NovelToon NovelToon
100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

100 Cerpen Tengah Malam Untuk Anak-Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Rumahhantu
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: R.H Rahman

Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Di depan mereka kini hanya ada dinding tanaman rambat yang lebat, berduri tajam, dan pepohonan yang tampak bergerak, bergeser, menutup setiap celah yang bisa dilalui. Hutan... benar-benar sedang menutup rapat pintunya.

"Mana jalannya?! Mana jalannya?!" panik Deri, ia mencoba menebas semak dengan parang, tapi daun-daun yang ditebas justru mengeluarkan cairan putih yang berasap dan berbau busuk.

"Tenang! Tenang semua!" Sulaiman mencoba mengambil alih kendali, meski perasaannya tak menentu. Ia mengeluarkan kompas dari saku celananya. "Lihat kompas! Kita cari arah utara!"

Namun saat ia melihat jarum kompas, wajahnya berubah menjadi putih seperti demam.

Jarum itu tidak diam. Jarum itu berputar kencang, berputar liar seperti gila, ke kiri, ke kanan, atas, bawah, tanpa arah yang pasti.

"Gak bisa... kompasnya rusak..." bisik Randi.

"Bukan rusak," gumam Sulaiman pelan, matanya terbelalak menatap hutan yang kini terlihat berbeda. "Kita sudah tidak di dunia orang hidup lagi."

Tiba-tiba, dari arah lubang bekas pohon tumbang itu terdengar suara tarikan napas panjang.

Suara yang sangat besar, berat, dan basah.

Haaaaaahhhhhhh...

Seperti seseorang yang baru tertidur selama ribuan tahun dan baru saja bangun. Udara di sekitar mereka menjadi sangat dingin, hingga napas mereka terlihat berembun meski ini siang hari.

"Jangan lihat ke belakang..." bisik Deri, tubuhnya gemetar seperti mandi air es. "Tolong... jangan lihat ke belakang..."

Tapi rasa penasaran dan ketakutan memaksa mereka menoleh.

Dari dalam lubang hitam itu, sesuatu mulai naik.

Pertama, terlihat dua tangan raksasa dengan kulit berwarna abu-abu gelap, kasar seperti kulit pohon, namun memiliki kuku-kuku panjang yang melengkung tajam berwarna hitam pekat. Tangan itu mencengkeram pinggiran lubang, meninggalkan goresan dalam pada tanah yang keras.

Lalu muncul kepalanya.

Bukan kepala manusia biasa. Bentuknya menyerupai manusia, tapi sangat besar, tingginya melebihi pohon kelapa. Wajahnya rata, tanpa hidung, tanpa mulut yang jelas, namun ada dua lekukan gelap di mana mata seharusnya berada. Dan dari lekukan itu, cairan hitam pekat terus menetes tanpa henti.

Itu adalah makhluk gaib penunggu hutan. Itu adalah manifestasi dari sisi mengerikan tempat ini.

Makhluk itu berdiri tegak. Tubuhnya ditutupi oleh akar-akar dan lumut yang bergerak-gerak seperti ular. Baunya menyengat, campuran getah lama dan daging busuk yang membuat perut mereka ingin memuntahkan segalanya.

Makhluk gaib itu menunduk, menatap keempat manusia kecil yang gemetar di hadapannya.

Dan kemudian, ia membuka mulutnya. Celah di wajahnya menganga lebar, memperlihatkan gigi-gigi runcing yang tersusun rapat seperti hiu, dan lidah yang panjang berwarna kuning.

"Laaaaariiii!!!" teriak Sulaiman.

Mereka berempat berpecah arah, lari sekencang-kencangnya tanpa tujuan yang jelas, menerobos semak belukar yang tajam. Rasa sakit karena tergores duri tidak terasa lagi, yang ada hanya naluri untuk hidup.

"Ke sini! Ikut aku!" teriak Sulaiman, ia berlari menuju arah yang ia rasa lebih terbuka.

Herman, Deri, dan Randi mengejarnya dari belakang. Napas mereka patah dan memburu, kaki terasa berat seperti diikat beban besi. Hutan di sekitar mereka seolah hidup. Akar-akar tanah menjalar cepat, mencoba menangkap kaki mereka. Dahan-dahan pohon melipat ke bawah seperti tangan yang ingin menangkap.

"Arrrghhh!" jerit Randi.

Sebuah akar tebal melilit pergelangan kakinya dan menariknya kuat ke belakang. Randi terjatuh, terseret di atas tanah yang penuh batu dan duri.

"Randi!" teriak Deri berhenti dan menoleh.

"Jangan berhenti! Lari!" teriak Sulaiman menarik tangan Deri.

