Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CARI PERHATIAN
Setelah kejadian gigitan ular yang menegangkan itu, perjalanan mereka berlanjut namun suasana menjadi jauh lebih tenang dan penuh rasa hormat. Ratih sudah sepenuhnya pulih, kakinya tak lagi terasa sakit atau kaku, seolah kejadian mengerikan tadi hanyalah mimpi buruk semata. Ia berjalan di tengah barisan bersama teman-temannya, sesekali melirik ke belakang dengan pandangan kagum dan berterima kasih ke arah sosok diam yang berjalan paling belakang itu. Semua anggota kelompok kini sadar betapa berharganya keberadaan Liam bersama mereka. Meski sikapnya dingin, pendiam, dan sulit dimengerti, kemampuan dan kekuatannya ternyata menjadi tameng terbesar yang menjaga keselamatan mereka semua.
Matahari perlahan-lahan tenggelam sepenuhnya di balik pepohonan tinggi, meninggalkan langit berwarna kelabu tua yang perlahan berubah menjadi gelap pekat. Sinar matahari terakhir lenyap, digantikan oleh kegelapan malam yang menyelimuti seluruh penjuru hutan lebat itu. Angin malam mulai berhembus lebih kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang dan suara gemerisik daun yang bergoyang-goyang, menciptakan suasana yang misterius dan sedikit mencekam.
Dika yang berjalan paling depan akhirnya mengangkat tangan kanannya memberi isyarat berhenti. Ia menoleh ke belakang menatap teman-temannya yang sudah tampak lelah dan kedinginan.
"Cukup sampai di sini dulu," ucap Dika tegas namun lembut. "Hari sudah gelap total. Kalau kita memaksakan jalan terus, kita bisa tersesat atau masuk ke jurang tanpa sadar. Lebih baik kita mendirikan perkemahan sederhana di tempat yang agak lapang ini. Istirahat malam ini, besok pagi-pagi sekali kita lanjutkan lagi menuju Desa Cemara yang jaraknya seharusnya sudah tak terlalu jauh lagi."
Semua orang mengangguk setuju dengan lega. Kaki mereka memang sudah terasa pegal dan berat setelah berjalan seharian penuh, ditambah kejadian tadi siang yang menyita banyak tenaga dan perasaan. Mereka segera sibuk mencari tempat yang rata dan aman, mengumpulkan ranting kayu kering dan dedaunan untuk bahan bakar serta alas tidur sementara.
Tak lama kemudian, api unggun besar pun berhasil dinyalakan di tengah lapangan kecil itu. Nyala apinya berkobar terang, memancarkan cahaya jingga kemerahan yang hangat, menerangi wajah-wajah lelah mereka dan memantul pada batang-batang pohon di sekelilingnya. Suara bunyi kayu yang terbakar kretek-kretek terdengar berirama, menjadi satu-satunya suara peneman di tengah keheningan hutan malam itu.
Semua anggota kelompok duduk berbaris melingkar rapat di dekat api unggun, menikmati kehangatan yang ditawarkan nyala api itu. Jaka dan Dika duduk bersebelahan, berdiskusi pelan tentang rencana besok saat masuk ke desa. Sari, Mira, dan Ratih duduk di samping mereka, berbagi sedikit bekal makanan yang tersisa, sambil sesekali tertawa kecil membicarakan kejadian tadi siang dengan perasaan lega. Di antara mereka, suasana terasa akrab, hangat, dan bersahabat.
Namun, ada satu sosok yang memisahkan diri dari kerumunan itu.
Di balik barisan teman-temannya, agak menjauh sedikit dari jangkauan cahaya api, Liam duduk bersila diam di atas akar pohon besar yang menjulur ke tanah. Ia duduk membelakangi mereka, wajahnya menoleh ke atas, menatap lurus ke langit malam yang bersih dan cerah. Di atas sana, bulan purnama bersinar sangat terang dan indah, bulat sempurna, memancarkan cahaya perak yang lembut dan dingin menyinari seluruh hutan. Cahaya bulan itu jatuh tepat mengenai wajah Liam, membuat kulit putihnya tampak makin pucat namun berkilau halus, dan matanya yang hitam pekat memantulkan bayangan bulan besar itu dengan tajam dan jelas.
Liam sama sekali tidak ikut bergabung mengobrol atau menikmati kehangatan api unggun. Baginya, api unggun itu terlalu panas, terlalu bising, dan terlalu ramai. Ia lebih suka dinginnya malam dan keheningan yang tenang. Tangannya bertumpu santai di kedua lututnya, tubuhnya diam tak bergerak sedikit pun, persis seperti patung batu yang hidup.
