NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Munculnya Rival Sang Ketos

Di dalam ruang OSIS, suasana terasa seperti ruang sidang yang dingin. Vyan sedang memeriksa lembar demi lembar perincian anggaran yang diajukan Fifi. Semua orang terdiam, menunggu keputusan dari sang Ketua yang dikenal sangat kaku soal efisiensi.

​"Ini harus ditekan lagi," ucap Vyan tanpa mengangkat wajah. "Beberapa hadiah cari dari sponsor saja. Barang atau voucer belanja juga tidak masalah. Terus, ini biaya untuk kostum dan properti teater..."

​"Memang mahal, tapi kita ingin menampilkan yang terbaik, Yan. Ekskul Teater tidak bisa menanggung semuanya sendirian. Lagipula, ini kan acara resmi OSIS," Randy, sang Ketua Teater, mencoba membela diri.

​Vyan akhirnya mendongak, matanya menatap Randy dengan dingin. "Jangan menimpakan semuanya pada OSIS. Aku tahu penampilan kalian di sini bisa mengangkat nama baik ekskul kalian sendiri. Buat yang lebih sederhana. Yang terpenting itu kualitas akting, bukan kemewahan properti."

​"Tapi properti dan kostum itu penunjang nyawa cerita!"

​"Aku tahu anggaran yang kalian buat ini untuk standar pementasan profesional. Jangan berlebihan. Cari cara alternatif yang lebih kreatif tanpa harus menghamburkan biaya tinggi," pungkas Vyan mutlak.

​Randy hanya bisa cemberut, pundaknya lunglai. "Sebenarnya karya kita sudah sangat matang, tapi... ya, akan aku usahakan."

​"Kalau karya bagus dibuat asal-asalan hanya karena kekurangan dana, jadinya sayang sekali, kan?"

​Seluruh peserta rapat menoleh serempak ke arah pintu. Di sana, seorang cowok bertubuh tinggi atletis dengan rambut gimbal yang khas berdiri bersandar di bingkai pintu. Cahaya matahari dari koridor yang menyilaukan seolah membingkai sosoknya, membuatnya tampak seperti pahlawan yang datang tepat waktu.

​Ia melangkah masuk, menyapu ruangan dengan senyum percaya diri yang bercahaya. "Kalau mengadakan acara, bagusnya yang maksimal biar semuanya puas. Kalau kalian kurang dana, gue bisa jadi donatur."

​Vyan menatap cowok itu dengan rahang yang mengeras. Rayandra. Si Raja Basket yang baru saja membawa pulang piala.

​"Ray! Gimana pertandingannya?" seru Fifi dengan mata berbinar.

​"Bien! Berjalan lancar, tim kita menang!" jawab Ray dengan gaya santainya.

​"Selamat ya, Kak Ray!" Dean segera menghampiri dan menyalaminya, diikuti anggota OSIS lainnya yang memberikan pelukan dan tepuk tangan meriah. Ruangan yang tadinya tegang seketika berubah menjadi pesta kecil.

​Vyan masih duduk di kursinya, matanya berkilat tajam. Tiba-tiba, ia menendang kaki Agil di bawah meja.

​"Aw!" Agil tersentak kaget.

​"Ngapain diam? Cepat ucapkan selamat juga," bisik Vyan tajam.

​"Iya, iya..." Agil berdiri dengan ragu. Sepertinya gawat. Bisa terjadi perang besar ini, batin Agil.

​Vyan bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Ray dengan senyum ramah yang terlihat sangat tulus—senyum yang bagi Agil adalah tanda bahaya level tertinggi.

"Selamat, ya! Lu memang hebat bisa bikin harum nama sekolah seprovinsi."

​Vyan mengulurkan tangannya. Ray menatap uluran tangan itu dengan curiga. Benar-benar ular berkepala dua, pikir Ray.

​Ray menyambut jabatan tangan itu. Namun, detik berikutnya, ia merasakan sensasi seperti tersengat listrik yang sangat tajam di telapak tangannya. Ray tersentak, refleks melepaskan tangan Vyan dengan wajah kaget. Vyan tetap tersenyum tanpa dosa.

​"Kenapa? Nggak suka salaman ama gue?" tanya Vyan santai.