"Tapi Randi, Bos! Dia tertinggal!"

"Itu bukan Randi lagi!" teriak Sulaiman tegas.

Mereka melihat ke belakang. Randi sudah terangkat beberapa meter dari tanah, tergantung terbalik, ditahan oleh akar-akar yang menjalar ke seluruh tubuhnya, membelit leher, tangan, dan kakinya semakin kencang. Randi menjerit kesakitan dan ketakutan.

"Tolong! Tolong aku!! Rasanya sakit! Akar-akar ini masuk ke dalam kulitku! Tooolonngggg...!!!

Dan di hadapan Randi, makhluk gaib itu muncul perlahan. Ia berjalan tanpa menggerakkan kakinya, tetapi melayang di atas tanah.

Makhluk itu lalu mengarahkan tangannya yang bertaring tajam ke arah dada Randi.

"Jangan!!!" Deri mencoba memberontak ingin kembali, tapi Herman memeluknya erat.

"Sudah lah! Kita gak bisa bantu dia! Kita harus selamat!"

Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana makhluk itu merobek dada Randi bukan dengan kekerasan, tapi dengan cara yang lebih mengerikan. Tubuh Randi layu mengering dalam hitungan detik. Darah dan dagingnya tersedot keluar, diserap oleh akar-akar yang membelitnya, hingga yang tersisa hanyalah seonggok kulit dan tulang yang keriput seperti mayat ratusan tahun.

Mata Randi yang masih terbuka menatap kosong ke arah teman-temannya, penuh pesan perpisahan yang mengerikan.

Makhluk itu mendongak, menatap Deri, Herman, dan Sulaiman. Lekukan matanya tampak menyala merah.

"Ayo pergi! Pergi!" Sulaiman mendorong Deri dan Herman. Mereka berlari lagi, air mata bercampur keringat dan tanah. Hati mereka hancur. Randi baru saja mati. Teman mereka, si bungsu yang penuh semangat, hilang dalam sekejap dengan cara yang tidak manusiawi.

Mereka terus berlari entah sampai kapan. Paru-paru terasa membara. Hingga akhirnya, mereka melihat sebuah gubuk tua yang terbuat dari bambu dan daun rumbia, berdiri sendirian di tengah hutan belantara yang semakin gelap.

"Di sana! Ada gubuk! Kita sembunyi di sana!" teriak Herman.

Mereka menerobos masuk ke dalam gubuk itu dan langsung menutup pintu rapat-rapat. Mereka mendorong meja dan kursi untuk membarikade pintu. Napas mereka terdengar keras dan memburu di dalam kegelapan.

Di luar, suara deruman angin kencang terdengar menggores. Ditambah suara ranting patah. Dan suara antar dahan yang saling memukul. Tetapi, tidak ada suara lain yang terdengar aneh atau mencolok, hanya suara-suara alam yang mengganas dan melampiaskan amarahnya.

"Sudah... sudah aman..." gumam Deri, tubuhnya mengguncang hebat, ia memeluk lututnya sendiri di sudut ruangan.

Sulaiman tidak menjawab. Ia kemudian mengeluarkan senter dari tasnya dan menyalakannya. Cahaya kuning redup menerangi bagian dalam gubuk itu.

Dan sekali lagi, rasa takut tanbahan yang baru lagi-lagi menghantam mereka bertiga.

Dinding gubuk itu tidak kosong.

Dindingnya dipenuhi foto-foto. Ratusan foto yang sudah menguning dan lapuk dimakan rayap. Foto-foto itu adalah wajah orang-orang. Pria, wanita, anak-anak. Semua orang yang terlihat di foto itu memiliki mata yang dicoretkan dengan tinta hitam.

Dan di bawah setiap foto, tertulis nama dan tanggal.

Dan di sudut paling bawah, ada foto terbaru. Foto yang masih terlihat jelas.

Foto itu memperlihatkan empat pria yang sedang tertawa di depan sebuah truk kayu.

Itu adalah diri mereka sendiri; Sulaiman, Herman, Deri, dan... Randi.

Tanggal di bawah foto itu: Hari Ini.

Seketika Herman jatuh berlutut, ia mulai membaca doa dengan suara terbata-bata. "Ini jebakan. Kita sudah masuk ke dalam mulutnya sejak awal."

"Hentikan omong kosong itu..!!!" Potong Sulaiman tiba-tiba dengan raut marah, ia lalu menghela napas, seraya mengamati beberapa meja dan kursi kayu yang berserakan di sekitar mereka. Batinnya mencoba berpikir keras, apa yang kini telah terjadi benar-benar memukul keras perasaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!