NovelToon NovelToon
GUS BAD BOY MY HUSBAND

GUS BAD BOY MY HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
​Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
​Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
​Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Sembilu di Balik Senyum Sang Gus

Pagi itu, Pesantren Al-Ikhlas diselimuti kabut tipis yang membawa aroma tanah basah. Di ruang tengah ndalem, suasana tampak begitu kontras dengan ketegangan yang dialami Arini dan Zikri semalam. Kyai Ahmad duduk tenang sambil menelaah kitab kuning, sementara Nyai Salma sibuk menata bunga melati di vas meja.

Semuanya tampak normal, seolah-olah tidak ada ancaman pemerasan yang sedang mengintai putra mahkota mereka.

Arini keluar dari kamar dengan langkah gontai. Matanya sedikit sembab karena kurang tidur. Di belakangnya, Zikri menyusul. Pria itu tampak jauh lebih rapi daripada saat ia pulang dini hari tadi. Ia mengenakan baju koko berwarna biru langit yang senada dengan kerudung Arini—sebuah kesengajaan yang diatur Arini agar mereka terlihat harmonis di depan sang Kyai.

"Zikri, nanti siang ikut Abah ke pertemuan antar pengasuh di kota," ujar Kyai Ahmad tanpa mengalihkan pandangan dari kitabnya. "Ada beberapa hal penting terkait kurikulum baru yang harus kamu pahami."

Zikri terdiam sejenak. Arini bisa melihat jakun suaminya bergerak naik-turun, pertanda ada gejolak yang sedang ditekan. "Inggih, Bah," jawab Zikri singkat.

Saat Kyai Ahmad beranjak pergi, Zikri segera menarik Arini ke sudut lorong yang sepi. "Marco sudah mengirim pesan lagi," bisiknya dengan suara serak. "Dia minta uang muka sore ini. Kalau tidak, foto-foto itu akan dikirim ke alamat email resmi yayasan."

Arini meremas jemarinya. "Berapa yang dia minta?"

"Lima juta. Itu baru awal, Rin. Aku tidak punya uang tunai sebanyak itu tanpa menarik perhatian bendahara pesantren."

Arini terdiam, otaknya berputar cepat. Sebagai penulis, ia sering menciptakan skenario penyelamatan, tapi ini adalah hidup nyata yang tidak bisa dihapus dengan tombol backspace.

"Aku akan coba menghubungi penerbitku. Ada royalti novelku yang seharusnya cair minggu depan. Akan kucoba minta percepat."

Zikri menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam. "Kenapa kamu terus mengorbankan diri untukku, Arin? Aku ini cuma beban. Aku ini... 'Gus' gagal."

Arini memegang lengan Zikri, menatapnya dengan tegas. "Karena kamu bukan Gus gagal, Zikri. Kamu hanya orang yang dipaksa memakai baju yang terlalu sempit untuk jiwamu. Sekarang, pergilah dengan Abah. Tunjukkan bahwa kamu bisa diandalkan. Biar urusan Marco, aku yang pikirkan jalannya."

Siang harinya, setelah Zikri pergi bersama Kyai Ahmad, Arini memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berisiko. Ia mengambil motor bebek tua milik Zikri yang tersembunyi di gudang.

Ia mengenakan jaket hoodie gelap dan menutupi cadarnya dengan masker kain biasa agar tidak dikenali sebagai menantu Kyai.

Ia pergi ke kota, menuju sebuah kafe remang-remang yang menjadi tempat berkumpulnya anak-anak motor. Di sana, ia sudah membuat janji dengan seseorang bernama Rian, teman dekat Zikri yang diceritakan tempo hari.

Rian tampak terkejut melihat Arini. "Mbak... Anda istrinya Zikri?"

"Iya. Aku perlu bantuanmu, Rian. Bukan soal uang, tapi soal Marco," ujar Arini langsung pada intinya.

Rian menghela napas panjang, wajahnya yang penuh bekas luka tampak muram. "Marco itu bajingan, Mbak. Dia tidak akan berhenti sampai Zikri benar-benar hancur. Dia benci Zikri karena Zikri selalu lebih hebat di lintasan, tapi tetap dihormati sebagai 'Gus' di luar. Marco merasa itu tidak adil."

"Aku ingin tahu di mana dia menyimpan file foto-foto itu. Pasti ada cadangannya di laptop atau ponselnya," desak Arini.

"Sulit, Mbak. Tapi aku tahu satu hal. Marco sering mabuk di bengkel belakang pasar malam setiap jam sepuluh malam. Ponselnya biasanya diletakkan sembarangan di meja saat dia sibuk dengan 'minumannya'."

Arini mencatat informasi itu. Ia tidak punya rencana untuk mencuri, tapi ia punya rencana untuk "menukar".

Pukul sembilan malam, Zikri baru saja pulang dari pertemuan. Ia tampak sangat lelah secara mental. Duduk di samping ayahnya selama berjam-jam sambil berpura-pura menjadi orang suci adalah siksaan baginya. Saat ia masuk ke kamar, ia mendapati Arini sedang duduk di depan laptop dengan wajah serius.

"Arin, aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku ingin mengaku saja pada Abah," ucap Zikri sambil melempar pecinya ke kasur.

Arini berdiri dan menghampirinya. "Jangan sekarang, Zikri. Abah sedang tidak sehat jantungnya belakangan ini. Pengakuanmu bisa membunuhnya. Tunggu sebentar lagi, aku punya rencana."

