Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan ortu Damar
Perjalanan pulang dari kantor polisi terasa seperti iring-iringan jenazah bagi Rania. Di dalam mobil Aris yang hening, Rania menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Tangannya secara tidak sadar meremas tas kecil di pangkuannya, tempat benda plastik dengan dua garis merah itu tersembunyi. Benih kehidupan itu kini terasa seperti rahasia yang paling berat untuk dipikul. Di saat ia menemukan bahwa suaminya adalah seorang asing yang membangun identitas wanita di balik punggungnya, ia justru membawa bagian dari pria itu di dalam rahimnya.
"Kita sudah sampai, Ran," suara Aris memecah keheningan.
Rania tidak bergerak. Ia menatap rumah minimalis mereka yang kini tampak seperti makam besar yang gelap. Aris turun, membukakan pintu untuknya, dan membimbingnya masuk. Rania berjalan seperti robot, tanpa ekspresi, tanpa suara. Namun, begitu pintu depan tertutup dan Aris menyalakan lampu ruang tamu, bendungan pertahanan di dalam diri Rania runtuh seketika.
"Damar!" teriaknya, sebuah pekikan yang menyayat hati hingga membuat Aris tersentak mundur.
Rania berlari menuju kamar utama. Ia membuka lemari pakaian dengan kasar hingga gantungan baju berjatuhan ke lantai. Ia menyambar kemeja kerja Damar yang masih berbau parfum cendana—parfum yang sama dengan yang ia hirup pagi itu sebelum kecupan terakhir. Rania menjatuhkan diri di lantai, membenamkan wajahnya ke tumpukan baju-baju itu, menghirup aromanya dalam-dalam seolah-olah ia bisa menarik kembali raga suaminya melalui serat kain tersebut.
"Kenapa, Damar? Kenapa?!" raungnya histeris. Ia menciumi kerah kemeja, lengan baju, hingga kaos kaki Damar satu per satu. "Kau bilang kau mencintaiku! Kau bilang kita akan menua bersama! Apa semua ini bohong? Apa aku hanya topeng untuk kegilaanmu?!"
Aris berdiri di ambang pintu, matanya berkaca-kaca melihat sahabat masa kecilnya hancur berkeping-keping. Ia ingin mendekat, ingin memeluk dan menenangkan, namun ia tahu Rania butuh mengeluarkan racun di dadanya. Rania terus meraung, mencakar-cakar sprei, dan melempar bantal ke arah cermin. Ia terlihat seperti orang yang kehilangan akal sehat. Frustasi, amarah, dan pengkhianatan bercampur menjadi satu badai yang meluluhlantakkan kewarasannya.
Dua hari berlalu seperti mimpi buruk yang tidak berujung. Selama empat puluh delapan jam itu, Rania tidak menyentuh makanan. Ia hanya minum air putih sesekali saat tenggorokannya terasa terbakar karena terus menangis. Ia tidak mandi, tidak menyisir rambut, dan tetap mengenakan pakaian yang sama sejak ia pulang dari ruko tua itu.
Rumah yang biasanya rapi kini berantakan. Pecahan gelas yang ia lempar saat emosinya memuncak berserakan di lantai dapur. Baju-baju Damar tersebar dari ruang tamu hingga kamar mandi, seolah-olah Rania sedang mencoba menciptakan kehadiran suaminya melalui benda-benda mati itu. Rania menghabiskan sebagian besar waktunya dengan meringkuk di sudut kamar, memeluk jaket kulit Damar sambil bergumam tidak jelas.
Pada pagi hari ketiga, Aris datang dengan kunci cadangan. Ia membawa bungkusan bubur ayam dan air mineral. Begitu pintu terbuka, bau apek dan suasana suram langsung menyambutnya. Ia menemukan Rania duduk di lantai dapur, tatapannya kosong menembus dinding, dengan lingkaran hitam yang sangat dalam di bawah matanya.
"Ran... astaga, Rania," Aris meletakkan sarapan itu di meja dan segera menghampirinya. "Lihat dirimu. Kau bisa mati kalau begini terus."
