Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Barat Kotaraja
"Kau benar-benar Gusti Pangeran Mapanji Wijaya?", tanya Wulan yang rada-rada meragukan sosok pria tampan di depan nya ini.
Warak dan Ludaka segera melepaskan cekalan tangan Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat sang pangeran segera merapikan rambutnya yang berantakan akibat memukuli Kartamarma tadi.
"Tentu saja...
Di semesta ini cuma ada satu orang Pangeran Mapanji Wijaya dan itu adalah aku. Kenapa? Ada masalah?! ", ucap Mapanji Wijaya acuh tak acuh.
Ratri dan Wulan buru-buru melambaikan telapak tangannya sebagai tanda penolakan.
" Tidak tidak tidak, Gusti Pangeran Mapanji Wijaya salah paham...
Kabar yang kami dengar, Gusti Pangeran Mapanji Wijaya itu orangnya hidung belang, suka foya-foya di tempat hiburan, pemboros yang suka menghamburkan uang negara seenaknya. Tapi saat seperti ini sepertinya desas-desus itu tidak benar ", sergah Ratri segera.
" Yang kalian dengar tidak salah, aku memang seperti itu. Sudah, urusan itu kita tunda dulu. Kita urusi bajingan sombong ini lebih dulu ya.. "
Pangeran Mapanji Wijaya segera berbalik badan dan menatap tajam ke arah Kartamarma yang masih tergolek di lantai warung makan.
"He brengsek!!
Semua orang di Kotaraja Watugaluh ini tahu, aku Pangeran Mapanji Wijaya, paling tidak suka dengan orang sok kaya yang menindas orang lain dengan hartanya. Sekarang ini kau harus ganti rugi pada ku. Jika menolak hemmmmmm... ", Pangeran Mapanji Wijaya memberi isyarat pada Warak untuk maju.
Warak maju sembari menekan sendi sendi jari jemari tangannya. Bunyi gemerutuk yang terdengar dari tangan Warak sudah membuat Kartamarma ketakutan setengah mati.
"Iya iya, aku ganti rugi! Aku ganti rugi...!!!
Berapa yang harus aku bayar? "
Pangeran Mapanji Wijaya membuka lebar 5 jari tangan nya di hadapan Kartamarma.
"50 kepeng perak??? ", tanya Kartamarma ragu-ragu.
Wajah Pangeran Mapanji Wijaya merah padamu dan tanpa pandang bulu langsung kembali memukuli Kartamarma.
" Ampun ampun!! Ampuni aku..!! "
Mendengar suara minta ampun Kartamarma, Pangeran Mapanji Wijaya menghentikan aksinya.
"Kau minta berapa?? Lima puluh kepeng perak atau berapa? Jangan pukuli aku lagi.. ", hiba Kartamarma memelas.
" Brengsek!! Kau pikir aku pengemis ya hah?!!
Lima puluh kepeng emas, tak boleh kurang sedikitpun. Kalau tidak... "
"Iya iya, aku beri aku aku beri asal jangan pukul lagi.. "
Kartamarma merogoh balik baju nya dan mengeluarkan sekantong kepeng emas. Dia segera mengulurkan nya pada Pangeran Mapanji Wijaya yang segera membukanya. Wajah Pangeran Mapanji Wijaya berbinar melihat puluhan kepeng emas itu. Tetapi buru-buru ia merubah rona muka nya sebelum menatap tajam ke arah Kartamarma.
"Ini juga bisa dianggap cukup..
Pergilah, kali ini kau ku ampuni. Tetapi jika kau berani membuat ulah lagi, aku pasti akan mencincang mu untuk makanan ikan", ancam Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Kartamarma cepat cepat bangkit dan berjalan sempoyongan meninggalkan tempat itu.
'Mapanji Wijaya, penghinaan ini pasti akan ku balas puluhan kali lipat. Lihat saja nanti', batin Kartamarma.
"Nah para pengacau itu sudah pergi. Sampai dimana kita tadi? ", ucap Pangeran Mapanji Wijaya sambil berbalik badan ke arah Ratri dan Wulan.
" Kau sungguh Pangeran Mapanji Wijaya? ", Ratri kembali bersuara.
" Masih juga di ulang lagi...
Aku adalah Pangeran Mapanji Wijaya, putra kedua Ramanda Sri Lokapala dan Ratu Sri Isyana Tunggawijaya. Kalian berdua utusan Putri Nararya Candrawulan dari Kalingga, tidak perlu menemui Kanjeng Romo Sri Lokapala jika ia ingin membatalkan rencana perjodohan. Suruh saja dia datang menemui ku, maka akan kupastikan rencana itu batal.
Warak, Ludaka..!! Kita pergi dari sini.. ", Pangeran Mapanji Wijaya pun segera melangkah ke arah barat.
" Mau kemana Gusti Pangeran? ", tanya Ludaka segera.
" Tentu saja bersenang-senang di rumah hiburan Nyai Kantil hahahahaha. Hari ini kita untung besar, sayang kalau tidak dimanfaatkan.."
Ludaka dan Warak dengan patuhi mengikuti langkah Pangeran Mapanji Wijaya. Sementara Ratri dan Wulan menatap kepergian mereka hingga menghilang di balik pintu warung makan.
"Gusti Putri, sekarang bagaimana?
