NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ingatan Yang Selalu Datang Tanpa Permisi

Musim dingin pertama setelah Liam mulai membangun usahanya dari nol. Kota Verovska masih terasa asing, keras, dan tidak ramah.

Liam saat itu belum memiliki apa pun selain ambisi dan kemarahan yang ia sembunyikan rapi di balik sikap dinginnya.

Ia melihat Amanda di sebuah galeri seni kecil, berdiri di depan lukisan abstrak yang bahkan Liam tidak mengerti.

Gaunnya sederhana, warna krem lembut, rambutnya jatuh rapi di bahu. Tidak mencolok, tapi semua orang di ruangan itu seperti otomatis memberi ruang di sekitarnya.

Amanda tidak berusaha menarik perhatian. Dunia yang justru bergerak mendekat padanya.

Liam ingat jelas bagaimana ia berhenti berjalan saat pertama kali melihatnya. Untuk seseorang yang selalu tahu apa yang ia inginkan, momen itu terasa aneh. Sunyi. Seolah pikirannya berhenti bekerja beberapa detik.

Amanda menoleh, dan tersenyum.

Dan Liam jatuh begitu saja.

Hubungan mereka tumbuh pelan, seperti sesuatu yang dewasa sejak awal. Amanda berbicara lembut, selalu memilih kata-kata yang menenangkan. Saat Liam pulang larut malam dengan wajah lelah dan emosi yang masih panas, Amanda tidak pernah menuntut penjelasan.

“Kau tidak harus melawan semuanya sendirian,” katanya suatu malam, sambil merapikan kerah kemeja Liam.

Kalimat sederhana, tapi bagi Liam yang terbiasa menghadapi dunia dengan kepalan tangan, itu terasa seperti tempat beristirahat.

Amanda tidak pernah meninggikan suara. Tidak pernah menantang egonya secara langsung. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus tersenyum, kapan harus membiarkan Liam merasa menjadi pusat dunia tanpa benar-benar mengatakannya.

Dan Liam menyukainya.

Ia menyukai bagaimana Amanda membuatnya merasa cukup. Bagaimana kehadiran perempuan itu meredam sisi paling keras dalam dirinya tanpa perlu memaksa.

Ada malam ketika mereka duduk di balkon apartemen lama Liam, lampu kota menyala di bawah mereka.

“Apa kau akan tetap di sini saat semuanya jadi lebih sulit?” tanya Liam waktu itu.

Amanda tersenyum kecil. “Selama kau masih menginginkanku, aku akan tetap disini”

Janji yang terdengar sederhana.

Ingatan itu selalu berhenti di bagian sebelum semuanya retak. Sebelum Amanda mulai lelah menunggu. Sebelum Liam terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa seseorang di sampingnya juga ingin diprioritaskan.

Mimpi itu memudar perlahan.

Suara napas pelan menggantikan suara angin malam dalam ingatannya.

Liam membuka mata.

Langit pagi masih pucat di balik tirai kamar. Tubuhnya terasa berat, sisa mimpi itu masih menempel di kepalanya. Untuk beberapa detik, ia benar-benar lupa di mana ia berada.

Lalu ia menoleh ke samping.

Bukan Amanda.

Cassie tertidur menghadap ke arahnya, Rambut Cassie berantakan di atas bantal, napasnya teratur namun sesekali ia mengernyit dalam tidurnya, sisa dari trauma yang ia lewati beberapa hari lalu.

Cassie, gadis yang berani berteriak di depan wajahnya, gadis yang nekat membahayakan nyawa demi menyelamatkannya, gadis yang penuh api dan keras kepala.

​Sangat jauh berbeda dari Amanda.

​Liam terdiam cukup lama, menatap wajah Cassie dalam keheningan pagi. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya, rasa bersalah karena alam bawah sadarnya masih menyimpan ruangan khusus untuk Amanda, sementara di dunia nyata, Cassie-lah yang telah mempertaruhkan segalanya untuknya.

​Ia mengulurkan tangan, ragu sejenak, sebelum akhirnya mengusap dahi Cassie dengan ibu jarinya. Cassie bergerak sedikit dalam tidurnya, mencari kehangatan tangan Liam dan menggumamkan namanya pelan.

​Liam memejamkan mata. Mimpi itu terasa seperti kutukan yang indah, namun saat ia merasakan jemari Cassie yang menggenggam tangannya erat bahkan dalam tidur, Liam tahu... realitanya kini jauh lebih berharga daripada bayangan masa lalu yang terus menghantuinya.

***

Suasana di meja makan pagi itu terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis.

Liam duduk di kepala meja, matanya yang tajam menatap layar tablet dengan dahi berkerut dalam.

Ia tidak menyentuh kopinya sama sekali, membiarkan uapnya menghilang hingga cairan hitam itu mendingin.

​"Jino," suara Liam terdengar rendah, namun dinginnya sanggup menusuk tulang.

​"Ya, Bos?" Jino, yang biasanya sibuk mengunyah roti, mendadak berhenti.

​"Laporan pengiriman dari pelabuhan utara. Kenapa datanya berantakan seperti ini? Kau pakai apa saat mengerjakannya? Otak atau lutut?"

​Jino ternganga. Padahal laporan itu adalah hasil kerja kerasnya semalaman dan biasanya Liam tidak sekritis itu pada detail kecil. "Tapi Bos, itu sudah sesuai prosedur—"

​"Jangan membantah! Perbaiki dalam satu jam atau kau tidak perlu kembali ke kantor hari ini," potong Liam tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari layar.

