Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Harga Sebuah Mukjizat dan Gerbang Bawah Tanah
Hujan badai seolah membeku di udara. Waktu berhenti berdetak di halaman SMA Nusantara Lereng Marapi yang telah hancur lebur.
Dara Kirana masih berlutut di atas genangan air yang bercampur dengan darah kehitaman. Di pangkuannya, tubuh Gendis yang telah kembali ke wujud manusia terbaring tanpa nyawa. Gadis serigala itu telah menghembuskan napas terakhirnya demi melindungi Dara dari lima tombak perak Garda Praetoria.
Di belakang Dara, Indra dan Bumi baru saja selesai mencabik-cabik kelima algojo elit itu menjadi potongan daging tak berbentuk. Napas kedua predator puncak itu memburu liar. Namun, kemenangan itu terasa seperti abu di mulut mereka saat melihat pemandangan di hadapan mereka.
Bumi melangkah gontai. Alpha muda itu jatuh berlutut di seberang Dara. Tangannya yang berlumuran darah musuh terulur dengan gemetar, menyentuh pipi Gendis yang mulai terasa dingin. Mata cokelat terang Bumi memancarkan kehancuran yang absolut. Ia adalah seorang Alpha, pelindung kawanan, namun ia baru saja gagal melindungi anggotanya yang paling setia.
"Tidak... tidak..." gumam Bumi parau, suaranya pecah oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Namun, Dara Kirana menolak untuk menangis. Air matanya telah mengering, digantikan oleh sebuah resolusi yang membakar dan menolak logika.
Dara menundukkan kepalanya, menatap luka robekan mengerikan di perut dan dada Gendis. Kakek Danu pernah memperingatkannya: Napas Akar digunakan untuk meminjam energi bumi, mengubah Pawang menjadi pipa penyalur agar tidak kehabisan umur. Namun energi bumi memiliki batas; ia hanya bisa menyembuhkan luka, bukan membalikkan kematian. Untuk menciptakan mukjizat, seorang Pawang harus menggunakan energi penciptaan murni—yakni Vital Force (nyawa) mereka sendiri.
Aku tidak peduli, batin Dara, sebuah pemberontakan mutlak terhadap takdirnya bergema di dalam kepalanya. Gendis tidak boleh mati untukku. Aku tidak akan mengizinkannya.
Dara meletakkan kedua telapak tangannya yang gemetar tepat di atas dada Gendis yang tak lagi berdetak. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Ia melepaskan Napas Akar-nya dari dasar bumi. Ia tidak lagi menyedot energi dari Gunung Marapi. Alih-alih, ia menancapkan kesadarannya ke dalam detak jantungnya sendiri.
BUM-BUM.
BUM-BUM.
Dara mulai menarik esensi kehidupannya.
"Dara, hentikan. Gendis sudah pergi..." Bumi berbisik pedih, mencoba menarik tangan gadis itu.
"JANGAN SENTUH AKU!" jerit Dara, sebuah jeritan melengking yang mengandung wibawa supranatural yang luar biasa kuat hingga membuat Bumi terpental mundur sejengkal.
Segel kelopak bunga di telapak tangan kanan Dara tidak lagi memancarkan pendar biru yang sejuk dan menenangkan. Cahaya itu berubah warna. Dari biru safir, ia memutih, menyilaukan, dan membutakan layaknya inti sebuah bintang yang meledak (supernova).
Sensasi mengerikan langsung menghantam tubuh Dara. Rasanya seolah ada sepasang tangan gaib yang merogoh ke dalam dadanya dan memeras jantungnya. Napasnya tercekat. Rasa sakit yang melampaui batas toleransi manusia meremukkan tulang rusuknya dari dalam. Namun ia menolak melepaskan tangannya dari dada Gendis.
Cahaya putih-kebiruan itu meledak dalam radius dua puluh meter.
Hujan badai yang turun langsung menguap menjadi kabut tebal begitu menyentuh kubah cahaya tersebut. Kegelapan malam tersapu bersih.
Sisa-sisa pasukan Marsose yang masih berdiri di sekitar lubang galian menjerit kesakitan. Cahaya murni itu bertabrakan dengan kutukan kegelapan di dalam daging mereka. Kulit pualam mereka melepuh parah, tulang belulang mereka berderak hancur. Dalam hitungan detik, puluhan tentara mayat hidup itu berubah menjadi debu tanpa sisa, musnah oleh kemarahan absolut Sang Ratu Penengah.
