Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Junior yang Melampaui
Ekantika melihat ke bawah. Sebuah anting kecil tergeletak di sana.
Bukan anting berliannya. Itu adalah anting murahan, anting yang ia pakai sebagai Nana, yang baru saja ia lepaskan saat ia hendak keluar.
Riton membungkuk, mengambil anting itu. Ia menatap anting itu, lalu menatap Ekantika.
“Anting yang lucu, Bu. Persis seperti yang saya lihat di profil aplikasi kencan teman saya,” kata Riton, matanya menyipit, senyumnya menghilang, dan ia perlahan mengangkat anting itu mendekati wajah Ekantika. “Bu Ekantika, sepertinya Anda punya selera yang sama persis dengan fresh grad yang saya ajak kencan lusa.”
Ekantika merasakan paru-parunya mengempis. Udara di lift terasa tipis, berat, dan dipenuhi aroma bahaya yang manis. Otaknya, yang terlatih untuk mengatasi krisis finansial dan negosiasi kontrak miliaran, mendadak blank. Ia hanya punya waktu tiga detik, sebelum Riton, juniornya yang kini tampak terlalu tajam, menyadari bahwa ia tidak hanya memiliki anting yang sama dengan Nana, tetapi juga mengenakan pakaian yang sama dengan CEO yang baru saja ia lihat di lobi.
“Anting yang lucu, Bu. Persis seperti yang saya lihat di profil aplikasi kencan teman saya,” ulang Riton, matanya menyipit.
Ekantika menarik napas, memaksakan senyum profesional yang dingin. “Oh, ini? Ini barang promosi, Riton. Saya yakin 70% wanita di Jakarta punya anting model seperti ini. Murah, kan? Beli di pasar malam. Saya sering beli untuk Vina,” jawabnya, nadanya datar, mengacu pada asistennya. Ia berbohong tanpa berkedip, mengutuk dirinya sendiri karena tidak membuang anting itu di tempat sampah sebelum bertemu Riton.
Ia mengulurkan tangan, mengambil anting itu dari Riton. Jari mereka bersentuhan sekilas, dan Ekantika merasakan sengatan aneh, bukan ketegangan profesional, melainkan ketegangan dari jarak yang terlalu dekat antara dua identitas yang seharusnya terpisah sembilan tahun dan puluhan miliar rupiah.
“Kalau begitu, saya permisi, Riton,” kata Ekantika, suaranya kembali ke mode CEO. Ia menekan tombol B dengan keras, seolah tombol itu adalah pelarian darurat.
“Tentu, Bu Ekantika. Sampai ketemu besok di rapat Project Garuda,” kata Riton, senyumnya kembali, tetapi kini ada sedikit keraguan di matanya, seperti seorang auditor yang baru menemukan anomali kecil dalam laporan keuangan.
Pintu lift tertutup. Ekantika bersandar di dinding metal, memejamkan mata. Ia baru saja lolos dari pengawasan Riton, tetapi ia tahu, ia hanya menunda eksekusi.
Ia segera menelepon Dimas, begitu ia sampai di mobil.
“Dimas, batalkan semua rencana anting murahan dan kos-kosan virtual! Situasi berubah! Riton sudah melihatku dan anting Nana di waktu yang sama, di tempat yang sama!” teriak Ekantika, suaranya sedikit bergetar.
“What? Bagaimana bisa? Bukankah kamu sudah mengklaim kamu di luar kota?” Dimas terdengar panik.
“Iya, tapi kami bertemu di lobi! Dia melihat anting yang baru saja kuklaim hilang! Aku bilang itu barang promosi pasar malam! Dimas, aku butuh damage control yang lebih besar dari ini,” desak Ekantika.
“Oke, oke. Tenang. Tarik napas. Anggap ini adalah bug terburuk dalam sistemmu. Kita harus segera mencari tahu mengapa Riton ada di sana, dan seberapa banyak ia tahu. Coba kamu cek dulu profil profesional Riton. Aku akan cek ulang metadata fotomu,” perintah Dimas.
Ekantika mengangguk, meskipun Dimas tidak bisa melihatnya. Ia menyuruh sopir untuk mengantarnya pulang. Sepanjang perjalanan, ia membuka laptopnya, mengakses basis data perusahaan yang lama, dan mulai menggali. Ia mengetik nama Riton Wijaya di kolom pencarian.
Ia mengenali Riton Wijaya yang ia lihat di lobi. Pria itu sudah jauh berbeda dari juniornya yang canggung lima tahun lalu. Riton kini memiliki aura kekuasaan yang lebih tenang, lebih matang, dan jauh lebih memikat.
“Ini bukan hanya soal Riton yang dulu, Dimas,” gumam Ekantika, saat ia membuka berita-berita bisnis terbaru.
