Sebuah perkahwinan kontrak antara pewaris museum seni dan ahli perniagaan dingin. Tanpa cinta, tanpa pilihan, hanya keheningan yang menyembunyikan perasaan yang pernah ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Temu
Udara di pagi hari masih diselimuti kabut tipis saat Aurora melangkah keluar menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobi mansion.
Ia merasa menang karena pagi-pagi sekali ia sudah siap untuk pergi ke rumah Nenek sendirian. Namun, begitu sopir membukakan pintu belakang, langkah Aurora terhenti seketika.
Di dalam sana, duduk seorang pria dengan setelan jas hitam yang sangat rapi, sedang membaca kertas laporan kerja dengan tenang seolah kehadirannya di sana adalah hal paling normal di dunia.
"Lucien?" Aurora membelalak.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah sudah kukatakan kemarin kalau aku pergi sendiri?"
Lucien menurunkan sedikit korannya, menatap Aurora dengan wajah datar tanpa dosa.
"Aku hanya mengantarmu. Rumah Nenek searah dengan jalur kantorku hari ini."
"Searah? Kantor Valehart di pusat kota, dan rumah Nenek di pinggiran barat! Itu arah yang berlawanan!" seru Aurora sambil masuk ke mobil dengan kesal, membanting pintu sedikit lebih keras dari biasanya.
Mobil mulai melaju perlahan meninggalkan gerbang mansion.
"Kau benar-benar keras kepala, ya?" Aurora mulai mengomel, suaranya mengisi seluruh ruang kabit mobil yang tadinya sunyi.
"Aku sudah bilang aku bisa sendiri. Aku bukan anak kecil berumur enam tahun yang akan mengecat kucing lagi! Aku ini istrimu—maksudku, aku ini rekan kontrakmu yang sudah dewasa!"
Lucien tetap diam, hanya menurunkan kertas kerjanya dengan rapi.
"Dan lihat pipimu itu!" Aurora menunjuk pipi Lucien yang—jika dilihat dari dekat—masih menyisakan sedikit bayangan merah.
"Bagaimana kalau Nenek melihatnya? Beliau itu sangat teliti. Kalau dia bertanya kenapa pipi CEO agung ini merona di satu sisi, aku harus jawab apa? Bilang kalau kau baru saja mencoba menciumku di pasar loak dan aku menghajarmu?"
Aurora terus mengomel tanpa henti.
Ia membahas tentang privasi, tentang bagaimana Lucien selalu mengganggu jadwalnya, hingga tentang "struktur" yang Lucien agung-agungkan tapi dilanggarnya sendiri pagi ini.
"Kau tidak dengar ya? Aku sedang bicara, Lucien Valehart!" Aurora menyenggol lengan Lucien karena pria itu hanya diam menatap ke luar jendela.
Lucien akhirnya menoleh.
Ia tidak terlihat marah dengan omelan panjang itu. Sebaliknya, ia justru menatap Aurora dengan tatapan yang membuat Aurora mendadak lupa kalimat selanjutnya.
"Sudah selesai mengomelnya?" tanya Lucien rendah.
"Kau terlihat jauh lebih cantik saat sedang marah-marah daripada saat kau diam dan merencanakan sesuatu sendirian."
Aurora tertegun, mulutnya yang tadi terbuka siap mengeluarkan kata-kata pedas langsung tertutup rapat.
Wajahnya kembali terasa panas.
"Kau... kau menggunakan taktik yang sama lagi," gumam Aurora sambil memalingkan wajah ke arah jendela, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Berhenti memujiku hanya supaya aku berhenti memarahimu. Itu trik murahan."
"Trik murahan atau bukan, setidaknya sekarang suasana jadi lebih tenang," sahut Lucien santai.
Ia menyandarkan punggungnya, diam-diam menikmati aroma parfum Aurora yang memenuhi mobil.
"Aku hanya akan mengantarmu sampai depan gerbang. Aku tidak akan masuk jika kau memang tidak ingin aku bertemu Nenek pagi ini."
