Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Istana
Angkasa menatap Nia dengan dingin dan tajam.
"Kalo gitu... sekarang aja, gimana?" tanya Angkasa pada Nyonya Mahendra. Nyonya Mahendra menepukkan tangannya.
"Ide bagus, Sayang. Nia gimana?" tanya Nyonya Mahendra pada Nia.
"Eh? Peralatannya?" tanya Nia bingung.
"Itu bukan masalah besar. Oke. Kamu makan dulu sambil menunggu peralatan kamu datang," kata Nyonya Mahendra bersemangat lalu mengambil ponselnya.
"Maaf, Nyonya, cukup kanvas dan easel saja. Saya akan buat sketsa kasarnya dulu, untuk finishing bisa saya lakukan di rumah," kata Nia.
"Oh. Oke. Enaknya yang ukuran berapa kanvasnya?" tanya Nyonya Mahendra.
"Mmm... 60cmx80cm atau lebih juga bagus, Nyonya," jawab Nia.
"Oke,"
Acara berlangsung dengan santai. Obrolan terjadi disana-sini. Mentari masih merengut karena gagal beraksi. Dia masih menatap Angkasa yang dengan santai menyantap main course beef bourguignon. Sesekali Mentari menatap Nia yang juga sedang menyantap foie gras, hidangan pembuka, sambil sesekali mengobrol dengan ibunya.
'Siapa sih Nyonya itu? Apa dia lebih kaya dari papa?' tanya Mentari dalam hati.
"Pa, siapa sih Nyonya Lestari?" tanya Mentari pada papanya dengan nada berbisik.
"Dia pimpinan dari developer terkenal di negeri ini, Lestari Property, investor andalan Tuan Mahendra," jelas Tuan Adiwangsa.
"Sekaya itu?" tanya Mentari dengan nada tertahan, tak percaya. Papanya mengangguk.
"Yang papa dengar, puterinya itu adalah anak hasil adopsi dari panti asuhan. Padahal Nyonya Lestari sendiri sudah punya seorang putera kandung," kata Tuan Adiwangsa. Mentari manggut-manggut.
'Oh, cuma anak panti? Pantesan gayanya selangit,"
Tak lama kemudian dua orang pelayan memasuki ruang VIP dengan membawa easel dan dua orang lagi membawa kanvas. Tuan dan Nyonya Mahendra mulai berpose dibantu Nia. Angkasa menatap Nia yang tengah membantu kedua orangtua asuhnya berpose.
"Silakan, Tuan Muda berdiri di samping Tuan Besar," kata Nia sopan. Angkasa melirik Nia sebentar sebelum akhirnya berjalan menuju Tuan dan Nyonya Mahendra.
Nia mengeluarkan pensil yang selalu dibawanya kemana-mana dari dalam tas selempang kecilnya. Angkasa melihat Nia. Sudut bibirnya terangkat sedikit sekali.
'Dia benar-benar tidak berubah,'
***
Nia berbaring, sambil menatap sketsa yang dibuatnya saat jamuan makan malam tadi. Dia masih belum menyangka bertemu Angkasa di acara itu. Ternyata Angkasa diasuh oleh orangtua yang tidak sembarangan.
"Tapi, bukan berarti dia harus jadi sedingin itu kan?" gumam Nia sambil menatap sketsanya.
"Tok... Tok..." suara ketukan pintu kamar terdengar. Nia sedang berada di kediaman Nyonya Lestari. Setelah selesai jamuan, Nyonya Lestari meminta Nia untuk tidur di rumah.
"Ya?" tanya Nia, memastikan siapa yang mengetuk pintu kamarnya selarut itu.
"Udah tidur, Nia?" tanya sebuah suara dengan lembut. Nia bergegas beranjak dari tempat tidurnya dan membukakan pintu kamar.
"Kak Bayu baru pulang?" tanya Nia saat membuka pintu. Bayu, putera kandung Nyonya Lestari, tersenyum hangat. Ada gurat kelelahan di wajahnya.
"Meeting molor. Diskusi alot. Biasa," keluh Bayu.
"Maaf, jadi bikin kamu gantiin aku nemenin mama ke acara jamuan itu. Bosen pasti," kata Bayu. Nia menggeleng.
"Masuk, Kak. Aku tunjukin sesuatu," kata Nia. Bayu memasuki kamar Nia yang diterangi temaram lampu tidur. Nia menyalakan lampu utama. Bayu melihat sebuah kanvas besar dengan sketsa sebuah keluarga.
"Keluarga Nyonya Mahendra?" tanya Bayu. Nia mengangguk.
