NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 11: RASA ASING YANG MASIH MENYIKS

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 11: RASA ASING YANG MASIH MENYISAKAN SAKIT

Meskipun abang-abang dan adik-adiknya sudah sadar sepenuhnya akan kesalahan mereka, meskipun mereka sudah mulai menunjukkan kasih sayang yang tak terkira, hati Ria masih terasa asing. Dua tahun lamanya ia hidup di tengah rumah yang dingin, seakan tak dianggap ada, diperlakukan bak seorang pembantu di rumah sendiri. Semua rasa sakit itu belum sepenuhnya hilang begitu saja.

Sekali-kali Ria tertegun, matanya menatap kosong ke udara sambil bertanya-tanya, "Apakah ini nyata? ataukah ini hanya mimpi indah yang sebentar lagi akan lenyap? Apakah benar abang-abang sudah tidak membenciku lagi? Apakah adik-adik juga tidak membenci Ria?"

Hari itu, Bunda Maria melihat Ria duduk sendirian dengan tatapan yang sendu. Bunda pun menghampiri, duduk di sampingnya dan bertanya lembut, "Ada apa sayang? Sedang memikirkan apa?"

Mendengar suara Bunda, Ria tak sanggup menahan tangis lagi, langsung memeluk erat Bunda yang telah melahirkannya, lalu menangis sejadi-jadinya di dada Bunda.

"Sabar ya, Nak... teruslah berdoa, semoga abang-abangmu dan adik-adikmu benar-benar menyayangi Ria selamanya, dan semoga perasaan asing di hatimu perlahan hilang," ucap Bunda dengan suara bergetar.

"Sebenarnya Bunda pun sedih selama ini. Bunda sendiri tahu bagaimana saudara-saudaramu seakan tidak menganggapmu sebagai adik kandung mereka. Bunda sudah sering menegur dan memarahi mereka, tapi kamu tahu sendiri, hati mereka dulu begitu keras dan sulit disentuh. Maafkanlah mereka ya, Nak. Semoga hatimu semakin lapang, dan semoga Ria pun bisa mulai menyayangi saudara-saudaramu kembali, sepenuhnya menyayangi," pesannya.

Pelukan itu semakin erat, air mata Ria membasahi jilbab Bunda, dan air mata Bunda pun membasahi bahu putrinya. Tanpa mereka sadari, seluruh percakapan itu terdengar jelas oleh abang-abang dan adik-adiknya yang ternyata sudah berdiri di balik pintu, mendengar keluhan demi keluhan yang keluar dari mulut ibu dan anak itu. Hati mereka pun tak sanggup menahan tangis, air mata mereka pun menetes deras.

"Tuhan... kenapa kami bisa begitu kejamnya? Salah apa dia? Kalau bukan karena kami, dia tak akan merasa sedih seumur hidupnya," batin Bang Hamza penuh penyesalan.

"Betul kata Ibu, Dik... ini semua salah kami," suara Bang Hamza terdengar penuh penyesalan. "Insyaallah kalau sudah ada rezeki, Abang akan belikan baju-baju yang bagus buat Ria, lengkap mulai seragam sekolah, baju untuk mengaji, sampai pakaiannya," janji Bang Arefin, suaranya juga penuh rasa bersalah. "Selama ini, Ria bahkan tidak pernah dibelikan apa-apa, mulai dari kebutuhan sehari-hari, perlengkapan sekolah, sampai baju bajunya. Bahkan baju muslim dan jilbab yang Ria pakai, itu pemberian dari guru ngaji dan guru sekolahnya. Baju bekas anak-anak yang lain..."

Kali ini tak ada yang menyanggah. Saat Ria sudah terlelap lelah di pangkuan Bunda Maria, kelegaan setelah menangis begitu lama.

"Sini, Arefin, angkat adikmu ke kamar, pelan-pelan ya," kata Bunda lembut.

"Biarkan Abang Hamza saja yang mengangkat, Bun. Biar Hamza yang membawanya ke kamar," Bang Hamza melangkah maju.

"Baiklah, tapi pelan-pelan ya, jangan sampai dia terbangun. Kasihan dia sudah sangat lelah," pesan Bunda, sambil mengangguk.

Bang Hamza mengangkat tubuh Ria yang terasa begitu ringan di gendongannya, matanya kembali menetes. Hatinya terasa perih tak terkira. "Ya Allah... betapa kurus dan ringannya tubuh adikku ini..." batinnya menyesal.

Ia berbisik pelan di telinga Ria yang masih terlelap. "Dik... maafkan kami mau memelukmu bang, puas saja sepuas hatimu... biar Abang merasa sedikit lega karena telah menyakiti hatimu dulu ya..."

Dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, Bang Hamza membawanya ke kamarnya, membaringkannya dengan lembut di atas kasur. Ia tidak segera pergi, melainkan masih duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah Ria yang terlihat begitu tenang meski masih tampak menyimpan sisa kesedihan di matanya yang terpejam.

Perasaan itu sesekali tak akan pernah habis dirasakannya, ia sadar betul, betapa berat dan tidak enaknya hidup yang harus dijalani oleh adiknya seorang diri selama dua tahun yang menyakitkan itu.

 

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!