Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kantin SMP Pejuang Bangsa saat jam istirahat pertama adalah representasi sempurna dari sebuah "rimba" remaja. Berbeda jauh dengan kantin SMP Bhayangkara yang tenang, sejuk, dan teratur dengan sistem prasmanan layaknya restoran hotel atau kondangan kelas atas, di sini suaranya memekakkan telinga. Aroma minyak goreng panas, uap mi rebus, dan keringat ratusan siswa bercampur aduk di bawah atap seng yang membuat suasana makin gerah. Di sini, hukum rimba berlaku: siapa yang cepat dan berani sikut, dia yang makan duluan.
Saskia berdiri mematung di tengah kerumunan, matanya membelalak bingung. Ia berkali-kali mencoba mendekati salah satu stan, namun badannya yang mungil dengan mudah tergeser oleh gerombolan siswa kelas dua yang beringas berebut gorengan. Dengan wajah pucat, ia kembali mundur dan segera mencari "pegangannya". Jari-jarinya meremas ujung seragam Sandi hingga kusut.
"San... aku lapar banget, tapi aku nggak bisa ambil makanan. Aku kedorong mundur terus, nggak dikasih celah," adu Saskia dengan nada hampir menangis.
Sandi menoleh dan terkekeh melihat wajah frustrasi gadis di belakangnya. Ia sangat tahu betapa "manja" sistem di sekolah lama Saskia di mana pelayan dan guru memastikan semua siswa mendapat porsi yang adil tanpa perlu berkeringat. "Di sini mah harus pakai otot, Sas. Nggak ada ceritanya makanan datang sendiri ke meja."
"Lo mau makan apa?" tanya Sandi kemudian.
Saskia menunjuk ke arah stan di pojok yang dikerumuni asap tipis dan aroma bumbu kacang yang kuat. "Aku mau ketoprak itu, San. Kelihatannya enak."
Sandi mengangguk dan mulai membelah kerumunan. Saskia mengekor di belakangnya bak anak ayam, tangannya tidak sedetik pun lepas dari seragam Sandi, seolah takut jika ia terlepas, ia akan hilang selamanya di lautan manusia itu. Tiba di depan abang ketoprak, Sandi memasang badan untuk memberi ruang bagi Saskia.
"Pedes, sedang, atau enggak?" tanya Sandi praktis.
"Aku mau pedas!" jawab Saskia mantap, mencoba terlihat berani.
"Bang, ketoprak satu, pedas ya," seru Sandi.
Abang ketoprak itu mendongak, lalu nyengir melihat Saskia. "Lah, ini neng yang tadi ya? Tadi mau dibuatin eh malah ngilang ketutup anak-anak kelas lain."
Sandi tertawa renyah sembari melirik Saskia yang tersipu malu. "Iya Bang, dia kedorong ke belakang. Maklum, anak baru, belum biasa main sikut."
"Oh pantesan, baru liat. Satu kelas lo, San?"
"Iya Bang. Gue tunggu di sana ya," ujar Sandi sambil menunjuk meja panjang di sudut kantin, tempat suci bagi Tim Sableng.
"Oke, nanti gue anterin. Duduk manis aja di situ," sahut si Abang sambil tangannya lihai memotong ketupat.
Sandi memandu Saskia menuju meja mereka. Di sana, suasana sudah ramai. Anggita sedang fokus dengan nasi goreng gila yang uapnya masih mengepul, Vino sibuk menusuk siomay Bandungnya dengan garpu plastik, sementara Andra tampak sangat menikmati kombinasi karbohidrat ganda: mi rebus plus nasi putih.
Saskia duduk dan memperhatikan Sandi yang hanya duduk diam tanpa memesan apa pun. "Kamu makan apa, San?"
Sandi memberikan senyum terbaiknya, senyum yang ia gunakan untuk menutupi rasa lapar yang sebenarnya mulai melilit perutnya. "Gue udah sarapan di rumah, Sas. Nyokap tadi pagi beliin nasi uduk spesial, jadi masih kenyang banget. Gue nemenin kalian doang."
Sandi berbohong. Kenyataannya, ia bahkan tidak menyentuh air putih pun sejak bangun tidur. Uang saku yang ia miliki hari itu sengaja ia simpan rapat di dalam dompet. Ia lebih memilih menahan lapar selama delapan jam sekolah agar uang itu bisa ia serahkan utuh kepada ibunya untuk menambah biaya sewa kontrakan atau sekadar membeli lauk yang lebih layak untuk makan malam mereka nanti.
