes. Saya tidak mau ada komplain dari distributor di Jakarta," suara Arumi terdengar jernih dan tegas. Matanya menyapu barisan kuli, dan sejenak, tatapannya berhenti tepat pada Setya yang sedang membungkuk menahan beban karung.

​Arumi tidak menyapa. Ia bahkan tidak menunjukkan ekspresi kasihan. Ia hanya menatap Setya seolah pria itu adalah bagian dari mesin gudang yang tidak penting, kemudian ia berlalu menuju ruang kantornya yang sejuk.

​Setya hampir saja menjatuhkan karungnya. Nyesek. Rasanya jauh lebih sakit daripada ditampar seribu kali. Arumi benar-benar telah membuangnya dari daftar manusia yang perlu dipedulikan.

​Sore harinya, Setya pulang ke rumah kontrakannya dengan tubuh yang lunglai dan aroma tubuh yang menyengat bau bawang dan keringat. Harapannya untuk mendapatkan ketenangan di rumah pun pupus saat ia melihat Raya sedang duduk di depan teras dengan wajah cemberut dan tumpukan baju kotor yang belum dicuci.

​"Mas! Kamu dari mana saja sih? Jam segini baru pulang!" teriak Raya. Wajahnya yang tanpa make-up tampak kusam, dan pipinya terlihat jauh lebih tembam karena ia jarang bergerak. "Lihat ini, gas habis, air galon habis! Kamu pikir aku bisa hidup cuma pakai cinta?"

​Setya melempar tasnya ke lantai. "Aku kerja, Raya! Kamu pikir memanggul ratusan karung itu ringan? Aku ini cari uang buat kasih makan kamu!"

​"Kerja apa sampai bau bawang begini? Jangan bilang kamu cuma jadi buruh pasar!" selidik Raya dengan nada menghina.

​Setya terdiam. Ia tidak berani mengaku bahwa ia bekerja di gudang Arumi. Ia tahu tabiat Raya yang cemburuan dan meledak-ledak. "Sudahlah, yang penting halal."

​Kebohongan itu tidak bertahan lama. Keesokan harinya, Raya yang penasaran memutuskan untuk membuntuti Setya diam-diam. Dengan mengenakan daster yang sudah sempit dan sandal jepit yang menipis, Raya mengikuti ojek yang membawa Setya.

​Betapa terkejutnya Raya saat melihat Setya turun di depan sebuah gudang besar yang papan namanya tertulis dengan jelas: Gudang Berkah Arumi.

​Darah Raya mendidih. Ia melihat suaminya masuk ke sana, tak lama kemudian keluar dengan seragam biru kusam dan mulai memanggul barang di bawah pengawasan seorang wanita dari balkon lantai dua ruko. Wanita itu adalah Arumi.

​Raya tidak bisa menahan dirinya. Ia merasa harga dirinya sebagai istri baru diinjak-injak. Ia merasa Setya sedang dikerjai oleh Arumi. Dengan langkah seribu, Raya menerobos masuk ke area gudang, mengabaikan teriakan penjaga keamanan.

​"Arumi! Keluar kamu, pelakor tidak tahu diri!" teriak Raya di tengah hiruk pikuk gudang.

​Semua kegiatan bongkar muat berhenti seketika. Para pekerja menatap Raya dengan bingung. Setya, yang saat itu sedang menggendong karung beras, hampir saja pingsan karena malu.

​"Raya! Apa yang kamu lakukan di sini? Pulang!" bentak Setya, mencoba menarik lengan Raya.

​"Nggak! Aku nggak mau pulang!" Raya meronta. Matanya menatap ke arah balkon tempat Arumi berdiri dengan tenang. "Heh, Arumi! Kamu sengaja kan mempekerjakan suamiku jadi kuli? Kamu mau balas dendam? Kamu itu pelakor! Kamu mau merebut Setya kembali dengan cara menghinanya seperti ini? Dasar wanita licik!"

​Arumi menurunkan kacamata hitamnya perlahan. Ia berjalan menuruni tangga dengan langkah yang anggun, setiap ketukan sepatunya di lantai semen gudang terdengar seperti lonceng kematian bagi harga diri Raya.