Di atas gundukan tanah ekskavasi, Noni Anneliese menutupi wajahnya dengan payung rendanya. Wanita vampir itu menjerit melengking saat cahaya putih itu membakar kulit lengan dan wajahnya, meninggalkan bekas luka bakar mengerikan yang mendesis.
"Pawang gila! Dia membakar umurnya sendiri!" jerit Anneliese panik, menyadari bahwa ia berhadapan dengan kekuatan yang bisa memusnahkannya seketika. Tanpa memedulikan sisa pasukannya di permukaan, wanita bergaun merah itu melompat turun, menyelam masuk ke dalam kegelapan lubang katakombe untuk menyelamatkan diri dari radiasi cahaya mematikan itu.
Di pusat ledakan cahaya tersebut, sebuah keajaiban yang melawan hukum alam sedang terjadi.
Energi kehidupan murni yang disuntikkan secara paksa oleh Dara merasuk ke dalam pembuluh darah Gendis. Racun perak yang telah menghitamkan sel-sel serigala betina itu dibakar habis. Daging yang robek mulai merajut diri dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tulang rusuk yang patah berderak menyatu.
Dan kemudian...
GAAAAASP!
Gendis menarik napas panjang dengan sangat rakus, dadanya melengkung ke atas layaknya orang yang baru saja ditarik dari dasar lautan. Mata eksotis gadis itu terbuka lebar, menatap langit malam yang hujan dengan syok dan kebingungan.
Jantung Gendis kembali berdetak. Kematian telah diusir paksa.
"Gendis..." bisik Bumi dengan suara bergetar tak percaya. Air mata Sang Alpha akhirnya tumpah. Ia langsung menubruk tubuh gadis serigala itu, memeluknya dengan sangat erat seolah takut kematian akan menariknya kembali.
Namun, mukjizat selalu menuntut bayaran tunai.
Tepat saat detak jantung Gendis kembali stabil, pendar cahaya di telapak tangan Dara padam seketika.
Dara terbatuk keras. Bukan ludah yang keluar dari mulutnya, melainkan darah berwarna merah gelap. Tubuh gadis fana itu langsung kehilangan seluruh daya tahannya. Lututnya melemas, dan ia tumbang ke samping layaknya boneka tali yang talinya baru saja dipotong.
"DARA!"
Sebuah raungan yang dipenuhi teror absolut merobek udara.
Sebelum tubuh Dara sempat menghantam aspal basah, sepasang lengan yang kokoh dan panas menangkapnya di pertengahan udara. Indra Bagaskara mendekap tubuh gadis itu dengan kepanikan yang nyaris membuat jantung pemuda Cindaku itu sendiri berhenti berdetak.
"Dara! Buka matamu!" Indra mengguncang pelan tubuh rapuh itu. Mata hazel pemuda itu membelalak ngeri saat melihat ujung-ujung rambut panjang Dara... beberapa helai di antaranya telah berubah menjadi putih keperakan.
Dara telah menukar sebagian dari masa remajanya, membakar tahun-tahun kehidupannya, demi mengembalikan nyawa serigala betina itu.
Dara perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur, dunia di sekelilingnya berputar. Kepalanya terasa sangat ringan, namun dadanya luar biasa berat. Ia menatap wajah Indra yang diliputi keputusasaan, lalu ia memaksakan sebuah senyum lemah, dan tangan kirinya yang bergetar terulur untuk menghapus noda air hujan di pipi pemuda itu.
"Dia... hidup..." bisik Dara dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Kau bodoh! Kau idiot!" rutuk Indra, suaranya pecah, bercampur antara kemarahan yang meluap dan rasa takut yang membekukan darahnya. Pemuda itu memeluk tubuh Dara erat-erat, menyandarkan dagunya di puncak kepala gadis itu. Hawa panas menyelimuti mereka berdua, berusaha memberikan kehangatan pada tubuh Dara yang mendadak sedingin es. "Nyawamu jauh lebih berharga dari nyawa serigala mana pun. Jangan pernah... jangan pernah berani melakukan hal seperti itu lagi."