Tak lama, sepiring ketoprak dengan bumbu kacang kental dan taburan kerupuk merah tiba. Saskia langsung menyambar sendoknya. Namun, baru dua suapan masuk ke mulut, wajahnya langsung berubah merah padam. Matanya berair.
"Huu... pedes! Pedes banget, San!" keluhnya sambil mengipas-ngipas mulut dengan tangan.
Meja Tim Sableng pecah oleh tawa. "Lo sendiri yang minta pedas tadi, Sas. Jangan nyalahin cabainya," goda Sandi.
Saskia segera meraih botol minumannya, menenggaknya hingga tandas dalam sekali napas. Napasnya masih memburu. "Aku kira pedasnya kayak di SMP Bhayangkara yang cuma berasa hangat-hangat dikit. Ternyata di sini pedasnya jauh banget! Kayak dibakar!"
"Ya jangan disamain keles," sahut Sandi sambil memperhatikan Saskia yang mencoba menyuap lagi namun akhirnya menyerah. "SMP Bhayangkara itu kateringnya diatur ahli gizi, semua rasa dikontrol. Di sini mah bebas, sesuai selera abangnya yang jualan."
Saskia menatap sisa ketoprak di piringnya yang masih tersisa hampir setengah piring. Ia merasa bersalah jika harus membuangnya, tapi lidahnya sudah benar-benar mati rasa. Dengan gerakan perlahan, ia menggeser piring itu ke hadapan Sandi.
"San... aku nggak kuat. Kamu yang habisin ya? Sayang kalau dibuang," pinta Saskia dengan tatapan memohon.
Sandi terkekeh, seolah-olah ia melakukan itu hanya demi menolong Saskia, padahal di dalam hatinya ia merasa sangat bersyukur. Ia meraih piring itu dan mulai memakan sisa ketoprak pedas tersebut dengan lahap, seakan rasa pedas itu tidak ada artinya bagi perutnya yang kosong.
Anggita yang sejak tadi memperhatikan, menopang dagunya dengan tangan. "Lo emang dari dulu kayak gitu ya, Sas? Maksud gue, tiap makanan lo nggak habis, Sandi yang jadi 'tong sampah' penyelamat?"
Saskia mengangguk polos. "Iya, dari SD dia selalu mau habisin makananku kalau aku sudah kenyang atau nggak kuat. Nanda aja... pacarku aja, nggak mau kalau aku kasih sisa makanan. Katanya geli, jorok katanya."
Sandi menelan suapan terakhirnya lalu bergumam santai, "Itu karena mereka nggak pernah ngerasain yang namanya nggak makan empat hari berturut-turut, kan?"
Suasana meja mendadak agak sunyi mendengar ucapan Sandi, meski ia mengatakannya dengan nada bercanda. Vino memecah suasana dengan mengangguk setuju. "Gue juga sama kayak Sandi. Walaupun gue alhamdulillah nggak pernah kelaparan sampai segitunya, tapi ngeliat makanan sisa itu rasanya mubazir banget. Dosa, kata nyokap gue."
Andra menambahkan sambil mengunyah nasi terakhirnya, "Gue setuju. Kadang orang nilai makanan sisa itu jorok dalam artian 'bekas orang'. Tapi menurut gue, kalau itu dari temen sendiri dan kita tahu dia bersih, ya masih layak makan lah. Lebih jorok kalau itu makanan jatuh ke lantai atau sisa di tempat pembuangan. Itu baru gila kalau dimakan."
Sandi mengelap mulutnya dengan tisu murah dari atas meja. "Intinya, selama makanan itu nggak bikin lo mati saat itu juga, buat apa mikir jorok? Yang penting perut terisi, tenaga ada buat mikir pelajaran berikutnya."
Anggita mengangguk paham, ada rasa respek yang tersirat di matanya untuk cara pandang Sandi yang pragmatis. Bel masuk pelajaran berikutnya berbunyi nyaring, memecah obrolan mereka. Berlima mereka bangkit dari kursi kayu kantin yang kusam, berjalan beriringan menuju kelas. Kali ini, Saskia berjalan dengan lebih percaya diri, meski tangannya masih sesekali menyentuh lengan seragam Sandi—memastikan bahwa pelindungnya tidak pergi jauh.
