Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam
“Bisa kah katakan sesuatu yang benar?.” Jessy memperluas rasa sabar nya.
“Ibu.” Remaja itu menatap Jessy.
“Ibu? apa kau ingin aku mencari Ibu mu?.” Bingung Jessy.
“Kau.. Ibu ku.” Tunjuk remaja itu.
“A-apa? tapi aku baru menikah tadi pagi, bagaiama mungkin punya anak sebesar diri mu. Berhenti bercanda, bantu aku membawa tabib kemari. Aku pasti akan membalas kebaikan mu.” Ucap Jessy.
“Aku bisa menyembuhkan nya.” Ucap remaja itu sambil menunduk.
“Yang benar?.” Jessy menatap curiga.
“Ya, tapi bawa aku pergi bersama kalian.” Lirihnya.
“Maksud mu?.” Jessy mengerutkan kening.
“Jadi lah orangtua ku, dengan begitu aku mau mengobati nya.” Ucap remaja itu bersungguh-sungguh.
Jessy ingin menjawab dengan kesal, tapi Ziang tiba-tiba kejang dengan bibir pucat dan kulit yang mulai membiru. Jessy melotot tidak percaya, itu adalah efek racun yang artinya sejak awal Ziang bukan hanya terluka tapi juga terkena racun.
“Baiklah, aku akan menjadikan mu anakku bahkan di semua kehidupan. Tapi tolong selamat kan suamiku, sepertinya dia terkena racun ganas.” Jessy nyaris gila rasanya.
Remaja itu tiba-tiba tersenyum senang, berbalik cepat menuju kamar. Saat keluar diri nya membawa gelas bambu berisi air dingin, dia memasukan kalung giok hitam dan giok itu langsung larut bercampur dengan air dalam gelas.
Dengan hati-hati remaja itu meminumkan air larutan giok yang berwarna hitam pekat itu pada Ziang. Jessy ikut membantu sembari mengamati, jika Ziang mati di sini maka rencana nya akan sia-sia dan dia justru akan tersesat di dunia antah berantah ini.
Setelah semua air larutan giok tertelan, perlahan kejang Ziang mereda dan kulit yang tadinya membiru mulai memucat dan kembali seperti semula meskipun cukup lambat.
Jessy memeriksa denyut nadi Ziang, meskipun masih kacau tapi sudah jauh membaik. Jessy berusaha tenang, dia terus berharap Ziang akan segera bangun dan sehat kembali.
“Giok macam apa yang tadi itu?.” Tanya Jessy, penasaran.
“Aku menemukan nya saat sedang berburu, tadi nya ada sepasang tapi yang satu sudah aku minum saat aku nyaris mati di serang binatang buas.” Jawab remaja itu.
Deg.
“Siapa nama mu?.” Jessy merasa simpati.
“Tidak ada.” Jawab nya.
“Apa? bagaimana mungkin?.” Heran Jessy.
“Tidak ada yang pernah memanggil nama ku, apa Ibu memiliki nama?.” Ujarnya.
“Eh?.” Jessy merasa malu dan kikuk dengan panggilan Ibu.
“Ekhem…, nama ku Jessy Pitarossa.” Jawab Jessy.
“Je…?.” Anak itu kesulitan.
uhukk..uhukkkk
huekkkk
Ziang terbatuk dan memuntahkan darah hitam pekat, Jessy merasa senang karena Ziang benar-benar kembali dari jurang kematian. Ziang meskipun masih lemas, dia menatap mata Jessy penuh pertanyaan. Karena dia sangat sadar jika dirinya terkena racun mematikan, tapi kenapa dia bisa selamat? tidak mungkin Jessy membawa penawar racun.
“Ayah.” Panggil remaja tadi dengan ceria.
Eh?
Hah?
Jessy dan Ziang saling pandang, siapa sangka jika remaja itu bahkan dengan sungguh-sungguh memanggil Ayah pada orang asing semudah itu. Jessy tersenyum kikuk saat Ziang menatap menuntut penjelasan, siapa yang tidak terkejut setelah bangun dari jurang kematian tiba-tiba menjadi Ayah.
“Aku akan menjelaskan nya nanti, duduk lah dulu. Apa sudah merasa lebih baik?.” Ucap Jessy membantu Ziang agar bisa duduk lebih nyaman.
“Ya sungguh ajaib karena kau bisa menawar racun mematikan.” Jawab Ziang, wajah nya masih pucat.
“Bukan aku, tapi anak ini lah yang menyelamatkan mu.” Jujur Jessy.
“Benarkah?.” Ziang menatap anak di depan nya.
