Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Pesan Cinta Tanpa Nama
"Aku membungkus sisa-sisa kewarasanku ke dalam sebuah amplop tertutup. Kutuliskan kata-kata yang tak akan pernah berani kuucapkan, dan kuserahkan seluruh hartaku untuk menebus nyawamu. Jika menerima ini berarti kau harus membenci sang pengirim tanpa nama seumur hidupmu, maka biarlah kebencianmu itu menjadi pelindung yang menjagamu tetap hidup. Aku rela menjadi penjahat di dalam kisahmu, Rendi, asalkan kau tak lagi menangis sendirian." (Buku Harian Keyla, Halaman 106)
Malam terakhir sebelum hari penentuan. Langit Jakarta di luar jendela kamarku tampak pekat tanpa bintang, seolah merefleksikan kegelapan yang sedang menyelimuti masa depan laki-laki itu.
Di atas karpet berbulu di tengah kamarku, aku duduk bersila dengan napas yang memburu. Di depanku, celengan porselen berbentuk angsa yang telah kuisi selama bertahun-tahun kini terpecah belah menjadi kepingan tak berguna. Berlembar-lembar uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribu berserakan di atas karpet. Uang saku jajanku, uang hadiah ulang tahun dari kakek-nenek, hingga uang tabungan liburanku. Semuanya kukeluarkan tanpa sisa.
Tanganku gemetar saat menghitung lembaran uang itu. Totalnya ada tujuh juta rupiah.
Bagi keluargaku, uang sebesar ini mungkin hanya cukup untuk membeli sebuah tas bermerek atau sepatu keluaran terbaru. Namun bagi Rendi, uang ini adalah nyawa. Uang ini adalah jaminan agar Nanda tidak diusir dari panti asuhan, jaminan agar Rendi bisa melunasi tunggakannya tanpa harus menjual organ tubuhnya, dan jaminan agar ia bisa sedikit bernapas bulan ini.
Aku mengambil sebuah amplop cokelat besar yang tebal dan kedap cahaya. Kumasukkan seluruh tumpukan uang itu ke dalamnya. Amplop itu langsung terasa padat dan berat. Sangat berat.
Namun, memberikan uang saja adalah sebuah bunuh diri. Jika aku hanya meletakkan uang ini di mejanya, Rendi pasti akan langsung membuangnya, menyumbangkannya ke masjid, atau merobeknya di depan kelas karena ia menganggapnya sebagai sedekah yang menghina martabatnya. Aku sudah belajar dari kesalahanku di insiden amplop biru tempo hari. Aku tidak boleh lagi menggunakan sudut pandang 'rasa kasihan'.
Aku harus menggunakan sudut pandang yang tak bisa ia tolak. Aku harus menekan titik kelemahannya dengan cara yang paling manipulatif namun menyelamatkan. Aku harus membuat uang ini terdengar seperti sebuah hutang profesional, bukan amal.
Kuambil secarik kertas folio bergaris. Kusiapkan pulpen bertinta hitam. Dengan tangan kiri—agar tulisan tanganku berubah total dan terlihat kaku seperti tulisan orang dewasa—aku mulai merangkai sebuah pesan.
Untuk Rendi.
Saya adalah salah satu orang tua murid di sekolah ini yang mengetahui potensimu dari pihak komite. Saya mendengar tentang kesulitan finansialmu, dan tentang ancaman pencabutan beasiswamu.
Di dalam amplop ini ada sejumlah dana. Ini BUKAN uang amal, dan BUKAN sedekah. Ini adalah sebuah investasi jangka panjang.
Saya tahu kamu memiliki otak yang brilian dan masa depan yang panjang. Kamu tidak pantas hancur hanya karena masalah biaya. Gunakan uang ini untuk melunasi tunggakan panti asuhan adikmu, belilah buku latihan, dan berhentilah bekerja serabutan untuk sementara waktu agar kamu bisa fokus pada ujian kelulusanmu.
Syarat dari investasi ini hanya satu: Luluslah dengan nilai yang pantas. Buktikan bahwa kamu layak mendapatkan investasi ini. Dan suatu hari nanti, saat kamu sudah menjadi laki-laki sukses yang bisa menghidupi adikmu dengan layak, bayarlah hutang ini dengan cara membantu anak-anak lain yang bernasib sama sepertimu.