Di dalam hatinya dan pikirannya yang sunyi itu, Liam sama sekali tidak ada di hutan ini, tidak ada di tengah tugas pencarian mustika ini. Pikirannya melayang jauh, sangat jauh, menembus rimbunan pepohonan, menembus jarak ribuan kilometer, menembus samudra luas, sampai ke kota besar tempat gadis yang dicintainya berada.
Seruni... batin Liam berbisik pelan, matanya menatap bulan purnama itu lekat-lekat, seolah di sana ada wajah gadisnya. Bulan yang kulihat di sini... sama dengan bulan yang kau lihat di sana, kan? Saat kau menatap bulan ini... apakah kau juga mengingatku? Apakah kau juga merasakan rindu yang sama beratnya seperti yang kurasakan saat ini?
Ingatan-ingatan indah berkelebat cepat di benaknya. Ia teringat wajah manis Seruni, senyum tulusnya, suara lembutnya, dan kebaikan hatinya yang tak ada duanya. Ia teringat hari kepergian gadis itu, janji suci mereka di teras rumah, dan genggaman tangan terakhir yang penuh harapan. Ia teringat bagaimana Seruni selalu membersihkan debu di bajunya, selalu berbicara padanya meski ia hanya diam, selalu ada di sampingnya saat ia merasa bingung dan kesepian.
Rasa rindu itu datang lagi, berat, dalam, dan menusuk tepat di dada kiri. Sudah satu tahun lebih berlalu, tapi bagi Liam rasanya baru kemarin mereka berpisah. Ia rindu suara itu, rindu kehadiran itu, rindu kehangatan tubuh manusia itu yang satu-satunya bisa menghangatkan darah dinginnya.
Kau kuat di sana, kan? tanya Liam dalam hati, rasa khawatir menyelinap masuk. Aku tahu pekerjaanmu berat. Aku tahu banyak orang jahat yang menghinamu. Aku bisa merasakan setiap kali kau sakit, setiap kali kau menangis diam-diam. Maafkan aku... maafkan aku tak bisa ada di sampingmu untuk melindungimu. Bertahanlah, Seruni. Waktu akan berlalu cepat. Tiga tahun delapan bulan lagi... hanya itu. Lalu kau pulang. Lalu aku menepati janjiku.
Liam menghela napas panjang pelan, napas yang tak terdengar sama sekali oleh siapa pun. Di bawah sinar bulan itu, sosoknya tampak begitu sendirian, begitu misterius, namun begitu setia dan penuh kasih sayang yang terpendam rapat.
Di dekat api unggun, Diah — salah satu dari empat wanita dalam kelompok itu — sesekali melirik ke belakang dengan sudut matanya. Ia duduk di pinggir barisan, posisinya paling dekat dengan tempat Liam berada. Sejak awal keberangkatan, Diah memang selalu memperhatikan Liam. Bukan hanya karena Liam tampan, tinggi besar, dan berwajah sangat tampan namun dingin, tapi juga karena aura misterius dan kekuatan hebat yang tersembunyi dalam diri pemuda itu.
Kejadian tadi siang, saat Liam diam saja bersandar pohon lalu tiba-tiba menyelamatkan nyawa Ratih dengan cara ajaib dan tak terduga itu, semakin membuat rasa penasaran dan kekaguman Diah tumbuh besar. Ia merasa Liam bukan pemuda biasa. Ada sesuatu yang istimewa, agung, dan menakutkan sekaligus dalam diri pemuda itu. Dan di balik sikap dingin dan diamnya itu, Diah merasa ada hati yang baik dan setia.
Melihat Liam duduk sendirian menatap bulan, tampak melamun dan sedih sendirian di belakang sana, hati Diah tergerak. Ia ingin mendekat. Ia ingin mengobrol. Ia ingin menjadi orang yang bisa membuka mulut Liam, bisa membuat pemuda itu bicara atau sekadar menatapnya. Ia ingin menjadi orang yang istimewa bagi Liam, sama seperti Liam istimewa bagi dirinya.
Diam-diam, saat teman-temannya sedang asyik mengobrol dan tak ada yang memperhatikan, Diah perlahan bangkit berdiri. Ia berjalan berjinjit pelan-pelan menjauh dari lingkaran api unggun, melangkah hati-hati menembus kegelapan malam mendekati sosok diam itu. Jantungnya berdebar kencang karena gugup dan berharap.
Ia berhenti tepat di samping kiri Liam, berdiri diam sejenak mengagumi profil wajah pemuda itu yang diterangi sinar bulan. Wajah Liam begitu sempurna, rahangnya tegas, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan pucat. Tatapannya ke langit begitu dalam dan jauh, seolah menembus segala halangan.
Diah mengumpulkan keberaniannya, lalu duduk bersila juga di tanah, berjarak sekitar satu meter di samping Liam. Ia tersenyum manis, senyum yang menurutnya paling indah dan mempesona, berusaha menarik perhatian pemuda dingin itu.