​Bener-bener setan! Dia pakai mainan setruman! umpat Ray dalam hati sambil menggosok telapak tangannya yang masih kesemutan. Sementara itu, Vyan dengan tenang memasukkan mainan kecil itu ke saku celananya.

​"Bukan begitu, Vyan. Gimana kalau sekarang kita salaman lagi?" tantang Ray.

​"Gimana kalau pelukan saja?" balas Vyan.

​Ray terdiam. Pasti ada jebakan berikutnya! "Haha... nggak perlu. Gue nggak sehebat elu. Kayaknya nggak pantes gue dapat pelukan dari Pak Ketos."

​"Ah, ternyata Ray rendah hati sekali. Gue sih yakin lu lebih hebat."

​Dean yang memperhatikan dari sudut ruangan merasa udara di sana semakin tipis. Mereka terlihat lebih seperti musuh daripada teman yang saling memuji, batinnya.

​"Gue cuma hebat di olahraga saja, Yan," ujar Ray merendah namun penuh penekanan.

​"Kalau begitu, gimana kalau kita bertanding olahraga?" tantang Vyan lagi.

​Lu benar-benar mencoba nantang gue, ya? pikir Ray, matanya menyipit. "Oke! Gue terima! Olahraga apa?"

​"Catur..."

​Ray tertawa hambar. Dasar bunglon! Ular berbisa! Harusnya gue tunjukin wajah asli lu ke orang-orang! "Oh ho... ya bolehlah."

​"Gue bawa papan caturnya, Yan!" seru Agil bersemangat, seolah sudah menyiapkan segalanya.

​Raja setan dan patihnya. Kombinasi lengkap, geram Ray.

"Oke, Vyan! Ayo!" seru Ray sambil merangkul leher Vyan, mengajaknya mendekati meja. Orang-orang melihatnya seperti candaan akrab, padahal Vyan merasa lehernya sedang dicekik dengan tenaga atlet.

​Vyan dan Ray duduk berhadapan. Agil dengan cekatan menyusun pion catur di atas papan.

​"Lebih seru kalau pakai taruhan," usul Agil memanaskan suasana.

​"Jangan, Gil. Kasihan Ray," ucap Vyan dengan nada iba yang dibuat-buat, dan dalam hatinya dia memuji Agil yang sangat cekatan memahami situasi yang dia inginkan.

​"Buat merayakan keberhasilan tim basket, gue nggak keberatan. Asal ada pertandingan kedua yang gue tentuin sendiri nanti," balas Ray, memberikan serangan balik.

​Vyan tersenyum tipis.

"Oke, Ray. Kita main fair. Asal kita nggak keluar dari ruangan OSIS ini."

​"Apa taruhannya?" tanya salah satu anggota OSIS.

"Push-up dua ratus kali!"

"Traktir makan di restoran!"

"Nyanyi di hari Kartini!"

Orang-orang serempak menyuarakan ide mereka.

​Vyan menggeleng. "Olahraga dan uang itu terlalu gampang buat Ray. Kalau menyanyi, gue nggak tega. Gimana kalau Ray jadi donatur?"

​Seluruh ruangan terdiam. Ray kan sudah menawarkan diri jadi donatur tadi, kenapa Vyan meminta hal yang sama sebagai taruhan?

"Seriusan?" tanya Ray berbinar.

"Tentu. Tapi uangnya dari keringat lo sendiri. Gue yang nentuin apa kerjaannya nanti."

​Setan tetaplah setan! geram Ray dalam hati. Dia yakin Vyan akan mempersiapkan suatu hal yang membuatnya puas. Namun, dia tidak mungkin mundur.

"Ya, terserah elu. Tapi kalau gue yang menang, gue cuma minta lu mengeluarkan bakat lu sebagai bunglon. Maksud gue... akting bareng ekskul teater. Jadi peran utama. Gimana?"

​Ray melirik Randy. Randy menatap Vyan, lalu membayangkan sang Ketua OSIS yang kaku itu harus berakting.

"Mungkin bisa saja Vyan jadi cantik kalau jadi Srikandi..." bisik Randy pelan. Namun, ia langsung menutup mulutnya dengan wajah pucat saat Vyan melemparkan tatapan mematikan.

"​Oh God! Mati gue. Ekskul teater bisa bubar. Selamatkan aku! Tuhan, biarkan Vyan yang menang!" Doa Randy dalam hati.