Jangan buang waktu untuk mencari tahu siapa saya. Fokus saja pada ujianmu besok.
Dari: Investor Anonim.
Aku membaca ulang surat itu dengan dada yang sesak. Bahasanya sangat kaku, formal, dan tidak mengandung setitik pun kata-kata romantis. Ini murni bahasa bisnis. Tidak ada jejak Keyla si gadis remaja yang sedang dimabuk cinta di sana. Aku menekan ego dan perasaanku dalam-dalam. Aku bertaruh bahwa Rendi, dengan otak cerdasnya, akan lebih mudah menerima 'investasi bersyarat' daripada 'belas kasihan'. Apalagi dengan membawa nama komite sekolah, ia akan kesulitan melacak pelakunya.
Aku melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop cokelat bersama tumpukan uang tujuh juta rupiah tersebut, lalu merekatkannya dengan lem super kuat.
"Maafkan aku karena harus membohongimu lagi, Ren," bisikku di tengah keheningan kamar. "Tapi hanya ini satu-satunya cara agar kamu mau hidup."
Keesokan paginya, di hari terakhir ujian, aku tiba di sekolah saat jam tangan masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Matahari bahkan belum sepenuhnya terbit. Hawa dingin sisa embun masih menusuk pori-pori.
Aku berjalan setengah berlari menyusuri koridor menuju kelas XII-IPA 1. Jantungku berdetak dengan ritme yang menggila. Telapak tanganku berkeringat dingin memeluk amplop cokelat tebal di balik kardiganku.
Pintu kelas terbuka tanpa dikunci. Ruangan itu masih gelap gulita. Aku meraba sakelar lampu dan menyalakannya. Suasana kelas yang kosong melompong menyambutku.
Dengan napas terengah, aku berjalan menuju barisan paling belakang. Menuju meja Rendi.
Tugas utamaku adalah menyembunyikan amplop ini di tempat yang hanya akan ia temukan saat ia sudah benar-benar sendirian, atau saat bel pulang berbunyi, agar ia tidak membuangnya di depanku.
Tanganku meraba bagian bawah mejanya. Biasanya, siswa-siswa menyelipkan buku-buku paket yang tebal di kolong meja kayu itu. Dan benar saja, jari-jariku menyentuh sebuah kamus Bahasa Inggris yang sangat tebal dan lusuh, yang sengaja Rendi tinggalkan di laci meja karena terlalu berat untuk dibawa pulang setiap hari.
Kuambil kamus itu, kubuka tepat di bagian tengahnya, dan kuselipkan amplop cokelat tebal itu di antara halamannya. Kamus itu mengembang sedikit, namun karena diletakkan jauh di sudut gelap kolong meja, tak akan ada yang menyadarinya sampai Rendi sendiri yang mengambilnya.
Selesai melaksanakan misi itu, aku mundur dengan kaki yang terasa lemas bagai tak bertulang. Aku menjatuhkan diriku di kursiku sendiri, mengusap wajahku yang basah oleh keringat dingin.
Selesai. Semuanya sudah selesai.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur terdengar dari luar koridor.
Aku tersentak panik. Aku buru-buru mengeluarkan buku cetakku dan membuka halamannya secara acak, berpura-pura sedang belajar dengan sangat serius.
Pintu kelas didorong.
"Loh, Keyla?"
Suara lembut itu membekukan darahku.
Siska berdiri di ambang pintu kelas. Ia mengenakan seragam yang disetrika tanpa cela, rambutnya diikat rapi, dan sebuah tas tangan kecil tersampir di lengannya. Mata Siska yang berada di balik lensa tebal itu sedikit memicing saat melihatku sudah duduk manis di dalam kelas yang baru saja dihidupkan lampunya.
Siska melirik ke arah jam dinding kelas yang baru menunjukkan pukul enam kurang seperempat, lalu menatapku dengan kening berkerut.