“Iya.” Remaja itu mengangguk.
“Terimakasih.” Ujar Ziang.
“Tidak apa-apa, setelah ini aku akan menjadi anak kalian kan.” Remaja itu ceria sekali.
“Apa? apa maksudnya ini?.” Ziang menatap Jessy yang sedang tersenyum karir.
“Ekhemm… jadi, dia baru mau menolong jika kita mau membawa nya dan menjadi orangtua nya. Karena tubuhmu sudah membiru aku tidak memiliki alasan untuk menolak, maaf karena keputusan ku yang terlalu sembrono.” Jujur Jessy.
“Dia tidak memiliki nama, dia juga hidup sendirian disini.” Lanjut Jessy berusaha klarifikasi.
Ziang masih diam, dia berdiri perlahan lalu berjalan keluar rumah. Sepertinya pikiran nya masih berkecamuk, memerlukan angin segar untuk menjernikah pikiran nya. Jessy masih merasa bersalah, dia jadi tidak enak pada remaja yang sudah menolong nya.
“Maaf, sepertinya masih memerlukan waktu bagi suamiku untuk menerima nya.” Ucap Jessy, tidak enak hati.
Remaja tadi hanya menatap Jessy dengan polos, lalu berjalan keluar menyusul Ziang. Jessy yang lelah memilih duduk untuk istitahat, dia juga mengantuk setelah drama yang terjadi seharian ini.
tap
tap
“Ayah.” Panggil remaja itu setelah menemukan Ziang.
“Aku bukan Ayahmu.” Ziang melirik.
“Dasar pembohong.” Remaja itu kecewa.
“Apa?.” Ziang berbalik, menatap tajam sosok remaja laki-laki yang hanya setinggi atas pusar nya.
“Padahal aku mau menolong karena Ibu sudah setuju dengan syarat ku. Ibu juga menangis saat melihat Ayah kejang-kejang dengan kulit membiru.” Ujar nya lagi.
“Menangis?.” Batin Ziang terkejut.
“Jadi apa mau mu?.” Ziang bersedekap dada.
“Seperti syarat awal, bawa aku dan kalian jadi orangtua ku.” Ucapnya.
“Baiklah, sudah selesai? masuk dan jangan mengangguku.” Ziang berbalik menatap langit gelap.
“Tapi siapa nama ku? bukan kah anak-anak setelah lahir akan di beri nama oleh Ayah nya?.” Ujarnya dengan polos.
Ziang terdiam dan berpikir, bahkan seumur hidupnya tidak pernah terpikir akan membuat sebuah nama. Nama apa yang cocok untuk anak laki-laki di depannya ini, nama yang pantas untuk anak dari pria sepertinya.
Deg.
Sraattttt
Tiba-tiba Ziang melotot dan menarik remaja itu ke dinding, tatapannya tajam dan menusuk. Tapi remaja itu justru tersenyum dengan polos, benar-benar santai dengan tatapan mata jernih nya.
“Kau.. naga?.” Bisik Ziang.
“Ayahku memang hebat, kau bisa mengenali anakmu dengan baik.” Remaja itu tersenyum, mata nya berubah menjadi kuning.
“Apa kau menipu istriku? apa yang kau rencanakan?.” Ziang menggeram marah.
“Tidak, aku tidak menipu.” Jawab nya polos.
“Apa yang kau lakukan di sini? bagaimana bisa ada naga di tempat seperti ini.” Ziang menatap semakin tajam.
“Tidak tahu, aku sudah disini sejak masih menjadi telur.” Jujur nya.
Krieetttt\~\~
“Astaga apa yang kau lakukan Ziang?! Kenapa mencekik anak-anak?.” Jessy keluar karena penasaran, tapi malah jadi jantungan.
“Apa kau tau jika anak ini adalah naga?.” Ziang menatap Jessy.
“Apa? naga?.” Jessy merasa bodoh.
“Loh kok tiba-tiba naga sih, bukan nya di buku novel ngga ada kisah apapun yang berkaitan dengan naga ya?.” Batin Jessy bingung.
“Kau benar-benar naga atau roh naga yang bereinkarnasi?.” Tanya Jessy.
“Naga, aku menetas dari telur naga emas.” Jawab remaja itu dengan semangat.
“Mana bukti nya?.” Jessy butuh bukti.
Remaja itu berlari masuk ke dalam rumah, lalu keluar membawa cangkang telur emas yang sudah pecah sebagian. Jessy dan Ziang memeriksa dan itu benar-benar telur emas, mungkin harga nya akan sangat mahal jika di jual.