Aurora hanya mendengus, meski dalam hatinya ia tahu bahwa Lucien dengan segala sikap posesifnya yang menyebalkan, setidaknya membuat perjalanan menuju rumah Nenek yang penuh "tekanan" itu terasa sedikit lebih aman.
Lucien memperbaiki posisi duduknya, melirik Aurora yang masih memalingkan wajah ke arah jendela.
Suasana di dalam mobil mendadak menjadi lebih serius, namun ada nada lembut yang jarang ia tunjukkan.
"Aurora," panggil Lucien pelan.
Aurora hanya bergumam tidak jelas, masih enggan menoleh karena wajahnya masih terasa panas akibat pujian tadi.
"Bagaimana kalau malam ini kita makan di luar?" tanya Lucien tiba-tiba.
Aurora tersentak, ia spontan menoleh ke arah suaminya dengan dahi berkerut.
"Makan di luar? Tiba-tiba sekali? Apa ada acara relasi bisnis yang harus kudatangi bersamamu? Atau ada kontrak baru yang perlu kutandatangani?"
Lucien menggeleng pelan, ia menatap langsung ke mata Aurora.
"Bukan. Tidak ada bisnis, tidak ada relasi, dan tidak ada kontrak. Hanya makan malam biasa. Kita berdua saja."
Aurora terdiam sejenak, mencoba mencari kebohongan di mata Lucien, tapi ia tidak menemukannya.
"Kenapa? Apa kau sedang merasa bersalah karena kejadian di pasar kemarin?"
"Anggap saja begitu," jawab Lucien dengan nada yang hampir tidak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat jantung Aurora berdesir.
"Atau mungkin aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini kita bisa makan dengan tenang tanpa ada yang ditampar di akhir acara."
Aurora mendengus, berusaha menahan senyum yang hampir muncul.
"Kau masih membahas tamparan itu? Benar-benar pendendam."
"Jadi, bagaimana?" desak Lucien, suaranya terdengar sedikit lebih menuntut.
"Aku sudah memesan tempat di sebuah restoran baru dekat dermaga. Pemandangannya bagus, dan mereka punya menu yang kau sukai. Kau mau, kan?"
Aurora pura-pura berpikir sejenak, memainkan jemarinya di atas tas tangannya.
"Akan kupikirkan nanti setelah urusanku dengan Nenek selesai. Kalau mood-ku sedang bagus, mungkin aku akan mempertimbangkannya."
Lucien hanya menarik sudut bibirnya tipis, ia tahu "akan kupikirkan" versi Aurora biasanya berarti "ya".
"Baiklah. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam," pungkas Lucien dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.
Aurora tampak sedikit ragu, ia membuka buku catatannya sejenak.
"Jam tujuh? Aku tidak yakin bisa kembali ke mansion tepat waktu, Lucien."
Lucien mengernyitkan dahi.
"Memangnya setelah dari rumah Nenek, kau mau ke mana lagi?"
"Aku harus ke museum," jawab Aurora serius.
"Ada beberapa berkas koleksi yang baru tiba dan aku harus mendatanya sendiri. Urusannya bisa sampai malam karena sistem pengarsipannya masih berantakan. Jadi, kau mau menjemputku di mana? Di mansion atau di museum?"
Lucien terdiam sejenak.
Membayangkan istrinya berada di museum tua yang sepi sampai larut malam sendirian membuatnya tidak tenang.
"Di museum saja," sahut Lucien tegas.
"Aku tidak mau kau pulang sendirian naik taksi malam-malam dengan membawa dokumen penting. Aku akan menjemputmu tepat jam tujuh di depan gerbang museum."
Aurora menaikkan sebelah alisnya.
"Kau yakin? Itu berarti kau harus menungguku kalau aku belum selesai."
"Jangan khawatirkan aku, Aurora. Khawatirkan saja dirimu sendiri agar tidak jatuh tertidur di antara tumpukan kertas tua itu."