"Rencana apa? Kamu mau menghadapi Marco sendirian? Kamu gila?" suara Zikri naik satu oktav.

"Tidak sendirian. Aku butuh kamu," Arini menggenggam tangan Zikri. "Malam ini, kita akan menemui Marco. Tapi bukan sebagai 'korban' yang membawa uang. Kita akan menemuinya sebagai pasangan yang tahu rahasianya juga."

Zikri mengernyit. "Maksudmu?"

"Rian memberitahuku bahwa Marco terlibat dalam pencurian onderdil motor gede dari gudang pelabuhan bulan lalu. Aku punya bukti foto transaksinya yang dikirim Rian lewat email sore tadi. Kita akan melakukan pertukaran. Dia hapus foto-fotomu, kita tutup mulut soal onderdil itu."

Zikri menatap Arini dengan takjub. "Sejak kapan kamu jadi... seberani ini?"

Arini tersenyum tipis, meski hatinya bergetar hebat. "Sejak aku menyadari bahwa suamiku lebih suka lari daripada melawan. Kadang, Zikri, kamu butuh sedikit kelicikan untuk melawan kejahatan."

Tengah malam, dengan motor Ninja hitam yang sengaja tidak dinyalakan mesinnya hingga mereka cukup jauh dari gerbang pesantren, Zikri membonceng Arini. Mereka melaju membelah angin malam menuju pasar malam yang mulai sepi.

Suasana di bengkel belakang pasar malam itu sangat mencekam. Bau oli, asap rokok, dan alkohol menusuk hidung. Marco duduk di sana bersama tiga anak buahnya. Saat melihat kedatangan Zikri dan seorang wanita bercadar, Marco tertawa terbahak-bahak.

"Wah, sang Gus membawa bidadarinya untuk membayar upeti? Romantis sekali," ejek Marco sambil meludah ke samping.

Zikri melangkah maju, tangannya mengepal di samping tubuh. Namun sebelum Zikri bicara, Arini melangkah lebih depan. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar di layar.

"Ini foto kamu saat menyerahkan paket onderdil curian kepada penadah di pelabuhan minggu lalu, Marco," suara Arini terdengar tenang namun dingin. "Aku sudah mengatur pengiriman otomatis foto ini ke alamat kantor polisi sektor kota jika aku tidak menekan tombol 'batal' setiap satu jam."

Wajah Marco langsung berubah pucat. Tawa di wajahnya hilang seketika. "Kamu... siapa kamu sebenarnya?"

"Aku istrinya. Dan aku adalah orang yang tidak punya beban untuk menghancurkan karirmu sebagai kriminal kecil jika kamu mencoba menyentuh suamiku lagi," balas Arini. "Hapus semua foto Zikri sekarang, di depan mata kami. Dan pastikan tidak ada cadangan di manapun. Jika satu saja foto Zikri muncul di internet, aku pastikan kamu tidur di balik jeruji besi besok pagi."

Marco menatap Zikri, lalu menatap Arini. Ia tampak tidak percaya bahwa seorang wanita dari balik tembok pesantren bisa memiliki keberanian seperti itu. Dengan menggerutu dan penuh kemarahan, Marco mengambil ponselnya.

"Sialan kamu, Gus. Kamu punya istri yang lebih berbahaya daripada kamu," desis Marco sambil menghapus file-file tersebut satu per satu di bawah pengawasan tajam Zikri.

Setelah selesai, Zikri memastikan semuanya bersih. Tanpa banyak bicara, ia menarik Arini pergi dari tempat itu.

Dalam perjalanan pulang, Zikri memacu motornya perlahan. Ia tidak langsung menuju pesantren, melainkan berhenti di pinggir jembatan tua yang sepi. Mereka turun dari motor, menatap aliran sungai yang tenang di bawah cahaya bulan.

Zikri tiba-tiba memeluk Arini dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Arini. "Terima kasih, Arin. Aku... aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu."

Arini merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. "Zikri, aku melakukan ini karena aku ingin kamu bebas. Bukan bebas untuk terus berbuat nakal, tapi bebas dari ketakutan akan masa lalu."

Zikri membalikkan tubuh Arini sehingga mereka saling berhadapan. Ia menatap wajah istrinya yang sebagian tertutup cadar, namun ia bisa merasakan ketulusan dari matanya. "Aku mulai mengerti kenapa Ummi dulu ingin aku bertemu seseorang sepertimu. Seseorang yang tidak hanya melihat sorbanku, tapi juga melihat jiwaku."

Malam itu, di jembatan sepi itu, Zikri mencium kening Arini dengan sangat lama. Itu adalah ciuman pertama yang bukan karena kewajiban, melainkan karena rasa syukur yang meluap.

Namun, saat mereka hendak kembali ke motor, sebuah kilatan cahaya dari kejauhan mengejutkan mereka. Ada seseorang yang memotret mereka dari balik pepohonan di seberang sungai.

Zikri langsung waspada, namun sosok itu sudah menghilang di kegelapan hutan.

"Marco?" bisik Arini ketakutan.

"Bukan. Marco tadi masih di bengkel," jawab Zikri dengan wajah menegang. "Itu orang lain. Dan aku punya firasat, itu orang dari dalam pesantren."

1
Titik Sofiah
awal yg menari ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍
sefira🐼
makasih kak semangat juga💪
nis_ma
semangatttt Thor 🔥🔥
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr
Rian Moontero
lanjoooott👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!