Bumi yang masih memeluk Gendis, menoleh. Sang Alpha Serigala menatap Dara yang tergeletak lemah di pelukan Indra. Utang nyawa ini... ini adalah beban moral yang sangat masif. Kawanannya kini berutang tidak hanya satu, melainkan dua nyawa pada gadis manusia ini. Bumi menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah penyerahan takhta batin yang absolut kepada sang Pawang.
Raka, Tio, Adi, dan Maya segera berlari menghampiri pusat lapangan setelah cahaya membutakan itu mereda.
"Apa yang terjadi?" tanya Maya, menatap ngeri pada helaian rambut putih di kepala Dara dan darah di bibirnya. "Apakah dia...?"
"Dia membakar umurnya untuk membangkitkan Gendis," jawab Indra dingin, matanya menatap tajam ke arah lubang katakombe. "Bawa Gendis kembali ke Kakek Danu. Dia hidup, tapi tubuhnya butuh waktu berhari-hari untuk memulihkan diri dari efek kematian sesaat."
"Aku tidak akan kembali," bantah Gendis dengan suara serak, mencoba melepaskan diri dari pelukan Bumi, meski tubuhnya masih sangat gemetar dan lemah. "Aku sudah bersumpah untuk menjadi perisainya. Aku akan ikut ke bawah."
"Kau hanya akan menjadi beban dan mati untuk kedua kalinya, Gendis!" bentak Bumi tegas, memotong keras kepala gadis itu. Sang Alpha menoleh pada si kembar. "Tio, Adi. Bawa Gendis kembali ke rumah Kakek Danu. Jaga dia dan Santi. Pastikan tidak ada satu pun lintah yang berhasil melewati perimeter desa malam ini."
Tio dan Adi saling berpandangan, tampak enggan meninggalkan medan perang di saat puncaknya. Namun, perintah Alpha adalah mutlak. Mereka mengangguk serempak, membantu Gendis berdiri, dan memapahnya menjauh ke arah batas hutan. Gendis menatap Dara dari kejauhan, air matanya kembali mengalir, sebelum akhirnya ia menghilang ditelan bayang-bayang pohon pinus.
Kini, tim pendobrak itu telah menyusut. Menyisakan lima orang: Indra, Bumi, Raka, Maya, dan Dara.
Dara terbatuk pelan, berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Ia mendorong dada Indra dengan lemah, memaksa dirinya untuk duduk, lalu berdiri dengan bertumpu pada lengan pemuda itu.
"Kita belum selesai," gumam Dara, menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangannya. Wajah gadis itu pucat pasi, namun tekad di matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya. "Cahayaku tadi hanya menghancurkan barisan pertahanan depan yang ada di atas tanah. Pasukan utamanya... dan Willem... mereka masih tertidur di dalam sana."
"Kau tidak dalam kondisi untuk melanjutkan pertempuran ini, Ratu Penengah," sela Maya dengan nada objektif, melipat kedua lengan di dadanya. "Energi murnimu sudah terkuras. Jika kau masuk ke sarang mereka sekarang, kau hanya akan menyodorkan lehermu pada Willem."
"Jika kita tidak turun sekarang, Willem akan menggunakan darah cadangan yang ia kumpulkan untuk membangunkan sisa pasukannya secara manual," balas Dara bersikeras. Gadis itu menatap lubang hitam yang menganga di tengah halaman. "Lintah-lintah pucat itu ketakutan pada seranganku tadi. Momentum ada di pihak kita. Kita harus memenggal kepala ularnya sebelum mereka menyusun ulang formasi."
Indra menatap Dara dari samping. Ia bisa melihat betapa keras kepalanya gadis ini. Melarang Dara hanya akan membuat gadis itu mencari cara lain yang mungkin lebih berbahaya. Pemuda Cindaku itu menghela napas pasrah.
"Aku yang akan menjadi perisaimu di depan. Kau tidak boleh lagi menggunakan energimu untuk menyerang malam ini," titah Indra mutlak. Pemuda itu menoleh pada Bumi. "Kita turun. Arka, kau dan aku membuka jalan. Raka, Maya, jaga sayap belakang."
Bumi mengangguk menyetujui formasi tersebut. Sang Alpha Serigala mencabut sebuah patahan bayonet berkarat dari bahunya tanpa berkedip, membuangnya ke aspal. "Mari kita buat liang kubur lintah itu runtuh menimpa kepala mereka sendiri."