Udara siang di dalam kelas 3-A mulai terasa pengap, namun keriuhan mendadak senyap saat langkah kaki yang mantap terdengar dari koridor. Sosok pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung dan penggaris kayu panjang di ketiaknya muncul di ambang pintu. Pak Gunawan, sang legenda hidup matematika SMP Pejuang Bangsa, masuk dengan seringai khasnya yang membuat bulu kuduk sebagian siswa meremang, namun bagi "Kelompok Sableng", beliau adalah lawan debat yang sepadan.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya," sapa Pak Gunawan, suaranya berat dan berwibawa.
"Pagi menjelang siang, Pak!" sahut para siswa serempak, mengikuti intonasi sang guru dengan nada jenaka.
Pak Gunawan tertawa renyah, meletakkan tumpukan buku di meja guru. "Ya nggak usah diikuti juga lah. Pagi ya pagi, siang ya siang. Jangan labil jadi orang." Kelas pecah oleh tawa kecil. Pak Gunawan kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan matanya seketika tertuju pada barisan paling belakang. Ia menaikkan kacamatanya, tampak heran.
"Lho, lho... ini kenapa formasinya berantakan? Kelompok Sableng sekarang bercerai? Kok Sandi terdampar sendirian di pojokan belakang? Biasanya kalian berempat itu nempel terus kayak prangko, nggak bisa dipisahin meski pakai linggis," sindir Pak Gunawan sambil menunjuk kursi kosong yang biasanya ditempati Sandi di dekat Anggita.
Seluruh siswa terkekeh, sementara Anggita memutar kursi ke arah guru. "Kita nambah satu personil baru, Pak! Tuh, di belakang bareng Sandi. Sekarang tim kita makin solid," seru Anggita sambil mengedipkan mata ke arah barisan belakang.
Pak Gunawan menurunkan kacamatanya hingga ke ujung hidung, menyipitkan mata melihat ke arah samping Sandi. "Wih, ada bidadari nyasar di kelas kita. Tapi kok mau-maunya duduk sama Sandi sih, Neng? Sandi kan orangnya pelit senyum kalau lagi ngerjain logaritma."
Vino menyambar sambil tertawa, "Instruksi Bu Wulan tadi, Pak! Katanya biar anak baru ini cepat adaptasi. Secara, dia itu teman SD-nya Sandi yang baru saja melakukan misi 'comeback'."
"Oh, jadi ceritanya musim bersemi kembali begitu? Reuni di kelas tiga?" goda Pak Gunawan yang langsung disambut sorakan "Cieeee!" dari seluruh penjuru kelas.
Sandi, yang biasanya tegar menghadapi sikut-sikutan di pasar, kali ini benar-benar mati kutu. Ia menutup wajahnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan, merasakan panas menjalar di pipinya. Sementara itu, Saskia hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya, jemarinya sibuk memilin ujung rok seragamnya yang masih kaku.
"Baiklah, sebelum kita lanjut ke penderitaan angka-angka," lanjut Pak Gunawan dengan nada lebih serius namun tetap santai. "Kamu yang duduk di sebelah Sandi, coba berdiri. Perkenalkan diri kamu secara resmi ke Bapak."
Saskia menoleh ragu ke arah Sandi. Sandi memberikan anggukan mantap, sebuah gestur kecil yang seolah berkata, 'Woles, Sas. Beliau emang suka bercanda, tapi aslinya asik kok.'
Saskia berdiri perlahan, mencoba mengatur napasnya. "Selamat pagi menjelang siang, Pak," ucapnya, mencoba mengikuti gaya Pak Gunawan tadi.
Pak Gunawan tertawa lepas sampai bahunya berguncang. "Lah, beneran cocok jadi satu tim sama Kelompok Sableng! Punya bakat ngeledek guru juga ternyata. Lanjutkan, Neng."
Saskia tersenyum tipis, mulai merasa diterima. "Nama saya Saskia, Pak. Saskia Fiana Putri. Saya murid pindahan dari SMP Bhayangkara."