Rania tidak menjawab. Ia bahkan tidak berkedip saat Aris mengangkat tubuhnya yang kini terasa sangat ringan dan mendudukkannya di kursi. Aris mulai bergerak cepat. Tanpa banyak bicara, ia memunguti pecahan kaca, merapikan baju-baju yang berserakan, dan membuang sampah-sampah makanan yang mulai berbau. Sebagai polisi, Aris terbiasa dengan tempat kejadian perkara yang kacau, namun membersihkan rumah sahabatnya sendiri dalam kondisi mengenaskan seperti ini adalah tugas paling berat yang pernah ia jalani.
"Makan sedikit, Ran. Demi aku. Demi... kesehatanmu," Aris menyodorkan sesendok bubur ke mulut Rania.
Rania membuka mulutnya secara mekanis, mengunyah tanpa rasa. Ia baru saja akan menolak suapan kedua saat tiba-tiba ponsel rumah yang terletak di meja samping ruang tamu berdering dengan nyaring. Suara itu memecah kesunyian rumah seperti petir.
Rania tersentak. Saraf-sarafnya yang tadinya mati seolah tersengat listrik. Ia bangkit dengan sempoyongan, berlari menuju telepon itu. Apakah itu Damar? Apakah dia menelepon dari persembunyiannya?
"Halo? Damar?" suara Rania parau, penuh harap.
"Halo... Rania? Ini Ibu, Nak..." suara seorang wanita tua dengan dialek Jawa yang kental terdengar di seberang sana.
Harapan Rania jatuh ke titik nol, namun kesadarannya kembali pulih. Itu adalah Ibu Lastri, ibu angkat Damar yang tinggal di sebuah desa di pinggiran Semarang. Damar adalah anak yatim piatu yang dibesarkan oleh keluarga sederhana di sana, dan Rania sangat menghormati mereka.
"I-Ibu..." Rania tidak sanggup menahan isaknya.
"Rania, ada apa? Suaramu kok begitu? Ibu dari tadi malam gelisah terus, Nak. Ibu mimpi buruk... Ibu mimpi melihat Damar badannya terbakar, dia minta tolong tapi Ibu tidak bisa menjangkaunya. Ibu telpon nomor Damar dari subuh tadi tidak aktif. Ada apa dengan suamimu, Ran?" suara Ibu Lastri terdengar gemetar, penuh kecemasan seorang ibu.
Rania menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam tangis yang meledak. Ia tidak mungkin menceritakan tentang ruko tua itu. Ia tidak mungkin menceritakan bahwa putra kebanggaan mereka adalah seorang pria yang terobsesi menjadi wanita. Itu akan membunuh Ibu Lastri yang sudah sepuh.
"Ibu... Damar... Damar pergi, Bu," tangis Rania pecah. "Dia pergi meninggalkan Rania diam-diam. Sudah tiga hari dia tidak pulang, tidak ada kabar. Polisi juga sedang mencari, tapi belum ada hasil."
"Gusti Allah..." suara Ibu Lastri terdengar lemas. "Pergi ke mana? Kenapa dia meninggalkan istri sebaik kamu? Apa kalian bertengkar?"
"Tidak, Bu. Tidak ada pertengkaran. Dia hanya... dia hanya lenyap begitu saja," Rania bercerita sambil terus menangis, menyembunyikan aib besar suaminya rapat-rapat. Baginya, biar ia saja yang menanggung beban kebenaran yang menjijikkan itu. "Rania sendirian di sini, Bu. Rania takut..."
"Sabar, Nak. Sabar. Jangan menangis terus, nanti kamu sakit. Ibu dan Bapak akan berangkat sore ini ke Jakarta. Bapak mau minta tolong tetangga buat mengantar ke stasiun. Tunggu Ibu ya, Nak. Ibu tidak akan membiarkan kamu sendirian."
Telepon ditutup. Rania masih menggenggam gagang telepon itu meski sambungannya sudah terputus. Kehadiran sosok orang tua, meskipun hanya lewat suara, seolah menariknya kembali dari jurang kegilaan. Ia sadar bahwa ia tidak boleh menyerah sekarang. Ada orang tua Damar yang akan datang, dan ada rahasia di dalam perutnya yang harus ia lindungi.
