Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
POV: Nara
Malam-malam belakangan ini terasa lebih panjang dari biasanya. Aku sering terbangun tanpa alasan. Duduk di tepi ranjang, memandangi layar ponsel yang gelap, lalu tanpa sadar mengetik satu nama yang sudah lama tidak berani kusentuh.
Leon.
Nama itu saja sudah cukup membuat dadaku terasa hangat sekaligus perih. Aku baru menyadarinya sekarang. Di antara semua orang yang pernah hadir dalam hidupku, mungkin Leon adalah satu-satunya yang tidak pernah menuntut apa pun dariku.
Ia tidak pernah memintaku berubah. Tidak pernah membatasi. Tidak pernah membuatku merasa bersalah karena ingin menjadi diriku sendiri. Dan aku meninggalkannya. Bukan karena ia kurang. Tapi karena aku memilih Dev.
Tanganku gemetar saat membuka kontaknya. Nomor itu sudah tidak aktif. Aku mencoba membuka media sosialnya. Akun tidak ditemukan. Aku mencoba platform lain—Kosong. Seperti ia sengaja menghapus jejaknya dari hidupku. Atau mungkin… ia hanya menghapusku dari hidupnya.
Air mataku jatuh perlahan. “Maaf, Leon…” bisikku pada layar yang tak memberi jawaban.
Aku merasa bersalah. Bukan hanya karena meninggalkannya. Tapi karena mungkin aku baru menyadari ketulusannya ketika semuanya sudah terlambat.
Siang itu rumah terasa sedikit berbeda. Ada suara laki-laki di ruang tengah. Tertawa pelan, terasa familiar. Aku mengernyit, aku membuka pintu kamar perlahan dan melangkah keluar. Dan di sana, duduk berhadapan dengan Dev, adalah Keanu.
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.
Keanu tersenyum ketika melihatku. “Nara?”
Aku memaksakan senyum. “Keanu… kamu di sini?”
Ia berdiri dan menyalamiku. “Lama nggak ketemu. Apa kabar?”
“Baik,” jawabku cepat.
Tatapannya berhenti di wajahku sedikit lebih lama dari biasanya. “Kamu kelihatan kurusan,” katanya pelan.
“Ah, nggak kok. Mungkin cuma kurang tidur.”
Dev menyela dengan nada ringan. “Dia memang susah diatur kalau soal istirahat.”
Keanu tertawa kecil, tapi matanya masih meneliti wajahku. Aku sadar mataku pasti sembab. Rambutku mungkin tidak serapi biasanya. Tubuhku terasa lelah meski aku berusaha berdiri tegap.
“Kamu sehat kan, Ra?” tanya Keanu lagi.
“Iya. Aku baik-baik saja.” Kata-kata yang semakin sering kuulang.
Aku permisi ke dapur untuk mengambil minum. Tanganku sedikit gemetar saat menuang air ke gelas. Dari ruang tengah, suara mereka masih terdengar samar.
“Keadaan Nara gimana sebenarnya?” suara Keanu terdengar lebih rendah sekarang, lebih serius.
Aku menahan napas.
“Dia baik-baik saja,” jawab Dev tenang. “Dia bahagia. Cuma lagi sensitif akhir-akhir ini.”
Sensitif? Aku tersenyum pahit.
“Gue cuma nanya karena dia kelihatan capek,” kata Keanu.
“Dia memang terlalu banyak mikir. Tapi tenang, gue jagain dia.”
Jagain? Kata itu terasa seperti pagar tinggi yang tidak bisa kulewati.
Aku berdiri diam di dapur beberapa detik, menatap air di gelas yang bergetar karena tanganku sendiri. Tak lama kemudian Dev berdiri. “Gue ke kamar sebentar,” katanya pada Keanu.
Langkahnya menjauh. Keanu menoleh ke arahku yang masih berdiri di dekat dapur.
“Nara, boleh ngobrol bentar?”
Aku mengangguk dan duduk di sofa seberangnya. Suasana tiba-tiba terasa lebih hening. “Kamu beneran baik-baik aja?” tanyanya pelan, tanpa basa-basi.
Aku tersenyum tipis. “Iya.”
Dia menatapku lama. “Kalau kamu nggak baik-baik aja, kamu bisa cerita.”
Ada jeda panjang, aku ingin. Aku ingin berkata bahwa aku dikurung, bahwa aku ditampar, bahwa aku mulai takut pada laki-laki yang kucintai. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
“Aku cuma lagi capek,” jawabku akhirnya. “Namanya juga hubungan. Pasti ada naik turun.”
“Dev nggak kasar kan sama kamu?”
Pertanyaan itu membuat dadaku mencelos.
“Enggak,” jawabku cepat. Terlalu cepat.
Keanu tidak terlihat sepenuhnya percaya.
“Kalau dia bikin kamu nggak nyaman—”
“Dia cuma protektif,” potongku. “Itu aja.”
Keanu menghela napas pelan. “Kadang protektif sama posesif itu tipis banget bedanya, Ra.”
Aku terdiam, aku tahu itu. Tapi aku tidak berani mengakuinya. Aku menatapnya ragu sebelum akhirnya bertanya pelan,
“Leon… gimana kabarnya?”
Keanu sedikit terkejut, tapi lalu tersenyum kecil. “Dia baik.”