Mendengar nama sekolah asal Saskia, alis Pak Gunawan terangkat tinggi. "Bhayangkara? Waduh, kenapa bisa nyasar ke sekolah ini? Itu kan sekolah elit, fasilitasnya lengkap. Masuk ke sini namanya downgrade dong, dari hotel bintang lima ke kontrakan petakan."
Saskia menjawab dengan kepolosan yang mematikan, "Biar aku bisa dekat sama Sandi lagi, Pak."
BOOM!
Seisi kelas mendadak gaduh. Sorakan, siulan, dan tepuk tangan riuh membahana di ruangan itu. Teman-temannya mulai memukul-mukul meja, menggoda Sandi habis-habisan. Sandi yang sudah kehilangan cara untuk bersembunyi, kini mengambil tas ranselnya dan menutup wajahnya secara total. Rasanya ia ingin segera meminjam kantong ajaib Doraemon untuk menghilang dari muka bumi detik itu juga.
Pak Gunawan terkekeh-kekeh melihat drama remaja di depannya. "Sandi! Awas ya kamu kalau macam-macam sama anak baru."
Dari balik tasnya, suara Sandi terdengar teredam namun penuh kepasrahan. "Nggak ada macam-macam, Pak. Satu macam ini saja saya sudah pengen buru-buru lenyap dari bumi, apalagi kalau mau macam-macam."
Tawa kembali meledak. Pak Gunawan menggelengkan kepalanya sembari merapikan kertas materi di meja. "Sudah, sudah. Jangan digodain terus, nanti Sandi beneran minta pindah sekolah ke planet Mars. Oke, mari kita mulai. Ini lembar materi fungsi kuadrat kita hari ini. Tolong dibagikan secara estafet ke belakang."
Seketika, atmosfer kelas berubah total. Keriuhan berganti menjadi keheningan yang fungsional. Hanya terdengar suara gesekan kertas yang berpindah tangan dan decit kapur Pak Gunawan yang mulai menari di papan tulis hitam. Saskia tampak fokus, sesekali melirik Sandi yang sudah mulai tenang dan kembali menjadi "mesin hitung" andalan kelas.
Waktu berlalu dengan cepat di tengah deretan angka dan variabel. Bel pergantian mata pelajaran yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi, menandai berakhirnya sesi matematika.
Pak Gunawan mengelap tangannya yang penuh debu kapur. "Oke, kita akhiri pertemuan perdana ini. Karena hari ini adalah hari pertama kalian di tahun ajaran baru dan bapak-ibu guru masih ada rapat koordinasi, kalian diperbolehkan pulang lebih cepat. Nikmati sisa siang kalian."
"Terima kasih, Pak!" teriak para siswa dengan semangat kemenangan yang membara.
Pak Gunawan meninggalkan kelas sambil tersenyum simpul, menyisakan kericuhan kecil di dalam kelas saat para siswa mulai membereskan buku mereka ke dalam tas.
Keriuhan di kelas 3-A perlahan menyusut seiring langkah kaki para siswa yang berhamburan keluar. Namun, di pojok belakang, Anggita, Vino, dan Andra justru merapat ke meja Sandi dan Saskia. Formasi lengkap Kelompok Sableng kini melingkar, menatap anggota baru mereka yang masih tampak kikuk membereskan alat tulis.
"Lo langsung balik, San? Atau mau nongkrong dulu?" tanya Anggita sambil menyampirkan tasnya di satu bahu.
Sandi tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah Saskia yang tampak kebingungan menatap jam dinding. "Sas, lo dijemput?"
Saskia mengerutkan kening, mencoba mengingat pesan mamanya tadi pagi. "Tadi Mama bilang mau jemput, San. Tapi karena hari ini pulang cepat banget, Mama pasti belum jalan dari rumah."
"Ya udah, coba telepon nyokap lo. Lo kan punya HP," saran Sandi praktis.
Saskia mengangguk setuju. Ia mulai merogoh kantong tas ranselnya yang bermerek itu. Detik pertama, wajahnya biasa saja. Detik kedua, matanya mulai membulat. Detik ketiga, ia mulai mengacak-acak isi tasnya dengan gerakan panik hingga beberapa buku tulisnya mencuat keluar.
"San! San!" Saskia mengguncang-guncang lengan seragam Sandi dengan tenaga yang cukup kuat. "San... aku... ponselku hilang!"