Aris mendekat, meletakkan tangannya di bahu Rania. Ia mendengar seluruh percakapan itu. Ada rasa lega yang amat sangat di wajah Aris. Ia tahu batas kemampuannya sebagai laki-laki dan polisi; ada bagian dari luka Rania yang hanya bisa dibalut oleh kehadiran seorang ibu.
"Baguslah mereka datang, Ran. Kau butuh mereka," bisik Aris.
Aris menatap Rania dengan pandangan yang sangat dalam. Ia teringat masa kecil mereka di panti asuhan sebelum Rania diadopsi oleh tantenya. Rania selalu menjadi gadis yang kuat, namun hidup seolah tidak pernah berhenti memukulnya. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan saat ia masih kecil. Tantenya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, meninggal tiga tahun lalu tepat setelah pernikahan Rania dan Damar. Sekarang, pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru mengkhianatinya dengan cara yang paling kejam.
"Aku harus kembali ke kantor sebentar untuk mengecek perkembangan tim lapangan," kata Aris sambil merapikan sisa sarapan. "Tapi aku akan kembali ke sini sore nanti sebelum orang tua Damar sampai. Aku akan memastikan rumah ini rapi agar mereka tidak curiga."
Rania mengangguk lemah. "Terima kasih, Ris. Terima kasih sudah tidak meninggalkanku."
Aris tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan banyak makna yang tidak berani ia ucapkan. "Kita ini keluarga, Ran. Sejak dulu sampai kapan pun. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian."
Setelah Aris pergi, Rania berjalan menuju kamar mandi. Ia menatap wajahnya di cermin—wajah yang kuyu, pucat, dan berantakan. Ia menyalakan pancuran air, membiarkan air dingin membasahi tubuhnya yang lemas. Di bawah kucuran air, ia mengusap perutnya yang masih rata.
"Ibu akan bertahan, Nak," bisiknya di antara suara air. "Demi kamu. Meskipun ayahmu memilih untuk menjadi orang lain, kamu akan tetap menjadi anakku."
Rania mulai menyisir rambutnya yang kusut. Ia mulai memunguti baju-baju Damar yang tadi ia ciumi dengan histeris, lalu melipatnya satu per satu dengan tangan yang masih bergetar. Ia memasukkan baju-baju itu ke dalam koper dan menyimpannya di gudang atas. Ia tidak ingin Ibu Lastri melihat pemandangan yang menyedihkan.
Sore harinya, rumah itu sudah jauh lebih manusiawi. Aroma pengharum ruangan jeruk menutupi bau apek yang sempat meraja. Rania sudah berpakaian rapi, meski matanya masih bengkak. Aris datang tepat waktu dengan membawakan beberapa bahan makanan matang untuk menyambut orang tua Damar.
Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat Jakarta, sebuah taksi berhenti di depan rumah. Sosok pria dan wanita tua dengan wajah lelah namun penuh kasih turun dari mobil. Rania berlari ke depan pagar, dan begitu ia melihat wajah Ibu Lastri, ia langsung ambruk ke pelukan wanita itu.
"Ibu..."
"Iya, Nak. Ibu di sini. Bapak di sini," sahut Ibu Lastri sambil mengusap punggung Rania.
Aris memperhatikan dari kejauhan, menyandarkan tubuhnya pada mobil polisi. Ia merasa sedikit tenang melihat Rania memiliki sandaran baru. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa kedatangan orang tua Damar hanyalah awal dari babak baru yang lebih rumit. Bagaimana jika mereka tahu siapa anak mereka sebenarnya? Dan bagaimana Rania akan menyembunyikan kehamilannya di tengah pencarian suaminya yang masih misterius?
Malam itu, di bawah atap yang sama, tiga orang yang terluka oleh kepergian Damar berkumpul. Mereka tidak tahu bahwa di sebuah tempat yang jauh, Damar—atau siapa pun nama yang kini ia gunakan—sedang menatap langit yang sama, memulai kehidupan yang selama ini hanya ia simpan di ruang rahasia yang gelap.