Mereka berlima berjalan mendekati lubang katakombe tersebut.
Lubang itu adalah sebuah akses reruntuhan yang menyerupai sumur miring berdiameter sekitar lima meter. Di dinding tanahnya, terdapat sisa-sisa tangga batu andesit yang melingkar curam ke bawah, menghilang ke dalam kegelapan absolut. Bau kematian, tanah lapuk, dan belerang menguar sangat pekat dari dasar lubang, seolah bumi sedang membusuk dari dalam.
Hujan badai tidak mampu mencapai kedalaman katakombe tersebut.
Indra memimpin di depan. Suhu tubuh pemuda itu dinaikkan secara sengaja, membuat tubuhnya berpendar dengan cahaya merah keemasan redup. Ia tidak hanya menjadi tameng fisik, tetapi juga bertindak sebagai obor penerang bagi mereka di dalam kegelapan. Dara berjalan tepat di belakangnya, tangannya mencengkeram erat bagian belakang kemeja Indra.
Mereka menuruni tangga batu yang licin dan berlumut itu dengan sangat hati-hati. Keheningan di dalam lorong bawah tanah ini sangat kontras dengan gemuruh badai di permukaan. Setiap langkah sepatu mereka bergema memantul ke dinding tanah liat.
Semakin dalam mereka turun, udara semakin terasa tipis dan mencekik.
Setelah menuruni anak tangga yang terasa seperti tidak berujung selama hampir sepuluh menit, lorong miring itu akhirnya berbelok tajam ke kanan dan berujung pada sebuah lorong mendatar yang lantainya telah dikeraskan menggunakan batu bata merah khas kolonial Belanda.
"Kita sudah masuk ke struktur benteng bawah tanahnya," bisik Bumi, hidungnya mengendus udara. "Baunya luar biasa busuk."
Dara mencoba menggunakan Napas Akar-nya secara pasif untuk memindai area di depan, namun kepalanya langsung berdenyut nyeri. Ia menahan rintihannya. Kelelahannya nyata. Ia harus menghemat energinya hanya untuk penyembuhan darurat.
Lorong bata itu panjang dan dihiasi oleh sisa-sisa akar pohon raksasa yang menembus langit-langit tanah. Di beberapa titik, terdapat obor-obor minyak yang menyala redup, dinyalakan oleh pasukan Willem sebagai penerangan.
Saat mereka tiba di sebuah persimpangan lorong, langkah Indra terhenti. Pemuda itu mengangkat kepalan tangannya, memberikan isyarat agar semua orang membeku di tempat.
"Ada yang datang?" bisik Maya, mencengkeram kerambitnya.
Indra tidak menjawab. Matanya menyipit menatap kegelapan di ujung lorong lurus di hadapan mereka. Hawa panas dari tubuhnya mendadak berdesis, bereaksi terhadap anomali energi di depannya.
Tiba-tiba, dari dalam kegelapan itu, melesat dua buah rantai besi tebal dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan.
Rantai pertama mengincar leher Indra. Indra dengan sigap menangkap rantai itu dengan telapak tangan kirinya. Namun, rantai itu tidak meleleh oleh suhu panasnya. Rantai itu dilapisi oleh perak cair dan mantra pendingin.
SYT!
Rantai kedua melesat dengan sudut yang jauh lebih rendah, membelah udara dan mengincar target utamanya: Dara.
Raka yang berada di belakang Dara melesat maju untuk menangkisnya, namun ruang gerak yang sempit di dalam lorong membuat pergerakannya terhambat. Rantai besi itu melilit pergelangan kaki kanan Dara dengan kencang.
"Dara!" teriak Bumi.
Sebelum ada yang sempat bereaksi lebih jauh, sebuah kekuatan tarikan yang luar biasa masif menyentak rantai tersebut dari arah kegelapan. Dara terseret jatuh dengan keras ke lantai batu bata, lalu ditarik dengan kecepatan tinggi meluncur di atas lantai, menjauh dari rombongannya menuju ujung lorong yang gelap.
Indra meraung marah, melepaskan rantai di tangannya dan melesat mengejar Dara. Bumi menyusul di belakangnya dengan kecepatan serigala penuh.