Jantungnya mencelos.
Riton Wijaya. CEO dan founder dari Aksara Digital, start-up yang baru saja mendapatkan pendanaan Seri B sebesar 500 miliar rupiah. Riton bukan lagi junior yang ia ingat. Riton adalah pemain besar, dengan nilai aset yang mungkin menyaingi perusahaannya.
“Sialan,” desis Ekantika.
“Kenapa? Apa yang kamu temukan?” tanya Dimas di telepon.
“Riton. Dia bukan lagi junior kita, Dimas. Dia CEO Aksara Digital. Start-up yang baru saja memenangkan pendanaan besar,” Ekantika tertawa, tawa yang terdengar histeris. “Aku tidak hanya berkencan dengan pria yang lebih muda. Aku berkencan dengan calon rival bisnis yang sukses. Ini sebuah hostile takeover yang sedang menyamar sebagai romansa.”
Dimas terdiam sejenak. “Astaga, Tik. Kamu benar-benar memilih pertarungan yang setara, ya. Aku kira kamu hanya ingin mencari validasi dari fresh grad yang polos.”
“Dia tidak polos, Dimas. Dia karismatik, cerdas, dan kaya. Dia adalah jackpot yang akan menghancurkan aku jika kebohongan ini terungkap,” kata Ekantika, mulai merasa terintimidasi.
Ia menatap foto Riton di layar, wajahnya yang tampan dan tatapan matanya yang penuh ambisi. Riton yang ini jauh lebih berbahaya daripada Riton yang ia bayangkan saat ia membuat profil Nana.
Ekantika bersandar di kursi mobilnya. Ia mencapai sebuah persimpangan krusial. Ia bisa mundur sekarang. Ia bisa menghapus Nana, meng unmatch Riton, dan kembali ke kehidupan Ekantika Asna yang dingin, sibuk, dan menyedihkan.
Atau…
Ia bisa melanjutkan.
Rasa penasaran Ekantika mulai memuncak. Ini bukan lagi tentang mencari validasi murahan. Ini tentang melihat seberapa jauh ia bisa memainkan peran ini di hadapan seorang pria yang sama cerdasnya, bahkan mungkin lebih cerdas dari dirinya dalam hal membaca orang. Ini adalah ujian terbesar bagi keterampilan manipulasinya.
“Dimas, aku harus tahu lebih banyak tentang dia. Apakah ada informasi tentang kehidupan pribadinya? Keluarga?”
“Tunggu, Tik. Kamu mau lanjut?” Dimas terdengar tidak percaya. “Dia CEO, Tik. Dia bukan lagi target validasi yang aman. Kalau dia tahu kamu menipunya tentang usia dan status janda, ini bukan hanya akan menghancurkan hubunganmu, tapi bisa menghancurkan Proyek Garuda. Kamu akan menghadapi tuntutan hukum karena konflik kepentingan dan penipuan identitas di aplikasi kencan!”
Ekantika mengabaikan peringatan itu. “Aku tahu risikonya, Dimas. Tapi, kamu tahu apa yang paling menarik di sini?”
“Apa?”
“Dinamika kekuasaan ini terbalik. Aku adalah bosnya dulu, dia junior. Sekarang, secara profesional kami setara, tetapi secara kencan, aku memposisikan diriku sebagai juniornya (Nana, fresh grad). Bukankah ini menarik? Aku bisa melihat bagaimana dia berinteraksi dengan orang yang ia anggap ‘lebih rendah’ statusnya. Aku bisa mengukur etika dan karakternya sebelum ia tahu siapa aku sebenarnya,” jelas Ekantika, nadanya penuh perhitungan.
“Kamu mau mengujinya? Kamu mau menjadikan kencan ini sebagai uji tuntas karakter?” Dimas menghela napas panjang. “Astaga, Tik. Kamu benar-benar sudah merancang Algoritma Pembangkang ini sampai ke detail yang paling gila.”
“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan stigma mengalahkan aku. Aku harus membuktikan bahwa aku bisa memenangkan hati pria sukses ini, bukan sebagai Ekantika Asna yang bercerai dan kaya raya, tetapi sebagai Nana yang polos. Kalau aku bisa melakukannya, itu artinya aku masih relevan, Dimas,” kata Ekantika, semangatnya kembali membara.
“Baiklah, risiko sudah dipertimbangkan. Sekarang, kembali ke data Riton. Aku menemukan sesuatu tentang dia dan wanita yang lebih tua. Sebuah artikel gosip lama dari tiga tahun lalu,” kata Dimas, mulai mengetik lagi.
Ekantika menahan napas. “Cepat, bacakan.”