Pangeran Mapanji Wijaya sudah memberikan jawaban yang Gusti Putri inginkan. Apa kita langsung saja ungkapkan jati diri kita pada nya? ", tanya Ratri seraya menatap wajah cantik perempuan di sampingnya itu.
Ya, Wulan sebenarnya adalah Nararya Candrawulan, putri dari Kalingga yang dijodohkan dengan Pangeran Mapanji Wijaya. Dia yang mendengar nama buruk Pangeran Mapanji Wijaya, bermaksud untuk bicara langsung pada Sri Lokapala agar tidak dijodohkan dengan pangeran muda itu. Dia mau menikah dengan salah satu putra Sri Lokapala asal tidak dengan Mapanji Wijaya.
Hanya dengan ditemani oleh Ratri sahabat sekaligus dayang pribadinya, Nararya Candrawulan nekat melakukan perjalanan jauh ke Watugaluh. Setelah menempuh perjalanan hampir 3 hari dua malam, mereka sampai di Kotaraja Watugaluh dan akhirnya seperti yang diceritakan pada kisah sebelumnya.
Tetapi pandangan Nararya Candrawulan terhadap Pangeran Mapanji Wijaya ternyata berbalik seratus delapan puluh derajat.
Dalam pandangan Nararya Candrawulan, Mapanji Wijaya tak seburuk yang ia kira. Meskipun masih menampakkan sikap nakal dan suka foya-foya nya, tetapi sesungguhnya ada satu hal yang menarik perhatian Nararya Candrawulan pada diri Pangeran Mapanji Wijaya.
" Tunggu Ratri...
Sebaiknya kita selidiki dulu si pangeran ini. Kita sudah mendengar kalau pangeran ini adalah bajingan tak tahu malu yang bisanya menindas orang lemah. Tetapi nyatanya dia malah membela kita, orang yang baru dikenalnya. Sekarang kita ikuti dia ke rumah hiburan itu.. ", ajak Nararya Candrawulan sambil tersenyum.
" Tapi tapi itu... "
"Tidak ada tapi tapian. Ayo, nanti kita ketinggalan jauh.. "
Nararya Candrawulan menggelandang tangan Ratri dan mereka pun segera meninggalkan warung makan ini setelah membayarnya.
Sementara itu, di jalan menuju rumah hiburan Nyai Kantil yang ada di bantaran Sungai Kapulungan....
"Kau yakin mereka lewat sini? ", tanya seorang lelaki berbadan kekar dengan bekas luka yang belum kering pada wajahnya pada seorang lelaki berperawakan gempal dan wajah sangar yang ada di sampingnya.
" Orang yang ku suruh memata-matai bajingan itu, baru saja melapor pada ku Kakang Jantaka. Katanya dia baru saja memeras anak orang kaya. Pasti dia akan bersenang-senang di tempat Nyai Kantil.
Ini kesempatan kita untuk membalas dendam ", ujar lelaki berperawakan gempal dengan wajah sangar itu penuh keyakinan.
" Tapi dua pengawal pribadi nya.. ", lelaki berwajah terluka yang tak lain adalah Jantaka yang tempo hari ingin mencelakai Pangeran Mapanji Wijaya nampak ragu.
" Kakang jangan khawatir..
Saudara saudara kita sudah siap membantu jika bajingan itu datang. Aku Bermana siap mempertaruhkan nyawa ku untuk membantu mu", potong si wajah sangar Bermana sambil menepuk-nepuk dada nya.
"Baiklah, kepalang tanggung basah saja sekalian. Hari ini dendam antara aku dan si pangeran bajingan itu harus dituntaskan!... ", ucap Jantaka yang di sambut anggukan kepala oleh Bermana.
Tak berapa lama kemudian, terdengar langkah kaki kuda mendekat ke arah mereka bersembunyi. Bermana segera menyingkap daun semak belukar yang menutupi tempat persembunyian mereka. Mata Bermana melebar melihat sosok yang mereka tunggu akhirnya muncul.
"Kakang Jantaka, dia sudah muncul! "
Jantaka langsung meraih gagang pedang nya begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Bermana. Bersama dengan Bermana, ia menghadang perjalanan Pangeran Mapanji Wijaya dan dua pengawal pribadi nya.
Kemunculan mereka yang tiba-tiba membuat Pangeran Mapanji Wijaya kaget hingga menarik tali kekang kuda nya. Kuda hitam itu meringkik keras sebelum berhenti.
"Dasar sial!!!
Kenapa kalian menghalangi jalan ku hah?! Mau mati ya?!! ", hardik Pangeran Mapanji Wijaya dengan nada kesal.
Tiba-tiba puluhan orang muncul dan mengepung Pangeran Mapanji Wijaya serta dua pengawal pribadi nya dari depan dan belakang. Sadar bahwa mereka dalam masalah besar, Ludaka dan Warak langsung mengeluarkan senjata masing-masing dan bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
"Mau mati??
Kau yang akan mati hari ini, pangeran bajingan! Hari ini dendam semua orang yang sudah kau aniaya akan ku hitung satu persatu", ujar Jantaka sambil menatap tajam ke arah Pangeran Mapanji Wijaya.
Sambil tersenyum sinis, Pangeran Mapanji Wijaya pun menjawabnya dengan nada santai,
"Orang yang ingin membunuh ku ada banyak. Tapi kalian masih belum cukup tangguh untuk melakukan nya.
Ludaka, Warak!!!
Hajar mereka semuanya...! "