"Indah sekali ya bulan malam ini..." ucap Diah pelan, suaranya lembut dan sengaja dibuat manja dan lembut. Matanya menatap wajah Liam lekat-lekat berharap pemuda itu menoleh. "Kau suka sekali menatap bulan ya, Liam? Dari dulu kalau istirahat, kau selalu begitu. Melamun sendirian. Sedang memikirkan apa sih? Hal apa yang begitu indah sampai kau abaikan teman-temanmu yang ada di sini?"
Liam sama sekali tidak bergerak. Tidak menoleh sedikit pun. Tidak mengubah pandangannya dari bulan di atas sana. Wajahnya tetap datar, dingin, dan tanpa ekspresi apa pun. Seolah suara Diah hanyalah suara angin malam yang tak ada artinya.
Diah tak menyerah. Ia menggeser duduknya sedikit lebih mendekat, jarak mereka kini makin rapat. Aroma wangi bunga yang dipakai Diah samar-samar tercium masuk ke hidung Liam, namun sama sekali tak mengganggu atau menarik perhatiannya.
"Apa kau sedih, Liam?" tanya Diah lagi, kali ini nadanya penuh rasa perhatian dan ingin mengerti. Ia memberanikan diri mengangkat tangan kanannya pelan, ingin menyentuh lengan Liam yang tegap dan dingin itu. "Kau selalu terlihat sedih dan sepi. Kalau ada masalah atau beban, ceritalah... aku mau mendengarkanmu. Aku mau menjadi teman yang baik untukmu. Aku... aku sangat kagum padamu, Liam. Sejak kau menyelamatkan Ratih tadi... aku jadi merasa... kau orang yang sangat hebat dan luar biasa."
Diah berharap kata-katanya akan membuat Liam bereaksi, membuat Liam menoleh, atau sekadar tersenyum sedikit saja. Ia berharap bisa masuk ke dalam hati dingin dan tertutup itu.
Namun harapan itu pupus seketika.
Tepat saat ujung jari Diah hampir menyentuh lengan Liam, pemuda itu perlahan menggeser tubuhnya sedikit menjauh, menghindari sentuhan itu dengan gerakan sangat halus namun jelas terasa. Liam masih tetap menatap bulan, masih diam seribu bahasa.
Baru setelah Diah diam dan berhenti bicara, Liam perlahan membuka mulutnya. Suaranya rendah, berat, dingin, dan datar, persis seperti biasanya. Tak ada nada ramah, tak ada nada tertarik.
"Terima kasih. Aku baik-baik saja," jawab Liam singkat, padat, dan jelas. Hanya empat kata sederhana, lalu kembali diam. Kembali menatap bulan. Kembali melamunkan Seruni.
Diah terdiam terpaku. Senyumnya perlahan hilang dari bibirnya. Ia merasa ditolak, merasa diperlakukan sama seperti debu di jalanan. Ia merasa keberadaannya sama sekali tak ada artinya bagi pemuda itu. Meski begitu, ia tak berani marah atau pergi. Ia masih duduk diam di situ, menatap profil wajah Liam yang dingin itu dengan rasa kagum yang bercampur rasa sakit hati dan penasaran.
Ia tak tahu, bahwa di hati Liam, hanya ada satu nama, satu wajah, dan satu hati yang berkuasa sepenuhnya. Nama Seruni. Wajah Seruni. Hati Seruni. Semua wanita lain di dunia ini, seindah apa pun, sebaik apa pun, atau seberapa besar perhatian yang diberikannya... semuanya tak ada artinya, tak ada harganya, dan takkan pernah bisa menggantikan tempat gadis yang jauh di sana itu.
Liam diam kembali, matanya kembali menatap bulan purnama itu lekat-lekat. Di dalam hatinya, ia kembali berbisik pada Seruni: Tak ada yang lain. Hanya kau. Hanya kau yang ada di sini. Sampai kapan pun.
Di depan api unggun, teman-teman mereka masih tertawa dan mengobrol riang, tak menyadari apa yang terjadi di belakang sana. Di bawah sinar bulan yang indah itu, Diah duduk diam memendam rasa kagum dan cintanya yang tak terbalas, sementara Liam tetap menjadi sosok dingin yang setia, menjaga janji dan rindunya pada kekasih hatinya yang jauh di seberang lautan.
Malam semakin larut, angin semakin dingin, dan di tengah hutan itu, kesetiaan Liam kembali teruji dan terbukti: tak ada yang bisa menggoyahkan hatinya, tak ada yang bisa mengubah cintanya, dan tak ada yang bisa memisahkannya dari janji suci yang telah diucapkannya.