Dara meronta, mencoba melepaskan lilitan rantai di kakinya, namun besi itu terlalu tebal dan dingin. Tubuhnya terseret melintasi lorong, kulit sikunya bergesekan dengan batu bata hingga berdarah.
Tarikan itu tiba-tiba berhenti.
Dara mendapati dirinya berada di tengah sebuah ruangan bawah tanah yang sangat luas dan memiliki langit-langit berkubah melengkung (vault). Ruangan ini adalah aula utama katakombe. Ribuan tulang belulang berserakan di sudut-sudut ruangan. Di tengah aula, terdapat sebuah altar batu bundar yang dikelilingi oleh parit kecil yang mengalirkan cairan berwarna merah kehitaman. Darah.
Di atas altar itu, berdirilah sosok mimpi buruk yang menjadi dalang dari semua kekacauan ini.
Willem van Deventer.
Vampir bangsawan itu mengenakan seragam jenderal kolonial abad ke-19 yang sempurna, lengkap dengan epaulette emas di bahunya. Kulitnya pucat sepucat marmer, kontras dengan rambut pirangnya yang disisir rapi ke belakang. Di tangannya, ia memegang ujung rantai besi yang baru saja ia gunakan untuk menyeret Dara.
Willem menatap Dara yang terkapar di lantai dengan sepasang mata yang sepenuhnya berwarna hitam pekat, tanpa pupil maupun bagian putih mata.
"Selamat datang di rumah sementaraku, Nona Penengah," suara Willem mengalun sangat halus, menembus gendang telinga layaknya jarum sutra. "Maafkan cara penyambutanku yang sedikit kasar. Tapi melihat kau baru saja memusnahkan satu peleton Garda Praetoriaku di atas sana... aku rasa rantai besi ini cukup adil untuk menahan tangan liarmu itu."
Dari arah lorong, Indra dan Bumi melesat masuk ke dalam aula utama tersebut.
Indra tidak ragu sedetik pun. Ia menerjang langsung ke arah altar, cakar obsidiannya siap mencabik leher sang Jenderal Vampir.
Namun Willem hanya tersenyum tipis. Ia menjentikkan jari tangan kirinya.
KRAK! KLANK!
Dari balik pilar-pilar batu di sekeliling aula, melangkah keluar sepuluh sosok mayat hidup yang tidak mengenakan seragam militer. Mereka mengenakan pakaian bangsawan Jawa kuno yang telah lapuk. Kulit mereka berwarna abu-abu kehijauan, dan kuku mereka hitam panjang melengkung. Mereka bukan Marsose. Mereka adalah pengawal pribadi Willem dari masa lalu—kaum pengkhianat yang telah mengubah diri mereka menjadi abdi mayat hidup.
Kesepuluh pengawal itu menerjang secara serempak, mengurung Indra dan Bumi di tengah aula, memaksa kedua predator puncak itu tertahan dalam pertarungan jarak dekat yang sangat brutal.
Willem menarik rantai besinya, memaksa Dara terseret naik ke atas altar batu dan jatuh berlutut tepat di kaki sang Jenderal.
Willem berjongkok. Jemarinya yang dingin layaknya es menyentuh dagu Dara, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya. Senyum sadis Willem melebar saat ia melihat beberapa helai rambut putih di kepala Dara.
"Kau membakar vitalitasmu sendiri," bisik Willem, matanya berkilat kegirangan. "Sungguh pengorbanan yang sia-sia. Kakekmu seharusnya mengajarimu bahwa nyawa seorang Pawang Rimba terlalu berharga untuk ditukar dengan nyawa seekor anjing peliharaan."
Willem berdiri tegak, merentangkan tangannya. "Lihatlah ke sekelilingmu, Dara Kirana. Sisa pasukanku masih tertidur di ruangan sebelah. Dan malam ini... darah sucimu, bukan cahayamu, yang akan menjadi hujan pertama untuk membasuh dan membangunkan mereka semua dari tidur abadi."
Pertarungan klimaks di dasar bumi akhirnya tidak bisa dihindari. Terjebak di atas altar pengorbanan, Sang Ratu Penengah harus menemukan cara untuk membebaskan dirinya sendiri sebelum Willem menumpahkan setetes pun darahnya untuk menyempurnakan kebangkitan tentara kolonial tersebut.