Hatiku terasa sedikit ringan mendengarnya.
“Dia masih di kota yang sama?”
“Iya. Kerjaannya lancar. Cuma…” Keanu berhenti sejenak.
“Cuma apa?”
“Dia masih sering nanya kabar kamu.”
Jantungku berdegup lebih cepat. “Nanya apa?”
“Ya nanya kamu bahagia atau nggak. Kamu sehat atau nggak.”
Aku menunduk. Leon masih peduli padahal aku yang memilih pergi.
“Dia nggak marah?” tanyaku pelan.
“Marah? Awalnya iya mungkin. Tapi dia lebih banyak nyalahin dirinya sendiri.”
Dadaku terasa sesak. “Aku jahat ya?” bisikku.
Keanu menggeleng. “Kamu cuma bikin pilihan.”
Aku tersenyum getir—Pilihan.
Pilihan yang sekarang terasa seperti jebakan.
Keanu menatapku serius. “Sebenarnya gue ke sini bukan cuma mau main,” katanya pelan.
Aku mengangkat wajahku. “Leon yang minta gue datang.”
Jantungku seperti berhenti. “Apa?”
“Dia cuma mau tahu kamu baik-baik aja. Dia nggak mau ganggu kamu langsung. Jadi dia minta gue lihat keadaan kamu.”
Untuk beberapa detik aku tidak bisa berkata apa-apa. Ada perasaan hangat yang menyusup di dadaku. Leon masih peduli. Masih memperhatikanku dari jauh. Tapi bersamaan dengan itu, rasa bersalah menamparku lebih keras dari tamparan Dev.
“Aku baik-baik aja,” kataku pelan. “Tolong bilang ke dia begitu.”
Keanu menatapku, seperti ingin memastikan apakah itu benar. “Kamu yakin?”
Aku mengangguk. Padahal di dalam hati, aku tidak yakin sama sekali. Tak lama kemudian Dev kembali ke ruang tengah. Wajahnya terlihat biasa. “Kalian ngobrolin apa?” tanyanya ringan.
“Cuma nostalgia,” jawabku cepat.
Keanu berdiri. “Gue pamit dulu.”
Dev mengantarnya sampai pintu. Sebelum keluar, Keanu menatapku sekali lagi. Tatapan yang seolah berkata: kalau kamu butuh bantuan, bilang.
Aku hanya tersenyum.
Pintu tertutup, rumah kembali sunyi. Aku berdiri di ruang tengah, merasa aneh. Ada sedikit rasa senang karena tahu Leon masih peduli. Tapi juga rasa sedih karena aku harus berbohong pada orang yang sebenarnya ingin menolongku.
Aku kembali ke kamar, menutup pintu. Dan untuk pertama kalinya, aku membiarkan diriku membayangkan. Bagaimana jika dulu aku memilih yang berbeda? Bagaimana jika aku memilih cinta yang tenang, bukan cinta yang membuatku terus merasa takut kehilangan diri sendiri?
Namanya terlintas lagi di kepalaku—Leon. Dan di antara rasa bersalah dan rindu yang menyesakkan, aku sadar satu hal.
Hatiku mulai mencari tempat yang terasa aman. Dan aku tidak lagi yakin tempat itu ada di sini.
...***...
POV: Devandra
Aku tidak benar-benar pergi ke kamar saat meninggalkan Nara dan Keanu di ruang tengah. Langkah kakiku berhenti di balik tangga. Dari sudut itu, suara mereka masih terdengar cukup jelas. Aku tidak berniat menguping. Tapi ketika nama itu disebut, kakiku seperti tertanam di lantai.
Leon.
Tanganku mengepal. “Aku cuma lagi capek,” suara Nara terdengar pelan.
Lalu Keanu bertanya, “Dev nggak kasar kan sama kamu?”
Aku menahan napas.
“Enggak,” jawab Nara cepat.
Ada jeda panjang. Lalu Nara bertanya tentang Leon. Bagaimana kabarnya, apakah dia marah, apakah dia baik-baik saja. Dadaku terasa panas.
Kenapa dia masih peduli? Kenapa setelah semua yang sudah kulakukan, ia masih memikirkan lelaki itu? Dan ketika Keanu berkata bahwa Leon yang menyuruhnya datang untuk memastikan keadaan Nara, aku hampir keluar dari persembunyian.
Leon masih mengawasinya, dari jauh. Mengirim orang untuk melihat apakah ia bahagia. Apa dia meragukan kebahagiaannya bersamaku?
Aku menutup mata sesaat, mencoba menenangkan amarah yang naik perlahan.
Nara berkata, “Tolong bilang ke dia aku baik-baik saja.”
Baik-baik saja. Kalimat yang sama yang ia ucapkan padaku. Apakah itu hanya kebiasaan? Atau memang ia sedang menyembunyikan sesuatu?
Aku tidak bisa kehilangan dia. Tidak pada Leon. Tidak pada siapa pun. Aku kembali ke ruang tengah dengan wajah biasa. Aku tidak menunjukkan apa-apa. Aku tersenyum pada Keanu. Mengantarnya sampai pintu.
“Terima kasih sudah datang,” kataku.
“Iya,” jawabnya singkat.
Tatapannya seolah membaca sesuatu di mataku. Pintu tertutup, dan rumah kembali milikku.