Di Desa Karang Jati, menikah bukan soal cinta, tapi soal siapa yang terpilih untuk "menjaga" desa. Tahun ini, Kinasih—gadis panti asuhan yang tak punya siapa-siapa—mendapat kehormatan yang paling ditakuti: menjadi Pengantin Keranda.
Kinasih pikir ia akan dipasangkan dengan pemuda desa, namun impian itu hancur saat ia dipaksa bersanding dengan sebuah keranda kayu jati yang konon berisi jasad "Sang Penjaga" yang tak boleh disebut namanya. Dengan balutan kebaya merah darah yang mulai pudar, Kinasih harus menjalani ritual malam satu suro; terkunci di dalam kamar pengantin yang hanya berisi dirinya dan keranda tua yang sesekali mengeluarkan suara ketukan dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Yang Masih Mendengar
Tidak semua langsung hilang.
Tidak semua langsung berubah.
Tidak semua… ikut.
Di antara suara.
Di antara tubuh-tubuh yang sudah bukan miliknya.
Di antara denyut yang semakin
keras—
masih ada sesuatu.
Kecil.
Tipis.
Namun—
bertahan.
Gelap.
Bukan gelap biasa.
Bukan sekadar tidak ada cahaya.
Ini gelap yang… menekan.
Yang punya berat.
Yang terasa seperti menyentuh kulit.
Dan di dalam gelap itu—
ada napas.
Satu.
Pelan.
Tersengal.
Seperti seseorang… masih hidup.
“Kinasih…”
Suara itu lirih.
Hampir tidak terdengar.
Namun—
ia ada.
Bima.
Atau—
sisa dari Bima.
Ia tidak tahu di mana dirinya.
Tidak tahu apakah tubuhnya masih utuh.
Atau sudah—
dipakai.
Namun—
ia masih bisa berpikir.
Masih bisa merasa.
Dan itu—
lebih menyiksa.
Karena ia sadar—
ia tidak sendirian.
Ada sesuatu lain di dalamnya.
Lebih besar.
Lebih kuat.
Lebih… sabar.
Menunggu.
“Jangan hilang…”
bisiknya.
Namun—
tidak ada jawaban.
Karena—
yang ia panggil…
sudah tidak utuh lagi.
Di luar—
rumah itu hidup.
Benar-benar hidup.
Dindingnya berdenyut.
Lantainya bergerak.
Langit-langitnya… bernapas.
Setiap sudut—
berisi sesuatu.
Bukan manusia.
Bukan juga makhluk utuh.
Namun—
kombinasi.
Dari yang pernah ada.
Dan yang tidak seharusnya ada.
Mereka merangkak.
Merayap.
Menempel.
Menyatu.
Dengan rumah itu.
Dan di tengah—
Kinasih berdiri.
Diam.
Tenang.
Seperti pusat dari semuanya.
Matanya terbuka.
Gelap.
Namun—
tidak kosong.
Penuh.
Terlalu penuh.
“Masih ada…”
bisik suara itu di dalam dirinya.
Kinasih tidak bergerak.
Namun—
ia mendengar.
Sesuatu.
Lemah.
Dalam.
Seperti…
ketukan kecil.
Tok…
Tok…
Tok…
Dari dalam.
Bukan dari dinding.
Bukan dari lantai.
Dari—
dalam tubuhnya.
Ia menunduk.
Tangannya perlahan menyentuh dadanya.
Dan—
ia merasakannya.
Detak lain.
Bukan miliknya.
Lebih lemah.
Lebih cepat.
Lebih… manusia.
“Dia masih di sana…”
bisik suara itu.
Kinasih diam.
Beberapa detik.
Lalu—
ia tersenyum tipis.
“Bagus…”
Di dalam—
Bima membuka mata.
Atau—
ia merasa membuka.
Karena—
ia tidak yakin punya mata lagi.
Namun—
ia bisa melihat.
Sedikit.
Kabur.
Seperti dari dalam air.
Ia melihat sesuatu.
Cahaya.
Jauh.
Kecil.
Namun—
ada.