"Tumben banget kamu datang sepagi ini, Key? Biasanya kan jam tujuh kurang sepuluh baru nyampe," selidik Siska sambil melangkah masuk, suaranya tetap mengalun halus, namun tatapannya menelanjangi setiap gerak-gerikku.
Aku menelan ludah dengan susah payah, memaksakan seulas senyum kaku. "E-eh, iya Sis. Tadi malam aku ketiduran jam delapan, jadi kebangun jam empat pagi. Daripada bengong di rumah, mending aku berangkat awal buat review materi grammar. Hari ini kan ujian Bahasa Inggris."
Siska berjalan menghampiriku, meletakkan tasnya di mejanya sendiri, lalu menoleh ke belakang, menatap meja kosong di belakangku. Pandangan Siska berhenti di kolong meja Rendi selama satu detik yang terasa seperti satu jam.
"Oh, gitu," Siska mengangguk pelan, senyum tipisnya mengembang. "Bagus deh kalau kamu beneran fokus ujian. Aku kira kamu datang pagi buta gini buat ngelakuin hal bodoh lagi kayak nyelipin makanan di meja cowok nggak tau diri itu."
Kata-kata Siska ibarat tamparan tak kasatmata. Aku bersyukur tanganku bersembunyi di bawah meja sehingga ia tak bisa melihat jemariku yang bergetar.
"Nggak kok, Sis. Kan aku udah janji sama kamu, aku nggak akan ngurusin dia lagi," dustaku dengan suara yang kubuat setegas mungkin, demi melindungi amplop di dalam laci itu.
Siska tersenyum puas. Ia mengelus rambutku dengan sayang. "Itu baru Keyla yang aku kenal. Perempuan cerdas nggak akan pernah rela mengemis pada laki-laki rendahan."
Satu jam kemudian, kelas mulai dipenuhi oleh lautan manusia yang tegang. Lidya dan Bella masuk sambil komat-kamit menghafal tenses dan vocabulary. Bel tanda masuk berbunyi nyaring.
Tepat sepuluh detik sebelum pengawas memasuki kelas, Rendi muncul di ambang pintu.
Napasnya memburu. Wajahnya terlihat jauh lebih kacau dari hari kemarin. Kemeja putihnya lecek parah, dan rambutnya berantakan. Ia pasti bekerja shift malam lagi dan berlari dari terminal bus menuju sekolah agar tidak terlambat mengikuti ujian penentuan ini.
Saat ia berjalan melewatiku, hawa dingin yang menguar dari tubuhnya terasa begitu putus asa. Ia bahkan tidak melirikku sama sekali. Ia langsung duduk di kursinya, mengusap wajahnya dengan kasar, dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Ia tidak menyadari bahwa di bawah tangannya, di dalam laci mejanya, tersimpan sebuah tiket untuk membebaskannya dari neraka.
Ujian Bahasa Inggris dan Kewarganegaraan berlangsung selama empat jam yang terasa seperti merangkak di atas paku. Di belakangku, aku bisa mendengar suara embusan napas Rendi yang sangat berat. Sesekali ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja karena kelelahan yang luar biasa, namun ia memaksakan diri untuk kembali duduk tegak demi mengisi LJK-nya.
Aku mengerjakan soalku tanpa banyak berpikir. Otakku sudah mati rasa. Seluruh fokusku tertuju pada detik-detik saat bel pulang akan berbunyi. Bagaimana reaksinya nanti? Apakah ia akan membuangnya lagi? Apakah ia akan berteriak marah?
"Waktu habis! Kumpulkan lembar jawaban kalian sekarang juga!"
Teriakan pengawas mengakhiri siksaan akademis kami.
Seketika, kelas XII-IPA 1 meledak dalam euforia yang tak terbendung. Bella melompat dari kursinya sambil menjerit kegirangan, merobek kertas buram buram coretannya dan melemparnya ke udara. Lidya menggebrak meja sambil berteriak, "MERDEKAAA! MATI LO SEMUA RUMUS KIMIA!"
Siswa-siswa lain berhamburan, saling berpelukan, tertawa, dan menangis lega. Beban seberat gunung baru saja diangkat dari pundak kami. Masa SMA telah resmi berakhir di ruangan ini secara akademis.