"Aku tidak akan tertidur!" protes Aurora ketus, meski hatinya sedikit hangat mendengar Lucien bersedia menjemputnya di tempat kerjanya.
"Baiklah, jam tujuh di museum," ulang Lucien seolah sedang mengunci sebuah janji suci.
"Jangan terlambat, atau aku akan masuk ke dalam dan menyeretmu keluar di depan para stafmu."
"Kau berani melakukan itu, dan aku pastikan makan malammu hanya akan berisi omelanku sepanjang malam!" ancam Aurora.
......................
Jam tangan perak Lucien menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ia sudah menunggu di dalam mobil selama tiga puluh menit, namun sosok yang dinantinya tak kunjung muncul dari gerbang besar museum.
Akhirnya, dengan sabar yang mulai menipis, Lucien memutuskan untuk turun.
Ia melangkah masuk ke dalam bangunan tua itu.
Langkah kakinya yang tegas bergema di koridor museum yang sunyi dan remang-remang. Beberapa staf yang masih lembur langsung terlonjak kaget melihat pria dengan setelan jas mahal dan aura penguasa itu tiba-tiba muncul di sana.
"T-Tuan Valehart?" salah satu staf menyapa dengan suara bergetar karena sungkan.
"Di mana Aurora?" tanya Lucien singkat, suaranya dingin namun penuh tuntutan.
"Nyonya Aurora masih ada di kantornya, Tuan. Beliau meminta untuk tidak diganggu sejak satu jam yang lalu karena sedang memeriksa arsip penting," lapor staf tersebut sambil menunjuk ke sebuah pintu kayu besar di ujung selasar.
Lucien mengangguk sekilas dan langsung berjalan menuju ruangan itu.
Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu perlahan.
Ruangan itu dipenuhi aroma kertas tua dan kopi yang sudah dingin. Lampu meja di sudut ruangan masih menyala, memberikan cahaya kekuningan yang temaram. Lucien mengedarkan pandangannya, mencari sosok istrinya di balik tumpukan dokumen yang menjulang tinggi di atas meja.
Namun, mejanya kosong.
Pandangan Lucien kemudian beralih ke sebuah sofa kulit tua yang terletak di samping jendela besar.
Di sana, Aurora sedang berbaring menyamping. Ia tertidur sangat lelap. Sepertinya ia kelelahan setelah seharian berdiskusi dengan Nenek dan bergelut dengan ratusan berkas museum.
Lucien melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah tidak ingin memecah kesunyian yang melindungi tidur Aurora. Ia berdiri di samping sofa, menatap wajah Aurora yang tampak jauh lebih tenang saat tidur. Tidak ada tatapan galak, tidak ada bibir yang mengerucut karena ingin mengomel—hanya ada napas yang teratur.
Beberapa helai rambut hitamnya menutupi pipi, dan tangan kanannya masih memegang sebuah pulpen perak yang hampir terjatuh ke lantai.
Lucien menghela napas panjang, namun kali ini bukan karena kesal. Ia berlutut di samping sofa agar sejajar dengan posisi kepala Aurora. Tangannya yang besar terangkat, dengan sangat lembut ia menyingkirkan helaian rambut dari wajah istrinya.
"Kau bilang tidak akan tertidur," bisik Lucien sangat lirih, hampir seperti desahan.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang tulus—senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di luar sana.
Alih-alih membangunkan Aurora dengan kasar, Lucien hanya diam memperhatikannya sejenak.
Ia menyadari betapa kerasnya Aurora berjuang untuk menghidupkan kembali warisan keluarganya ini. Rasa kagum yang selama ini ia sembunyikan di balik kontrak, perlahan mulai terasa nyata di dadanya.
Lucien perlahan mengambil pulpen dari tangan Aurora dan meletakkannya di meja, lalu ia melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke tubuh Aurora sebagai selimut.