NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Udara malam merayap menusuk tulang, membalut sekeliling dengan kabut tipis yang seakan menahan setiap hembusan napas. Namun, hawa dingin itu tidak sebanding dengan panasnya ketegangan yang menggantung di antara mereka. Ketegangan yang memancar dari tatapan saling menantang.

"Aku hanya ingin memperoleh keterangan dari gadis yang kalian lindungi itu." Nada Oscar terdengar datar, namun sorot matanya tajam bak bilah baja yang menggores kulit. Tatapannya terkunci pada Alma, membuat gadis itu tanpa sadar bergidik. Jemari mungilnya meremas keranjang piknik, sebelum ia sedikit bergeser, berlindung di balik bahu bidang Kaiden, seakan mencari perlindungan dari badai yang sedang mengamuk di hadapannya.

Leon, yang berdiri tak jauh dari mereka, menyipitkan mata. Sorotnya dingin, namun penuh amarah terpendam, langsung tertuju pada kakaknya itu. "Apakah yang kau maksud ‘memperoleh keterangan’ adalah dengan cara mengintimidasinya?" ucap Leon, suaranya tajam seperti ujung pedang yang siap menebas.

Oscar tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi. "Semua pihak yang dicurigai mendapat perlakuan yang sama," jawabnya tanpa perasaan, seakan hal itu adalah hukum mutlak yang tak perlu diperdebatkan.

"Kau…" Calvin, yang sejak tadi memilih diam, akhirnya membuka suara. Nada suaranya berat, menahan amarah yang siap meledak. "Kau sudah melewati batas..."

Namun protesnya terhenti begitu saja ketika tatapan Oscar, yang sedingin logam di musim salju, menembus balik ke arahnya. Aura yang memancar dari lelaki itu membuat udara di sekitar terasa lebih pekat.

Di belakang Kaiden, Alma menarik ujung baju lelaki itu. Napasnya bergetar. Ia tahu, jika ia hanya bersembunyi, situasi ini tak akan mereda. Dengan detak jantung yang terasa memukul keras di dalam dada, ia melangkah maju perlahan. Meski wajahnya pucat, ia mencoba menampilkan senyum samar yang dimaksudkan untuk menenangkan ketiga pria yang berdiri di sisinya.

"Permisi… jika ada yang dapat kubantu, aku akan melakukannya sebisaku," ujarnya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh hembusan angin malam. Jemarinya menggenggam lebih erat keranjang piknik di tangannya, bukan sekadar menahan beban, tetapi menahan kegugupan yang hampir menguasai tubuhnya.

Oscar menatapnya lama, seolah menimbang setiap gerakan dan napas yang diambil gadis itu. "Kesempatan di depan mata tidak akan aku sia-siakan," ujarnya dengan nada penuh keyakinan. "Kami sedang memburu seorang pembunuh berantai. Ciri khasnya, ia selalu meninggalkan mawar merah pada korbannya. Dan malam ini, di sini, satu-satunya orang yang membawa dan membagikan mawar merah… adalah dirimu."

Tatapan itu menusuk, menelanjangi gerak-gerik Alma yang semakin kaku. "P-pembunuh!" Alma terbata. "Aku… aku tidak tahu apa-apa. Mawar ini kupetik dari kebun di rumah. Niatku hanya membagikannya di sini… tidak lebih."

"Alma, kau tidak perlu menjelaskan," Kaiden berkata, lalu melangkah sedikit ke depan hingga tubuhnya menghalangi Oscar. "Karena masalah ini sama sekali tidak ada kaitannya denganmu."

Oscar terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar lebih seperti ejekan daripada hiburan. "Kau seyakin itu? Dunia ini terlalu penuh kebetulan untuk percaya pada penjelasan sederhana."

Leon mendengus. "Atau mungkin, kau terlalu terobsesi mencari bukti sampai lupa membedakan antara tersangka dan orang tak bersalah."

Oscar membalas tatapan adiknya dengan tatapan tak kalah tajam. "Aku tidak pernah lupa, Leon. Justru karena aku mengerti, karena perbedaan itulah aku berada di sini, mengorek kebenaran yang kalian coba tutupi."