Tak!
Satu sentilan mendarat telak di kening Saskia. Sandi menatapnya datar. "Hilang apa emang lo nggak bawa, Oneng?"
Saskia terdiam seketika. Tangannya berhenti mengguncang tangan sandi. Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kelas seolah sedang memutar kembali memori tadi pagi di kamarnya yang mewah. "Eh..." Ia nyengir tanpa dosa, "Ketinggalan di meja rias, San! Hehe."
Andra, Vino, dan Anggita serentak meledakkan tawa. Mereka belum genap sehari mengenal Saskia, tapi dosis "ke-onengan" gadis itu benar-benar menghibur. Sandi hanya bisa mendengus panjang, seolah sudah khatam dengan kelakuan itu sejak zaman SD.
"Terus sekarang gimana?" tanya Sandi.
Anggita langsung merogoh saku roknya dan mengeluarkan sebuah ponsel clamshell yang tren di masa itu. "Lo mau telepon nyokap? Nih, pakai HP gue aja, Sas."
Saskia terpaku menatap ponsel Anggita. Belum sempat ia meraihnya, Vino dan Andra juga menyodorkan ponsel mereka masing-masing. "Atau mau pakai punya kita? Pulsa masih banyak kok," tawar Vino.
Saskia menatap mereka bertiga dengan ekspresi terkejut yang polos. "Kalian... kalian semua punya ponsel?"
Sandi menimpali dengan nada santai sembari menyandarkan punggung ke kursi. "Iya, mereka ini berasal dari keluarga yang cukup mampu, Sas. Walaupun ya... nggak sekaya lo, tapi buat beli gawai begituan mah mereka sanggup."
Saskia menoleh ke arah Sandi, matanya menunjukkan rasa penasaran yang jujur. "Berarti di kelompok kita, cuma kamu doang, San, yang nggak punya?"
Sandi mengangguk mantap, tak ada nada minder dalam suaranya. "Mana ada duit gue buat beli barang begituan. Daripada buat beli ponsel, mendingan uangnya buat makan bareng Nyokap. Malah kalau gue pakai buat beli HP, uang itu bisa buat kita makan mewah selama dua bulan, Sas."
Seketika, atmosfer di lingkaran itu menjadi sunyi. Anggita, Vino, dan Andra terdiam, mendadak merasa tidak enak hati karena baru saja memamerkan ponsel di depan sahabat mereka yang sedang berjuang. Sandi yang menyadari perubahan suasana itu langsung memecah kekakuan.
"Udah, nggak usah baper lo pada sama gue. Biasa aja kali," seru Sandi sambil menepuk meja. "Intinya, lo mau telepon nyokap lo nggak, Sas?"
Saskia tersenyum kecil dan meraih ponsel dari tangan Anggita. "Aku pinjem punya Anggita aja ya. Makasih ya, Nggi."
Anggita mengangguk mantap, "Woles, Sas."
Setelah melakukan pembicaraan singkat dengan mamanya, Saskia mengembalikan ponsel itu. "San, Mama baru mau jalan. Tapi katanya mungkin agak lama."
Sandi menghela napas panjang, namun ia tidak beranjak. "Iya, gue tungguin sampai nyokap lo datang. Nggak mungkin gue lepas lo sendirian di gerbang, bisa nyasar ke Bekasi lo nanti."
"Kita juga stay kok sampai nyokap lo datang. Tenang aja, Sas, kita temenin," tambah Andra yang diiyakan oleh Vino dan Anggita.
Mata Saskia berbinar-binar, ia merasa sangat diterima di lingkungan barunya. "Terima kasih banyak, ya, teman-teman!"
"Enaknya kita tunggu di kantin aja yuk? Di kelas panas banget, kipas anginnya cuma muter-muter doang nggak ada anginnya," ajak Sandi sembari berdiri.
"Setuju! Gue juga mau beli jajanan, perut gue udah bunyi lagi nih," sahut Andra semangat.
Berlima mereka menuruni tangga kelas, berjalan beriringan menuju kantin yang mulai sepi dari siswa lain. Di bawah naungan pohon rindang dekat kantin, Kelompok Sableng kembali duduk melingkar, menikmati sisa siang mereka dengan tawa dan cerita, menjaga si "Oneng" hingga jemputannya tiba.