​Arumi berhenti tepat di depan Raya. Ia tidak marah. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang penuh dengan penghinaan intelektual.

​"Pelakor?" Arumi mengulang kata itu dengan nada bertanya yang tenang. "Raya, sepertinya kamu butuh kamus bahasa Indonesia yang baru. Pelakor itu adalah wanita yang merebut suami orang saat hubungan mereka masih sah. Sedangkan aku? Aku adalah wanita yang membuang sampah pada tempatnya, dan kamu ... adalah orang yang memungut sampah itu dengan bangga."

​Raya ternganga, wajahnya merah padam. "Kamu—"

​"Dan soal mempekerjakan Setya," potong Arumi, suaranya kini naik satu oktav namun tetap terkendali. "Aku tidak memaksanya. Suamimu yang mengemis pekerjaan di sini karena ia tidak punya kemampuan lain selain mengandalkan ototnya. Jika kamu merasa terhina melihat suamimu jadi kuli, maka itu salahmu karena memilih pria yang tidak punya masa depan setelah kehilangan jabatannya."

​Arumi mendekat ke arah telinga Raya, berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua tapi cukup tajam untuk merobek mental Raya.

​"Lihat dirimu sekarang, Raya. Gemuk, kusam, dan penuh amarah. Kamu mirip sekali dengan sosok 'istri biasa' yang dulu kalian tertawakan. Ternyata, menjadi cantik itu butuh uang, dan sayang sekali ... pria yang kamu rebut dariku sekarang tidak punya uang untuk membiayai kecantikanmu itu."

​Arumi menjauh, menatap Raya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.

​"Setya, bawa istrimu pulang. Jika besok dia datang lagi dan membuat keributan di tempat usahaku, kamu bukan hanya akan kehilangan pekerjaan, tapi aku akan melaporkan kalian berdua ke polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Paham?"

​Setya hanya bisa menunduk dalam, tidak berani membela Raya sedikit pun. Ia menarik tangan Raya dengan kasar untuk keluar dari gudang. Raya menangis sesenggukan, bukan karena sedih, tapi karena malu yang luar biasa. Ia baru sadar, Arumi yang sekarang bukan lagi lawan yang sebanding baginya. Arumi sudah berada di level yang tidak bisa ia jangkau dengan teriakan pasarannya.

​Arumi kembali berbalik menuju kantornya. Di depan pintu, ia berpapasan dengan Kak Nia yang menatap kepergian Setya dan Raya dengan gelengan kepala.

​"Puas, Rum?" tanya Nia pelan.

​Arumi berhenti sejenak, menatap telapak tangannya yang kini bersih dan lembut. "Belum, Kak. Ini baru pemanasan.

1
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
msh ajaa mau fitnah arumi
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
kampret raya malahan setuju😭
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
jangan ulangi kesalahan yang udah raya lakuin
lebih baik diam nikmati waktumu
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
untuk nyonya ratih tdak terpengaruh smaa omongan setya
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
ibunya udah diambang kecewa berat
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
nia pukul aja setya ngapain harus kasian
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
skrng nyesel ,tdi kamu pas kamu maksa ibumu pikiranmu dimana
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
keadilan untuk istri yang terzholimi iya itu arumi
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
biarkan biar dia bisa berubah
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
karena laper apapun bisa jadi
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
gila, demi raya kamu bikin ibumu celaka😭
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
udah resmi cerai kan , ga ada hak apapun lagi
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
salah kamu sndri kamu tega ninggalin keluargamu smpai anakmu pun tak mengakui kamu sebagai ayah nya
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
dulu dihina sekarang dia jauh lebh berkelas dari kamu
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
salah mau sndri itu
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
raya itu belum seberapa
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
ibu mana yang tega liat anaknya menderita😔
🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏѕ⍣⃝✰
setya ga sadar dtabgnya rezeki juga karena ada istri yang selalu mendoakan
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
udah jatoh ketimpa tangga pula, itu lah nasib apes setya
🏡⃟ªʸᴢͫʜᷰᴀᷟɴᷴɢᴛɪɴɢʀᴜɪ⒋ⷨ͢⚤
raya ga akan jera kalau ga dksh pelajaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!