Calvin mengerutkan kening. "Kebenaran? Atau hanya paranoia yang kau bungkus dengan alasan penegakan hukum?"

Ketegangan itu hampir mencapai puncaknya ketika langkah cepat terdengar mendekat dari arah belakang. Seorang pria berpakaian gelap muncul, menunduk hormat pada Oscar. "Kapten, kami menemukan seseorang yang tampaknya mengenal gadis ini. Dia mencoba menghindari kami, tapi kami berhasil membawanya."

Oscar melirik sekilas. "Bawa kemari."

Dua anak buahnya menarik seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut yang sedikit berantakan, namun masih mempertahankan penampilan rapi. Begitu wajahnya berada di bawah cahaya, Oscar terbelalak.

"Jean…?"

Jean, yang awalnya terlihat gusar, menegakkan tubuhnya begitu melihat sosok Oscar. Matanya membulat, lalu menyipit, seperti seseorang yang baru saja bertemu hantu dari masa lalu.

"Kapten?" ucapnya dengan nada datar, namun penuh makna.

Oscar menghentikan langkahnya, memandang Jean dengan sorot yang sulit diartikan. "Jean. Sudah lama sekali."

Nada yang digunakan Oscar begitu baku, nyaris formal, namun ada getaran samar yang terpendam di balik kata-kata itu. "Tiga tahun, dua bulan, dan..." Jean melirik jam tangannya, "...tujuh belas hari. Tepat sejak terakhir kali kita bertemu."

"Dan selama itu kau menghilang tanpa jejak," balas Oscar, suaranya berat. "Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Hanya meninggalkan tanda tanya."

Jean menahan napas, lalu tersenyum tipis. "Atau mungkin aku sengaja pergi, kapten. Karena aku tahu, tetap berada di ketentaraan tidak akan berakhir dengan baik"

Kaiden dan Leon saling bertukar pandang, menyadari bahwa percakapan ini memuat sejarah panjang yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Sementara Calvin memicingkan mata, waspada.

Oscar melangkah mendekat, matanya tidak pernah lepas dari Jean. "Dan kini, setelah semua itu, kau muncul kembali… bersamaan dengan kasus ini… dan bersama gadis yang kebetulan menjadi fokus penyelidikan kami."

Jean menghela napas panjang. "Aku tidak ada hubungannya dengan kasus yang tengah kalian selidiki. Dan nona Alma tidak bersalah."

"Keyakinanmu terdengar manis," kata Oscar datar. "Namun manis tidak menghapus noda darah."

Alma menggenggam keranjang pikniknya semakin erat, merasa seolah berada di tengah pusaran badai yang semakin membesar. Kaiden melangkah maju lagi, berdiri sejajar dengan Jean. "Cukup. Kau tidak berhak mengintimidasi siapa pun di sini tanpa bukti yang jelas."

Leon ikut menambahkan, suaranya dingin namun mantap, "Dan jika kau mencoba, kak, kau akan berhadapan bukan hanya dengan satu orang."

Oscar menatap mereka bertiga. Kaiden, Leon, Calvin. Lalu Jean, sebelum akhirnya kembali memandang Alma. Senyuman tipis terukir di wajahnya, senyum yang lebih menakutkan daripada tatapan marah mana pun. "Kita lihat saja… apakah kebetulan ini hanya sekadar kebetulan."

Udara di sekitar seakan membeku, meninggalkan semua orang dalam ketegangan yang belum menemukan ujungnya.

🥀🥀🥀

"Kapten, kami menemukan Violet!" suara terburu-buru itu datang dari arah timur taman. Anggel, berlari tergesa, napasnya terengah-engah, jaketnya sedikit terbuka karena berlari menembus angin malam.

Begitu sampai di hadapan mereka, ia langsung memberi laporan cepat. "Dia… dia melihat pria mencurigakan. Dari situ dia panik, berlari ketakutan, dan bersembunyi di ujung taman. Dia baik-baik saja, hanya sedikit syok."