​"Gak apa-apa, gue bilang kita main fair, kan?" ucap Vyan tenang.

​Suasana ruang santai itu mendadak vakum. Hanya detak jam dinding yang terdengar, beradu dengan napas Ray yang mulai tidak beraturan. Di atas papan hitam-putih itu, bidak-bidak catur berdiri seperti tentara yang siap mati.

​Ray mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat. Ia merasa posisinya cukup kuat. Benteng dan kudanya telah mengepung area tengah. Ia melirik Vyan yang duduk bersandar dengan tenang, jemarinya mengetuk meja dengan irama yang konstan.

​"Lama sekali, Ray," ucap Vyan datar. "Otak lo butuh reboot?"

​Ray mendengus, mencoba mengabaikan intimidasi itu. Ia memajukan menterinya, sebuah langkah agresif yang menurutnya akan mengunci pergerakan Vyan.

​Dean, yang berdiri di samping meja, tiba-tiba menegang. Matanya melebar menatap papan. Tunggu... Kak Vyan sengaja membuka celah itu?

Vyan menggerakkan bidak gajahnya ke posisi yang terlihat "ngawur". Benar-benar tidak terlindungi.

​"Kesalahan pemula, Vyan" ejek Ray, langsung menyambar gajah tersebut dengan kudanya. Ray tersenyum bangga. Ia merasa selangkah lagi akan meruntuhkan dominasi sang Ketos.

​Namun, Dean menahan napas. Ia melihat sesuatu yang tidak dilihat Ray. Bukan... itu bukan kesalahan. Itu umpan.

Vyan menggeser menterinya hanya satu kotak ke samping. Langkah yang sangat pasif, hampir terlihat seperti keputusasaan.

​"Cuma itu?" Ray tertawa kecil, ia merasa di atas angin. Ia segera menggerakkan bentengnya untuk melakukan serangan terakhir. "Habis ini lo tamat, Vyan!

​"Oh ya?" Vyan mengangkat pandangannya. Matanya yang tajam mengunci mata Ray, mengirimkan hawa dingin yang membuat bulu kuduk Ray berdiri. "Lihat lagi papannya, Ray. Lo terlalu sibuk menyerang sampai ga sadar kalau gue udah nyiapin kuburan lo."

Jari panjang Vyan menyentuh bidak kudanya. Dengan satu gerakan elegan, ia melompati barisan pertahanan Ray dan meletakkannya tepat di jantung pertahanan lawan.

​TAK.

​Bunyi bidak yang menghantam papan itu terdengar seperti vonis hakim.

​"Skakmat," bisik Vyan, rendah tapi dominan.

​Ray ternganga. Ia mencoba mencari celah untuk kabur, tapi menteri dan gajah Vyan yang tadi terlihat "lemah" ternyata telah menutup semua jalur pelarian rajanya dari jarak jauh. Ia terjepit. Hancur dalam tiga langkah fatal sejak ia merasa akan menang.

​Dean mundur selangkah, jantungnya berdebar kencang. Gila... Kak Vyan sudah menghitung ini sejak sepuluh menit yang lalu. Dia membiarkan Kak Ray merasa hebat hanya untuk menjatuhkannya dari puncak tertinggi dalam waktu kurang dari satu menit.

​"Tiga langkah, Ray," Vyan berdiri, merapikan kancing jas OSIS-nya tanpa ekspresi bangga sedikit pun. "Sama seperti cara lo berpikir—pendek dan mudah ditebak. Lain kali, pakai otak, bukan otot, kalau mau ngelawan gue."

Ray mengeratkan rahang. Matanya menatap tajam penuh dengan rencana balasan. Karena ini saatnya dia menentukan pertandingan kedua. Kali ini Ray yakin Vyan tidak akan bisa mengalahkannya.

​"Pertandingan kedua... panco!" serunya penuh semangat.

1
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
berubah menjadi panas karena terbakar api cemburu🤭
PrettyDuck
ooo dia mikirin keselamatn yasmin yaa
PrettyDuck
dih ngatur2, emamg situ sapa? /Facepalm/
PrettyDuck
dah, rebutan sana lu sama vyan
PrettyDuck
terlalu jujur mas 🤣
🐄 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Dhini dan Tegar langsung bertindak baik ya /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!