Siska tersenyum lebar, merapikan mejanya dengan anggun. "Akhirnya selesai. Key, kita langsung booking tempat di kafe depan ya buat perayaan sama Indra dan anak-anak cowok lainnya."
Aku tidak menjawab. Tubuhku membeku di kursi. Aku pura-pura sibuk memasukkan tempat pensilku ke dalam tas dengan gerakan yang sangat, sangat lambat. Aku menajamkan pendengaranku, menembus riuhnya sorak-sorai kelas, hanya untuk memantau pergerakan satu orang di belakangku.
Rendi tidak ikut merayakan kelulusan. Ia berdiri dari kursinya. Ia mengemas tas ranselnya. Lalu, terdengar suara gesekan dari dalam laci meja.
Ia menarik kamus tebal Bahasa Inggrisnya.
Deg.
Jantungku rasanya berhenti berdetak. Tanganku berhenti bergerak di dalam tas. Aku menahan napas hingga dadaku sakit.
Suara kamus yang dijatuhkan ke atas meja terdengar pelan. Lalu, sebuah hening yang kaku terjadi di radius mejanya, sangat kontras dengan teriakan Bella di depanku.
Ia pasti sudah melihatnya. Amplop cokelat tebal itu jatuh dari sela-sela halaman kamusnya.
Dari pantulan kaca jendela di sebelah kiriku, aku mengintip pemandangan yang terjadi di belakang punggungku.
Rendi mematung menatap amplop cokelat besar di atas mejanya. Keningnya berkerut dalam. Dengan gerakan ragu dan curiga, tangan besarnya yang kasar mengambil amplop itu. Matanya menyipit saat menyadari seberapa berat dan tebal amplop tersebut.
Ia membuka segelnya secara perlahan.
Saat ia melihat tumpukan uang merah dan biru di dalamnya, napas Rendi tersentak. Bahu lebarnya langsung menegang kaku layaknya disambar petir. Ia buru-buru melirik ke sekeliling kelas, memastikan tidak ada yang melihat apa yang ada di tangannya. Euforia kelas membuat tak ada satu pun siswa yang memedulikannya.
Lalu, dengan tangan yang mulai gemetar hebat, ia menarik secarik kertas folio bergaris yang kuselipkan di antara uang tersebut.
Ia membaca surat itu.
Waktu di duniaku terasa berhenti berputar. Aku mengamati setiap perubahan mikro di wajahnya melalui kaca jendela buram.
Mata elangnya bergerak cepat menyusuri kalimat demi kalimat bisnis yang kutulis. Membaca tentang 'investasi', membaca tentang 'komite sekolah', dan membaca ancaman tentang 'bayar hutangmu nanti'.
Saat ia selesai membaca baris terakhir, reaksi fisiknya membuatku nyaris menjerit tertahan.
Rendi memejamkan matanya dengan sangat kuat. Ia menekan bibirnya rapat-rapat hingga memutih. Tangan kirinya terangkat, menutupi mulutnya sendiri seolah sedang menahan sebuah erangan keputusasaan yang siap meledak. Dada bidangnya berguncang satu kali.
Ini bukan reaksi amarah seperti saat ia menemukan amplop biru dariku.
Ini adalah reaksi seorang laki-laki tangguh yang harga dirinya baru saja dipatahkan, namun pada saat yang sama, ia baru saja diselamatkan dari tiang gantungan. Ia tidak membuang amplop itu. Ia tidak meremasnya.
Ia menatap tumpukan uang tujuh juta rupiah itu dengan pandangan hancur lebur. Uang itu adalah penyelamat Nanda. Uang itu adalah pembebasannya dari shift malam yang menyiksanya. Namun bagi Rendi, menerima uang ini—meskipun berkedok investasi dari komite tak bernama—adalah bentuk penyerahan total. Ia merasa kalah oleh kemiskinannya sendiri. Ia merasa hina karena pada akhirnya, ia harus bergantung pada uang orang lain untuk bertahan hidup.
Ia tidak punya pilihan lain selain menerimanya, dan itu membunuhnya dari dalam.