“Kinasih…”
bisiknya.
Dan untuk pertama kalinya—
cahaya itu… bergerak.
Mendekat.
Pelan.
Seperti mendengar.
Seperti merespon.
Bima mencoba bergerak.
Namun—
tidak bisa.
Tubuhnya…
bukan miliknya lagi.
Namun—
ia tidak menyerah.
Karena—
itu satu-satunya yang ia punya.
“Kinasih…”
Sekali lagi.
Lebih kuat.
Dan—
cahaya itu…
semakin dekat.
Di luar—
Kinasih berdiri di depan cermin.
Yang dulu—
menjadi awal semuanya.
Kini—
utuh.
Tidak retak.
Tidak berembun.
Namun—
pantulannya…
tidak sendiri.
Ada banyak.
Berlapis.
Bergerak.
Tidak sinkron.
Namun—
satu di antaranya…
berbeda.
Lebih terang.
Lebih hidup.
Lebih… manusia.
Kinasih menatapnya.
Lama.
Dan—
perlahan—
ia menyentuh kaca itu.
“Masih mau keluar?”
bisiknya.
Pantulan itu bergerak.
Lebih cepat dari yang lain.
Lebih panik.
Dan—
untuk pertama kalinya—
ia berbicara.
“Kinasih…”
Suara Bima.
Dari dalam.
Kinasih tersenyum.
Namun—
senyum itu tidak hangat.
“Lama juga kamu bertahan…”
Cermin itu bergetar.
Halus.
Seperti tidak kuat menahan.
“Ini belum selesai…”
bisik Bima.
Kinasih mendekat.
Sangat dekat.
Hampir menyentuh.
“Udah selesai…”
bisiknya.
“…buat kamu.”
Sekejap—
pantulan lain di cermin bergerak.
Cepat.
Menutupi.
Menekan.
Menghimpit pantulan Bima.
Seperti ingin menenggelamkannya.
“Tidak…” suara Bima terdengar tercekik.
“Kamu masih—”
Suara itu hilang.
Tertelan.
Kinasih menarik tangannya.
Menatap cermin itu.
Tenang.
Namun—
di matanya—
ada sesuatu.
Kecil.
Tipis.
Seperti… ragu.
Hanya sekejap.
Lalu hilang.
Malam semakin dalam.
Namun—
tidak ada malam di rumah itu.
Tidak ada siang.
Tidak ada waktu.
Hanya—
denyut.
Dan suara.
Dan gerakan.
Makhluk-makhluk itu semakin banyak.
Semakin jelas.
Semakin… berani.
Mereka tidak hanya di dalam rumah.
Mereka mulai keluar.
Ke halaman.
Ke jalan.
Ke dunia luar.
Dan—
setiap tempat yang mereka sentuh—
berubah.
Pelan.
Namun pasti.
Namun—
tidak semua berjalan mulus.
Karena—
ada gangguan.
Kecil.
Namun—
cukup.
Lampu di ruang tamu berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu—
padam.
Makhluk-makhluk itu berhenti.
Serentak.
Seperti merasakan sesuatu.
Kinasih menoleh.
Matanya menyipit.
“Apa…”
bisiknya.
Dan—
dari dalam dinding—
suara itu muncul lagi.
Tok…
Tok…
Tok…
Namun—
tidak sama.
Yang ini…
lebih teratur.
Lebih… sengaja.
Seperti kode.
Seperti… pesan.
Kinasih mendekat.
Pelan.
Menyentuh dinding itu.
Dan—
untuk pertama kalinya—
ia merasakan perlawanan.
Dari dalam.
“Kamu dengar?”
bisik suara di dalam dirinya.
“Iya…”
jawab Kinasih.
Dan—
ia tahu.
Ini bukan mereka.
Ini bukan makhluk-makhluk itu.
Ini—
sesuatu yang lain.
Sesuatu yang masih mencoba.
Di dalam—
Bima menatap kegelapan.
Namun—
ia tidak sendiri lagi.
Karena—
di sekitarnya—
ada cahaya kecil.
Banyak.
Seperti titik-titik.
Seperti… orang.
“Siapa…”
bisiknya.
Salah satu cahaya mendekat.
Dan—
ia mendengar suara.
Lemah.
Namun jelas.
“Kami…”
“…yang belum selesai.”
Bima membeku.
“Kalian…”
Cahaya itu bergetar.
Seperti mengangguk.
“Kami ditinggal…”
“Kami terjebak…”
“Kami… masih di sini…”
Suara mereka pelan.
Namun—
banyak.
Dan—
bersatu.
Bima menelan ludah.
Kalau masih bisa.
“Kalau kita keluar…”
bisiknya.
“…kita bisa berhentiin ini?”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
jawaban itu datang.
“Bisa…”
“…tapi harus satu yang tetap.”
Bima mengerti.
Langsung.
Tanpa dijelaskan.
“Yang lain keluar…”
“…satu tinggal.”
Sunyi.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak takut.
Tidak ragu.
Karena—
ini satu-satunya cara.
“Gue tinggal.”
Cahaya-cahaya itu bergetar.
Seperti menolak.
“Tidak…”
“Harus yang paling kuat…”
“Yang paling banyak…”
Bima menggeleng.
“Gue cukup.”
Sunyi.
Lalu—
salah satu cahaya mendekat.
Lebih terang dari yang lain.
Dan—
berbicara.
“Kalau kamu tinggal…”
“…kamu jadi dia.”
Bima menutup mata.
Atau mencoba.
“Iya…”
Jawabannya keluar.
Tanpa ragu.
“…yang penting dia keluar.”
Cahaya itu diam.
Lalu—
perlahan—
mengangguk.
Di luar—
Kinasih tiba-tiba membeku.
Tubuhnya kaku.
Matanya terbuka lebar.
Karena—
sesuatu berubah.
Di dalam.
Gerakan.
Cepat.
Tidak seperti sebelumnya.
Yang ini…
terarah.
“Dia bergerak…”
bisik suara itu.
Namun—
ada nada lain.
Tipis.
Hampir tidak terdengar.
…takut.
Kinasih mencengkeram dadanya.
Kuat.
“Berhenti…”
Namun—
tidak berhenti.
Karena—
di dalam—
sesuatu sedang melawan.
Dan untuk pertama kalinya—
bukan mereka yang menguasai.
Namun—
yang tertinggal.
“Bima…”
Nama itu keluar.
Pelan.
Seperti teringat.
Seperti… dipanggil kembali.
Dan—
di cermin—
pantulan itu muncul lagi.
Lebih jelas.
Lebih kuat.
“Kinasih…”
Kali ini—
suara itu tidak tercekik.
Tidak tertelan.
Ia keluar.
Kuat.
Nyata.
“KELUAR DARI SANA!”
Sekejap—
semua retak.
Cermin.
Dinding.
Lantai.
Suara pecah.
Makhluk-makhluk itu menjerit.
Karena—
sesuatu sedang berubah.
Dan—
pilihan…
akan terjadi lagi.
Namun kali ini—
lebih besar.
Lebih berbahaya.
Lebih… akhir.
Kinasih menatap cermin.
Tangannya gemetar.
Dan untuk pertama kalinya—
dua suara di dalam dirinya—
tidak sepakat.
“Kita hancurkan dia…”
“Jangan… biarin dia…”
Kinasih menutup mata.
Menarik napas.
Dan—
membuka.
Perlahan.
Matanya…
berubah.
Setengah gelap.
Setengah hidup.
Dan—
senyum itu muncul.
Namun—
berbeda.
Tidak utuh.
Tidak pasti.
“Kalau aku keluar…”
bisiknya.
“…kamu siap tinggal?”
Sunyi.
Di dalam—
Bima menjawab.
Tanpa ragu.
“Iya.”
Dan—
untuk pertama kalinya—
Kinasih benar-benar diam.
Karena—
ia tahu.
Ini bukan lagi tentang menang.
Ini tentang…
siapa yang tersisa.
Dan siapa—
yang hilang.
Selamanya.