​Marco, yang berdiri tak jauh di sudut ruangan, hanya menghela napas panjang. Ia melihat garis ketegangan di rahang Liam dan sorot mata yang kosong namun penuh emosi.

​Cassie masuk ke ruang makan dengan langkah ragu. Ia mengenakan sweater hangat, mencoba memberikan senyum kecil saat matanya bertemu dengan mata Liam.

"Pagi, Liam. Mau aku buatkan roti panggang baru?"

​Liam mendongak. Untuk sesaat, tatapannya terlihat sangat asing seolah ia sedang melihat seseorang yang salah di depannya. Namun, dengan cepat ia menguasai diri.

​"Tidak perlu. Aku sudah tidak selera," jawab Liam kaku. Ia berdiri, menarik kursinya hingga menimbulkan suara decit yang nyaring di lantai marmer.

​Cassie terpaku. Meski Liam tidak membentaknya, nada bicara yang datar dan penolakan yang dingin itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada teriakan.

Cassie merasa ada tembok besar yang tiba-tiba dibangun Liam pagi ini, tembok yang membuatnya tidak bisa menjangkau pria itu.

​"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Cassie pelan setelah Liam beranjak menuju ruang kerjanya.

​Jino hanya bisa mengangkat bahu dengan wajah frustrasi, sementara Marco mendekat ke arah meja. Marco menatap Cassie dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa kasihan di sana.

​"Ini bukan salahmu, Cassie," bisik Marco pelan, memastikan Liam sudah cukup jauh. "Ada hari-hari di mana Liam terjebak dalam kepalanya sendiri. Dia tidak membencimu, dia hanya sedang... berkelahi dengan bayang-bayang yang tidak bisa ia kalahkan."

​Cassie menatap pintu ruang kerja yang tertutup rapat. "Bayang-bayang apa, Marco?"

​Marco terdiam sejenak, menimbang apakah ia boleh bicara, sebelum akhirnya menggeleng perlahan.

"Hanya Liam yang bisa memberitahumu. Tapi saran dariku... beri dia ruang untuk hari ini. Jangan mencoba masuk ke sana."

​Cassie mengepalkan tangannya di balik sweater. Ia benci perasaan ini, perasaan di mana ia merasa seperti orang asing di rumah kekasihnya sendiri.

***

Liam berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya, menatap kosong ke arah taman. Pikirannya benar-benar kacau. Mimpi tentang Amanda bukan sekadar bunga tidur baginya. Itu adalah alarm bawah sadar yang selalu muncul setiap kali dunianya berguncang. Masalah dengan Ethan dan ketegangan beberapa hari terakhir telah membuka celah di pertahanan mental Liam, dan Amanda masuk tanpa izin melalui celah itu.

​"Mungkin kalau Amanda masih di sini, semuanya tidak akan seberantakan ini," lintasan pikiran itu sempat mampir di benaknya, namun Liam segera memejamkan mata dan mengepalkan tangan kuat-kuat.

​"Sial," desisnya pada diri sendiri.

​Ia membenci dirinya sendiri karena membandingkan. Ia sudah bersumpah telah melupakan wanita itu. Ia kini punya Cassie. Dan yang paling penting, Liam sadar betul bahwa Cassie tidak pernah meminta untuk masuk ke dunianya yang gelap.

​Liam kembali memutar memori saat pertama kali ia melihat Cassie di apartemen Raven's Gate. Ia teringat bagaimana ia menghabiskan waktu seharian hanya untuk mengawasi Cassie bekerja di kafe. Ia yang menginginkan Cassie. Ia yang tertarik pada api di mata gadis itu. Ia yang menarik Cassie masuk ke dalam pusaran hidupnya yang berbahaya.

​Cassie adalah tanggung jawabnya. Cassie adalah pilihannya.

​"Kenapa kau tidak pernah benar-benar pergi, Amanda?" gumamnya frustrasi, nyaris seperti sebuah kutukan.

​Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Pintu terbuka sedikit, dan Cassie muncul di sana membawa segelas kopi baru yang masih mengepul.

Wajahnya tampak ragu, ada jejak sakit hati yang masih tertinggal akibat sikap dingin Liam tadi di meja makan.

​"Kopimu yang tadi sudah dingin. Aku buatkan yang baru," ucap Cassie pelan, ia tidak berani melangkah terlalu jauh ke dalam ruangan.

​Liam berbalik.

Melihat Cassie yang berdiri di sana membuat rasa bersalah Liam semakin menghimpit. Ia melihat Cassie, tapi untuk sekejap, bayangan Amanda yang lembut seolah tumpang tindih di sana, menciptakan disonansi yang menyakitkan di kepalanya.

​Liam melangkah mendekat, mengambil gelas itu dari tangan Cassie dan meletakkannya di meja tanpa mengalihkan pandangan dari mata gadis itu.

​"Maafkan aku," ucap Liam, suaranya kini lebih berat dan serak. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir sisa-sisa Amanda dari pikirannya.

"Suasana hatiku sedang buruk, dan itu bukan alasan untuk melampiaskannya padamu atau yang lain."

​Cassie menatapnya lurus-lurus.

"Ada sesuatu yang mengganggumu? Kau bisa cerita padaku, Liam."

1
Harley
lanjuttt
Harley
asal ga demam aja, aman wkwk
Donna
Duh marco 😍
Donna
jadi liam pasti kesel banget sih, tapi cassie juga ngerti pasti bingung banget harus ngapain
Hafiz Baihaqi
harus banyak banyak makasih tuh sama si marco & jino
Ella Elli
yeeh 😒
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!