Dengan gerakan cepat dan napas yang terengah-engah, Rendi memasukkan kembali surat dan uang itu ke dalam amplop, lalu menjejalkannya ke dasar tas ranselnya. Ia meritsleting tasnya dengan kasar.
Lalu, ia mengangkat kepalanya.
Matanya langsung menatap tajam ke arah punggungku.
Dari pantulan jendela, aku bisa melihat bagaimana tatapannya memaku punggungku. Ia bukan orang bodoh. Ia mungkin tak memiliki bukti, surat itu memakai bahasa formal orang dewasa dan tak memakai namaku. Namun instingnya... insting liarnya sebagai laki-laki yang terbiasa hidup di jalanan, seolah mengatakan padanya bahwa gadis yang duduk mematung di depannya inilah otak di balik semua ini.
Tatapan itu begitu mengintimidasi, penuh dengan kecurigaan, kemarahan yang tertahan, dan sebuah rasa malu yang tak terlukiskan.
Tanganku gemetar. Aku menundukkan wajahku dalam-dalam, berpura-pura sibuk mendengarkan celotehan Lidya, berusaha bertingkah sealami mungkin seolah aku tidak tahu apa-apa tentang uang tujuh juta itu. Jangan menoleh, Keyla. Jangan sampai dia sadar bahwa kau tahu. Rendi tidak melangkah maju untuk melabrakku. Jika ia salah tuduh, ia akan semakin mempermalukan dirinya sendiri.
Dengan napas yang memburu dan wajah yang memerah padam menahan kehancuran batinnya, Rendi menyampirkan tasnya di bahu. Ia berbalik dan melangkah cepat menuju pintu belakang.
Brak!
Suara pintu yang didorong kasar hingga membentur dinding membuat euforia kelas terhenti sesaat. Semua mata menoleh ke arah pintu belakang, menatap sosok Rendi yang menghilang ke lorong dengan setengah berlari.
"Dih, dasar freak," cibir Bella, mengibaskan tangannya tak peduli. "Udah, biarin aja! Yang penting kita bebas! Ayo, Key, kita ke kafe sekarang! Indra pasti udah nungguin lo bawa bunga tuh!"
Aku berdiri dari kursiku dengan lutut yang terasa bagai jeli. Napasku tersengal, dadaku bergemuruh.
Aku berhasil. Ia membawa uang itu pergi. Nanda selamat.
Namun seiring dengan kepergiannya yang membawa serta seluruh sisa tabunganku, aku menyadari satu hal yang menghancurkan hatiku hingga tak bersisa.
Cara ia menatap punggungku tadi... itu bukan tatapan terima kasih. Itu adalah tatapan dari seseorang yang harga dirinya baru saja dipaksa bertekuk lutut. Dan jika benar instingnya menyalahkanku atas 'investasi' ini, maka kebenciannya padaku telah mencapai titik di mana ia tak akan pernah mau melihat wajahku lagi seumur hidupnya.
"Keyla? Kamu nangis?" Siska menyentuh bahuku, menatap heran air mata yang tiba-tiba menetes dari pelupuk mataku di tengah perayaan kelulusan ini.
"Nggak apa-apa, Sis," isakku, memaksakan seutas senyum yang paling menyakitkan yang pernah kubuat. "Aku cuma... terharu. Akhirnya semuanya selesai."
Ya, semuanya telah selesai. Masa SMA-ku. Ujianku. Dan mungkin, kisah cintaku yang belum sempat dimulai. Aku menyelamatkan nyawanya malam ini, dengan mengorbankan diriku sendiri menjadi sosok yang akan ia benci selamanya.
"Pesan cinta tanpa nama itu telah sampai ke tanganmu. Tak ada bunga, tak ada pelukan, tak ada debar romansa. Pesan cintaku berwujud tujuh juta rupiah yang membunuh egomu. Berjanjilah padaku satu hal, Rendi... gunakan uang itu untuk membelikan Nanda gaun yang indah, dan gunakan kebencianmu padaku untuk terus melangkah maju tanpa pernah menoleh ke belakang lagi." (Buku Harian Keyla, Halaman 108)
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik