"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat Narno
Prang. Brak. Brak.
Tempat ritual Narno tiba tiba saja di datangi oleh Jayandanu dan membuat semua sesajen yang ada di atas tampah berjatuhan dan berantakan di lantai, hidung Narno juga mengeluarkan darah karena di hantam oleh kekuatan Malak yang malam itu gagal mendapatkan tumbal.
"Aakjhh! kenapa Malak, Jayandanu?" tanya Narno memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Kamu salah memilih tumbal Narno! istri Kaelan itu tidak bisa kami makan! dia terlindungi Arsana! nama Kaelan Rahmadi yang dia sandang ternyata aslinya adalah Kaelan Arsana, dia benar benar keturunan Arsana!" bentak Malak
"Tapi aku pikir dia hanya membual saja dulu, makanya aku tidak terlalu peduli dengan keluarga itu, beri aku waktu dua hari, ada lima ibu hamil lagi di kampung ini dan aku akan memberikan salah satunya pada kalian" ucap Narno bersimpuh
"Ingat Narno, tumbal yang kamu berikan adalah tiga tahun sekali dan itu cukup dengan ibu hamil yang bayinya masih di dalam perut untukku dan untuk Jayandanu, dan jika kamu tidak memenuhi itu, maka semua ilmu, kejayaan dan kekuasaan yang kamu miliki sekarang akan dengan mudah aku hancurkan!" bentak Malak
"Tenanglah Malak, aku tidak lupa dengan perjanjian kita, aku akan memenuhi janjiku sama seperti tiga tahun yang lalu" jawab Narno
"Berikan cincin milikmu!" ucap Malak
Narno membuka cincin bermata hitam yang dia pakai lalu memberikan itu pada Malak, setelah cincin itu di dapatkan Malak dia langsung memejamkan matanya dan membaca sebuah mantra sampai segumpal asap hitam keluar dari batu cincin itu dan mengelilingi tubuh Jayandanu yang terluka akibat tombak milik Malak.
Desisan terdengar dari dalam asap hitam yang menutupi tubuh Jayandanu, itu karena asap itu adalah sumber kehidupan Malak dan Jayandanu yang meskipun mereka terluka akan sembuh jika asap itu sudah menempel di tubuh mereka.
"Sudah selesai, kembalilah!' ucap Malak dan asap itu kembali masuk ke dalam cincin Narno
"Apa yang terjadi Malak?" tanya Narno
"Tombak yang aku lepaskan untuk membunuh Kaelan di belokan Arsana dan mengenai Jayandanu, hati hati dengan keluarga itu sekarang, buat isu kalau Kaelan sudah melanggar adat di kampung ini, lalu usir dia tapi jangan biarkan kedua orang tuanya pergi dari sini, mereka bisa jadi sandra kita nanti" jawab Malak
"Baik malak, tapi.... apa jasad Maryani dan bayinya masih ada di dalam? aku mendengar suara tangisan bayi tadi setelah waktu suruf berganti malam" tanya Narno
"Begitu rupanya.... mungkin saja Maryani masih ada di dalam kuburannya karena aku masih mencium harum tubuh Maryani, tapi bayinya... aku tidak merasakan kehadiran bayi itu di dalam" jawab Malak
"Pasti Kaelan membawanya pergi, bayi itu bayi yang lahir dari dalam kubur, dan Maryani pasti akan mengikuti bayi itu kemanapun, dia bayi Kunti, anak Kunti" ucap Jayandanu.
"Berpura pura tidak tahu, ganti rencana biarkan anak Kunti itu tinggal di kampung ini, aku akan mengikat anak itu dengan kampung ini" ucap Malak
"Bagaimana caranya?" tanya Narno
"Ari Ari bayi, Jayandanu kejar Rumi dan Abidin, aku yakin mereka belum sampai di kampung Mahoni, tidak perlu ambil bayinya cukup ambil Ari Ari bayi itu karena aku punya rencana untuk membuat Kaelan tidak bisa lepas dari kampung cadas" perintah Malak
"Baik Malak" jawab Jayandanu segera pergi karena dia sudah kembali pulih.
°°°°°°°°°°°
Di perbatasan kampung, Rumi sudah keluar dari kampung cadas bersama Abidin dan Prawira, mereka masih menunggu kedatangan Kaelan sambil Rumi mengurus bayi perempuan yang begitu montok bahkan terlihat sehat.
"Kang, bayi ini kelaparan, aku harus memotong tali pusarnya, pinjam belati milikmu dan bersihkan terlebih dahulu dengan mata air Ciherang yang kita bawa" ucap Rumi
"Ini .. pakailah, belati ini selalu bersih" jawab Abidin menyodorkan belati miliknya dan perban yang di bawa Rumi di dalam tas miliknya.
"Untung aku bawa perban kemanapun karena Nurdin selalu memintaku membawanya, sekarang ini berguna, Prawira usir para mahluk hutan itu, mereka mencium keberadaan bayi ini" ucap Rumi
Prawira melihat sekeliling dan memang ada banyak mata para makhluk penghuni hutan sedang mengincar bayi Maryani, mata mereka terlihat merah dan geraman terdengar dari berbagai arah.
"Grrrrhhhh!"
Srak. Cleb.
Prawira menebaskan pedang yang dia bawa ke arah depan dan menancapkan pedang itu di hadapan Rumi yang sedang membersihkan bayi Maryani dari tanah dan juga mengganti kain yang di pakai bayi itu setelah tali pusarnya di potong dan di balut perban.
Para makhluk hutan yang melihat pedang Prawira langsung kabur karena mereka tahu pedang itu adalah pedang milik leluhur dari Panca yang bernama Pandu.
"Kamu sepertinya sudah terbiasa dengan dingin, Mbah menyiram kamu dengan air dingin pun kamu tidak bergerak banyak, atau kamu lapar?" tanya Rumi mengusap pipi bayi itu.
"Mbah..." panggil Kaelan yang sudah sampai di tempat itu sambil berlari.
"Mana jasad Maryani?" tanya Abidin
Mereka terkejut karena Kaelan berlari terburu buru tanpa membawa jasad Maryani bersamanya, bahkan tubuhnya terlihat kotor dan ada sisa darah di tangan Kaelan akibat menggali tanah kuburan dengan tangannya sebelum jasad Maryani terlihat.
"Maryani tidak mau ikut Mbah" jawabnya
"Maksud kamu apa?" tanya Rumi berdiri sambil menggendong bayi Maryani
"Arwah Maryani melindungi saya dari Jayandanu tadi, dia bilang jangan bawa jasadnya, dan meminta saya menguburkan dia secara islam jadi saya kembali menguburnya di sana, dengan pohon bunga kantil yang di berikan Mbah Abidin" jawab Kaelan
"Masya Allah, apa benar itu Maryani?" tanya Abidin
"Iya Mbah, bahkan jasadnya tidak bisa di ganggu Jayandanu dan Malak, saya tadi bertarung dengan dia makanya saya terluka, tapi kakek Arsana menolong saya dan menancapkan bulunya di kuburan Maryani supaya Malak dan Jayandanu tidak bisa macam macam" jawab Kaelan
"Tapi... bagaimana dengan bayi ini, dia pasti akan di ikuti Maryani" ucap Abidin
"Tidak apa Mbah kalau di ikuti qorin ibunya sendiri, itu lebih bagus daripada di ikuti Jayandanu dan Malak" jawab Prawira dan Kaelan setuju karena dia juga senang masih bisa melihat istrinya meskipun dalam wujud lain.
"Ayo kita segera pergi dari sini, jarak kampung Mahoni masih jauh" ajak Rumi
"Biar saya gendong anak saya Mbah" ucap Kaelan
"Tidak, baju kamu kotor, Mbah baru saja membersihkan bayi kamu, kasihan dia kedinginan" jawab Rumi
"Ari arinya masukkan ke dalam kantung ini dulu, nanti kita bersihkan dan masukkan ke dalam kendi kecil, kubur di kampung Mahoni supaya anak ini betah di sana" ucap Rumi
"Di mana Ari arinya Mbah?" tanya Kaelan
"Ada di ...... Innalillahi apa mungkin di bawa binatang! tadi aku menyimpannya di dalam kain bekas ini" kaget Rumi karena Ari Ari bayi itu tidak ada di sana.