Ucapan itu seolah memaku semua orang di tempatnya. Sejenak, hanya suara keramaian dari pertunjukan kembang api yang terdengar di kejauhan. Penjelasan Anggel menjadi potongan terakhir dari teka-teki yang sejak tadi membuat suasana tegang dan penuh kecurigaan.

Kaiden menyandarkan satu tangannya di saku celana, bibirnya terangkat dalam senyum tipis penuh kemenangan. Sorot matanya menyapu Oscar dengan tatapan menusuk, nyaris seperti ejekan yang dibungkus kesopanan. "Lihat sekarang. Pelakunya bahkan tidak berada di sini. Tuduhanmu sejak awal memang tidak berdasar."

Oscar terdiam beberapa detik. Rahangnya mengeras, genggaman tangannya di sisi tubuh terlihat menahan gejolak yang campur aduk malu, kesal, sekaligus sedikit lega. Perlahan, ia mengalihkan pandangannya pada Alma yang sejak tadi berdiri agak terlindung di balik bahu Kaiden dan Leon. Wajah gadis itu pucat, tapi sorot matanya tetap tenang walau ada sedikit ketegangan yang belum hilang.

"Aku… salah menilaimu, Nona," ucap Oscar akhirnya, suaranya berat namun tulus. "Maafkan aku, karena menuduhmu tanpa bukti yang jelas."

Alma terdiam sejenak, bibirnya melengkung tipis. Ada sedikit getaran di ujung napasnya, entah karena lega atau karena tadi ia benar-benar merasa terpojok. "Tidak apa-apa, tuan," jawabnya pelan namun jelas. "Yang penting sekarang semuanya sudah jelas."

Ia lalu menoleh pada Kaiden, Leon, dan Calvin. Sorot matanya melembut, namun senyum yang ia berikan mengandung rasa syukur yang dalam. "Terima kasih… untuk kalian bertiga. Kalau saja kalian tidak ada di sini, mungkin aku sudah…." ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya menghembuskan napas panjang yang menghapus sisa kekhawatiran.

Kaiden mengangkat bahu seolah semua itu hal sepele, tapi ada kilatan puas di matanya. Calvin hanya mengangguk singkat, sementara Leon tersenyum tipis, seakan berkata, Kau aman sekarang, itu yang penting.

Beberapa anggota tim Oscar mulai membubarkan diri setelah mendapat instruksi untuk mengawal Violet, meninggalkan area itu sedikit lebih lengang. Hanya cahaya lampu taman dan bayangan pepohonan yang menemani mereka.

Alma merapikan gaunnya, lalu menoleh pada Jean yang sejak tadi berdiri tidak jauh. "Jean, ayo kita pulang."

Jean segera melangkah mendekat, membukakan jalan dengan sopan. Alma lalu menatap ketiga pria itu sekali lagi. "Sekali lagi… terima kasih. Semoga kita bisa bertemu lagi dalam suasana yang lebih baik," ucapnya sambil menundukkan kepala sedikit.

Ia kemudian berjalan anggun meninggalkan tempat itu, diiringi langkah Jean. Gaun yang ia kenakan berayun pelan tertiup angin malam, sementara suara sepatunya beradu lembut dengan jalan setapak batu. Di belakangnya, Kaiden, Leon, dan Calvin hanya memandang, masing-masing dengan pikiran yang berbeda.

🥀🥀🥀

Di dalam mobil yang melaju tenang menembus jalanan ibu kota, Alma duduk bersandar di kursi penumpang belakang. Siku kirinya bertumpu pada sandaran pintu, jemari lentiknya menopang dagu. Pandangannya terarah keluar, menembus kaca jendela yang memantulkan bayangan samar wajahnya. Jalanan malam itu terbilang lenggang, hanya sesekali dilintasi kendaraan lain. Lampu-lampu jalan memercikkan cahaya kekuningan yang jatuh seperti kilau di permukaan aspal. Gedung-gedung pencakar langit menjulang angkuh, seakan menantang langit gelap dengan kelip lampu yang menari di setiap sisinya.