"Nyonya Mahendra minta dilukis," kata Nia.
"Pantesan lama," kata Bayu sambil tersenyum.
"Bagus. Aku selalu suka lukisan kamu," puji Bayu sambil duduk di tepi tempat tidur Nia.
"Besok pagi, aku anter kamu ke kampus. Jangan lupa kunci pintu sebelum tidur. Pastikan bertanya kalau ada yang mengetuk," pesan Bayu sambil beranjak dari duduknya.
"Iya Kak. Maaf, udah bikin Kakak khawatir terus," kata Nia. Bayu mengacak rambut Nia pelan.
"Udah tugas aku," kata Bayu sambil tersenyum hangat lalu keluar dari kamar Nia.
Bayu memastikan mendengar Nia mengunci kamarnya sebelum akhirnya pergi ke kamarnya. Nia kembali merebahkan tubuhnya lalu menoleh menatap sketsanya.
"Dia kakak ku. Bayu namanya. Dia baik, bahkan terlalu baik," kata Nia pada wajah Angkasa dalam sketsanya.
Nia kembali teringat peristiwa kelam empat tahun yang lalu. Peristiwa yang membuat Nia sempat depresi dan takut keluar kamar. Untung saja, Bayu selalu menguatkannya, meyakinkannya bahwa dia akan selalu menjaganya.
"Kalau kamu tau tentang kejadian itu... apakah kamu akan... merasa jijik pada ku? Atau... melindungi ku seperti Kak Bayu?" gumam Nia, masih sambil menatap sketsa wajah Angkasa yang dibuatnya.
Malam semakin larut. Nia terus menatap sketsa wajah Angkasa hingga tertidur.
'Aku ini... kotor, Ang,'
***
Pagi itu Angkasa sudah siap berangkat saat mamanya tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Angkasa," panggil Nyonya Mahendra. Angkasa berbalik.
"Ya, Ma?" tanyanya datar.
"Eh, kamu tesnya di universitas negeri kota kan? Di fakultas apa? Mama denger, Nia kuliah disana, di Fakultas Seni. Kamu mampir lah, basa-basi tanya lukisan kita yang kemarin," pinta Nyonya Mahendra.
"Kalo Aang inget ya, Ma," jawab Angkasa datar.
"Ya harus diinget-inget dong," kata Nyonya Mahendra, memaksa. Angkasa menghela napas pelan. Dia lupa bahwa permintaan mamanya adalah perintah mutlak.
"Hm,"
"Nanti kalo ketemu Nia, telepon mama ya. Mama mau ngomong," kata Nyonya Mahendra. Angkasa mengangguk.
Angkasa sudah tahu mamanya akan memintanya untuk menelepon, untuk mengetahui Angkasa benar-benar mencari Nia atau tidak. Padahal Angkasa sudah susah payah bersikap dingin agar Nia tidak ikut terjun ke dalam dunianya. Namun, sepertinya Nyonya Mahendra sangat menyukai Nia.
"Ya udah. Hati-hati ya. Yang teliti ngerjainnya. Good luck!" kata Nyonya Mahendra lalu mengecup pipi kanan dan kiri Angkasa.
"Angkasa berangkat dulu, Ma,"
"Hati-hati!"
Nyonya Mahendra bukan mama yang jahat. Ada masa kelam yang membuatnya trauma. Tuan Mahendra selalu menjaga Nyonya Mahendra agar tetap bahagia dan tertawa. Jadi, wajar kalau semua permintaan Nyonya Mahendra selalu dikabulkan oleh Tuan Mahendra. Tuan Mahendra pun memohon pada Angkasa untuk melakukan hal yang sama.
"Selama Aang bisa dan tidak merusak hidup Aang, akan Aang lakukan," janji Angkasa pada Tuan Mahendra saat itu. Tuan Mahendra menyetujuinya.
Sejak saat itu, Angkasa tidak pernah menolak permintaan mamanya. Angkasa melakukannya sebagai bentuk balas budi karena Tuan dan Nyonya Mahendra sudah menghidupinya lebih dari layak.
Angkasa melajukan motor Honda CBR250RRnya dengan kecepatan sedang menuju kampus dimana Nia berada. Di tengah perjalanannya, Angkasa meraba saku kiri celana jeans, tempat dia menyimpan gelang persahabatan dari Nia. Angkasa kembali fokus menyibak jalanan, melajukan motornya lebih cepat dari sebelumnya.
'Nia... apa hidup kamu berat selama ini? Aku rasa tidak. Kau terlihat masih sama. Sepertinya keluarga baru mu menyayangi mu. Syukurlah...'
***