"Tadi cukup menyenangkan, bukan begitu, Jean?" ucap Alma tanpa mengalihkan pandangan dari luar jendela. Senyum samar menghiasi bibirnya, senyum yang bukan semata karena kebahagiaan, melainkan kepuasan. "Dan aku tidak menyangka… aktingmu ternyata lumayan juga."

Jean yang duduk di kursi kemudi hanya melirik melalui kaca spion, bibirnya melengkung tipis. "Terima kasih, Nona," sahutnya singkat, nada suaranya tenang, nyaris datar, tetapi ada sedikit kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.

Alma mengubah posisi duduknya, bersandar santai. "Menurutmu, bagaimana dengan mantan kaptenmu itu?" tanyanya, nada suaranya ringan, seakan menyinggung hal sepele, padahal matanya berkilat menunggu jawaban.

Jean terdiam sejenak, pandangannya menatap lurus ke depan. Napasnya tertata, tetapi ada kilasan bayangan masa lalu yang sepertinya tak sepenuhnya terkubur. "Dia bukan orang yang mudah menyerah," ucapnya akhirnya. "Begitu ia mencium jejak, kecurigaan itu akan tertanam di hatinya, mengakar, dan sulit dicabut. Nona… Anda harus berhati-hati padanya."

Alma terkekeh pelan, nada tawanya terdengar seperti seseorang yang menikmati permainan berbahaya. "Aku tahu. Justru itu yang membuatnya menarik. Bukankah lebih menyenangkan bermain dengan seseorang yang cerdas, penuh kecurigaan, dan selalu mencari celah?" Ia menegakkan tubuhnya sedikit, matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. "Bayangkan… di saat dia begitu yakin semua bukti mengarah pada orang yang ia curigai… lalu di hadapannya sendiri, seluruh tuduhan itu runtuh. Tidak ada yang lebih memuaskan daripada melihat ekspresinya saat keyakinannya patah begitu saja."

Ia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali wajah Oscar tadi. Garis rahang yang menegang, mata tajam yang dipenuhi amarah bercampur kebingungan. "Ah… pemandangan yang indah," gumamnya.

Jean meliriknya sekilas. "Lalu, Nona… apakah Anda akan membiarkan Violet begitu saja?"

"Tentu saja tidak," jawab Alma, seolah pertanyaan itu terlalu mudah. "Domba yang sudah ditandai tidak akan dilepaskan begitu saja. Lagi pula…" ia menatap langit malam di luar jendela, senyumnya perlahan melebar, "…seseorang akan segera tiba di negara ini. Dan saat itu, permainan akan benar-benar dimulai."

Jean mengangkat alis, nada penasaran menyusup di suaranya. "Seseorang?"

Alma tidak langsung menjawab. Ia membiarkan jeda panjang, seolah menikmati ketegangan yang muncul. "Dia… bukanlah bidak biasa. Seorang yang menjadi pusat permainan, yang memahami bagaimana papan ini bekerja."

"Dan nona yakin ini akan mempermudah rencana?" tanya Jean hati-hati.

Alma tersenyum tipis, matanya setajam belati. "Bukan mempermudah… tapi memperkaya. Aku tak mencari jalan yang mulus, Jean. Aku mencari jalan yang penuh jebakan, penuh risiko. Hanya di situlah kemenangan terasa manis."

Suasana di dalam mobil kembali hening. Hanya suara mesin yang menderu halus dan deru ban yang bersentuhan dengan aspal. Di luar, lampu lalu lintas berganti hijau, membiarkan mereka melaju lagi.

Alma merapatkan mantel tipisnya, lalu bersandar, tatapannya kembali menerobos jendela. "Permainan kecil tadi hanyalah pemanasan. Oscar akan terus mencari, Violet akan terus berlari, dan bidak baru itu… akan mulai mengacak papan." Ia tersenyum seperti seseorang yang sudah melihat akhir dari cerita ini. "Dan saat semuanya berpikir mereka mengerti permainannya… itulah saat aku membalikkan segalanya."

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!